Kisah Asmara di Mataram dan Puisi-Puisi Lainnya

21/11/2025

 

Telah Lama Hujan 

mungkin, telah lama hujan menghimpun gejolak
hingga kerinduan kita kian basah kuyup

bukankah cinta tidak harus tertulis
dan sajak pun tak mampu lagi menerka arah pikiran kita

malam mulai basah
dengan sisa-sisa aksara langit
dan aku mencoba membendung wajah langit yang murung

lalu waktu menetes di antara jari
seperti pasir yang ragu akan bentuknya sendiri

di dada, gema langkah yang tak pernah tiba
menyebut nama tanpa suara 
seolah semesta lupa bahasa asalnya

di bawah hujan ini, aku menjelma kabut
yang mencari tubuhnya di antara bayangan

cinta — mungkin hanya sehelai cermin
yang memantulkan ketiadaan dengan lembut
dan kita, dua riak di permukaan sunyi 
yang tak tahu, siapa lebih dulu hilang

2025 


Yang Tersisa di Malioboro 

Seorang gadis berjalan di Malioboro 
di antara tawa para pedagang dan sunyi yang membekap dadanya
cahaya neon menyentuh wajahnya,
namun hatinya tetap gelap—terang bukan selalu jawaban 

Ia mencintai Jogja
seperti mencintai bayangan sendiri:
terasa dekat, tapi tak bisa dipeluk 
karena kota ini terlalu penuh untuk benar-benar dimiliki 

Lelaki-lelaki menjual puisi di tikungan 
tapi tak satu pun bisa menulis
tentang kerinduan yang menua di halte-halte senja 
di mana cinta menunggu tanpa arah 
dan waktu menyamar sebagai becak usang 

Jogja, kau adalah kota yang memeluk dengan dingin 
memberi rumah tapi tak selalu pulang 
dan Malioboro—jalan yang selalu ramai
namun tetap terasa sepi bagi yang mencari makna 

Gadis itu tersenyum pada langit kelabu 
menyadari: cinta bukan untuk dimiliki 
melainkan untuk dilalui 
seperti Jogja yang tetap tinggal
meski semua orang akhirnya pergi 

Malang, 2025 


Kisah Asmara di Mataram 

Di malam kelima puluh tanpa rembulan,
Raja Mataram meminang langit
dengan cincin yang ditempa
dari detak jantung kijang terakhir 

Ia temukan kekasihnya
di antara huruf-huruf lontar yang terbakar 
wanita berwajah cermin,
bermata pusaran musim panen dan kelaparan 

Apalah  arti nama tak bersuara 
hati bisa berkata lain 
dan tiba-tiba gendang kerajaan berdetak sendiri 
menyuarakan cinta yang tak bisa dihafal 

Mereka menikah di puncak menara
yang dibangun dari bisikan prajurit mati 
mahligai mereka melayang 
digerakkan oleh kecamuk rindu 
yang dulunya, mata tak pernah bertatapan 

Setiap malam, sang raja menjahit asmara 
dan mencicipi rasa masa depan 
yang pahit dan manisnya
menetes ke tanah, menumbuhkan
pohon beringin berkepala dusta 

Dan rakyat berkata:
inilah cinta yang tak bisa diwariskan 
karena ia hidup di antara batas
antara sejarah dan mimpi buruk 

Malang, 2025 


Becak Tua di Malioboro 

Di bawah matahari yang menyamar jadi angkringan 
becak-becak melata seperti kepiting Jawa 
mengangkut suara gamelan yang tersesat
di kantong plastik batik 

Seorang kusir bermata wayang
menyulut rokok dari kenangan tradisi tua—
tangannya bukan tangan, tapi
sepasang seruling bambu yang bernapas 

Sepatu para turis berubah jadi ketan 
dan aspal mendesis mantra dari abad yang lupa.
“Ke keraton atau ke mimpi, Mas?” tanya becak 
tanpa mulut, tapi dengan lonceng yang berdoa 

Malang, 2025


Dua Beringin di Alun-Alun Yogyakarta 

Di tengah kota yang menua dengan tenang,
dua beringin diam mengikat langit—
akar mereka menjulur ke jantung sejarah,
mengalirkan sunyi yang tak pernah hening.

langkah-langkah tak kasat mata menyusuri pasir alun-alun 
para pejuang tanpa nama 
berbaris dalam bayang kabut
membawa senyap yang berseru: merdeka!

Dari sela daun yang nyaris tak bergerak 
hembusan angin membawa cerita:
tentang bocah bersarung lusuh
menyembunyikan mimpi dalam kancing bajunya.

Langit Yogyakarta bukan langit sembarangan 
ia pernah menyimpan merah-putih
di balik abu Merapi,
di bawah cahaya kuning keraton
yang mengalir dalam darah rakyat 

Dua beringin itu—
tidak sekadar pohon 
mereka adalah saksi yang tak bersuara 
penjaga dari doa-doa yang tertanam
di antara pasir dan peluh malam-malam penjajahan 

Kini kota menyala dalam sorot lampu dan tawa 
tapi dengarkan:
masih ada satu nafas panjang
yang keluar pelan dari akar tua itu,
mengingatkan kita:
bahwa kemerdekaan bukan puncak,
melainkan jalan panjang
yang terus bertanya:
“Masihkah kita setia pada janji tanah ini?”

Malang, 2025 

 

Vito Prasetyo, dilahirkan di Makassar, Februari 1964 -- Bertempat tinggal di Kab. Malang. Bergiat di penulisan sastra sejak 1983. Founder grup Penyair Berkarya.
Karya-karyanya telah dimuat di pelbagai media cetak lokal, nasional, dan Malaysia, antara lain: Koran TEMPO - Media Indonesia  –  Jawa Pos – Pikiran Rakyat – Kedaulatan Rakyat  -  Republika – Solopos –  Majalah Pusat - Suara Merdeka – Majalah Karas – Rakyat Sultra – Kompas.id – Bali Post – Utusan Borneo – Harian Ekspres - Batam Pos – Riau  Pos - Bangka Pos – Erakini.id, dan puluhan lainnya.