Semisal Menyusun Batu dan Puisi-Puisi Lainnya

23/01/2026

 

Simpang

di pengujung tahun
aku tiba di jalan bercabang
sebuah simpang yang gamang

"teruslah ke timur!"

ke sanalah memang awal perjalanan
tapi persimpangan ini 
seperti sarang labalaba

dan aku serangga tersesat
pada serentang benang
yang tipis dan tegang

o, aku mangsa yang diburu!

di simpang yang rawan
aku memandang ke segala jurusan
menelik yang terselubung

yang rahasia
pada perputaran
siang dan malam

"ke timur!"


Jalan Baru

jalan baru: jalan yang
belum ada. di ujung sana
dirintang onak duri

kesukaran melemahkan
mengundang aduh 
dan keluh

kaki gemetar menempuh
hati yang takluk
mengutuk langkah

tanah pertama 
yang menjelma taman
dilumuri dosa adam dan hawa

kemudian musim semi
datang 
tapi hari telah menjadi malam

jalan baru. di ujung sana
seperti harapan
mungkin citacita

yang siasia. yang tak ada?


Semisal Menyusun Batu

cahaya susut perlahan
pada lanskap remang
pemandangan senja kala

aku masih di jalan
punggungku hangat
sisa bersandar pada tiang rumah

tidak. aku tidak menoleh
kumpulan kenangan terbakar
sekejap jadi abu

dari kemurungan
kupunguti serpihan yang mungkin
ke tanah baru, o ke tanah baru

semisal menyusun batu
satusatu
dan menyerahkannya kepada peristiwa


Surah Sunyaruri

kau terus menulis puisi
meski di baris akhir
yang kautemukan hanya 
sunyi batu

yang menggelinding 
abadi

kau tahu
kau sendiri
di kaki bukit
kembali mendorong batu

apakah kau tak ingin pergi
ke pelukan kesenangan
memetik harga 
dari pintu kekuasaan?

       ah, itu pikat dan pukat
       yang memerangkap

kau tetap sendiri
naik dan turun bukit
menerima kutukan
sebagai luka yang bercahaya

dan menjadi jalan


Lalu Maut –5 

(i)
seperti kala 

menganga pada ambang pintu 
menghisap ruh dari tubuh

(ii)
dia yang bernama maut

datang bersama getar udara 
dan wangi yang asing 

(iii)
setiba di ujung 
tak ada sesiapa 

hanya maut, hanya maut 

(iv)
mautku mautmukah 
mautmu mautkukah 

ya maut ya maut ya maut 


Lalu Maut –6 

 (i)
maut itu 
begitu dekat 
serupa bayanganmu 
bayanganku

(ii)
alangkah fana kita 
seperti embun subuh 
di tepi daun 
di tepi hari 

(iii)
tubuh fana 
ruh baka 
mengada 
yang meniada 

 

Lalu Maut –7 

musnahlah tubuh 
perintang jalan kekal 
pulang ke asal 
kemarilah, menarilah 
jiwa yang bebas 
dari kungkung tubuh 

 

Lalu Maut –8 

(i)
tanah melumat 
tubuhmu daging tanpa kuasa 

musnah, punah 

(ii)
dan ruh yang berjalan di udara
pulang ke asal 

melampaui tubuh dan akalmu 

(iii)
di hari kematian itu angin berhenti 
udara memadat 

cahaya melesat


Lalu Maut –9 

aku 
diburu 
aku 
memburu 
sepanjang maut yang rahasia 



Toto ST Radik lahir 30 Juni 1965 di Serang, Banten. Menggeluti sastra dan teater sejak remaja secara otodidak. Meski bekerja sebagai PNS (1993-2023), dia juga pernah bekerja sebagai salesman, guru honor, wartawan, pemimpin redaksi, penulis, editor, dan pekerjaan lainnya. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa dan telah terbit dalam sejumlah buku, baik tunggal maupun bersama. Saat ini (masih) tinggal di Kota Serang***