
Simpang
di pengujung tahun
aku tiba di jalan bercabang
sebuah simpang yang gamang
"teruslah ke timur!"
ke sanalah memang awal perjalanan
tapi persimpangan ini
seperti sarang labalaba
dan aku serangga tersesat
pada serentang benang
yang tipis dan tegang
o, aku mangsa yang diburu!
di simpang yang rawan
aku memandang ke segala jurusan
menelik yang terselubung
yang rahasia
pada perputaran
siang dan malam
"ke timur!"
Jalan Baru
jalan baru: jalan yang
belum ada. di ujung sana
dirintang onak duri
kesukaran melemahkan
mengundang aduh
dan keluh
kaki gemetar menempuh
hati yang takluk
mengutuk langkah
tanah pertama
yang menjelma taman
dilumuri dosa adam dan hawa
kemudian musim semi
datang
tapi hari telah menjadi malam
jalan baru. di ujung sana
seperti harapan
mungkin citacita
yang siasia. yang tak ada?
Semisal Menyusun Batu
cahaya susut perlahan
pada lanskap remang
pemandangan senja kala
aku masih di jalan
punggungku hangat
sisa bersandar pada tiang rumah
tidak. aku tidak menoleh
kumpulan kenangan terbakar
sekejap jadi abu
dari kemurungan
kupunguti serpihan yang mungkin
ke tanah baru, o ke tanah baru
semisal menyusun batu
satusatu
dan menyerahkannya kepada peristiwa
Surah Sunyaruri
kau terus menulis puisi
meski di baris akhir
yang kautemukan hanya
sunyi batu
yang menggelinding
abadi
kau tahu
kau sendiri
di kaki bukit
kembali mendorong batu
apakah kau tak ingin pergi
ke pelukan kesenangan
memetik harga
dari pintu kekuasaan?
ah, itu pikat dan pukat
yang memerangkap
kau tetap sendiri
naik dan turun bukit
menerima kutukan
sebagai luka yang bercahaya
dan menjadi jalan
Lalu Maut –5
(i)
seperti kala
menganga pada ambang pintu
menghisap ruh dari tubuh
(ii)
dia yang bernama maut
datang bersama getar udara
dan wangi yang asing
(iii)
setiba di ujung
tak ada sesiapa
hanya maut, hanya maut
(iv)
mautku mautmukah
mautmu mautkukah
ya maut ya maut ya maut
Lalu Maut –6
(i)
maut itu
begitu dekat
serupa bayanganmu
bayanganku
(ii)
alangkah fana kita
seperti embun subuh
di tepi daun
di tepi hari
(iii)
tubuh fana
ruh baka
mengada
yang meniada
Lalu Maut –7
musnahlah tubuh
perintang jalan kekal
pulang ke asal
kemarilah, menarilah
jiwa yang bebas
dari kungkung tubuh
Lalu Maut –8
(i)
tanah melumat
tubuhmu daging tanpa kuasa
musnah, punah
(ii)
dan ruh yang berjalan di udara
pulang ke asal
melampaui tubuh dan akalmu
(iii)
di hari kematian itu angin berhenti
udara memadat
cahaya melesat
Lalu Maut –9
aku
diburu
aku
memburu
sepanjang maut yang rahasia
Toto ST Radik lahir 30 Juni 1965 di Serang, Banten. Menggeluti sastra dan teater sejak remaja secara otodidak. Meski bekerja sebagai PNS (1993-2023), dia juga pernah bekerja sebagai salesman, guru honor, wartawan, pemimpin redaksi, penulis, editor, dan pekerjaan lainnya. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa dan telah terbit dalam sejumlah buku, baik tunggal maupun bersama. Saat ini (masih) tinggal di Kota Serang***




