
Buat Em
Aku kembali lagi di ini kamar
menyeret cemas malam-malam
yang terdengar seperti derit kasur
selagi kita bercerita—juga bercinta
pada sepetak kemungkinan.
Aku kembali lagi di ini kamar
merengkuh pertanyaan-pertanyaan
kehilangan jawaban yang kaubiarkan
ia menggigil,
Sendirian.
Sedang,
kau masih saja angkuh
pada kata-kata, pada
cinta.
2026
Madah, Ingatan Tentang Patah Hati
Sebab aku hanya dapat mengingat
masa kautanam paksa rasa cinta
di dadaku,
lalu tumbuh berbagai benda tajam
yang mendesak baris-baris rusuk
hingga menganga ngeri
diri ini.
Dan waktu,
hanya irisan buah nipis
dari tanganmu sibuk memeras
pada sekujur lukaku.
Beri aku,
beri aku kesakitan berpuluh
malam penuh arak itu lagi.
2026
Losmen, Kamar no. 21
Kita mendiami sepetak kamar
di sebuah losmen penuh
orang-orang teler, dan diam-diam
kau takut menjadi sendiri—meski
manusia akan selalu sendiri.
Berdiam,
pada temperatur 23°C
pada hari-hari basah dan
gelisah—apakah cinta
membuatmu sedemikian
rapuh, atau menyempurnakan
kau sebagai perempuan.
Aku masih menanti
di gigir keraguanmu.
Meracau—begitu kacau.
Bersama mayat-mayat
yang sempat meninggalkan
jejak anyir di sepanjang lorong
losmen ini.
Barangkali mereka kini juga
Sendiri.
Seperti aku dan kau dan orang-orang
teler yang begitu sibuk menyuntikkan
cinta melalui lengan berlebam
masing-masing.
Bangunkan aku
ketika tak ada rasa perih lagi di sini.
2026
Puisi Cinta
Aku mencintaimu: darah di tubuhku
selalu mendidih ketika kau menanggung
hidup pedih lewat tangan kasar milik
seseorang—meninggalkan luka dan memar
di tubuhmu yang juga selalu kucintai.
Aku mencintaimu: setiap hari adalah
perayaan musim panen dalam diriku. meski
selalu kaubakar lumbung-lumbung itu.
Aku mencintaimu: seperti pecandu payah
dengan tangan gemetarnya, seperti orang tertikam
dan sekarat di sudut kota, seperti...
Aku mencintaimu: meski kau tak benar-benar
mengerti—sebagaimana kematian yang kau
harapkan dan hindari di waktu bersamaan.
2026
Sia-Sia
Puisi-puisi gagal
tanpa nama
tanpa makna.
Luruh,
(tidak diinginkan)
Seperti usia
sia-sia.
2026
Muhammad Rifan Prianto, lahir di Jakarta, 2001. Menyelesaikan studi S1 jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di UPI, Bandung. Menulis dan bermusik. Sejumlah tulisannya telah disiarkan di berbagai media cetak dan daring. Dapat dijumpai melalui Instagram, @muh_rifaan.




