
Cerita Buat Zawawi
kembali kudengar jerit camar,
di tepi laut yang perlahan tercemar.
sedang pagar besi membentang
di antara debur waktu yang entah itu.
hendak kukatakan,
inilah arus perjalanan,
di mana pelayaran nasib
kerap surut-pasang.
maka di atas sampan
ketabahan mesti dinyalakan,
meski sejumlah ikan,
hanya berloncatan dalam harapan.
hingga kini, masih kulihat
para nelayan pulang
ke gigir pelabuhan,
sambil menambatkan
segala kecemasan
yang tiada henti, menyiasati.
Sumenep-Yogyakarta, 2025-2026
Warna Laut Kita
masih kusimpan
gelombangmu
dalam diriku.
tak ada lagi biru,
segalanya tampak sepi,
nasib yang dulu seputih buih
perlahan tergerus arus peradaban.
sedang sampan-sampan
perlahan menghilang
tinggal bayang-bayang
sejarah para leluhur
yang tabah pada debur.
barangkali angin asin itu,
hanya milik masa lalu
ketika jaring harapan
makin asing dari mata ikan.
maka katakan,
apa warna masa depan,
jika laut yang kita hidu
kini dicemari limbah kecemasan,
juga racun keserakahan.
Sumenep, 2025
Premis
berpegang teguhlah
pada kebenaran
yang sebenarnya
masih rapuh.
berpegang teguhlah
pada persatuan
yang menyatukan
sejumlah perseteruan.
berpegang teguh hatiku
pada keberadaanmu
yang masih jauh
dari dekapan.
Yogyakarta, 2025
Isabella
kau lipat rindu di kain lusuh itu,
seperti zirah sejarah kebanggaanku.
di sini, hujan menulis namamu
87 kecemasan gugur
di jalan berbatu.
“Isabella!”
ada suara berseru,
dengan napas
hutanku.
angin pun menderu
ke segala penjuru
dan udara lesap
diisap waktu.
115 detik kemudian aku menunggu,
jejak berharga
dari masa lalu
sebagai bekal
menuju masa yang lebih kekal itu.
Yogyakarta, 2025
Pengakuan
peradaban baru dimulai,
ketika apa yang selama ini kami cari,
kami temukan, dan kami cemaskan pula,
meski ia memberi jawaban,
terhadap pertanyaan
dari masalah yang berkelindan
dalam kehidupan,
misal; ke mana perginya nyala
lilin di hadapan mata?
oh solusi macam apa
yang dapat menanggulangi
patah hati dunia saat ini?
kami pun masih sanksi
dan tak hendak bersaksi
kepada apa yang kami dekati,
karena kami tahu, ia hanya imitasi
yang perlu kami gali dari hati ke imajinasi.
Yogyakarta, 2025
Agus Widiey, Lahir di Sumenep 17 Mei. Mahasiswa Aqidah Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Menulis puisi, cerpen, esai, dan resensi. Tulisannya tersebar di berbagai media, baik lokal maupun nasional. Pernah menjuarai lomba cipta puisi yang diselenggarakan Radio Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (2025) Bisa disapa di Instagram: agus.widiey




