
Menuju Malam
Angin menukar resah
Saat kau baca cahaya pagi
Sebagai rahim kehidupan
Dilahirkan kembali
Lihatlah musim datang kembali
Bunga-bunga mekar hingga petang
Daun-daun pun gugur melayang
Aku membaca wasiat petang
Sebelum malam menjelang
Tentang keberangkatan yang tak diberitahu
Tanda-tanda sejelas mendung pun
Belum tentu membasahi tanah
Karena hidup selalu mengingat
Maka jangan lupa
Ke arah mana cinta bermuara
Riau, 2026
Bahasa Kesedihan
Aku mengerti tentang bahasa kesedihan
Ia menyelimuti orang-orang
Dengan selimut hitam
Lalu bahasa tubuh yang duri
Menyanyikan melodi pedih.
Yang sedih akan hanyut
Sampai ia sadar
Kesedihan tersenyum miring
Riau, 2026
Aku Berbunga, Rindu jadi Biru
Dipeluknya rahasia paling sunyi
Bahkan kabar-kabar burung
Belum diterbangkan
Sebelum cahaya menembus dedaunan
Aku diam serupa daun gugur dari ranting
Di sungai berarus ikuti aliran
Pada muara yang dipenuhi kerinduan ombak
Ingin aku menerpa tepian
Riau, 2025
Menatap Hujan
Aku lihat musim hujan datang lagi
Di luar sana, musim bekerja dengan baik
Orang-orang silih berganti
Kota menjadi lebih jelita
Tapi di jendela sana
Aku masih menatap
Belum berani berlari
Di bawah deras hujan
Wahai angin yang hanya berembus
Ajari aku bagaimana tetap tabah
Di musim yang berantah
Engkau kehilangan dahan
Juga wajah bunga
Untuk singgah menitipkan musim
Bahasa Tuhan yang lembut
Melalui melodi alam
Sekarang, suara melodi itu
Sepertinya samar
Aroma hujan, bunyi dahan
Kecipak hujan, dari dedaunan
Gemeresik air sungai nan tenang
Diganti gemuruh air
Kehilangan kendali
Awalnya ia mengalir lembut
Kini membawa amarah bumi
Riau, 2025
Ia Yang Tak Lagi Sama
Ia pohon besar
Tapi buahnya jatuh
Ia terus berpucuk
Tapi daun-daun gugur
Sejak musim gugur beberapa tahun lalu
Ia tak lagi begitu hijau
Tetap tumbuh
Hanya sekedar mencintai akar
Yang telah tertancap di perut bumi
Riau, 2026
Hutan Kecil
Di tanamnya pada tanah basah
Jalan terang, melahirkan bayang
Bila malam tiba
Kunang-kunang mungil
Menerangi jalan setapak kecil
Aku cium aroma bunga
Di hutan kecil yang basah
Sehabis Isa dan bulan bundar sempurna
Suara kecil dari dada bumi
Mengantar spektrum pelukan ibu
Bahasa damai yang lama hilang
Hutan kecil itu
Tempat aku pulang berkali-kali
Hening dan dingin
Aku suka, berjalan sendiri
Sambil menikmati aroma bunga-bunga
Angin lembut dan suara malam
Mengantar hatiku
Pada seluruh detak jantung ibu
Riau, 2026
Riska widiana. Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Babel post, Lombok post, Bangka post, Suara Merdeka, Merapi, Nusa Bali, Haluan Padang, Harian SIB, Radar Tuban, Pontianak Post, Radar Madiun, Waspada Medan, Serawak Malaysia, magrib id. Ayo bandung.com. Barisan co. Cendana News. Dunia santri, Metafor id. Bali politika, Uma Kalada News, Laman Riau, Riau Sastra, Maca Web, Majalah elipsis, Hadila, semesta seni Dll. Juga di antologi seperti (FISGB 2022) (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat jember 2022) (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2021) (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022) (100 Tahun Chairil Anwar, 2022) (Madukoro Baru 1, 2022) (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022) (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022) (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi) (Peraih Anugerah sebagai puisi terbaik, Negeri kertas 2022) kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021) Tergabung ke dalam komunitas menulis (Kepul) kelas puisi alit. Alamat Facebook Ri-Ana. Instagram riskawidiana97.




