Menuju Malam dan Puisi-Puisi Lainnya

13/02/2026

 

Menuju Malam

Angin menukar resah
Saat kau baca cahaya pagi
Sebagai rahim kehidupan 
Dilahirkan kembali

Lihatlah musim datang kembali 
Bunga-bunga mekar hingga petang 
Daun-daun pun gugur melayang 
Aku membaca wasiat petang 

Sebelum malam menjelang 
Tentang keberangkatan yang tak diberitahu
Tanda-tanda sejelas mendung pun 
Belum tentu membasahi tanah 
Karena hidup selalu mengingat
Maka jangan lupa
Ke arah mana cinta bermuara

Riau, 2026

 

Bahasa Kesedihan 

Aku mengerti tentang bahasa kesedihan 
Ia menyelimuti orang-orang 
Dengan selimut hitam 
Lalu bahasa tubuh yang duri 
Menyanyikan melodi pedih.
Yang sedih akan hanyut 
Sampai ia sadar 
Kesedihan tersenyum miring

Riau, 2026

 

Aku Berbunga, Rindu jadi Biru 

Dipeluknya rahasia paling sunyi
Bahkan kabar-kabar burung
Belum diterbangkan 
Sebelum cahaya menembus dedaunan

Aku diam serupa daun gugur dari ranting 
Di sungai berarus ikuti aliran 
Pada muara yang dipenuhi kerinduan ombak 
Ingin aku menerpa tepian 

Riau, 2025 

 

Menatap Hujan 

Aku lihat musim hujan datang lagi 
Di luar sana, musim bekerja dengan baik 
Orang-orang silih berganti 
Kota menjadi lebih jelita 
Tapi di jendela sana 
Aku masih menatap 
Belum berani berlari 
Di bawah deras hujan

Wahai angin yang hanya berembus 
Ajari aku bagaimana tetap tabah 
Di musim yang berantah 
Engkau kehilangan dahan 
Juga wajah bunga 
Untuk singgah menitipkan musim 
Bahasa Tuhan yang lembut 
Melalui melodi alam

Sekarang, suara melodi itu
Sepertinya samar 
Aroma hujan, bunyi dahan
Kecipak hujan, dari dedaunan 
Gemeresik air sungai nan tenang 
Diganti gemuruh air 
Kehilangan kendali 
Awalnya ia mengalir lembut 
Kini membawa amarah bumi 

Riau, 2025

 

Ia Yang Tak Lagi Sama 

Ia pohon besar 
Tapi buahnya jatuh 
Ia terus berpucuk
Tapi daun-daun gugur

Sejak musim gugur beberapa tahun lalu 
Ia tak lagi begitu hijau 
Tetap tumbuh 
Hanya sekedar mencintai akar 
Yang telah tertancap di perut bumi 

Riau, 2026

 

Hutan Kecil 

Di tanamnya pada tanah basah
Jalan terang, melahirkan bayang
Bila malam tiba 
Kunang-kunang mungil
Menerangi jalan setapak kecil

Aku cium aroma bunga
Di hutan kecil yang basah
Sehabis Isa dan bulan bundar sempurna 
Suara kecil dari dada bumi 
Mengantar spektrum pelukan ibu
Bahasa damai yang lama hilang

Hutan kecil itu
Tempat aku pulang berkali-kali
Hening dan dingin 
Aku suka, berjalan sendiri 
Sambil menikmati aroma bunga-bunga
Angin lembut dan suara malam 
Mengantar hatiku 
Pada seluruh detak jantung ibu 

Riau, 2026
 

 

Riska widiana. Berdomisili di Riau kabupaten Indragiri hilir. Karyanya termuat ke dalam media cetak dan online seperti Klasika kompas, Babel post, Lombok post, Bangka post, Suara Merdeka, Merapi, Nusa Bali, Haluan Padang, Harian SIB, Radar Tuban, Pontianak Post, Radar Madiun, Waspada Medan, Serawak Malaysia, magrib id. Ayo bandung.com. Barisan co. Cendana News. Dunia santri,  Metafor id. Bali politika, Uma Kalada News, Laman Riau, Riau Sastra, Maca Web, Majalah elipsis, Hadila, semesta seni Dll. Juga di antologi seperti (FISGB 2022) (Hari Puisi Indonesia, Masyarakat jember 2022) (Suatu hari dari balik jendela rumah sakit, Bali 2021) (Dokterku Cintaku, Denpasar 2022) (100 Tahun Chairil Anwar, 2022) (Madukoro Baru 1, 2022) (Negeri poci 12. Raja kelana, 2022) (puisi sepanjang zaman, Satria Publisher 2022) (Sebagai juara satu dalam lomba tingkat Nasional, Jakarta dan Kolaburasi)  (Peraih Anugerah sebagai puisi terbaik, Negeri kertas 2022) kategori puisi terbaik nasional oleh penerbit Alqalam batang dan Salam Pedia, 2021) Tergabung ke dalam komunitas menulis (Kepul) kelas puisi alit. Alamat Facebook Ri-Ana. Instagram riskawidiana97.