Bandi 

22/01/2026

 

Kemenangan Wagimin telah berakhir, ketika sore itu Bandi menebaskan parang ke lehernya. Seketika tubuh yang tadinya teler di kursi dapur itu berkelejatan. Dengan perlahan kepala melorot dari lehernya, lalu menggelinding di lantai dapur. Tubuh yang berkelejatan itu dengan ganasnya menyembur-nyemburkan darah. 

Bandi menatap sepasang mata pada kepala yang menggelinding di lantai dapur. Sepasang mata itu tampak begitu menjijikkan dan menjengkelkan. Sepasang mata itu masih menyorotkan gairah kemenangan, meski pemiliknya telah bablas ke neraka. Bandi lantas memutar-mutar parang yang digenggamnya dan menusuk-nusukkannya ke sepasang mata itu. Sepasang mata itu meletus, seperti mata ikan dalam penggorengan. 

Parang itu kini sepenuhnya berwarna merah. Merah dapat berarti keberanian, tetapi dapat pula berarti kebengisan. Bandi telah menjadi keduanya. Ia menjadi seorang yang bengis sekaligus pemberani sore itu, tepat di hari ulang tahunnya yang kelima belas. Dengan langkah yang mantap, ia menenteng kepala Wagimin dan menuju kantor polisi. 

*** 

Tujuh hari sebelum Bandi menebaskan parangnya ke leher Wagimin, pada suatu sore sepulang dari kegiatan pramuka ia melihat Jumirah, yang tiada lain adalah ibunya, tergolek tak berdaya di kamar mandi. Hari itu hari Jumat. Mulut Jumirah mengeluarkan busa. Tangan kanan Jumirah memegang pisau dapur, sementara tangan kirinya tersayat-sayat dan meluberkan darah. Tidak hanya itu, darah juga meluber dari selangkangan Jumirah sehingga membuat lantai kamar mandi serupa kanvas berlukisan senja. Senja yang merah. 

Terhadap ibunya yang tergolek itu, Bandi hanya berdiri memandanginya. Kata orang, meninggal di hari Jumat adalah baik. Tapi ibunya meninggal karena 

bunuh diri. Dan kata orang pula, meninggal bunuh diri adalah buruk. Karenanya, mungkin ibunya sedang diseret-seret malaikat entah ke mana. Mungkin ke surga. Mungkin ke neraka. Mungkin pula tidak keduanya. Namun, pada akhirnya Bandi berteriak-teriak memanggil ayah tirinya yang tiada lain adalah Wagimin. Ternyata Wagimin tidak ada. Lalu dengan gerakan serba cepat Bandi melesat ke rumah tetangga terdekatnya. 

Ketika jenazah hendak diberangkatkan ke kuburan, Wagimin datang dengan wajah lusuh dan mata yang masih memerah. Begitu mendekati keranda, ia ambruk, teler. Bandi dan tetangga yang hadir memandangi Wagimin dengan mata yang menyala-nyala. Karena Wagimin yang teler menghalangi jalan para pemikul keranda, Bandi dan beberapa laki-laki dewasa menggotong tubuh Wagimin dan melemparkannya begitu saja, seolah tanpa beban. Wagimin mengerang seolah-olah anggota tubuhnya rontok. Orang-orang tidak peduli. 

Meskipun telah beberapa tahun menjadi sosok ayah tiri bagi Bandi, Wagimin tetap sama sekali tidak berguna. Memang, dulu sekali Wagimin tampak sebagai laki-laki sejati. Namun, Wagimin tetaplah Wagimin sebagaimana adanya dirinya. Ketika istrinya, yang tiada lain adalah Jumirah, memeras keringat dari pagi hingga sore sebagai buruh pabrik, Wagimin hanya ongkang-ongkang kaki di rumah. 

Keseharian Wagimin hanya ngeluyur tidak jelas. Siang hari ia keluar rumah. Entah ke mana. Terkadang ia tidak tampak di mana pun. Satu hal yang pasti, ia selalu pulang ke rumah ketika sore dengan langkah yang tidak seimbang. Kemudian ia akan teler hingga magrib. Selepas magrib, dengan lagak yang digagah-gagahkan, ia menodong meminta uang kepada Jumirah. Tak jarang sambil menendang-nendang kursi dan meja. Apabila tidak diberi uang, dengan lagak sok gagah pula ia akan menjambak rambut Jumirah, menggamparnya, dan meninju perutnya. Apabila Bandi ikut campur, tak segan-segan Wagimin melayangkan tendangan maut kepadanya. 

Ketika uang sudah berada di tangannya, Wagimin akan ngeluyur lagi entah ke mana dan pulang larut malam untuk kemudian molor hingga siang. 

*** 

Empat tahun sebelum Bandi melihat ibunya tergolek tak berdaya di kamar mandi, pada suatu pagi ia melihat senyum ibunya merekah di Kantor Urusan Agama bersama seorang laki-laki. Ia mengenal nama laki-laki itu adalah Wagimin, teman baik ibunya. Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali memiliki seorang ayah. Ayah tiri. Dan sosok ayah tiri itu adalah Wagimin, orang yang selama ini tampak selalu baik kepadanya, semenjak ia kehilangan sosok ayah kandungnya yang bernama Mudasir, yang pergi entah ke mana. 

Wagimin tidak tampak sebagai sosok laki-laki yang lembek. Potongan tubuhnya menyatakan bahwa ia bukan laki-laki sembarangan. Gerak-geriknya menegaskan bahwa ia bukanlah laki-laki yang akan menelantarkan anak dan istrinya. Barangkali karena itulah para saksi yang hadir tidak menampakkan wajah curiga, meski beberapa orang tampak bisik-bisik. 

Urat-urat tangan Wagimin tampak begitu jelas ketika bersalaman dengan Bapak Penghulu. Setelah Bapak Penghulu melafalkan ijab, suara Wagimin menjalar sangat cepat ketika melafalkan kabul. Setelah para saksi mengucapkan sah, Wagimin mengentakkan tangannya yang masih bersalaman dengan Bapak Penghulu. Entakkannya sangat kuat dan cepat sehingga meja di depannya terbelah menjadi dua. Para saksi mendelong, terkagum-kagum. Wagimin kemudian berdiri, menoleh ke kiri dan ke kanan sembari menangkupkan kedua tangan dan menebarkan senyuman. 

Bandi kemudian berteriak-teriak kegirangan. Ia meloncat untuk memeluk Wagimin. Kemudian ia mengatakan terima kasih kepada Wagimin karena mau menjadi ayah tirinya. Dengan cekatan ia menarik tangan Wagimin, membolak-balikkannya sembari menciuminya beberapa kali, lalu meletakkannya di atas kepala. Ia kemudian menyatakan janji bahwa ia akan menjadi anak yang baik selama Wagimin berperilaku baik pula kepada dirinya dan ibunya. Kemudian, 

dengan tindak-tanduk yang seolah berwibawa, Wagimin menyanggupi semuanya. Wagimin berjanji akan berlaku baik kepada istrinya yang tiada lain adalah ibunya Bandi, juga kepada Bandi sendiri. 

*** 

Satu tahun sebelum Bandi melihat senyum ibunya merekah di Kantor Urusan Agama bersama Wagimin, pada suatu siang ia melihat Mudasir, yang tiada lain adalah ayah kandungnya, berdiri di depan pintu. Mudasir telah pulang dari perantauan. Bandi lantas menghamburkan diri untuk memeluk Mudasir, tetapi Mudasir justru berusaha melepaskan pelukannya. Mudasir kemudian berteriak-teriak memanggil istrinya, Jumirah. Suara Mudasir terdengar ganas. Tak berselang lama, Bandi menyaksikan ibunya keluar dari arah dapur. Kemudian ia juga menyaksikan, bagaimana dengan kekuatan yang luar biasa dan sangat mendadak, Mudasir menggampar Jumirah dan memaki-makinya. 

Bandi menghambur ke arah ibunya dan menangis keras. Ia memeluk ibunya yang terkapar di lantai. Mudasir masih memaki-maki sembari menuding-nudingkan tangan. Lonte. Gundik. Pelacur. Bajingan. Asu. Dan kata-kata kotor lainnya berloncatan dari mulut Mudasir dengan begitu kuat, menggelegar dan tajam. Mudasir kemudian menendang meja, membanting kursi, dan meninju kaca jendela sampai pecah. Tangan Mudasir berdarah-darah. Lalu sekali lagi Mudasir memaki-maki dengan nada yang semakin kuat, semakin menggelegar, dan semakin tajam. Setelah puas, Mudasir begitu saja meninggalkan rumah. 

Sejak peristiwa itu Bandi tidak pernah lagi melihat ayah kandungnya. Dan sejak peristiwa itu pula ibunya memutuskan bekerja di pabrik. Itu membuat Bandi selalu kesepian ketika pulang sekolah. Karena ia merasa kesepian, ia menyibukkan dirinya dengan gim di smartphone yang dibelikan ibunya. Ketika ia bosan dengan gim, ia akan menonton video permainan kuda-kudaan. Bandi sangat gemar menontonnya karena dulu ia pernah menyaksikan permainan kuda-kudaan secara langsung. 

Tapi semenjak itu pula, kehidupan Bandi di sekolah menjadi semakin keras. Sering ia mendapati makian dari teman-temannya. Maka di sekolah ia begitu sendirian dan kesepian. Sering ia digoblok-goblokkan, ditolol-tololkan oleh teman-temannya. Sering kursinya diludahi entah oleh siapa, dan tanpa disadarinya kursinya pernah diberi permen karet yang kemudian menyebabkan celananya berbekas kotor. 

*** 

Enam bulan sebelum Bandi melihat ayah kandungnya berdiri di depan pintu, pada suatu malam tepat di hari ulang tahunnya yang kesepuluh, ia melihat ibunya pulang entah dari mana bersama seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Bandi menghamburkan diri untuk memeluk ibunya. Ibunya memperkenalkan laki-laki itu sebagai Wagimin. Lalu ibunya berkata, bahwa Wagimin adalah teman baik sewaktu sekolah. Dengan lagak yang sopan, Bandi menyalami tangan Wagimin. Wagimin memuji Bandi sebagai anak yang pintar, baik, dan saleh. 

Bandi kemudian menagih janji ibunya untuk merayakan ulang tahunnya. Ibunya tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kardus berisi kue ulang tahun dari dalam tas. Bandi meloncat-loncat dan sekali lagi memeluk ibunya. Matanya berkaca-kaca. Ibunya kemudian berkata, bahwa Wagimin malam ini akan menggantikan ayahnya yang masih berada dalam perantauan. 

Mereka duduk berjajar di sofa ruang tamu. Di depan mereka, meja berbentuk persegi panjang. Bandi tersenyum lebar ketika ibunya meletakkan kue ulang tahun di meja. Wagimin mengeluarkan lilin dari saku kemejanya, lalu menancapkannya di kue itu. Sekali lagi Wagimin merogoh saku kemejanya, mengeluarkan korek, dan membuat lilin itu menyala. Bandi menepuk-nepukkan tangan ketika ibunya dan Wagimin menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuknya. Setelah meniup lilin 

dan memanjatkan doa, Bandi memotong kue dan memberikannya kepada ibunya dan Wagimin sembari mengucapkan terima kasih. 

Malam semakin larut dan mereka masih asyik di ruang tamu. Sampai kemudian Bandi terlelap begitu saja di sofa. Ketika terbangun, Bandi menengok ke kiri dan ke kanan. Ruang tamu telah kosong. Tidak ada ibunya maupun Wagimin. Terdengar grasah-grusuh dari dalam kamar ibunya. Bandi melesat ke arah sana. 

Bandi mendorong pintu dengan pelan. Ternyata pintu tidak dikunci. Pintu terbuka sedikit dan Bandi yang dirasuki rasa penasaran mengintip kondisi dalam kamar. Kamar itu begitu remang. Tapi dalam keremangan itu, Bandi dapat melihat bagaimana ibunya menyerupai kuda yang meringkik-ringkik. Sementara Wagimin menyerupai koboi yang menungganginya sembari menoleh ke kiri dan ke kanan dan melambai-lambaikan tangan. Sepasang matanya menyorotkan gairah kemenangan.

 

FAW Nugroho

Lahir dan tinggal di Pati, Jawa Tengah. Tulisan-tulisannya dimuat di media massa digital dan cetak. Dapat disapa melalui instagram @femasn