DARASASTRA XXI: MENULIS PUISI DAN MEMBAYANGKAN ADEGAN FILM BARAT

27/01/2026

Barangkali kita pernah menonton film-film Barat yang menyuguhkan wine dalam adegannya. Tak jarang ada scene menunjukkan bahwa wine yang disuguhkan berasal dari proses fermentasi anggur segar dan diendapkan selama kurun waktu tertentu. Atau dalam kasus Keju Tulum khas Turki, keju-keju disimpan dalam kulit domba atau kambing dan diendapakan selama berbulan-bulan. Begitulah kiranya saya (perlahan) menyadari ketika gagasan (dalam hal puisi) tidak melalui perjalanan yang benar-benar dalam, tentu hanya akan menghasilkan hal yang “kurang matang”. Akan tetapi, di samping kita mesti pandai mengatur proses “perjalanan” terbentuknya gagasan, kemampuan penyusunan bahasa pun menjadi hal krusial dalam menulis puisi.

Melalui puisi-puisinya, Arkan menyajikan reaksi atas kondisi sosial-politik belakangan ini. Dan mencoba menautkan dengan peristiwa ketegangan di beberapa masa ke belakang. Secara umum, puisi-puisi Arkan barangkali sudah cukup menampung perasaan kolektif sebagian masyarakat Indonesia. Keresahan atas kebijakan yang gak bijak, nasib guru yang mengundang rasa pesimistis untuk digugu dan ditiru, MBG yang gak bergizi dan gak gratis, pengangkatan gelar pahlawan yang memicu kecaman, dan rupa kepelikan lainnya.

Sebut saja, puisi “Jatah Makan Bu Guru”. Puisi yang menyorot ketimpangan antara proyek MBG yang berbanding terbalik dengan nasib guru dan pendidikan saat ini. Secara spesifik, saya memandang bahwa Arkan secara penuh berpihak pada guru. Runutan aktivitas, rumitnya administrasi yang terkadang justru mengesampingkan peran utama guru, dan masalah siswa yang barangkali sudah tak mampu survive untuk memaksimalkan otak dan pemikirannya. Serta gelar pahlawan tanpa tanda jasa yang dilangkahi ‘pahlawan’ dengan tanda rekam jejak yang buruk. Sayang, banyaknya permasalahan yang diangkat dalam puisi tersebut justru membuat kabur poin utamanya. Seolah, kaitan permasalahan yang menimpa guru dalam puisi ini, setara dengan ‘proyek administrasi pendidikan’ seperti yang sempat dibicarakan sebelumnya.

Di luar persoalan keterceceran informasi dalam puisi, satu hal yang menarik ditawarkan Arkan. Satu narasi yang cukup getir. Memiliki kekuatan berbeda dibandingkan dengan narasi lainnya. Menjadi proyeksi kuat atas ketimpangan MBG dan nasib pendidikan.

Pagi ini kami makan lauk bergizi di piring,

sementara...

Bu Guru mendapat lauk

dari hasil menjual anting.

...

Narasi ‘menjual anting’ mengantar asumsi bahwa satu-satunya benda berharga pun dijual demi bertahan hidup. Ketika seorang dalam keadaan yang sulit, menjual perhiasan atau barang berharga bisa menjadi solusi. Dan pembaca dapat berasumsi dengan anting yang dijual, artinya itu adalah benda berharga terakhir. Secara runut, jika Bu Guru masih punya gelang atau kalung, ia tidak akan serta merta langsung menjual anting yang menjadi bagian identitas bagi dirinya. Seharusnya, pada narasi-narasi lain, Arkan mampu menghadirkan konsep-konsep serupa. Namun, mesti tetap memperhitungkan porsi dan komposisi.

Pada puisi “Kehilangan Akar” Arkan mencoba mengkritisi keadaan kota tempat tinggalnya. Namun, narasi-narasi yang dibangun cenderung belum mampu memunculkan identitas kuat kota yang dikritisinya.

Kotaku adalah kota bukit yang patah

yang retak habis dibelah

Kotaku adalah kota sawah yang disemen

yang disulap menjadi ruko, perumahan dan papan reklame

Kotaku adalah kota gang sempit

yang dijejali parkir motor, ojek, dan pedagang kecil

Narasi demikianlah yang saya anggap belum secara spesifik menggambarkan identitas khas kota yang dimaksud. Pasalnya, fenomena bukit yang dikeruk, penggusuran sawah atau hutan demi perumahan atau bangunan lainnya, merupakan hal yang jamak terjadi. Di mana pun. Terkecuali, ketika ‘kota’ yang dimaksud difungsikan hanya sebagai sampel dalam memandang keadaan daerah-daerah di Indonesia hari ini. Namun, agaknya puisi yang disajikan Arkan tidak bermaksud ke arah sana. Adanya titimangsa yang menyebut ‘Tasikmalaya’ pun, belum cukup menolong persoalan makna identitas yang dihadirkan. Maka atas dasar itu, penting bagi Arkan untuk lebih dalam menelaah kekhasan dari kota atau apa pun yang nantinya menjadi hal yang dipersoalkan dalam puisinya.

Di sisi lain, ketika kita fokus pada persoalan isu bahwa semua tempat mengalami masalah yang sama, tentu ini menjadi alarm terkait kestabilan dalam pengelolaan lingkungan. Dan tentunya memiliki kaitan erat dengan keberlangsungan hidup manusia. Puisi “Kehilangan Akar” sedikitnya menjadi salah satu medium penyadaran akan hal tersebut.

Masih bertali pada identitas dalam puisi, “Doa dan Rayuan dari si Anak Eksentrik” pun memiliki masalah yang hampir sama. Pada puisi ini, persoalan judul yang justru membunuh isi dan narasi dalam puisi.

Doa dan Rayuan dari si Anak Eksentrik

Malam ini aku tak bisa tidur lagi.

Kusaksikan berita pilu di televisi,

menyoroti bencana lagi,

lagi…

dan lagi.

Layar itu memantulkan air

ke dinding kamarku yang sepi.

Katanya banjir di Sumatra terjadi,

ribuan nyawa pergi,

bersama memori,

dan doa yang tak sempat kembali.

Aku belum pandai menghitung arti,

tapi aku tahu kehilangan itu pasti,

bukan cuma manusia yang bisa pergi,

alam pun ikut merintih,

diam-diam menanggung perih.

...

Sepanjang puisi, saya mencoba menemukan ‘eksentrisitas’ yang dimaksud. Membayangkan bagaimana proyeksi ‘anak eksentrik’ tergambar dan berpadu dengan fenomena bencana dan kritik ekologi. Namun, kembali identitas tidak muncul di sana. Tak ada kesenetrikan. Semua narasi yang muncul sebatas ungkapan keresahan sebagaimana “Kehilangan Akar” sebelumnya.  Andai, puisi ini memiliki judul yang lain, barangkali saya akan lebih menyoroti persoalan yang lain pula. Dari sini, penulis kiranya perlu penggalian matang dalam pemilihan judul. Sebab judul, selain menjadi pemikat terkadang menjadi ‘penyesat’. Begitu pun yang terjadi pada judul-judul puisi lain, barangkali masih belum menemukan posisi yang paling tepat. Meskipun, keadaannya tidak terlalu fatal seperti pada “Doa dan Rayuan dari si Anak Eksentrik”.

Terakhir, secara gagsan, Arkan telah cukup memiliki bekal dengan ia tak menutup mata pada persoalan-persoalan sosial-politik yang mampu berdampak pada segala aspek kehidupan. Sebagai anak dari seorang aktivis di masa lalu, Arkan mempunyai bekal kekuatan yang mempuni. Riwayat sang ayah dalam memandang persoalan-persoalan menyangkut negara perlu diserap lebih dalam. Dan menjadi energi yang semakin memperkuat identitas karya dari Arkan Sulak. Degan tidak melupakan filosofi wine dan Keju Tulum.

Vamos!

 

Azis Fahrul Roji

 

 

Jatah Makan Bu Guru

Arkan Sulak

Selamat pagi,

Bu Guru!

Begitu kira-kira kami menyambutmu.

Pagi yang cerah untuk guru,

pagi yang cerah untuk ilmu,

seolah,

cerah pula masa depanmu.

 

Jam 7 pagi

Bu Guru harus isi absensi,

isi laporan, isi aplikasi,

isi bukti kerja

dalam tumpukan administrasi.

 

Sementara kami,

kami harus mengisi tugas

yang katanya hasil pikir sebuah mesin

bernama “AI”

dari program hilirisasi.

 

Aku memang baru genap 12 tahun,

tapi aku tidak sebodoh itu dalam menghitung:

Jika aku dapat sarapan bergizi gratis,

kenapa senyum Bu Guru tidak ikut gratis?

Kenapa kesejahteraannya

masih ia tunggu

tanda tangan entah siapa,

entah di meja rapat sebelah mana?

Pagi ini kami makan lauk bergizi di piring,

sementara…

Bu Guru mendapat lauk

dari hasil menjual anting.

Apa yang harus mereka makan?

Apakah waktu?

Kesabaran?

Atau impian yang mereka simpan

agar kami bisa punya masa depan?

 

Di sekolah,

perut kami tak lagi keroncongan,

tapi guru-guru kami tetap hidup

dengan gaji pas-pasan,

gaji yang mengecil s

etiap awal bulan.

 

Guruku...

betapa mulianya dirimu.

Namun detik ini,

zaman berubah

BIMSALABIM!

 

 

Karena pahlawan di buku sejarah

kini adalah orang

yang dulu ayahku lawan

demi perubahan.

 

Guruku...

engkau pelita dalam gelap,

engkau pahlawan bangsa.

Tapi ketika tanggal 10 November tiba,

kau tak pernah dapat tanda jasa.

 

Tak ada medali.

Tak ada penghargaan.

Hanya selembar gaji

dan sedikit tunjangan

yang membuatmu terus bertahan.

 

Dan detik ini aku percaya:

Negeri yang memberi makan anak-anaknya,

juga harus memberi hidup yang layak

bagi guru-gurunya.

 

Hal yang Mati di Medan Perang Jakarta

Arkan Sulak

Di foto lamamu kau tegak membara

dipunggung zaman yang bungkuk

mengangkat suara yang lebih tinggi

dari semburan gas air mata

menekan mundur perjuangan masa.

 

Aku lahir dari kisah itu dari

cerita yang kau ikat dengan

tulang yang memar, dengan

napas yang tercekat,

dengan kepala yang tak pernah tunduk

pada kaki cukong yang mendesak.

 

Namun, hari ini

ku cerlik televisi,

ia menayangkan kepahitan;

Orang yang kau lawan

Diangkat sebagai pahlawan.

 

Ayah

Semangat kepahlawanan bak kuda

di medan perang itu telah dilecehkan.

Kini ia meredup diremas satu dua kalimat

yang menampar cacat sejarah. Seolah luka ribuan orang

hanya catatan yang salah dalam penulisan.

 

Ayah

jika yang kau lawan itu pahlawan,

lalu siapakah dirimu?

siapakah kawan-kawanmu yang digiring hingga malam

sampai matahari kembali berkuasa di teriknya siang?

ya, siapakah mereka?

yang tak pernah pulang

dari jalanan yang penuh penindasan

tempat kalian menggoreskan tinta perjuangan.

 

Aku ingin memelukmu

tapi sejarah terlalu berat dan samar

untuk dipeluk lengan seorang anak

yang hanya ingin mengerti

mengapa kebenaran begitu mudah dibeli?

 

Di ruang tamu,

jaket almamater itu tergantung

menyetubuhi dinding waktu

yang menyimpan luka tempo lalu.

 

Ayah

Aku tak pernah mengingatmu sebagai pengacau,

Aku mengingatmu sebagai manusia

yang berteriak ketika diam adalah pengkhianatan.

 

Kehilangan Akar

Arkan Sulak

 

Saat aku bermotor menyusuri jalan bercabang

nampak parkiran melengkapi setiap sudut kota ini.

Bukan kota istimewa layaknya Yogyakarta,

atau Bandung yang melibatkan perasaan ketika sunyi.

 

Dulu orang menyebutmu kota selaksa bukit;

hijau, tenang, menampung doa

dari kubah masjid, dari bukit, dari jiwa yang rebah dan tabah.

 

Namun, kini bukitmu dipreteli,

dikeruk insan maruk, ditukar dengan deru truk-truk tambang

yang meninggalkan jalan berlubang,

menyisakan kepulan-kepulan, dan paru-paru karatan.

 

Kotaku adalah kota bukit yang patah

yang retak habis dibelah

Kotaku adalah kota sawah yang disemen

yang disulap menjadi ruko, perumahan dan papan reklame

Kotaku adalah kota gang sempit

yang dijejali parkir motor, ojek, dan pedagang kecil

Kotaku adalah kota

yang rakyatnya digaji pas-pasan, namun dipajaki habis-habisan

Kotaku adalah wajah kota kecil

yang ingin tampak besar namun kehilangan akar.

 

Bila aku memandangmu dari jauh

maka terdengar suara rintihan balita yang lapar

sedangkan ibunya berhutang demi sebutir beras.

 

Ketika aku berhenti sejenak di pinggir Alun-alun

atau di depan Masjid Agung

sayup suara azan dalam balutan sandekala menyelinap

menyambut hangatnya kamis malam.

Disana tampaklah senyum sederhana orang-orang,

mata anak-anak yang bersinar,

serta tangan-tangan yang saling menguatkan.

 

Kau masih berhak memilih jejakmu

dan akupun masih bisa memilih suaraku

tuk menggugat tuk merawat atau mengingat

bahwa selaksa bukit adalah warisan

yang tak boleh lenyap oleh keserakahan.

 

Tasikmalaya, 2025

 

Doa dan Rayuan dari si Anak Eksentrik.

Arkan Sulak

 

Malam ini aku tak bisa tidur lagi.

Kusaksikan berita pilu di televisi,

menyoroti bencana lagi,

lagi...

dan lagi.

 

Layar itu memantulkan air

ke dinding kamarku yang sepi.

 Katanya banjir di Sumatra terjadi,

ribuan nyawa pergi,

bersama memori,

dan doa yang tak sempat kembali.

 

Aku belum pandai menghitung arti,

tapi aku tahu kehilangan itu pasti,

bukan cuma manusia yang bisa pergi,

alam pun ikut merintih,

diam-diam menanggung perih.

 

Gelondongan batang kayu itu hanyut ke hilir,

tercabut dari tanah yang dulu berdiri,

seperti tulang-belulang negeri,

yang dipatahkan tanpa empati.

Aku ingin bertanya pada pagi,

pada hujan, pada langit di sore hari,

tapi suaraku terlalu kecil untuk melawan arus ini,

tanganku terlalu lemah untuk menahan banjir ini.

 

Namun aku mengerti satu arti:

ini bukan sekadar bencana yang terjadi,

ini adalah jawaban dari bumi,

atas keserakahan yang terus diberi.

 

Hutan ditebang tanpa peduli,

tanah digali tanpa nurani,

manusia-manusia mengekploitasi tanpa berhenti,

lalu menyebut murka alam sebagai misteri.

 

TUHANN

Memang tidak mudah mencintai negeri ini

Hidup dengan manusia-manusia serakah yang keji

yang rela saling mencaci

sambal penuh cinta

diam- diam meracuni generasi mudanya

dengan sepiring nasi.

 

Malam ini aku menunduk dan berdoa sendiri,

bukan doa yang manis atau suci,

Tuhan, jadikanlah manusia-manusia serakah itu abadi,

agar mereka sempat menjalani

kesengsaraan yang mereka ciptai sendiri.

Karena keabadian dalam derita ini,

akan menumbuhkan kesadaran sejati,

bahwa hidup tak bisa berdiri

di atas luka bumi yang dikhianati.

 

NAMUN DEMI TUHAN AKU BERUSAHA

Aku ingin hutan kembali hijau dan rapi,

pohon tumbuh tegak dan murni,

air kembali tahu ke mana harus pergi,

dan bumi kembali percaya pada kami.