Di Atas Dongeng Kota

19/04/2023

Melayari Hujan

 

Hari-hari tanah setia dihujani waktu dilumuri kota-kota, hingga digenangi masa lalu. Dan hujan adalah sepucuk surat dari rahim; ibu untuk anak-anaknya kian meningkat menjadi udara

peduli sebentang pada masif hujan

:cinta dan anugerah biru untuk setiap pucuk di pohon

 

Timur, barat, selatan ke utara mencipta karya seni dingin

mata berkaca-kaca, burung pun arung jeram

dari karang, ibu sedang merakit kebun; mencipta tak ribut

seketika laut pun diam tidak berubah arah.

 

Sumenep, 2022

 

 

Di Atas Dongeng Kota

 

Di penghujung bilik kota yang mekar memupuk hari

kasidah tentang dongeng anak pencari nasi nanar kerap dibisingkan

lengang menyisakan buah dari mereka merajalela mengatup dingin

berkali-kali membelai tanah aspal dengan hiasan keroncong dalam tubuhnya

 

Celoteh anak pungut antri dengan tangan kanan di bawahnya, menanti yang lepas pengap

di atas lampu angan-angan sama dengan mimpi

ibu bertabur bintang namun tiada yang arung

ibu mencipta lagu tak bisa menangkap ritme

 

Di sudut relung ternyata anak itu bersimpuh demi penantian panjang

pada kaki bumi tak ada yang lebih tinggi kerikil pun mematung

mengarungi laut hidup bukan sebuah kebetulan

sementara semesta menggerogoti tubuhnya

 

Apa pesonanya malam menyemayamkan harapan secerah itu

lantas, menunggu seorang dirikah aku?

waktu serasa mati; tak ada bekas terang menyingkap tabir

hingga hati kita sayup lebur sebentang.

 

Telang Indah, 2022

 

 

Gang WN dan Penghuninya

 

Bertahun tahun jalan disesaki ekor kepala

ribut tentang lipstik kenalannya, merobek burung-burung kecapi yang bertengger di grobak orang, seperti menunjukkan kesengsaraan lupa kunci rumahnya terbuka lebar.

Selebihnya panah juga panjang di sudut gang WN

tancap biola ke bising-bising sekitar Ebece

tak sepantasnya menenggak minuman di luar maut, sedang perjamuan terakhir tak ada waktu bermula.

tapi sebenang kain flanel turut berduka atas kepergian suaminya sendiri

sesaat kemudian bahagia

"berita gosong mengakhiri hidupnya dan bercerita panjang"

ibu kita akan terpanggil lagi?

 

Ia terkenang juga, tentang kota yang menepi, tak memakai mantel, sepatu hujan ketulusan sirna dan tak  pernah kembali

tau-tau punggungnya tersayat pisau yang sedang membumbui kehidupan

ya jalang, ia tetap patung yang berdiri, mencintai maut. Matanya gelap

terang adalah cahaya yang mesti diciumi orang setiap hari.

dan hanya kesadaran menaungi sampan kecil hingga jauh berlayar.

 

Sumenep, 2022

 

 

Gedung Cakra Trunojoyo

 

Pemburu mengangguk di tumpuan tanganmu

buah abad menyembilu di tanah radiasi mimpi

yang duka menyimpan diri dari rak-rak buku

teori filsafat menyepak, antologi terpanggang, dauh agama yang bermoral, kerangka manusia prasejarah, psikologi kematian, atmosfer bumi

atau iya gelagatnya menumpuk di jaring ikan

dan masih banyak lainnya ketimbun bengal

peluh mengucur di pintu keluar Trunojoyo

memadamkan kemalangan di ruas kecil di sekitar gedung RKB E

pekerjaan kita hanya melayani dan diam

 

Pikirku melapisi bagian dinding kecamuk

tentang lakon ibu yang seharusnya menjadi bagian terpenting sejarah

aku berlari mengejar dingin pagi

sebelum terjerembab membentuk darah kembali

aku mengagumi keindahan alam

lalu melangit di peraduan ibu ke laut ayah

 

Gedung berjejer, satpam tertidur pulas,

kepala-kepala cekatan mencatat siapa yang datang

tapi gedung Cakra yang lebih mengenang bulan lalu

sampai-sampai tercium Mahsyar

mengubah elegi ketulungan

yang terbawa awan menggemari abad lewat lembarannya.

 

Sumenep, 2022

 

 

Pelabuhan Timur (1)

 

Ia membela tubuhnya sendiri, dari angkuhan orang-orang di rahim senja

senja di ujung membuat belaian ingatan kita

sehingga tak ada alasan untuk pulang lebih pagi

kembali desir digelar

sore adalah waktu ternyaman dari senggang

tubuh asyik, bermain peta umpet

di terumbu karang barangkali rindu kita di sana

saling merangkul cinta sebagai manusia biasa

namun, sesekali Pel-Tim mengadu nasibnya sendiri

ia seperti lika-liku yang mesra

yang pada gilirannya ada sungai yang rela mengalir

ke pinggir kapal.

 

Sumenep, 2022

 

Pelabuhan Timur (2)

 

Di laut, setiap pagi kapal memompa darah

bisikan orang-orang pasti tentang ombak dan gelombang

saat persediaan bersauh wahai dinding rumah

dan siang menjelma kemarau

dimana dahinya yang bertukar sapa

keruh bulan pada desir gelombang

kaki telanjang, raup kapal menggelegar seperti cinta para nelayan

di bekas yang belum usai ibu

 

Sebelum memanin ikan-ikan di tubuh senja

setiap anak-anak ingin berlayar juga

menggantikan tangan ibu yang beramai-ramai

di pasar, tak ada perjamuan setia

bergegas pulang dan terbit cinta sang kasih oleh anaknya.

 

Sumenep, 2022

 

Pelabuhan Timur (3)

 

Jalan setapak menuju kapal

kerap ada bising maut kecebur ombak

gulatan aspal melepas ketakjuban

di belakang berpasrah

moral tertuang lagi, wahai keluasan

melompat kegirangan yang tak sia-sia di kuncup nelayan

 

Ah, girang sebab senja berdatangan

menyelinap tawa di jendela belum ditutup

satu menit lagi kapal akan berlayar

handphone tergenggam, cinta siap di gelar

 

Daun menepi laut

tenaga sudahlah terkuras oleh rindu

kita selisih malam yang awal

menuju tempat asal

sebuah kebahagiaan bersanding, dengannya kuasa hasta

mimpi ibu benar-benar nyata

pada tungku yang lain

melebihi kusir kereta yang menjanjikan

bahwa setiap derunya membatin dalam ingatan.

 

Sumenep, 2022

 

Muhammad Zayyad, lahir di Sumenep. Gemar menulis puisi dan naskah film. Saat ini aktif sebagai kepala divisi sastra UKMF Kesenian ABStra Bangkalan. No. WA: 082338542153. Ig: zymakeen.