Tiga Bab Kesan Pembacaan: Ingatan Yang Tidak Pernah Selesai

05/01/2026

 

BAB I 

Ritus Ingatan dan Kerja Lupa 

Ada jenis ingatan yang tidak ingin tinggal lama. Ia datang, mengetuk sebentar, lalu menghilang sebelum sempat kita dudukkan dalam bahasa. Dalam cerpen-cerpen Jein Oktaviany, ingatan semacam ini bukan sebatas tema, melainkan modus keberadaan. Ia bukan benda simpanan, melainkan peristiwa yang terus bergerak—kadang berputar, kadang tersendat, kadang terpecah tanpa pola yang bisa dipastikan. 

Maka ketika kita membaca Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?, yang pertama-tama terasa bukanlah kisah tentang lupa, melainkan tentang cara tinggal bersama lupa. Dua orang lansia yang saling bertanya—pertanyaan yang sama, diulang setiap hari—tidak sedang berusaha mengingat masa lalu secara heroik. Mereka justru membiarkan ingatan bekerja sebagai ritus kecil: seperti menyapu lantai yang akan kotor lagi, atau menanak nasi yang besok harus dimasak ulang. 

Di sini, ingatan tidak lagi menjadi gudang identitas. Ia lebih menyerupai gerak napas: hadir karena dilakukan, bukan karena disimpan. Pertanyaan “apa yang kau lupakan hari ini?” bukan interogasi, melainkan sapaan. Ia tidak menuntut jawaban yang tepat, melainkan keberlangsungan percakapan. Dalam logika semacam ini, lupa tidak otomatis berarti kehilangan; ia justru membuka ruang bagi relasi yang terus diperbarui. 

Bahasa Jein bekerja dengan ekonomi yang nyaris asketik. Kalimat-kalimatnya pendek, seolah enggan menumpuk makna. Namun justru dalam kesederhanaan itu muncul sesuatu yang rapuh sekaligus keras kepala: kesediaan untuk mengulang tanpa jaminan hasil. Ingatan, dalam cerpen ini, tidak diarahkan menuju pencerahan atau klimaks. Ia dibiarkan beredar, seperti waktu yang tidak lagi mengejar apa pun. 

Jika kita tarik sedikit keluar, cerpen ini tampak menolak mitos modern tentang ingatan sebagai basis identitas yang stabil. Dalam masyarakat yang memuja arsip, data, dan dokumentasi, lupa selalu dicurigai. Jein, sebaliknya, menempatkan lupa sebagai kondisi eksistensial yang harus dihadapi dengan etika tertentu: etika kesabaran, etika menemani. Cinta, di sini, bukan penguasaan atas masa lalu bersama, melainkan kesediaan untuk bertanya kembali—bahkan ketika jawabannya sudah berkali-kali terlupa. 

Dari lanskap domestik yang tenang ini, Rekuiem membawa kita ke wilayah lain: ruang antara. Jika cerpen pertama bergerak dalam terang pagi yang berulang, Rekuiem berlangsung dalam cahaya redup, di mana batas antara suara dan ingatan menjadi kabur. Tokoh yang “mendengar orang mati” tidak diposisikan sebagai figur istimewa, apalagi mistis. Ia justru hadir sebagai subjek yang terisolasi, terkurung dalam ruang sempit, dikepung suara yang tidak sepenuhnya bisa diverifikasi. 

Yang menarik, Jein tidak pernah benar-benar memastikan apakah suara itu berasal dari luar atau dari dalam. Ketidakpastian ini bukan kelemahan naratif, melainkan strategi. Ingatan, dalam cerpen ini, bekerja seperti gema: ia memantul, kembali dengan bentuk yang sedikit berubah, dan menolak dilacak sumbernya. Berkabung tidak tampil sebagai proses yang bisa diselesaikan, melainkan sebagai kondisi akustik—ada suara yang terus berdengung, meski sumbernya sudah lama tiada. 

Jika pada cerpen lansia ingatan dijaga melalui dialog, dalam Rekuiem ia justru menjadi monolog yang retak. Tidak ada lawan bicara yang bisa mengonfirmasi atau menyangkal. Subjek dibiarkan sendirian dengan suara-suara itu. Di titik ini, ingatan kehilangan fungsi sosialnya. Ia tidak lagi mengikat relasi, melainkan mengurung. Namun Jein tidak mengubah kondisi ini menjadi patologi yang harus disembuhkan. Kesepian tidak didramatisasi; ia dihadirkan sebagai fakta sehari-hari yang dingin dan membandel 

Ruang dalam Rekuiem terasa sempit, hampir statis. Waktu seperti berhenti bergerak. Tidak ada peristiwa besar, hanya akumulasi suasana. Inilah salah satu kekuatan Jein: keberaniannya untuk membiarkan cerita berjalan lambat, bahkan nyaris tidak bergerak. Dalam kelambatan itu, pembaca dipaksa mendengarkan. Dan mendengarkan, sebagaimana kita tahu, adalah kerja yang melelahkan. 

Ingatan, di sini, bukan sesuatu yang dipanggil. Ia datang tanpa undangan. Ia menginterupsi kehidupan yang ingin berjalan normal. Dalam konteks ini, ingatan bersekutu dengan rasa bersalah, dengan sesuatu yang belum selesai. Tetapi Jein tidak pernah menjelaskan apa yang “belum selesai” itu secara gamblang. Ia menolak narasi penyembuhan. Yang ada hanyalah keberlanjutan keadaan: suara yang datang dan pergi, malam yang terus berulang. 

Jika dua cerpen pertama masih memberi jarak tertentu antara pembaca dan peristiwa, Enam Hal yang Terjadi Sebelum Anjani Mati meruntuhkan jarak itu secara sistematis. Di sini, ingatan tidak lagi beroperasi sebagai percakapan atau suara, melainkan sebagai bekas pada tubuh. Struktur cerpen yang terfragmentasi—enam bagian yang tidak mengikuti urutan kronologis—menjadi representasi langsung dari cara trauma bekerja. Trauma tidak mengenal linieritas. Ia muncul dalam potongan-potongan yang tidak bisa disusun kembali tanpa sisa. 

Penomoran dalam cerpen ini menipu. Ia memberi ilusi keteraturan, padahal yang dihadirkan justru kekacauan. Pembaca yang berharap menemukan sebab-akibat akan segera menyadari bahwa harapan itu tidak relevan. Jein menolak logika naratif yang sering digunakan untuk “memahami” kekerasan. Tidak ada penjelasan psikologis yang menenangkan. Tidak ada penutupan yang memberi rasa selesai. 

Bahasa dalam cerpen ini lebih tajam, lebih langsung. Namun ketajaman itu tidak berubah menjadi sensasionalisme. Jein menjaga jarak yang dingin, hampir klinis. Kekerasan tidak diberi efek dramatis tambahan; justru karena itu dampaknya terasa lebih berat. Tubuh Anjani menjadi arsip yang tidak bisa ditutup. Ingatan tidak lagi bisa dinegosiasikan melalui dialog atau suara. Ia melekat, menetap, dan menolak pergi. 

Jika kita membaca tiga cerpen ini sebagai satu gugus, tampak jelas bahwa Jein sedang memetakan spektrum kerja ingatan: dari yang dirawat bersama, yang menghantui dalam kesepian, hingga yang membatu dalam tubuh. Tidak ada hierarki moral di antara ketiganya. Tidak ada kesimpulan yang menyatukan semuanya dalam satu pesan besar. Yang ada adalah kesadaran bahwa ingatan selalu problematis—tidak pernah sepenuhnya bisa dipercaya, tetapi juga tidak mungkin diabaikan. 

Dalam lanskap sastra yang sering tergoda untuk menjadikan trauma sebagai komoditas emosi, cerpen-cerpen ini memilih jalan lain. Mereka tidak berteriak, tidak meminta simpati. Mereka berbicara dengan suara rendah, kadang nyaris berbisik. Tetapi justru dalam nada itulah terletak daya tahannya. Ingatan, sebagaimana ditulis Jein, bukan sesuatu yang harus dimenangkan. Ia adalah sesuatu yang harus dihadapi—hari demi hari, suara demi suara, luka demi luka. 

 

BAB II 

Fragmen Waktu dan Politik Ketidakurutan 

Jika ingatan dalam cerpen-cerpen Jein Oktaviany tidak pernah stabil, itu karena waktu yang melingkupinya juga tidak pernah netral. Waktu, di sini, bukan latar pasif tempat peristiwa berlangsung, melainkan kekuatan yang ikut membentuk, mengganggu, bahkan merusak narasi. Tidak ada satu pun dari tiga cerpen yang bergerak dalam waktu lurus yang tenang. Yang ada adalah waktu yang melambat, berhenti, atau pecah—dan dari sanalah ketegangan estetik sekaligus etis muncul. 

Pada Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?, waktu tampak jinak. Hari-hari berlalu dengan ritme yang nyaris sama. Pertanyaan yang sama diulang, percakapan yang sama dibuka kembali. Namun justru dalam repetisi inilah waktu kehilangan sifat progresifnya. Ia tidak membawa tokoh ke mana-mana. Ia hanya berputar, seperti jarum jam yang terus bergerak tanpa menjanjikan arah. Waktu tidak lagi menjadi sarana menuju perubahan, melainkan kondisi yang harus dihuni. 

Dalam situasi ini, ingatan tidak berfungsi sebagai jembatan ke masa lalu yang utuh, melainkan sebagai penanda keberlanjutan relasi. Yang dijaga bukan kronologi, melainkan kehadiran. Masa lalu tidak dipanggil untuk dipahami kembali, tetapi disentuh sebentar agar hari ini bisa tetap berjalan. Dengan demikian, Jein menawarkan satu kemungkinan radikal: bahwa makna hidup tidak selalu bergantung pada narasi besar tentang “dari mana kita datang”, melainkan pada praktik kecil tentang “bagaimana kita bersama sekarang”. 

Bergerak ke Rekuiem, waktu berubah watak. Ia tidak lagi berputar secara tenang, melainkan mengendap. Malam terasa panjang, hampir beku. Tidak ada penanda jelas antara sebelum dan sesudah. Dalam ruang sempit itu, waktu menjadi tekanan psikologis. Setiap detik tidak membawa pembaruan, hanya menegaskan keberadaan suara yang sama. Ingatan, dalam konteks ini, tidak mengikuti alur temporal. Ia muncul tiba-tiba, tanpa memperhatikan urutan. 

Jein dengan sadar menolak dramaturgi waktu yang lazim: tidak ada fase awal, tengah, dan akhir yang tegas. Berkabung tidak bergerak menuju resolusi. Ia menetap sebagai keadaan. Waktu, alih-alih menyembuhkan, justru menjadi medium di mana kehilangan terus bergema. Suara-suara yang terdengar tidak bisa diletakkan di masa lalu sepenuhnya, tetapi juga tidak sepenuhnya hadir di masa kini. Mereka berada di antara—sebuah wilayah yang membuat subjek terus-menerus limbung. 

Di sinilah cerpen ini bekerja sebagai refleksi tentang kegagalan waktu modern. Kita terbiasa memercayai bahwa waktu akan “menyelesaikan segalanya”. Rekuiem menyangkal keyakinan itu. Ada kehilangan yang tidak tunduk pada jam dan kalender. Ada ingatan yang tidak memudar, justru karena ia tidak pernah diberi tempat untuk benar-benar diakui. Dengan cara ini, Jein menggeser waktu dari alat penertiban menjadi sumber gangguan. 

Ketika sampai pada Enam Hal yang Terjadi Sebelum Anjani Mati, waktu tidak lagi bisa dibicarakan sebagai aliran sama sekali. Ia pecah menjadi fragmen. Penomoran bagian-bagian cerpen menciptakan ilusi sistematis, tetapi urutan yang dihadirkan justru menolak logika kronologis. Pembaca dipaksa menerima bahwa peristiwa traumatis tidak bisa ditata ulang secara rapi. Setiap upaya untuk menyusunnya kembali akan selalu menyisakan kekosongan. 

Trauma, dalam cerpen ini, adalah bentuk waktu yang rusak. Ia tidak berada di masa lalu, karena tubuh terus mengingatnya. Ia tidak sepenuhnya hadir di masa kini, karena selalu datang sebagai kilas balik yang tidak diundang. Ia juga tidak membuka masa depan yang jelas. Dengan demikian, waktu kehilangan fungsi orientatifnya. Subjek tidak tahu harus bergerak ke mana, karena semua arah terasa tercemar oleh apa yang telah terjadi. 

Yang penting dicatat, Jein tidak menggunakan fragmentasi ini sebagai hiasan eksperimental. Ia tidak memamerkan teknik. Struktur yang terpecah adalah konsekuensi etis dari apa yang ingin dihadirkan. Kekerasan tidak diberi kesempatan untuk “dipahami” melalui alur yang rapi, karena pemahaman semacam itu sering kali justru melunakkan dampaknya. Dengan memutus kontinuitas waktu, cerpen ini menolak segala bentuk domestikasi trauma. 

Jika tiga cerpen ini dibaca berurutan, tampak bahwa Jein sedang mengajukan satu pertanyaan implisit: bagaimana mungkin kita bercerita tentang pengalaman manusia tanpa mengkhianati kerusakan waktu yang dialaminya? Jawaban yang ditawarkan bukan teori, melainkan praktik naratif. Setiap cerpen memilih bentuk waktu yang berbeda, sesuai dengan jenis pengalaman yang dihadapi. 

Dari sisi ini, pilihan Jein untuk menghindari resolusi menjadi sangat signifikan. Tidak ada satu pun cerpen yang ditutup dengan rasa selesai. Pada lansia, ritual akan terus diulang. Pada Rekuiem, suara mungkin akan terus terdengar. Pada Anjani, luka tidak disembuhkan oleh penceritaan. Penolakan terhadap penutupan ini bukan kegagalan, melainkan sikap. Ia menegaskan bahwa tidak semua pengalaman manusia bisa ditertibkan oleh narasi. 

Sikap ini membawa implikasi etis yang luas. Dalam dunia yang gemar menuntut cerita “inspiratif”, “penyintas”, atau “pemulihan”, cerpen-cerpen ini memilih diam yang panjang. Diam bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, melainkan karena bahasa tidak selalu sanggup menampung apa yang terjadi. Ingatan, waktu, dan tubuh berada dalam relasi yang terlalu rumit untuk diringkas menjadi pesan tunggal. 

Namun justru di titik inilah muncul risiko estetik. Ketika ketidakselesaian menjadi prinsip dominan, pembaca yang akrab dengan pendekatan ini dapat merasa aman dalam ketidakamanan tersebut. Ketegangan yang seharusnya mengganggu 

berpotensi berubah menjadi gaya yang dikenali. Ini bukan cacat fatal, tetapi tantangan lanjutan bagi visi artistik semacam ini: bagaimana terus mengganggu tanpa mengulang gangguan yang sama. 

Meski demikian, pencapaian Jein tetap signifikan. Ia menempatkan waktu bukan sebagai sekutu narasi, melainkan sebagai masalah. Dengan demikian, cerpen-cerpennya tidak hanya bercerita tentang ingatan, tetapi juga tentang keterbatasan bercerita itu sendiri. Sastra, di sini, tidak tampil sebagai alat penguasaan makna, melainkan sebagai ruang negosiasi yang rapuh—ruang di mana kegagalan untuk memahami sepenuhnya justru menjadi bentuk kejujuran. 

 

BAB III 

Etika Membaca, Etika Menulis 

Pada akhirnya, yang dipertaruhkan oleh cerpen-cerpen Jein Oktaviany bukan hanya persoalan ingatan, waktu, atau tubuh, melainkan cara bercerita itu sendiri. Pertanyaannya bukan lagi apa yang diceritakan, melainkan bagaimana—dan lebih jauh lagi, dengan risiko apa. Dalam gugus cerpen ini, bercerita bukan tindakan netral. Ia selalu berhadapan dengan kemungkinan melukai ulang, menyederhanakan, atau justru menghilangkan sesuatu yang seharusnya dibiarkan tetap tak selesai. 

Jein tampaknya sangat sadar akan bahaya tersebut. Maka ia memilih jalan yang sempit dan disiplin. Ia menahan diri dari penjelasan berlebih, dari penutupan yang meyakinkan, dari emosi yang dilepaskan secara demonstratif. Cerita-ceritanya tidak menawarkan kompensasi bagi pembaca. Tidak ada janji bahwa membaca akan memberi kelegaan. Yang ada hanyalah pengalaman berada di dekat sesuatu yang rapuh—dan kesadaran bahwa kedekatan itu sendiri sudah cukup berisiko. 

Dalam konteks ini, etika penceritaan Jein bersifat negatif dalam arti produktif: ia bekerja melalui penolakan. Penolakan terhadap resolusi. Penolakan terhadap kronologi yang menertibkan. Penolakan terhadap bahasa yang merasa mampu “mewakili” pengalaman ekstrem. Etika ini tidak diucapkan, tetapi dijalankan melalui bentuk. Ia tidak berkhotbah tentang trauma, tetapi menata cerita sedemikian rupa sehingga trauma tidak bisa diperlakukan sebagai konsumsi. 

Pilihan ini berdampak langsung pada posisi pembaca. Pembaca tidak ditempatkan sebagai pengamat yang aman. Ia juga tidak diberi peran sebagai hakim moral. Pembaca justru didorong ke posisi yang tidak nyaman: cukup dekat untuk merasakan, tetapi tidak cukup dekat untuk menguasai. Tidak ada petunjuk tentang bagaimana seharusnya merespons. Empati tidak diarahkan; ia harus dinegosiasikan sendiri. 

Dalam Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?, pembaca belajar menahan hasrat untuk “menyelamatkan” tokoh. Tidak ada yang perlu diselamatkan. Lupa bukan tragedi yang menuntut solusi. Ia adalah kondisi yang dihadapi dengan kesetiaan pada ritus kecil. Pembaca yang terbiasa mencari pesan inspiratif akan merasa digantung. Tetapi justru di situlah kekuatan cerpen ini bekerja: ia menolak logika perbaikan yang tergesa-gesa. 

Dalam Rekuiem, pembaca dihadapkan pada kesuwungan yang tidak bisa dipecahkan. Tidak ada kunci interpretasi yang pasti. Suara-suara tidak diberi asal-usul yang jelas. Dengan demikian, pembaca dipaksa untuk menerima ambiguitas sebagai bagian dari pengalaman. Ini adalah latihan etis: belajar hidup dengan ketidakpastian tanpa tergesa-gesa menutupnya dengan tafsir yang nyaman. 

Sementara itu, Enam Hal yang Terjadi Sebelum Anjani Mati secara tegas menolak posisi pembaca sebagai penikmat narasi kekerasan. Struktur yang terpecah 

dan bahasa yang terkendali memutus kemungkinan voyeurisme. Tidak ada sensasi, tidak ada dramatisasi berlebih. Pembaca dihadapkan pada fakta yang keras, tetapi tidak diberi alat untuk menjinakkannya. Di sini, membaca menjadi kerja yang berat, bukan hiburan. 

Namun etika yang ketat ini juga membawa konsekuensi. Dengan menolak banyak hal, cerpen-cerpen ini membangun jarak yang konsisten. Jarak ini menjaga integritas pengalaman, tetapi sekaligus membatasi kemungkinan dialog yang lebih luas. Dunia sosial dan struktural hadir lebih sebagai bayangan daripada medan konflik yang eksplisit. Kekerasan, kehilangan, dan kesepian tampil sebagai pengalaman personal yang intens, sementara relasinya dengan sistem yang lebih besar hanya tersirat. 

Pilihan ini dapat dibaca sebagai strategi sadar: Jein tidak ingin mengubah cerpen menjadi esai sosial atau alegori politik yang gamblang. Namun bagi sebagian pembaca, ketertutupan ini bisa terasa sebagai penghindaran. Pertanyaannya bukan apakah cerpen-cerpen ini “kurang politis”, melainkan apakah sikap estetika yang sangat terkontrol ini masih menyisakan ruang untuk gangguan yang benar-benar tak terduga. 

Di titik ini, gugus cerpen Jein memperlihatkan paradoks produktif. Di satu sisi, ia menolak segala bentuk keteraturan naratif yang memudahkan. Di sisi lain, konsistensi gaya dan sikap estetisnya menciptakan keteraturan baru: pembaca mulai mengenali pola ketidakselesaian itu sendiri. Ketegangan yang semula mengganggu perlahan menjadi ciri. Risiko estetisnya adalah repetisi dalam intensitas yang berbeda, bukan lompatan ke wilayah yang benar-benar asing. 

Meski demikian, dalam lanskap sastra Indonesia kontemporer, posisi ini tetap signifikan. Di tengah kecenderungan narasi yang menjelaskan terlalu banyak atau 

mengemas pengalaman traumatis menjadi komoditas emosi, cerpen-cerpen ini memilih jalan suwung. Mereka tidak berlomba menjadi relevan secara instan. Mereka bekerja perlahan, mengandalkan ketekunan pembaca. 

Jein, dengan demikian, tidak sedang membangun sastra yang ingin segera dipahami. Ia membangun sastra yang ingin ditinggali—meski tidak nyaman. Cerita-ceritanya tidak menawarkan peta, hanya medan. Pembaca harus menentukan sendiri bagaimana berjalan, kapan berhenti, dan sejauh mana bersedia terlibat. 

Jika kita kembali ke pertanyaan awal tentang ingatan, tampak bahwa ingatan dalam cerpen-cerpen ini tidak pernah diberi status final. Ia selalu dalam proses: dirawat, menghantui, atau melukai. Tidak ada nostalgia yang dirayakan, tidak ada trauma yang disembuhkan sepenuhnya. Ingatan tidak menjadi alat rekonsiliasi, melainkan sumber ketegangan yang terus bekerja. 

Dengan sikap ini, Jein menempatkan sastra bukan sebagai ruang penyelesaian, melainkan sebagai ruang penahanan. Cerita menahan makna agar tidak jatuh terlalu cepat ke dalam kesimpulan. Dalam dunia yang semakin tergesa-gesa, penahanan semacam ini menjadi gestur yang hampir politis: menolak kecepatan, menolak kejelasan palsu, menolak tuntutan untuk selalu produktif secara emosional. 

Akibatnya, gugus cerpen ini dapat dibaca sebagai latihan kesabaran—bagi penulis, bagi teks, dan terutama bagi pembaca. Kesabaran untuk tinggal bersama yang tidak selesai. Kesabaran untuk mendengarkan suara yang tidak jelas asalnya. Kesabaran untuk mengakui bahwa ada luka yang tidak bisa dijelaskan tanpa merusaknya. 

Di titik itulah aspek sastrawi Jein Oktaviany menemukan daya tahannya. Bukan pada kejutan, bukan pada pesan, melainkan pada keteguhan untuk tidak 

menutup apa yang memang tidak bisa ditutup. Dan mungkin, dalam keteguhan itulah, sastra masih memiliki alasan untuk terus ditulis dan dibaca. 

Sorowajan, 2025 

 

Astrajingga Asmasubrata, Poet&Punk + Nangisan.