Dari Ramadan, Uposatha, Hingga Upawasa Demi Menuju Kesucian Yang Sejati.

17/04/2023

Setiap tahun, antusiasme masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan suci begitu tinggi. Terlebih, banyak tradisi menjelang ataupun ketika berpuasa yang selalu disambut suka cita oleh masyarakat. Bukan saja dirasakan oleh umat muslim saja, namun perasaan suka cita di bulan Ramadan juga dirasakan oleh saudara non muslim Bangsa Indonesia. Dengan demikian, multikulturalisme di Indonesia sama sekali tak menjadi penghambat bagi terciptanya solidaritas dan toleransi yang justru menjadi kunci kedamaian bagi Bangsa Indonesia.

Ternyata, melatih diri dari segala kemungkinan perbuatan yang merugikan dan menahan nafsu, atau yang biasa kita kenal dengan puasa ini tak hanya ada dalam konsep ajaran umat muslim saja. Walaupun dengan aturan yang sedikit berbeda, namun tujuan dari konsep berpuasa di dalam beberapa ajaran agama memiliki kesamaan, yakni melatih kedisiplinan dan kesabaran diri.

Dalam ajaran Buddha, dikenal ajaran Uposatha. Berpuasa Uposatha membolehkan umat Buddha untuk minum tetapi melarang untuk makan. Selama melakukan Uposatha, umat Buddha wajib melaksanakan delapan aturan yang disebut Uposatha-sila, yakni tidak boleh boleh membunuh, tidak boleh mencuri, tidak melakukan kegiatan seksual, tidak berbohong, tidak makan dari siang hingga malam hari, dan tidak boleh bersolek. Walaupun begitu, puasa Uposatha ini bergantung pada aliran Buddha yang diikuti dan mengikuti perhitungan kalender Buddhis.

Ajaran Katolik mengenal istilah puasa pra-paskah yang berlangsung selama 40 hari, dihitung dari Rabu Abu sampai Jumat Agung. Puasa pra-paskah ini terbagi menjadi dua kategori yang disebut sebagai berpantang dan berpuasa. Bedanya, berpantang wajib dilakukan bagi yang berumur 14 tahun ke atas, sedangkan berpuasa wajib bagi mereka yang berumur 18 tahun. Artinya, ketika umur umat katolik sudah melewati dua kategori umur tersebut, mereka wajib melaksanakan berpantang dan berpuasa, yakni menahan diri dari melakukan hal yang disukai, termasuk makan, minum, dan sebagainya. Berpuasa dan berpantang adalah konsep ajaran katolik untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Upawasa adalah konsep puasa yang ada dalam ajaran umat Hindu. Sama halnya dengan puasa umat muslim, Upawasa terbagi menjadi yang wajib dan yang tidak wajib. Contoh Upawasa wajib adalah Siwaratri, yang mana umat Hindu tidak boleh makan dan minum mulai dari matahari terbit hingga terbenam. Selain itu, ada juga puasa Nyepi yang dilakukan dengan cara tidak makan dan tidak minum dari fajar hingga fajar keesokan harinya.

Tradisi Yahudi membagi pola puasa mereka menjadi dua, yaitu pada hari besar (Yom Kippur dan Tisha B’Av) dan hari kecil (Esther dan Gedhalia). Ketika melaksanakan ibadah ini, umat Yahudi tak boleh makan dan minum, berhubungan seks, dan mengenakan sepatu kulit khusus pada puasa hari besar Yom Kippur, mereka dilarang untuk menggosok gigi. Puasa juga tidak boleh dilakukan pada hari Sabat, kecuali pada saat Yom Kipur. Maka, jika puasa selain Yom Kipur kebetulan pada hari Sabat, para Rabbi akan memutuskan untuk mengganti hari berpuasa.

Hampir dalam semua ajaran agama meyakini bahwa berpuasa adalah cara untuk menyucikan diri dan melatih diri agar senantiasa menjaga perilaku, perkataan, dan mengutamakan hidup yang penuh cinta kasih. Begitupun yang diyakini oleh umat Konghucu. Ajaran Konghucu menekankan dua jenis puasa, yaitu puasa rohani dan jasmani. Puasa rohani dilakukan untuk menjaga hal-hal asusila, sedangkan puasa jasmani dilakukan di bulan imlek di mana umat Konghucu pantang makan daging. Rentang waktu pantangan itu ada yang dimulai sehari, dua hari hingga bahkan seterusnya. Puasa Imlek dimulai dengan mandi keramas dan berakhir ketika mereka selesai sembahyang, antara pukul 05.30 pagi hingga 22.00 larut malam.

Puasa, dalam segala konsep kepercayaan, agama, dan tradisi, adalah sebuah bentuk peribadatan yang berfokus pada pembatasan diri dari segala perlakuan dan tindakan, baik secara rohani ataupun badaniah dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan yang Esa, melepaskan segala atribut duniawi yang berpotensi memberatkan manusia dan pada akhirnya kembali pada bentuk kesucian.

 

Agus Salim Maolana.