ANTARA MISTIK, TANDA, DAN TINTA HITAM PERJALANAN BANGSA, dalam Cerpen “Mengapa Hantu-Hantu dalam Dongeng itu Menentan

19/06/2023

LAPISAN 1

Masyarakat Indonesia, baik dari zaman dahulu hingga memasuki era kini, masih dianggap sebagai masyarakat yang memiliki tradisi mistik dan gaib yang begitu kental dengan kehidupan sehari-harinya. Secara umum, bertahannya tradisi mistik dan gaib tersebut lekat kaitannya dengan ajaran kepercayaan yang dianut masyarakat. Baik kepercayaan yang bersifat dinamisme ataupun animisme, menganggap bahwa di luar kendali manusia, ada sebuah entitas luar biasa kuat yang mengatur berjalannya kehidupan.

            Berdasarkan studi tentang manusia, tradisi meyakini hal mistik dan gaib adalah sistem pemikiran yang melihat sebuah peristiwa yang walaupun tidak terkait secara kausal, namun tetap berhubungan dengan suatu hal yang lain. Dalam sistem pemikiran ini, sangat sulit menemukan hubungan sebab-akibat atas sesuatu hal karena memang sistem pemikiran itu bekerja secara demikian. Dalam aktualisasi sistem pemikiran mistik, kita dapat menjumpainya dalam berbagai bentuk tradisi yang dilangsungkan secara turun temurun, seperti ritual pengorbanan, ritual pengobatan, ketaatan pada pantang larang atau tabu, meditasi, kesurupan, mantra, dan fenomena sihir atau kutukan.

            Setidaknya, dalam upaya memahami sistem pemikiran mistik, dua hal yang paling mungkin dapat teridentifikasikan, yakni prinsip kedekatan dan prinsip asosiatif. Prinsip kedekatan memandang bahwa dua peristiwa yang terjadi secara berdekatan memiliki hubungan kausal meskipun tidak dapat dibuktikan, contohnya:

Seseorang baru saja memiliki lukisan, kemudian orang itu tiba-tiba mati dengan cara mengenaskan yang belum diketahui penyebabnya. Waktu kematian orang itu berdekatan atau tepat dengan jumat kliwon di mana waktu-waktu itu dipercaya sebagai waktu keluarnya hantu pemangsa manusia.

Kesimpulan mistik yang ditarik dari dua hal tersebut menjadi:

Jangan pernah memiliki lukisan ketika menjelang Jumat kliwon, karena hal itu akan membuatmu mati dimangsa hantu.

Dua hal yang terjadi secara berdekatan ini memungkinkan dianggap sebagai dua hal yang berkaitan berdasarkan hasil spekulatif masyarakat, kemudian mendapatkan ruang pembudayaannya, hingga akhirnya diyakini bersama sebagai sebuah perbuatan entitas mistis yang berada di luar jangkauan manusia.

Namun bagaimana pun, cara berpikir mistik masih dianggap cukup efektif dalam melakukan kontrol atas lingkungan. Contoh terdekat adalah bagaimana cerita dan kepercayaan rakyat tentang hewan tertentu atau tentang hutan, gunung, laut, lembah, sungai dan danau yang dipercaya dihuni oleh makhluk-makhluk dengan entitas tak terlihat dan bisa sangat determinatif terhadap manusia mampu memperlambat ekspansi manusia pada lingkungan meski mungkin tidak berhenti sama sekali. Dengan begitu, keberlangsungan ekosistem yang ada di tempat-tempat tersebut akan terjaga dari jamahan manusia yang tamak.

            Prinsip kedekatan inilah yang setidaknya saya temukan dalam Cerpen “Mengapa Hantu-Hantu dalam Dongeng itu Menentang Lukisan?” karya Iqbal Kidung

Walaupun bukan lapisan makna utama yang hendak disampaikan oleh penulis, sistem pemikiran mistik dan gaib ini mampu menjembatani cerita secara solid yang sebenarnya akan bermuara kepada fakta sosial lain yang juga menjadi sejarah kelam dalam perjalanan bangsa Indonesia.

LAPISAN 2

            Sebagai sebuah karya fiksi, cerpen ditulis oleh pengarang dengan menyuguhkan nilai dan kisah manusia sesuai dengan pandangannya, hal inilah yang disebut dengan gejala susastra. Aspek-aspek dalam karya sastra akan melekat kaitannya dengan sesuatu yang khas di dalam masyarakat. tentang tanda misalnya, pembaca akan memaknai isi teks berdasarkan cara mempergunakan tanda, cara menerimanya, cara menghubungkannya dengan tanda yang lain, dan cara memahami dalam menggunakannya. Karena mewakili sesuatu, unsur tanda yang kita indera merupakan sebuah representasi. Dalam hal ini, tanda selalu menunjukkan bentuk yang nyata seperti kejadian, tempat, benda, perilaku, peristiwa, kalimat, kata, dan bentuk-bentuk lainnya.

            Dalam hal cerpen “Mengapa Hantu-hantu dalam Dongeng itu Menentang Lukisan?” karya, hal yang paling kentara adalah bagaimana penulis memberikan tanda-tanda yang konkret untuk mengantarkan pembaca terhadap pemaknaan teks dan juga konteks, misal:

  • Pasar
  • Kios
  • Terminal
  • Salon biasa
  • Radio
  • Kali
  • Tengah malam
  • Hantu

Kata pasar, kios, terminal, kali, adalah tanda ekspresi dari penulis untuk menggambarkan para penghuni yang ada di tempat-tempat tersebut, yang nantinya akan secara langsung memberi makna atas lapisan utama yang sebenarnya ingin dituju oleh penulis. Tanda sewaktu-waktu dapat berubah menjadi simbol jika diikuti dengan sifat-sifat kultural, situasional, dan kondisional. Tanda yang berubah menjadi simbol akan memiliki beberapa makna yang menjelaskan suasana, situasi, dan juga kondisi dalam sebuah karya sastra.

Sedangkan kata Radio, tengah malam, salon biasa, hantu, memungkinkan sebuah tanda dapat menjadi sebuah simbol karena di dalamnya akan terdapat suatu kondisi, situasi dan budaya tertentu. Kata radio  dapat memverifikasi bahwa situasi dalam cerpen “Mengapa Hantu-hantu dalam Dongeng itu Menentang Lukisan?” terjadi pada tempo lalu di mana internet, ponsel, bahkan televisi belum sepopuler hari ini. Kata tengah malam dalam kaitannya dengan kebudayaan di tengah masyarakat Indonesia dianggap sebagai situasi kondisi yang sunyi, senyap, sepi, dan waktu di mana banyak tindakan kejahatan sangat mungkin dilakukan. Adapun kata hantu, dalam cerpen ini diberi makna lain di luar dari arti sebenarnya kata tersebut.

LAPISAN 3

            Jika membaca lebih lanjut, cerpen “Mengapa Hantu-hantu dalam Dongeng itu Menentang Lukisan?” karya Iqbal Kidung, memuat sebuah fakta sejarah kelam dan menjadi catatan hitam dalam perjalanan bangsa Indonesia yang tak pernah menemukan titik terang siapa yang sebenarnya bertanggungjawab atas tindakan-tindakan tersebut. Periode tahun 1982-1985, di mana 1000 orang preman atau gali (gabungan anak liar) dinyatakan meninggal dengan cara mengenaskan. Hampir semua orang-orang yang menjadi korban penembak misterius itu memiliki tato di bagian tubuhnya. Hal ini mengindikasikan bahwa memang orang-orang ini sudah ditargetkan untuk menjadi korban oleh pihak yang memang berkepentingan berada di wilayah itu. mayat dari para korban akan ditemukan di jalanan, kali, atau bahkan di tengah hutan dengan kondisi tangan teringat dan dibungkus di dalam karung. Sebagaimana yang kita tahu, di dalam cerpen “Mengapa Hantu-Hantu dalam Dongeng itu Menentang Lukisan?”, penulis cukup jeli melihat fakta sejarah yang bisa disampaikan melalui teks fiksi. Sebagaimana fakta sejarah yang bisa kita telisik, pada cerpen itu hal ini dapat kita temukan dalam kalimat berikut

Ini tak seperti dongeng yang bapakmu kisahkan beberapa hari yang lalu setelah seorang laki-laki di tempatmu, Bang Slamet, dengan tengkurap ia muncul di permukaan kali. Tubuhnya penuh dengan luka yang membikin siang itu merinding setengah mati.

Atau pada kalimat berikut

 Orang tua itu hanya terdiam, di tengah diamnya itu ia hanya kembali memikirkan bagaimana bisa mayat dalam karung yang tergeletak di dekat pasar dengan tubuh yang penuh daging menganga dan melepuh ternyata adalah Pak Karno. Lalu wanita dengan tali yang menjerat lehernya dan tergantung di sebuah kios seberang terminal ternyata adalah Mirnah.

 

 

Agus Salim Maolana