PERAWAN TUA

01/06/2023

Kesedihan mulai bertandang. Sebagian merasa kehilangan,

sebagian lagi menggigil ketakutan. Menunggu giliran untuk mati, mengingat hari-hari lalu penuh dosa. Sedang Jibril tak bisa dikompromi, siapa di antara manusia yang lebih dulu dijemput? Jiwa-jiwa yang hitam? Putih? Atau Abu-abu?

 

PAK Saju menghilang dari dalam keranda saat hendak dimakamkan. Setelah hilangnya Pak Saju warga sering melihat macan dengan ujung ekor yang menyala kelap-kelip bak kunang-kunang raksasa berkeliaran di sekitar perkebunan warga, terkadang di pematang sawah. Beredar kabar bahwa macan yang berkeliaran malam-malam itu adalah Pak Saju. Beliau berubah menjadi macan karena semasa hidupnya menganut ilmu hitam.

 

Konon, Pak Saju  sangat menyukai cahaya keemasanapi. Siapa saja yang keluar rumah malam hari dengan membawa obor ke tempat yang sepi akan didatangi oleh Pak Saju. Warga jadi takut buang air malam hari di pacilingan (kamar mandi yang terbuat dari bambu di atas kolam ikan). Sore hari sebelum matahari tenggelam warga akan beramai-ramai pergi ke pacilingan untuk buang air agar malamnya tidak perlu lagi pergi keluar rumah. Banyak juga warga yang sengaja membawa ember besar untuk diisi air persediaan kalau-kalau malam hari ingin buang air tinggal melakukannya di belakang rumah.

 

Suatu hari kabar mengejutkan datang. Mang Endang tidak kembali setelah buang air di pacilingan. Esoknya warga hanya menemukan obor milik Mang Endang tergeletak di atas hamparan bambu yang sudah tua. Seminggu setelah Mang Endang hilang, Kasyono juga tidak pulang dari pacilingan. Hari-hari berikutnya, Mahpud, Kang Masdi, Toto, Ali, Bi Aminah, mereka juga tidak kembali setelah pamit untuk buang air ke pacilingan. Kabarnya orang-orang yang hilang itu dibawa Pak Saju ke alam lain untuk diambil jiwanya dan dijadikan budak setan.

 

Saat langit perlahan-lahan mulai gulita, warga menutup jendela dan pintu rapat-rapat dengan perasaan yang gelisah. Angin malam berdesir meniupkan kutuk di atap rumah-rumah. Tidak ada seorang pun warga yang berani pergi keluar. Sekali pun ingin buang air, mereka lebih memilih menahannya. Atau buang air menggunakan botol, keresek, dan apapun yang bisa digunakan pada waktu itu. Malam di kampung kami terasa sangat mencekam, seakan tulah tengah bersiap-siap menelan siapa pun yang berani menginjakkan kaki keluar rumah. Kampung kami semakin sepi, seperti belantara hati perempuan yang ditinggal suaminya pergi ke pacilingan, dan tak pernah kembali. Tak ada yang bisa kami lakukan. Dengan tubuh yang menggigil, kami berharap pagi segera datang mengetuk pintu rumah dan memberikan rasa tenang meski sesaat. Karena setelah matahari tenggelam, kembali jantung kami berdetak ketakutan disergap ngeri. Begitulah hari-hari kami lalui dengan penuh rasa cemas.

 

Dua puluh tujuh tahun berlalu. Pak Saju tidak pernah muncul lagi semenjak listrik masuk ke kampung kami. Orang-orang mulai melupakan kejadian itu dan menjalani hari baru. Tapi, cerita tentang Pak Saju masih melekat erat dalam kepalaku. Tiap kali aku ingin buang air, dadaku selalu berdegup kencang. Seolah terjadi pertempuran sengit yang tak berkesudahan. Aku gugup dibuatnya, terkadang sampai meronta kehilangan kendali atas diri sendiri. Peristiwa lampau itu selalu hadir membawa ketakutan dan luka dalam yang matimatian ingin kulupakan. Tentang Pak Saju si penganut ilmu hitam, juga orang-orang yang tiba-tiba hilang.

 

“Kang Ali bukan salah satu dari bajingan yang memerkosa anakmu, kenapa kau ambil juga?” Untuk ke sekian kali aku meringis sampai mengutuk Pak Saju dengan pisuhan-pisuhan keji karena telah menjadikanku perawan tua, menunggu Kang Ali pulang dari pacilingan dua puluh tujuh tahun lamanya.

 

*Cerpen berjudul Perawan Tua diambil dari buku kumpulan cerpen Helma Lia karya Veby Yunisa Agnia.

 

 

VEBY Yunisa Agnia lahir di Tasikmalaya, 13 Juni 1995. Beberapa puisi, cerpen dan artikel kesehatan pernah di-muat di media cetak dan media online lokal. Mengikuti lomba menulis cerpen nasional pada tahun 2016, 2017, 2018, dan tidak pernah menang. “Dewi Bulan” merupakan salah satu cerpen fantasi yang tergabung dalam cerpen pilihan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya 2017 “Dari Bagian yang Hilang”. “Helma Lia” adalah buku kumpulan cerpen pertamanya. Bisa diajak berkomunikasi lewat WA 0812-2107-2401, Instagram @vebyya, twitter @vebyyea, dan surel vebyyea@ gmail.com.