Suatu Jogja di Hari Itu

09/06/2023

Suatu Jogja di Hari Itu

 

Lagu-lagu mengkultuskan namamu

Menulisnya di bait-bait

Selaras harmoni

Seperti angin yang berembus

Setiap subuh menceritakan embun

 

Ingatanku menziarahimu

sebab kudengar ingar bingar

dari ricik-ricik warta

perihal rindu yang kembali dibuka

 

Aku tak ingin ke Prambanan

hanya untuk menemukan

kutukan budak cinta di zamannya

Kakiku lebih fasih membaca

Petak-petak peradaban

Atau menuju Keraton

hanya untuk playon

Di sela rindang pohon

 

Lebih dari puisi, engkau adalah

Kata-kata yang emringah

Menyambut para peziarah

Meski ada kotak kecil

Yang kau simpan

Di saku kiri baju hem:

Garis-garis kepedihan

 

Bandar Lampung, Februari 2023

 

 

Dalam Semangkuk Indo(mie)nesia

 

Bahkan penyair pun,

tak mampu menuangmu ke dalam semangkuk puisi

Sampai ia harus memperagakan cara memasaknya

Saat ia lapar diksi

Hingga:

 

Di ruang antara tangis dan tawa

Di usia tua yang kehilangan bulan

Negeri ini seperti Ibu

resah menghitung anak-anaknya

yang hilang ditelan kelaparan

 

Doanya yang wangi seperti rempah

Mengundangku hidup kembali

Menelusuri rasa tanah ini

Dalam semangkuk Indonesia

 

Konon, cerita bermula dari abad pertama

Hingga perjalanan yang tak kenal batas

Membawa kemasan kenikmatan

Melanglang buana

Menjelajah ruang angkasa

Dari Indonesia, untuk seleraku

 

Bandar Lampung, September 2022

 

 

Cinta Telah Mati

 

Cinta telah lama mati

Ia dikubur dalam-dalam

Pada suatu lembah asing

Yang rimbun dengan hujan

 

Apakah ia akan tumbuh kembali

Sebagai bunga warna-warni

Atau terurai seperti bangkai

 

Cinta telah lama pergi

Ke kota tua yang ditinggal

Semua penduduknya

Termasuk burung-burung

dan kupu-kupu

 

Akankah ia kembali

Membawa cerita yang dirindukan

Atau menghabisi usianya di sana

 

Jika sesekali kau pernah

mendengar riwayatnya

pastilah itu dari burung

terakhir dari kota tua

 

atau mungkin saja kabar

dari kupu-kupu yang

mendengar dongeng

dari bunga-bunga

yang ia hisap nektarnya

 

Kalaupun kau mendengarnya

Cinta telah lama tiada

Ia telah tenggelam

Di palung mariana

Bersama luka yang ia dapat

Dari pengkhianatan

para manusia

 

Bandar Lampung, Februari 2022

 

 

Manuskrip Hujan

 

Pada bulan-bulan kering

Hujan menuliskan manuskrip

Sesekali, ia bacakan :

Dengan lirih dan penuh perhitungan

 

Pada bulan-bulan basah

Hujan adalah rentetan kata

Pada manuskrip angin laut

Yang tidak terekam oleh bahasa

Dan kamus besar di laci meja

 

Ketika angin membuka pintu musim

Hujan mengarang syair

Di bebatuan dekat sungai

Di akar-akar pohon

Yang daunnya mengering

Yang batangnya telanjang

 

Bandar Lampung, November 2022

 

 

Narasi Pagi

 

Pagi itu masih pukul enam

Suara deritan pintu kamar terbuka,

Keluarlah sepasang mata dengan langkah setengah jadi

Menuju teras, menenteng rokok dan korek api

 

Baru masuk sepertiga api.

Di hadapan rumahku,

dan Ibu menghampiri,

“Wong bokong panci saja belum sempat diasapi,

kamu malah buang-buang asap di depan pagi,”

kata Ibu macam politisi.

 

“Karena cuma duit yang tak boleh dibakar,

makanya diubahlah jadi cerutu.

Coba kalau kayu bakar itu beli di dekat kantor presiden,

Pasti bukan dibakar, tapi direbus seperti ubi.”

: Pikirku menentang Ibu

 

Pagi itu aku tak mau sumbar, aku sunyi

Pulang ke dapur mengebuli pawon.

Pawon apalah itu. “Biar bokongmu jera,”

kata Bapak macam polisi.

 

O, Tuhan, ikutkan seluruh dinding itu,

dalam usaha bapakku

menghitamkan bokong wajan

 

Candipuro, 22 Maret 2019

 

 

Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya 18 Februari 2000. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Punya cita-cita jadi terkenal. Tidak terlalu suka seafood dan kucing. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai.

Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti Simalaba.com, duniasantri.id, negerikertas.com, ceritanet.com, nongkorong.co dan lainnya. Dan media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos Bali, Bhirawa, dan lainnya. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya.

Ia bisa distalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.