Perempuan Malang, dll

27/09/2022

 

 

Perempuan Malang
-buat SA

Ia duduk dengan kepala menunduk
khusyuk dalam hening di sebuah taman,
dibiarkannya ranting-ranting kecil jatuh
mengenai tubuhnya yang begitu lusuh.

Kemudian langit mendung, tapi
lebih gelap mana, langit yang mendung
atau wajah perempuan yang sedang murung?

Adakah yang lebih menakutkan
dibanding seorang perempuan saat
hatinya baru saja dipatahkan?

Kupandang ia dengan perasaan iba.
Perasaan yang akan menimpa siapa saja
saat menyaksikan seorang perempuan
gagal menyembunyikan kesedihannya.

Al Ikhsan, Juli 2022

 

 

Mengingat Jalan Kenangan

Jalan-jalan yang sebelumnya sirna
dari ingatan, kucoba rangkai lagi
sampai utuh agar seluruh kenangan
di jalan itu dapat mengobati rindu
yang kali ini datang kepadaku.

Aku ingat, di warung makan
kita berdua duduk berhadapan,
kau pun mengusir hening dengan
membuat denting pada sebuah piring.
Kau terlihat malu-malu waktu itu.
Kulihat segurat senyuman yang
belum sempat kau sembunyikan saat
melihatku makan dan malu-malu,
sama sepertimu.

Setelahnya kita pergi berkeliling
melewati tempat yang paling
indah, waktu itu. Sebelum,
bau tubuhmu yang harum
tak bisa lagi kucium.

Lalu sorenya kuantar kau pulang,
dengan suara lirih Kau berkata,
"Terima kasih." Aku pun pergi
dengan perasaan bahagia seperti
tikus yang berhasil mencuri
padi milik petani.

Kini telah kuingat lagi
segala kenangan yang kita lalui,
dan ternyata kenangan
tak selamanya menyedihkan.

Al Ikhsan, Juli 2022

 


Melawan Rindu

Malam itu aku bertarung
melawan rindu yang
dengan sayup melukis
wajahmu di tepian cangkir kopiku.

Diantara kepul-kepul asap
yang menguap dari secangkir kopi
ada rindu yang siap bertarung
denganku sampai pagi.

Namun aku kalah,
Rindu memaksaku menurut
dan mengingat semua
tentangmu secara runtut,

Kuadukan segala kisah
yang pernah kita lalui
kepada ia yang bersemayam
di secangkir kopi.

Secangkir kopi adalah wadah
paling luas untuk menampung
kesedihan ini.

Lalu, rindu yang kejam itu
memaksaku mengaku bahwa
:sampai saat ini, aku
masih mencintaimu.

Al Ikhsan Juli 2022

 

 

Pesan

Setiap pagi aku menitipkan pesan
lewat burung-burung di dahan,
lewat liuk angin yang berembus pelan,
lewat sepasang tangan yang tengadah
khusyuk di atas sajadah.
Untukmu.

Semoga pesan sampai dengan selamat
sebab rindu tak pernah salah alamat.

Al Ikhsan Juli 2022

 


Sebelum Perpisahan

Sebelum perpisahan terlebih dahulu
aku paksa  bibirku untuk menyebut
namamu, agar ketika kita tak lagi bertaut
namamulah yang terakhir kali kusebut.

Al Ikhsan Juli 2022

 

  

Zulhan Nurhathif lahir di Pemalang, 3 April 2002. Dia adalah santri Pondok Pesantren Al Ikhsan Beji. Laki-laki pecinta kretek ini aktif di Komunitas Kepenulisan Al Ikhsan (KOPIAH).Nomor WA :081977910993 Akun Facebook :Zulhan Nur hathif  

 

PUISI-PUISI ZULHAN NURHATHIF

 

 

Perempuan Malang
-buat SA

Ia duduk dengan kepala menunduk
khusyuk dalam hening di sebuah taman,
dibiarkannya ranting-ranting kecil jatuh
mengenai tubuhnya yang begitu lusuh.

Kemudian langit mendung, tapi
lebih gelap mana, langit yang mendung
atau wajah perempuan yang sedang murung?

Adakah yang lebih menakutkan
dibanding seorang perempuan saat
hatinya baru saja dipatahkan?

Kupandang ia dengan perasaan iba.
Perasaan yang akan menimpa siapa saja
saat menyaksikan seorang perempuan
gagal menyembunyikan kesedihannya.

Al Ikhsan, Juli 2022

 

 

 

 

Mengingat Jalan Kenangan

Jalan-jalan yang sebelumnya sirna
dari ingatan, kucoba rangkai lagi
sampai utuh agar seluruh kenangan
di jalan itu dapat mengobati rindu
yang kali ini datang kepadaku.

Aku ingat, di warung makan
kita berdua duduk berhadapan,
kau pun mengusir hening dengan
membuat denting pada sebuah piring.
Kau terlihat malu-malu waktu itu.
Kulihat segurat senyuman yang
belum sempat kau sembunyikan saat
melihatku makan dan malu-malu,
sama sepertimu.

Setelahnya kita pergi berkeliling
melewati tempat yang paling
indah, waktu itu. Sebelum,
bau tubuhmu yang harum
tak bisa lagi kucium.

Lalu sorenya kuantar kau pulang,
dengan suara lirih Kau berkata,
"Terima kasih." Aku pun pergi
dengan perasaan bahagia seperti
tikus yang berhasil mencuri
padi milik petani.

Kini telah kuingat lagi
segala kenangan yang kita lalui,
dan ternyata kenangan
tak selamanya menyedihkan.

Al Ikhsan, Juli 2022

 

 

 

 

Melawan Rindu

Malam itu aku bertarung
melawan rindu yang
dengan sayup melukis
wajahmu di tepian cangkir kopiku.

Diantara kepul-kepul asap
yang menguap dari secangkir kopi
ada rindu yang siap bertarung
denganku sampai pagi.

Namun aku kalah,
Rindu memaksaku menurut
dan mengingat semua
tentangmu secara runtut,

Kuadukan segala kisah
yang pernah kita lalui
kepada ia yang bersemayam
di secangkir kopi.

Secangkir kopi adalah wadah
paling luas untuk menampung
kesedihan ini.

Lalu, rindu yang kejam itu
memaksaku mengaku bahwa
:sampai saat ini, aku
masih mencintaimu.

Al Ikhsan Juli 2022

 

 

 

 

Pesan

Setiap pagi aku menitipkan pesan
lewat burung-burung di dahan,
lewat liuk angin yang berembus pelan,
lewat sepasang tangan yang tengadah
khusyuk di atas sajadah.
Untukmu.

Semoga pesan sampai dengan selamat
sebab rindu tak pernah salah alamat.

Al Ikhsan Juli 2022

 

 

 

 

Sebelum Perpisahan

Sebelum perpisahan terlebih dahulu
aku paksa  bibirku untuk menyebut
namamu, agar ketika kita tak lagi bertaut
namamulah yang terakhir kali kusebut.

Al Ikhsan Juli 2022

 

 

 

 



 

 



Biodata Penulis 

Zulhan Nurhathif lahir di Pemalang, 3 April 2002. Dia adalah santri Pondok Pesantren Al Ikhsan Beji. Laki-laki pecinta kretek ini aktif di Komunitas Kepenulisan Al Ikhsan (KOPIAH).

Nomor WA :081977910993

Akun Facebook :Zulhan Nur hathif