Melukis Luka

11/03/2026

 

Akhir-akhir ini orang-orang di sekitarku, caranya untuk bertahan hidup, itu seperti saling tarik menarik ke liang kadal. Yang memberi umpan saling menjebak, lalu saling makan setelahnya. Lalu setelahnya saling buang bangkai.

Aku sudah muak dengan mereka yang seperti itu. Aku pindah percaya hanya pada temanku satu-satunya, Alex. Sebagai teman, dia tidak menarik siapa-siapa pada liang apa pun, termasuk itu liang kadal.

Alex temanku satu-satunya yang paling jujur. Dia sudah berbeda dengan karakternya yang dulu, yang pemarah, juga penipu. Dulu memang aku sering dikadalinya soal pinjam buku tapi dicuri. Ketika aku meminta balik buku itu, ia justru marah lebih beringas seperti ular kobra. Mendesis mulutnya dan meracau—ngomongnya ke mana-mana.

Dari kadal ke ular kobra. Terlebih tentang Alex yang dulu, juga tidak bisa mendengar orang lain sehabis baca buku tebal lalu banyak omongnya. Dia pasti datangi orang itu, lalu meladeninya berdebat. Busa-busa di mulutnya berubah menjadi api. Bicaranya meledak-ledak seperti mulutnya mengulum bara api.

Aku selalu melengos pergi jika menemukan Alex dalam kondisi seperti itu. Aku tahu hanya bakal membakar rokok menghabiskan kopi, duit dan waktu. Sia-sia umur mudaku hanya untuk menontonnya debat kusir.

Tapi sekarang Alex tampak lebih kalem dan jujur. Aku datang-mampir ke kostnya, untuk terakhir kalinya mengajaknya pergi. 

Dia datang ke Singaraja karena minggu depan akan diwisuda setelah rajin bimbingan online, di rumah.

Dan tiga minggu setelah diwisuda ia berencana akan pulang lagi ke Situbondo. Meneruskan karirnya sebagai pekerja seni, yang sejak semester satu telah dilakoninya. Ketika sudah di rumah, membuka studio lukis adalah pilihan hidup satu-satunya untuk dirinya tidak menjadi budak siapa-siapa.

“Tak peduli laku atau tidak!” kata Alex tangguh.

Soal ilmu melukis memang Alex sudah matang. Bahkan, sekarang pula ia sudah seperti seorang psikolog, yang paham situasi-kondisi jiwa temannya seperti apa, itu, dia sudah tahu cara meladeninya. Tidak semua orang harus diladeni, diajak baku hantam omong kosong apalagi. Hidup betul-betul dialirkan begitu saja.

Seperti sekarang ini, dia lebih tahu kondisiku butuh ditemani saja. Diajak ngobrol dan diberi omongan-omongan baik saja. Tidak lebih.

“Satu perempuan telah meninggalkanku!” Aku memulai cerita. “Dia pergi seakan sudah tahu kalau aku bakal menyatakan cinta padanya.”

Mendengar itu Alex tertawa lepas.

“Setan!” aku mengumpat kepadanya.

“Perempuan memang setan bercula tujuh. Tinggalkan semua perempuan di dunia ini. Sisakan hanya ibumu,” timpal Alex. “Ingat selalu ibumu!”

Dugaanku betul kalau dia sudah bijak sekarang. Pikirannya sudah sehat, bahkan ingat dawuh Nabi tentang orang yang mesti diutamakan di dunia ini, hanyalah; ibu, ibu, dan ibu. Yang tadinya aku tidak butuh siraman rohani, jadi mau mendengarnya sebagai angin suluk.

Karena aku merasakan betul dia pernah gagal soal cinta, patah cinta berkeping-keping. Tapi sekarang Alex sudah berhasil terlepas dari semua rasa sakitnya. Bisalah dia dinyatakan sudah sembuh sekarang, karena sudah tidak pernah lagi menyebut nama mantannya di depanku, juga tidak pernah mengatainya babi seolah mengataiku juga hanya karena sedang ada di depannya.

Aku berani taruhan dengan siapa pun, bahwa Alex betul-betul sudah sembuh dari patah cintanya.

Tidak seperti aku belum bisa menata hidup. Belum bisa mengumpulkan hatiku yang lebur-bau seperti tai, dan pecah seperti cermin di kasur hotel itu, menjadikannya sebagai bahan bakar semangat hidup. Atau satu alasan untuk bunuh diri.

Padahal belum bercinta, tapi nyaris mau gila setiap kali bangun tidur. Pagi atau siang, selalu teringat rupa-tingkah perempuan itu. Betul-betul dia perempuan paling kejem karena menolak aku cintai di kasur. Perempuan itu melengos saja pergi dari penginapan, seolah memberi batas agar aku tak jatuh cinta padanya sampai ke dada.

Nyambi bercerita ngalor-ngidul, aku dan Alex pergi—berjalan kaki keliling kampus. Nyari angin segar. Kost Alex dengan kampus memang tidak terlalu jauh, hanya perlu dua puluh kali melangkahkan kaki. Kami mengenang masa-masa dulu menjadi mahasiswa baru, alias maba.

Melihat-lihat perkembangan apa saja setelah dua tahun tak pernah datang ke kampus itu, ternyata tidak ada perkembangan selain beton yang berkembang.

***

Kami merayakan pertemuan terakhir sebelum akan pulang ke kampung masing-masing, membuka-buka kenangan lama sepanjang berkeliling di kampus. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang hidup dan perkuliahan yang berantakan—karena patah cinta.

Kami terus bercerita soal itu, sepanjang-panjang kami berjalan dari pintu gerbang masuk kampus hingga balik lagi keluar pintu gerbang, seperti orang bingung.

Menemukan sekitar enam pohon masa lalu sudah ditebang. Meringis hati Alex. Salah satu teman memberi tahu jika pohon itu ditebang, dianggap menghalangi tempat parkir, juga terlalu menghalangi gedung fakultas yang baru saja dibangun lebih modern.

Di dekat perpustakaan, kemunculan sebuah coffee shop secara tiba-tiba, datang dengan menu minum-makanan harganya mahal ditempel di dinding dan disimpan di meja, menambah rasa nyeri Alex, karena tahu tempatnya dulu makan nasi jinggo, sudah hilang.

“Padahal, di sana aku selalu makan berdua dengan Hana.” kenang Alex.

Lebih mencolok lagi di seberang kedai itu, ada tempat untuk nyarjer mobil/motor listrik menggantikan pohonan. Termasuk tempat air minum di tabung besar itu, sudah membangkai. Karatan. Padahal, dulu, tahun 2019, tabung itu dielu-elukan semua dosen termasuk rektor, hanya karena Pak Menteri sudah tanda tangan di tabung itu.

Kami pernah dipaksa sewaktu maba untuk berdiri-berderet sepanjang jalan pintu masuk. Mengibarkan bendera merah putih, menyambut menteri itu, seakan menyambut pahlawan datang dari perang.

“Dasar para penjilat!” kenang Alex lagi.

Tapi sekarang tempat itu sudah berkarat. Rusak. Mungkin juga sudah diisi oleh ular atau kecoa. Atau dikencingi leak karena terlihat keramat ditumbuhi semak belukar panjang-panjang di sisi tabung.

“Nasib buruk terus menimpa, sedari dulu, tidak pernah enggak!” Alex mengeluhkan pohon-pohon bekas dulunya berteduh itu ditebang dan pedagang nasi jinggo digusur, juga tempat duduk kecil di pinggiran perpustakaan sudah hilang.

Dia memang pencinta pohon. Di bawah pohon-pohon itu pula ia pernah menyatakan cintanya pada seorang perempuan yang dianggapnya setia, Hana. Dan Hana menerimanya di tempat duduk kecil itu yang sekarang jadi colokan mobil listrik.

“Kalau mereka sudah bosan dan tidak mau merawat, mungkin kedai dan tempat nyarjer itu juga bakal bernasib sama seperti tabung air tadi,” kataku.


“Mungkin.” timpal Alex.

Kami berhenti sebentar di tembok pagar rektorat kampus. Capek. Kencing di sana sekadar istirahat ambil napas panjang, sebelum lanjut berjalan.

“Kampus anjing!” umpat Alex sambil mengadu tititnya dengan tembok tiga kali.

“Awas hamil!” kataku.

Ia tertawa.

Di sela menikmati angin malam dan tertawa lepas, aku sisipkan cerita yang getir. Tentang perempuan yang pernah dicatatnya akan menjadi istrinya dulu, itu telah mati. Aku mengungkitnya.

Perempuan itu satu kampus dengan kami, tapi jurusan akuntansi. Mereka pernah bertemu di perpustakaan, dan pendek cerita menjalin hubungan, lalu kandas dan menjadi cerita panjang yang menyakitkan.

Barangkali itu yang membuatnya mengumpat jika kampus itu seperti kandang anjing nakal layak dikencingi. Digebuk bila perlu, seakan dirinya benci hanya karena pernah terpapar rabies gigitan anjing.

Tapi selayaknya benda, catatan bisa hilang. Bukan sebab catatan itu hilang seperti selembar kertas yang hilang entah ke mana. Tapi memang perempuan itu pergi begitu saja meninggalkan Alex, hanya karena ia dianggap belum pasti sebagai seniman yang punya nasib baik atau buruk, setelah diwisuda dari tujuh tahun kuliah baru kelar.

Tarik ulur cinta oleh perempuan itu sebenarnya yang membuat Alex tak kelar-kelar dan tak pandai merawat diri. Tapi perempuan itu tidak merasa dirinya adalah bibit masalah paling dasar mengapa Alex memilih hidup bohemianan dan menunda kelulusannya. Dan aku sebut, perempuan itu telah mati sehari setelah diwisuda dua tahun lalu.

“Alex. Aku tahu kamu tulus soal cinta. Tapi soal malam hari dan angin malam masuk ke dada, sebaiknya kita belok kiri dulu nyari kopi.” kataku.

Lantas ia mengacungkan jempol tangan kanan dan bilang, “Oke!” sambil menunduk pasrah.

***

Kami menyudahi keliling kampus. Pergi. Sepanjang jalan ia terus menunduk sambil menendang-nendang batu kerikil. Dari caranya berjalan lesu dan menendang batu kerikil tak bertenaga, jalanan seperti tampak murung menerima hantamannya.

Tak ada batu kerikil yang ditendangnya melesat jauh. Di tempat sampah, ia memungut botol bir kosong. Lalu melemparnya ke tembok dekat jalan keluar kampus, seolah ada Hana di sana.

“Biar besok pagi ada kerja tambahan si petugas kebersihan,” kata Alex.

“Gila!” kataku.

Hana selalu dianggapnya terus menguntitnya, termasuk nongol di tembok itu secara tiba-tiba. Padahal tidak. Tapi terus—masih dibayangkannya seolah si perempuan itu selalu ada dimana-mana, menguntitnya seperti hantu.

***

Tidak jauh dari tempat duduk ngopi kami, seorang gadis baru saja membuka warung gorengannya. Gadis itu bertubuh gembrot dengan sifatnya yang centil. Sudah gendut, centil pula.

Merasa diri paling cantik dan pintar hanya karena pandai membuat gorengan. Lantas ia merasa berani meladeni om-om. Tapi om-om enggan meladeninya balik hanya karena perempuan itu terlalu gendut dan bau.

“Jangan begitu,” kata Alex. “Body shaming itu namanya!”

“Tapi begitulah dunia memandangnya, Lex. Terkecuali kalau dia cantik, terus centil, okelah tidak apa-apa. Bisa dimaklumi. Tapi ini tubuh gendut kulit coklat, apa mau dipandang? Bau pula!” jawabku.

“Sebab itulah kau ditinggalkan gebetanmu itu tanpa sebab!” kata Alex. “Karena tak ada ketulusan dari hatimu memandang perempuan itu, melulu soal rupa. Melulu soal bercinta.”

“Halah. Tulus-tulus tai kucing! Tapi memang aku yang salah, sih, aku telah menggebet perempuan itu tapi tidak pernah memberinya apa-apa.” kataku.

Tapi aku menegaskan pada Alex bahwa dunia ini lebih kejem dari cara pandangku, soal tidak pernah memberikan apa-apa selain ciuman.

Gebetanku mau aku cium, dan sebaliknya, aku mau dicium dia. Tapi lama-lama seperti itu, dia tidak mau lagi aku cium. Bahkan menganggapku kurang ajar hanya karena tidak pernah memberinya apa-apa setelah 100 kali ciuman.

“Jadi, yang tulus itu, Lex, hanya ada di negeri dongeng atau kisah-kisah klasik seperti Tutur Tinular.” kataku.

Ada sesuatu yang dipertukarkan di sana. Kamandanu yang tulus cintanya bersih untuk Nariratih saja, tapi ujung-ujungnya dia makan sisa—kesetiaan—bekas kakaknya sendiri, si penyair gila tuak—Arya Dwipangga. Jadi, di mana bagian dunia yang murni itu?

“Ya, mau bagaimana pun, hidup hanya sekali. Melahap cinta murni itu…” kata Alex mau ceramah tapi aku potong.

“Halah! Yang murni itu hanya arak. Itu pun kalau kita jeli bisa membedakan mana yang oplos, mana yang sehat tidak!” bantahku.

Aku tahu Alex paham soal apa yang aku katakan itu, yang aku bahas itu, adalah untuk menggugat perempuan yang diidamkannya, yang dianggapnya masih ada sekarang, itu sudah minggat. Sudah mati. Layak dilupakan seperti skripsi—yang membuat sakit kepala itu.

“Berhentilah melukis perempuan yang sudah pergi dan bertunangan itu!” kataku.

Anggap saja dia sudah mati. Lepaskan dia dari jiwamu. Ikhlaskan. Hana tidak layak untuk diingat-ingat sebagai perempuan murni paling puitik. Apalagi eksotis untuk dilukis. Percuma. Dengan teknik apa pun itu percuma. 

“Hanya menambah rasa nyeri!” kataku dengan nada bicara terkesan ngotot.

Dunia sudah semakin menipu, Alex. Dunia yang murni sudah tidak ada. Siapa pandai menipu, hidupnya akan selamat. Apa saja barang penipuan itu? Kata-kata, jawabku. Atau kedipan mata. Atau apa saja yang bisa dijadikan pelumas masa depan. Maka, bakarlah lukisan-lukisanmu itu. Itu bukan pelumas masa depan, Alex. Itu pengawet rasa sakit.

Dari dua puluh satu lukisan berwajah perempuan sama dilukismu sia-sia. Tak satu pun tandas terjual. Tapi dilukismu terus menerus—yang sekarang sudah mau ke-22 dengan ukuran lebih gede; 145 x 200 cm oil on canvas.

“Untuk apa? Selain pantas dibakar!” kataku.

Tapi dia tetap puja-puji perempuan itu di lukisannya. Terutama tentang cinta murni hanyalah kau, Hana. Berikut dengan ciuman dan pelukan.

Ketika melukis pun, memang, Alex seolah berdansa dengan perempuan itu di kanvas. Seperti seorang sedang merindu, warna dimainkannya di bibir ketika wajah masih setengah berwarna.

Kemudian, melalui wajah dan dada, melompat ke rambut lalu ke perut, kuas disapunya tebal seperti belaian seorang kekasih yang sedang ingin bercinta. Merayap-rayap kuas itu diajaknya bermain di bagian torso, menggunakan teknik impasto; melewati batas kenyataan dan khayalan tentu saja.

Lalu ia mengigau sekali lagi, “Kulukis wajah engkau dengan bismillah, Hana. Berikut dengan ciuman dan pelukan.”

Kanvas-kanvas di dunia ini seperti tak lagi putih dipandangnya untuk digoreskan warna-pola-bentuk lain. Semua kanvas seakan harus dibentuk satu objek saja: wajah Hana—yang elok seksi bibirnya. Yang memiliki alis melengkung seperti arit di tangan para petani. Yang bermata coklat bening seperti telaga. Yang berbuah dada menggunung rindang pohonan hijau subur—Den Bukit.

Berhentilah mengkhayalkannya sebagai lukisan satu-satunya untuk dunia sekejem ini, Alex. Lukislah yang lain. Lukis saja wajah ibumu lebih berarti.

“Aku benci ibuku!” kata Alex. “Dia mati lebih dulu sebelum aku lukis, sebelum aku tahu wajahnya.”

Aku terdiam seketika. Gelap. Alex juga terdiam lalu merunduk murung. Seolah iblis entah dari mana merasukinya lewat kepala sehingga ia murung. Lalu mendongak kepadaku dengan tiba-tiba.

“Pakyu!” kata Alex sambil mengacungkan jari tengah. 

 

Son Lomri. Tinggal di Singaraja, Bali. Menulis cerpen, puisi, esai, ulasan teater, dan reportase budaya. Karya-karyanya telah dimuat di Tatkala.co, Sudut Kantin Project, Majalah Elipsis, Harian Rakyat Sultra dan Harian Nusa Bali. Kini bekerja di Anima Toko Buku dan bergiat di Komunitas Mahima. Salah satu cerpennya berjudul “Hamparan Kematian” pernah dialihwahanakan menjadi pertunjukan teater dengan judul “Mulih” oleh Kelompok Teater Cibetus pada acara Pesta Pinggiran 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.