
Langkah Virda terhenti spontan saat mendengar suara aneh dari arah belakang. Seperti suara telapak kaki menginjak dedaunan kering. Virda bergumam lirih. Ia pun berusaha menajamkan pendengarannya. Lalu Kepalanya menoleh ke belakang. Sementara pandangannya menyapu ke segala penjuru arah. Namun tak ia temukan sesiapa pun di sana.
Semilir angin malam yang datang tiba-tiba membuat wajah Virda dijamah hawa dingin dan membikin kulitnya terasa diterkam gigil. Virda kembali melanjutkan langkah dengan kedua tangan bersedekap berharap mampu menghalau rasa dingin. Kali ini langkahnya agak tergesa. Namun, baru beberapa langkah, Virda kembali dikejutkan suara. Kali ini terdengar lebih jelas. Virda kembali memutar kepala untuk memastikan tak ada sesiapa di belakangnya.
Darah Virda berdesir ketika korneanya menangkap sesosok bayangan hitam yang tengah bersandar di pohon besar di ujung sana. Virda terperangah ketika ia melihat tangan bayangan itu memegangi sesuatu dan menggerakkannya dengan ritme cepat secara berulang. Seketika, rasa takut yang teramat sangat meremas sekujur tubuhnya.
Dengan dada berdegup kencang dan sekujur tubuh bergetar, Virda memutuskan berlari. Untunglah rumah kontrakannya tinggal beberapa langkah lagi. Setidaknya hal itu membuatnya sedikit lega. Tangan Virda bergetar saat meraih kunci dan membuka gembok pagar besi rumah yang baru ia huni tiga bulan bersama Hasan, suaminya. Saking gugupnya, gembok itu bahkan nyaris terjatuh saat Virda hendak menguncinya kembali.
“Kau kenapa?”
Virda terpekik mendengar suara yang tiba-tiba mengagetkannya.
“Kamu bikin kaget saja, Mas!” Virda mengelus dada.
“Nyari siapa?” Hasan bertanya dengan kening berkerut saat kepala Virda memutar, menengok ke sana kemari, sebelum akhirnya tergesa berjalan menuju pintu rumah.
“Masuk dulu, Mas, nanti aku ceritakan semuanya,” ucap Virda yang langsung mendapat anggukan suami.
***
“Kalau gitu, tiap shift siang, aku akan menjemputmu,” saran Hasan usai Virda menceritakan kejadian menegangkan yang barusan dialaminya sepulang kerja. Virda menceritakan dengan detail saat baru keluar dari minimarket hingga akhirnya ia mendengar suara-suara mencurigakan saat tiba di pekarangan dekat rumah. Satu hal yang tak sengaja tak diceritakan oleh Virda, yakni saat bayangan itu memegangi sesuatu dan membuatnya menggigil ketakutan.
Sebenarnya, Hasan tak pernah menyuruh atau menyarankan istrinya bekerja. Gaji Hasan sebagai karyawan di salah satu dealer kendaraan roda empat di kota ini sudah dianggap cukup untuk hidup berdua. Virda memilih bekerja di sebuah minimarket karena tak tahan didera rasa sepi tinggal di rumah kontrakan seorang diri. Di usia pernikahan mereka yang sudah lima tahun, Tuhan masih belum mengaruniai buah hati. Adalah hal yang sangat maklum bila kemudian Virda merasa sepi seorang diri saat ditinggal suaminya bekerja. Tak mengapalah menjadi karyawan minimarket. Itung-itung sebagai kegiatan pembunuh sepi. Gajinya juga lumayan buat tabungan masa depan. Virda bersyukur karena lokasi minimarket tersebut cukup dekat dengan rumah kontrakannya. Sekitar 500-an meter. Ia hanya cukup berjalan kaki saat berangkat dan pulang kerja. Itung-itung sambil olahraga.
Sebenarnya, lokasi minimarket tempat Virda bekerja berada persis di tepi jalan besar. Namun, saat berangkat dan pulang kerja, ia harus melewati sebuah pekarangan lumayan luas yang berada di samping kanan rumah kontrakannya. Pekarangan yang ditumbuhi semak belukar dan pepohonan itulah yang menjadi tempat Virda dibuntuti oleh seseorang barusan. Ini kali pertama ada seseorang yang mengikutinya sepulang kerja. Sebelumnya, ia merasa nyaman dan tak ada rasa takut saat melewati jalan setapak di pekarangan tersebut meski suasananya cukup gelap karena tak ada penerangan lampu jalan di sana.
Virda langsung sepakat dengan usulan suaminya. Jadi, tiap mendapat shift kerja siang, pulangnya ia akan dijemput Hasan. Bekerja shift siang berarti pulangnya malam sekitar pukul 21.00 WIB. Sementara bila shift pagi, Virda tak perlu dijemput, karena sore ia sudah selesai bekerja. Artinya, untuk pulang ke rumah, suasana masih benderang dan banyak orang lalu lalang. Kalau pun minta dijemput, Hasan pasti tak bisa karena belum pulang dari tempat kerjanya.
***
“Woi! Pergi kau!!”
Virda terjaga dari lelap saat mendengar suara teriakan di luar sana. Suara yang teramat dikenalinya. Suara Hasan. Hei, ada apa gerangan? Sambil mengucek dua kelopak mata yang terasa berat, Virda bangkit dari kasur dan mengedar pandangan. Suaminya tak ada di kamar.
“Ada apa, Mas?” tanya Virda begitu keluar kamar mendapati suaminya sedang menutup pintu ruang tamu dengan raut kesal.
“Barusan ada pria tak dikenal, berdiri di depan gerbang rumah ini, dan...,” Hasan tak melanjutkan ucapannya. Rautnya seperti ragu ingin berkata-kata. Tentu saja hal itu makin membuat Virda penasaran.
“Kenapa, Mas?” kejar Virda tak sabar.
“Tangannya memegangi alat vitalnya berkali-kali lalu...,”
Virda tersentak. Selanjutnya, ia tak begitu konsentrasi mendengar kelanjutan cerita Hasan karena yang ada di benaknya adalah sosok bayangan yang menyandar pohon. Sosok mengerikan yang sebelah tangannya memainkan alat vitalnya.
“Ya, Tuhan,” refleks Virda membekap mulutnya sendiri.
***
Virda mengambil ponselnya yang dalam posisi sedang dicas. Ia mencabut paksa meski baterainya belum penuh. Ia penasaran ingin mencari tahu lewat internet ihwal perilaku sinting yang dilakukan pria yang membuntutinya sepulang kerja dan barusan berdiri di gerbang rumah kontrakannya. Virda yakin pria tersebut adalah pria yang sama.
“Ek-si-bi-si-onis,” Virda mengeja pelan usai membaca sebuah artikel di Google.
“Kalau merunut keterangan di sini, pria itu mengidap eksibisionis, Mas,” ujar Virda kepada suaminya yang posisinya kini sedang berbaring. Hasan bangkit dari ranjang. Lalu mendekati istrinya yang masih betah membaca ulasan di media online lewat ponselnya.
“Sepertinya aku pernah mendengar ungkapan itu, Vir,”
“Sama, Mas, dulu aku juga pernah mendengar istilah ini, ternyata eksibisionis semacam aktivitas seksual menyimpang yang dialami oleh segelintir orang yang terobsesi untuk memainkan alat kelaminnya di depan publik,”
“Dan pelakunya akan semakin menjadi-jadi ketika banyak orang yang melihatnya,” ujar Hasan menambahi. Virda mengangguk, menatap suaminya dengan sorot ngeri. Barusan ia telah jujur pada Hasan. Menceritakan bagian terseram yang belum ia ceritakan saat dibuntuti oleh pria tak dikenal itu.
“Berarti mulai saat ini kamu harus lebih hati-hati, Vir, aku merasa yakin orang yang membuntutimu itu kenal denganmu,”
“Hah?” Virda terkejut mendengar pernyataan Hasan. Yang jadi pertanyaan, siapa pria itu? Kalau memang ia mengenalku, berarti aku juga mengenalnya meski sebatas kenal. Gumam batin Virda dengan benak disesaki tanda tanya. Ah, memikirkan itu semua, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Virda yakin, selama hidupnya tak pernah memiliki teman pria yang memiliki perilaku aneh, apalagi sampai melakukan penyimpangan seksual seperti ini.
***
Sudah seminggu Virda pulang kerja dijemput oleh suaminya. Karena seminggu ini jadwal kerja Virda adalah shift siang. Ketika Virda keluar minimarket pukul 21.00, suaminya telah menunggunya di bangku besi samping tempat parkir. Virda dan Hasan merasa lega karena selama seminggu terakhir tak ada kejadian aneh yang dialaminya. Tak ada pria yang membuntutinya sepulang kerja. Pun, pria berperilaku menjijikkan itu tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi di depan pagar rumahnya.
Persoalan muncul ketika minggu berikutnya jadwal kerja Virda shift pagi. Artinya, ia tak perlu repot-repot dijemput Hasan karena dipastikan sore hari ia sudah tiba di rumah. Sementara biasanya, Hasan baru sampai rumah selepas Magrib. Namun hari itu tak seperti hari-hari biasa. Tak biasanya Hasan belum pulang padahal azan Isya samar-samar telah berkumandang. Sebenarnya, bukan hal itu yang dipersoalkan oleh Virda. Namun sosok pria yang datang tak diundang itulah yang membuatnya langsung diremas cemas dan membuatnya dicekam takut luar biasa.
Mulanya Virda mengira orang yang membentur-benturkan gembok ke besi pagar rumah kontrakannya adalah Hasan. Namun ketika Virda beranjak dan tergesa membuka pintu rumah, sosok yang berdiri setengah telanjang di depan pagar bukanlah suaminya. Tetapi... seseorang di masa lalunya. Seseorang yang sempat mengisi relung kalbunya. Seseorang yang akhirnya Virda tinggalkan dengan terpaksa. Ya, Virda terpaksa memutuskan hubungannya dengan lelaki itu setelah ia memergokinya berselingkuh. Meski jujur saat itu ia masih cinta, Virda memilih memutuskan hubungan asmaranya dengan lelaki itu. Tak ada kata ‘perselingkuhan’ dalam kamus hidupnya.
Tak dinyana, lelaki itu marah dan tak terima dengan keputusan Virda. Ia bersikukuh, mengumbar beragam dalih, tak pernah mau mengakui perselingkuhan yang telah dilakukannya. Sementara tekad Virda sudah bulat ingin lepas dari lelaki yang ia yakini sudah tak lagi bisa dipegang omongannya. Lelaki itu akhirnya pergi dengan kecewa dan raut menyimpan kebencian pada Virda. Ah, Virda rasa, persoalannya dengan mantan pacarnya itu telah selesai. Ternyata masih bersambung.
“Sini sayang, jangan bengong di situ,” ucap lelaki yang tengah memainkan alat vitalnya itu sambil menatap tajam dan penuh nafsu ke arah Virda yang tengah berdiri mematung di depan pintu. Virda menjerit histeris lalu segera menutup pintu dengan keras dan menguncinya rapat-rapat.
Di balik pintu, tubuhnya luruh ke lantai. Menangis sesenggukan dengan kepala menggeleng-geleng tak percaya dengan penglihatannya barusan. Benarkah lelaki yang barusan ia lihat itu pengidap eksibisionis? Sejak kapan? Apa saat masih berpacaran dengannya dia sudah terjangkit virus menjijikkan itu? Kepala Virda diserbu pertanyaan-pertanyaan serupa.
Tiba-tiba ingatan Virda melesat pada sebuah kejadian yang sebenarnya sudah ia lupakan. Tepatnya ketika ia makan malam bareng lelaki itu di sebuah kafe bernuansa persawahan. Perut Virda tiba-tiba terasa mual saat hidungnya mencium bau khas yang begitu menyengat hidung. Saking mualnya ia sampai tak kuasa menghabiskan makanannya. Virda baru menyadari bau tersebut begitu familiar setelah ia menikah dengan Hasan. Ya, bau khas yang berasal dari kelamin pria saat tengah berada di puncak kenikmatan.
Ya, Tuhan. Apakah waktu itu ia sedang melakukan aksi eksibisionis saat kami sedang makan? Pantesan, sebelah tangannya waktu itu selalu berada di bawah, tak pernah tampak diletakkan di meja! Virda berteriak dalam hati dengan air mata berlinang. Tiba-tiba Virda merasa pening dan mulas.
“Pergi kau! Heh, jangan datang lagi kemari!”
Virda tersentak dari lamunan masa lalunya saat mendengar suara Hasan. Ya, Tuhan, suamiku pulang pada saat yang tepat. Terima kasih, Tuhan. Virda bergumam memanjatkan puja-puji syukur dan
segera bangkit untuk menyambut kepulangan suami. Ketika Virda membuka pintu, lelaki masa lalunya itu sudah pergi. Virda kembali bersyukur seraya menyusut air mata yang masih membasahi pipi.
Dalam hati Virda berjanji akan merahasiakan siapa sebenarnya sosok lelaki pengidap eksibisionis itu pada suaminya. Virda ingin mengubur kenangannya bersama lelaki itu dalam-dalam, tanpa pernah berniat mengungkit namanya di hadapan Hasan.
***
Sam Edy Yuswanto. Lahir dan mukim di Kebumen Jawa Tengah. Tulisannya banyak tersiar di berbagai media massa, antara lain Jawa Pos, Seputar Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Kompas Anak, Jateng Pos, Radar Banyumas, Merapi, Minggu Pagi, Radar Surabaya, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Lampung Post, Solopos, dll.




