DARASASTRA XXII: PUISI-PUISI INDRI ANGGRAENI

24/02/2026

Ziggurat

 

jangan giring Musa

menapak batu upacara,

tangga dari lidah pejabat

dan darah kontrak.

 

ia bukan arca seremoni—

ia pengiris laut,

penggugat gurun.

 

di puncak,

udara memanas oleh uap fosfor

dari mulut para perawi dusta,

dan kota menunduk

pada denting peti besi istana.

 

Musa tak membaca itu.

ia memecah prasasti

dengan satu pukulan,

membelah ziggurat dari pangkalnya,

hingga batu-batu menimpa penandatangan,

dan debu yang naik

menghapus nama,

jejak,

dan ingatan

bahwa mereka pernah ada.

 

Garut, 2025

 

 

Warung Nira di Tepi Cimanuk

 

mari, kang, duduk.

Nira kutuang dari teko seng—

flaking, seperti kerak gula

di kuali.

Seruput—pahit endapan tak larut,

manis gurat singkat di lidah,

lalu hanyut ke arus dada.

 

kau tahu, kang,

dulu air ini mengusung galah dari ujung galuh

ke dermaga cirebon,

menitip garam, padi, dan kabar

pada riak yang singgah di muara.

celotehnya, Cimanuk—nadi kerajaan Sunda

menyalurkan nafas ke huma,

mengantar pedagang,

dan memberi makan kampung-kampung yang kini tinggal nama.

 

Zaman haus sebelum kemarau.

Hulu dikuliti parang besi,

galengan lurus bagai horison,

pabrik mengintai air seperti lintah di sumur redup.

Di muara, kapal besar menelan rezeki nelayan,

dan di hulu—ah, kau ingat 2016?

arus kalap menyapu Garut,

menelannya seperti lidah api

yang melumat bara di dahan kering,

menghapus rumah-rumah seperti lembar naskah usang

yang disobek dan dilempar ke angin.

 

Kini, lihat—

air tak lagi memantulkan mega,

melainkan wajah kita yang kusut.

Ikan beunteur tak lagi muncul di jala,

dan lesung tak lagi terdengar di tepi sawah.

 

katanya, ini harga tak terelakan.

Aku hanya menyaksikan desa-desa tersedak pelan,

dan kota menenggak kristal dari negeri tertapa

tanpa tahu air yang melewati kerongkongan mereka

masih menyimpan utang pada sungai yang merekah.

 

Minumlah, kang.

Hangatkan lidahmu dengan nira ini.

agar bisa menertawakan ironi:

Cimanuk, yang dulu menghidupi ribuan jiwa,

kini jadi halaman belakang

yang terselip dalam bisu ruang rapat.

 

Garut, 2025

 

 

Jamuan Kelima Tanpa Sendok

 

Meja bundar itu

tak lagi menghafal namaku.

 

Kain lusuh di pangkuan

menyerupai pulau

yang kabur garisnya.

 

Lauk disusun

menurut lidah siapa,

aku lupa

cara menelan ingatan.

 

Mereka menawar silsilah

dengan garpu

beraksen asing.

 

Aku duduk,

tanpa lidah,

tanpa sendok,

masih menunggu giliran

untuk menjadi sajian.

 

2025

 

 

Sangkakala

 

Yakub menapak

dermaga tembaga.

Gelombang mengerutkan

langit ke kelam,

tiang-tiang menggumam

dalam udara pekat.

 

Ia meniup

sangkakala—

trompet bukan suci,

memotong malam

menjadi serpih besi,

menghantam benteng

dengan abu nalar.

 

Anak-anak menadah

kilat yang karam.

Mata terjerat

janji terkelupas.

Tangan meniru

ritus berkerikil,

menabur debu sistem

di lorong-lorong tersipu.

 

Denting sangkakala

menelan benteng.

Gelombang menghajar dinding.

Bumi menderu,

langit terlipat.

Nama, jejak, ingatan

tergelincir

di antara bisu

yang menubruk kota.

 

Yakub berdiri

di palung hening.

Mata terbuka

menatap kehancuran—

bukan kiamat alam,

tapi kiamat rakyat

oleh tangan mereka

yang menabur serpih dusta.

 

Garut, 2025

 

 

Jati

 

uratku menggali tanah

menyusu keringat

batu kapur

 

aku menumbuhkan cincin-cincin

waktu

di tubuhku sendiri

 

luka demi luka

mengeras jadi kayu

 

tiap lapis umurku

dihitung,

ditaksir,

ditandai

 

kapur merah—

pertanda aku siap ditebang

 

aku rebah,

tubuhku dibelah

menjadi meja rapat:

tempat mereka

menekan surat

yang meniadakan

hutanku

 

Tasikmalaya, 2025