Ziggurat
jangan giring Musa
menapak batu upacara,
tangga dari lidah pejabat
dan darah kontrak.
ia bukan arca seremoni—
ia pengiris laut,
penggugat gurun.
di puncak,
udara memanas oleh uap fosfor
dari mulut para perawi dusta,
dan kota menunduk
pada denting peti besi istana.
Musa tak membaca itu.
ia memecah prasasti
dengan satu pukulan,
membelah ziggurat dari pangkalnya,
hingga batu-batu menimpa penandatangan,
dan debu yang naik
menghapus nama,
jejak,
dan ingatan
bahwa mereka pernah ada.
Garut, 2025
Warung Nira di Tepi Cimanuk
mari, kang, duduk.
Nira kutuang dari teko seng—
flaking, seperti kerak gula
di kuali.
Seruput—pahit endapan tak larut,
manis gurat singkat di lidah,
lalu hanyut ke arus dada.
kau tahu, kang,
dulu air ini mengusung galah dari ujung galuh
ke dermaga cirebon,
menitip garam, padi, dan kabar
pada riak yang singgah di muara.
celotehnya, Cimanuk—nadi kerajaan Sunda
menyalurkan nafas ke huma,
mengantar pedagang,
dan memberi makan kampung-kampung yang kini tinggal nama.
Zaman haus sebelum kemarau.
Hulu dikuliti parang besi,
galengan lurus bagai horison,
pabrik mengintai air seperti lintah di sumur redup.
Di muara, kapal besar menelan rezeki nelayan,
dan di hulu—ah, kau ingat 2016?
arus kalap menyapu Garut,
menelannya seperti lidah api
yang melumat bara di dahan kering,
menghapus rumah-rumah seperti lembar naskah usang
yang disobek dan dilempar ke angin.
Kini, lihat—
air tak lagi memantulkan mega,
melainkan wajah kita yang kusut.
Ikan beunteur tak lagi muncul di jala,
dan lesung tak lagi terdengar di tepi sawah.
katanya, ini harga tak terelakan.
Aku hanya menyaksikan desa-desa tersedak pelan,
dan kota menenggak kristal dari negeri tertapa
tanpa tahu air yang melewati kerongkongan mereka
masih menyimpan utang pada sungai yang merekah.
Minumlah, kang.
Hangatkan lidahmu dengan nira ini.
agar bisa menertawakan ironi:
Cimanuk, yang dulu menghidupi ribuan jiwa,
kini jadi halaman belakang
yang terselip dalam bisu ruang rapat.
Garut, 2025
Jamuan Kelima Tanpa Sendok
Meja bundar itu
tak lagi menghafal namaku.
Kain lusuh di pangkuan
menyerupai pulau
yang kabur garisnya.
Lauk disusun
menurut lidah siapa,
aku lupa
cara menelan ingatan.
Mereka menawar silsilah
dengan garpu
beraksen asing.
Aku duduk,
tanpa lidah,
tanpa sendok,
masih menunggu giliran
untuk menjadi sajian.
2025
Sangkakala
Yakub menapak
dermaga tembaga.
Gelombang mengerutkan
langit ke kelam,
tiang-tiang menggumam
dalam udara pekat.
Ia meniup
sangkakala—
trompet bukan suci,
memotong malam
menjadi serpih besi,
menghantam benteng
dengan abu nalar.
Anak-anak menadah
kilat yang karam.
Mata terjerat
janji terkelupas.
Tangan meniru
ritus berkerikil,
menabur debu sistem
di lorong-lorong tersipu.
Denting sangkakala
menelan benteng.
Gelombang menghajar dinding.
Bumi menderu,
langit terlipat.
Nama, jejak, ingatan
tergelincir
di antara bisu
yang menubruk kota.
Yakub berdiri
di palung hening.
Mata terbuka
menatap kehancuran—
bukan kiamat alam,
tapi kiamat rakyat
oleh tangan mereka
yang menabur serpih dusta.
Garut, 2025
Jati
uratku menggali tanah
menyusu keringat
batu kapur
aku menumbuhkan cincin-cincin
waktu
di tubuhku sendiri
luka demi luka
mengeras jadi kayu
tiap lapis umurku
dihitung,
ditaksir,
ditandai
kapur merah—
pertanda aku siap ditebang
aku rebah,
tubuhku dibelah
menjadi meja rapat:
tempat mereka
menekan surat
yang meniadakan
hutanku
Tasikmalaya, 2025




