.jpg)
Hikayat Ayam
1. bulat putih butir telur
bagai puisi. dieram induk ayam
dari pagi sampai pagi
tetapi lindur bumi. membikin tanah meretak
telur tak menjadi. pun betemuruk
disebutnya nasib buruk
tapi induk ayam tak sampai henti
membaktikan diri. kepada peternak
yang baik budi
2. cahaya meniup menembus cangkang
telur menetas dan induk menggirang
kata-kata yang menjadi
mengekor anak ayam belum sampai mengerti
bercicit nyeri. sehabis tergelincir ke bumi
induk ayam mengais matahari. biar meninggi
biar segera mematuk biji-biji
di tanah
sebelum malam merebah
dan anak ayam berlari merebut dekap
dan induk bekisar. pun menyusur galur
3. dikibaskannya bulu klawu
dan berkokok memecah sunyi
ayam-ayam lepas kurung. adalah ayam jantan
siap tarung. di tangan penyabung
yang meraba peruntung
telah tiba di kalangan
kaki yang bertaji. ditiupkan mantra sakti
menang pun tanpa henti
makin membuh jengger dalam diri
rupa angkuh yang sembunyi
Genta di Leher Sapi
semenjak segumpal jelaga di mata
hati penyair tak lagi sebening kolang-kaling
tapi di dalam kandang tanpa henti mengoek puisi
dan gembala mengunyah bayangannya sendiri
yang segemuk sapi
jin merayap dari lubang batu keramat
hinggap di kepala dinda
peretus belian tak mempan
bagai bulu-bulu pada atap ilalang
dadamu kering-gersang
kebanggrukan sebab ditinggal pergi
anak bajang
dinda, dengarlah denting genta di leher sapi
pelipur harihari yang sepi
Kayumu
kapak di tanganku memotong kayumu
berkubik dijadikan tiang balaiku
biar hati tenang dan sejuk. juga tempat diri berlindung
dari badai dan takut
di balaiku. sambil menunggu tamu
yang tak pernah disangka. membawa kabung
kabar kematian kekasih tercinta
dan bagai disambar petir. yang sekilat
tetapi diri tanpa getir. sebab kayu-kayumu
kokohkan balaiku
Kesiur Syukur
mata pohon gaharu. sampai pun haru
dari babak yang dibakar
di antara sembahyang. adalah asap bukhur
mengepul
harumkan liang. melangitkan bayang
dan bagai seekor burung yang hinggap
pada ujung dahan. mengepak-melepas murung
pun menggugurkan
daun-daun. serupa kesiur syukur
dari hembus napas yang terukur
Sepotong Yasin
sehabis seorang belian menjinakkan awan
dan hujan tak lagi mendatang. dan selayak pecinta yang
cintanya tersauh. dendam kepada yang pawang dibuang jauh
hujan usiran. awan cerai-berai
basah tanah. ragu silih lepas-terurai
dan sepotong yasin. ditaburi sedikit yakin
yang tertinggal di batin. menghembus lewat angin dingin
mencelah cabang. merontokkan kembang
menggetarkan layu daun
pohon jepun
di atas kuburan berbulan kurang
menabur yasin. mengharumkan liang
basahkan tulang
S. Kamar (1996) lahir di Jelantik, Lombok Tengah. Beberapa puisinya telah terbit, antara lain, di kompas.id, metafor.id, balipolitika.com, sippublishing.co dan tatkala.co. Satu puisinya masuk lima besar sayembara puisi Festival Sastra Yogyakarta 2025.





