Kesiur Syukur  dan Puisi-Puisi Lainnya

24/04/2026

 

Hikayat Ayam

     1. bulat putih butir telur
bagai puisi. dieram induk ayam
dari pagi sampai pagi

tetapi lindur bumi. membikin tanah meretak
telur tak menjadi. pun betemuruk
disebutnya nasib buruk

tapi induk ayam tak sampai henti 
membaktikan diri. kepada peternak 
yang baik budi

     2. cahaya meniup menembus cangkang 
telur menetas dan induk menggirang

kata-kata yang menjadi
mengekor anak ayam belum sampai mengerti
bercicit nyeri. sehabis tergelincir ke bumi

induk ayam mengais matahari. biar meninggi
biar segera mematuk biji-biji
di tanah 

sebelum malam merebah
dan anak ayam berlari merebut dekap
dan induk bekisar. pun menyusur galur

     3. dikibaskannya bulu klawu
dan berkokok memecah sunyi

ayam-ayam lepas kurung. adalah ayam jantan 
siap tarung. di tangan penyabung
yang meraba peruntung
 
telah tiba di kalangan
kaki yang bertaji. ditiupkan mantra sakti

menang pun tanpa henti
makin membuh jengger dalam diri
rupa angkuh yang sembunyi 

 

Genta di Leher Sapi

semenjak segumpal jelaga di mata
hati penyair tak lagi sebening kolang-kaling
tapi di dalam kandang tanpa henti mengoek puisi
dan gembala mengunyah bayangannya sendiri
yang segemuk sapi

jin merayap dari lubang batu keramat
hinggap di kepala dinda
peretus belian tak mempan
bagai bulu-bulu pada atap ilalang
dadamu kering-gersang
kebanggrukan sebab ditinggal pergi 
anak bajang

dinda, dengarlah denting genta di leher sapi
pelipur harihari yang sepi 

 

Kayumu

kapak di tanganku memotong kayumu 
berkubik dijadikan tiang balaiku
biar hati tenang dan sejuk. juga tempat diri berlindung 
dari badai dan takut

di balaiku. sambil menunggu tamu 
yang tak pernah disangka. membawa kabung 
kabar kematian kekasih tercinta

dan bagai disambar petir. yang sekilat
tetapi diri tanpa getir. sebab kayu-kayumu
kokohkan balaiku 

 

Kesiur Syukur 

mata pohon gaharu. sampai pun haru
dari babak yang dibakar 
di antara sembahyang. adalah asap bukhur 
mengepul
harumkan liang. melangitkan bayang

dan bagai seekor burung yang hinggap 
pada ujung dahan. mengepak-melepas murung
pun menggugurkan
daun-daun. serupa kesiur syukur 
dari hembus napas yang terukur 

 

Sepotong Yasin

sehabis seorang belian menjinakkan awan
dan hujan tak lagi mendatang. dan selayak pecinta yang 
cintanya tersauh. dendam kepada yang pawang dibuang jauh
 
hujan usiran. awan cerai-berai
basah tanah. ragu silih lepas-terurai

dan sepotong yasin. ditaburi sedikit yakin
yang tertinggal di batin. menghembus lewat angin dingin
mencelah cabang. merontokkan kembang
menggetarkan layu daun 
pohon jepun

di atas kuburan berbulan kurang
menabur yasin. mengharumkan liang
basahkan tulang 
 

S. Kamar (1996) lahir di Jelantik, Lombok Tengah. Beberapa puisinya telah terbit, antara lain, di kompas.id, metafor.id, balipolitika.com, sippublishing.co dan tatkala.co. Satu puisinya masuk lima besar sayembara puisi Festival Sastra Yogyakarta 2025.