Kandar dan Peristiwa Ketegangan 

14/04/2026

 

Malam itu Kandar terpaksa menginap di rumah Nyi Edoh. Ia sangat tersiksa dengan keadaan rumah yang semrawut dan tak karu-karuan itu. Selama berbaring di atas dipan, sebenarnya Kandar merasa tidak nyaman dengan keadaan rumah Nyi Edoh. Kapuk yang blingsatan ke sana ke mari, membuat hidungnya berkali meletupkan bersin. Lengan kekarnya pun sesekali ogah-ogahan menyentuh seprei ledig yang entah kapan terakhir kali diganti. Sebagai bujangan yang apik, tinggal di rumah Nyi Edoh satu jam pun agaknya tak pernah sudi ia lakukan. Namun, sebab keterpaksaan, Kandar harus rela menghabiskan malam bersama nenek tua itu. 

Adalah peristiwa pada suatu malam yang menyebabkan ia harus menginap di rumah Nyi Edoh. Ketika Kandar pergi ke pasar malam, ia bertemu teman lamanya, Yani. Kandar senang bukan kepalang, sebab dulu, Kandar sangat menyukai Yani. Tubuh yang ramping dan tinggi hanya kurang hitungan senti dari tinggi badannya menjadikan Yani gadis yang amat didamba Kandar semasa hidupnya. 

Peristiwa ketaksengajaan itu membuatnya membuka kembali kronik panjang debar hatinya di masa lalu. Gadis itu memang selalu membuat bulu kuduknya berdebar dan darah-darah di jantungnya berdiri, berderap sejadinya. Dadanya benar-benar terasa dug dig dag. Ia pun merasa seolah sedang berkuda di tengah Sahara. 

"Yan," Kandar hanya mampu berucap pelan saat ia berdiri di belakang gadis itu. Gadis yang sibuk menata dagangan sontak membalik badan. Ia bergeming. Memicing mata. Memandang dalam laki-laki di hadapannya. Lekuk wajah, pori, dan tahi lalat Kandar seolah ditatar dalam satu pandangan panjang. 

“Nandar?” Yani masih memicing mata, memandang dalam lelaki di hadapannya. Lekuk wajah, pori, dan tahi lalat itu masih ia tatar dalam satu padangan panjang. 

“Kandar, Yan.” Kandar mengulur tangan. Memandang Yani yang mulai mengendurkan picingan mata. Lekuk wajah, pori, dan tahi lalat Kandar mulai pudar dari pandangan Yani. 

“Oh, Kandar Sipit?” Jawaban Yani tak pernah Kandar harapkan malam itu. Namun, demi menyambung silaturahmi dan pembicaraan, ia menerimanya baik. Baginya, sakit hati hanya perihal waktu. Kandar memang dijuluki “sipit” sejak di bangku sekolah. Atau barangkali istilah lebih tepatnya, Kandar diejek. Dan hatinya tak pernah terbuka mendapat ejekan semacam itu. 

Yani? Sejak dulu Yani tak pernah berniat mengejek Kandar, ia hanya menjadi salah seorang yang terbawa arus tren ejekan itu. Sedang Kandar, ia melipat dalam-dalam sakit hatinya. Demi Yani. Demi kekagumannya pada gadis itu. 

“Kamu, jualan di sini, Yan?” Kandar bertanya kaku. Ia pura-pura tertarik dengan barang yang Yani jual. Meskipun kurang masuk akal kalau kandar berniat untuk membelinya. Ya, Yani berjualan beha, kutang, dan jenis-jenis daleman perempuan lainnya. 

“Iya, nih, lumayan bantu-bantu ibu.” Yani tersenyum ramah, pandangannya kini tak tertuju pada lekuk wajah, pori, dan tahi lalat. Namun, kini tertuju pada mata sipit Kandar. 

“Oh, iya. Emang, dari dulu, kamu selalu terlihat keren. Cantik, berbakti, dan ramah sekali, 

Yan.” 

“Ah, kamu suka mengada-ada, Ndar.” Yani tersipu. Bibirnya sibuk menyembunyikan senyum. Sedang tangannya sibuk merapikan beha. Di keranjang dagangannya. 

Untuk urusan ini, Kandar memang tak mengada-ada. Yani benar-benar pantas jadi gadis dambaan lelaki mana pun. Sejak kecil, Yani senang membantu orang tuanya bekerja. Dari mulai membantu ibunya mengangkat pakaian kering saat dulu membuka jasa laundry. Atau menjual gorengan di sekolah saat usaha orang tuanya mulai bangkrut. Hingga sekarang, membantu menjaga jongko di pasar malam. Situasi yang mempertemukannya kembali dengan Kandar. 

Sekira empat tahun lamanya, mereka tak pernah bersua. Meskipun, dalam keadaan biasanya pertemuan mereka hanya terhitung antara tanggal dan kalender sekolah. Atau ketika Tarawih di malam Ramadan. Itu pun mempertemukan mereka hanya ketika keduanya sama-sama mengambil sandal di tempat yang sama. Dan tak pernah terjadi setiap saat. Sisanya, Kandar sibuk main bola dan Yani membantu pekerjaan laundry atau menjual gorengan ke tetangga-tetangganya. Kebangkrutan usaha laundry orang tuanya itulah yang membuat Yani harus merantau ke kota selepas SMP. Ia ikut bersama bibinya menjaga warung di proyek di Jakarta. Sejak saat itu, ia meninggalkan hiruk-pikuk kehidupan di kampung. Meninggalkan orang tua, seorang adik yang duduk di kelas 4, dan seorang lagi yang baru mulai bisa berjalan. Entah, Kandar tak pernah singgah dan masuk ke daftar hal-hal yang Yani tinggalkan di kampung. Maka ketika bertemu pun, Yani biasa saja. Tak begitu kaget sebagaimana Kandar yang kikuk dan semringah. Dan diam-diam memecah rindu yang dalam-dalam ia sembunyikan di hatinya. 

Kandar pun tak pernah ingat kapan ia mulai menyukai Yani. Ia hanya selalu terkagum pada gadis yang pandai dan rutin mewakili sekolah di perlombaan cerdas cermat itu. Pernah, sekali waktu, Kandar dan Yani ditugaskan dalam kelompok belajar yang sama. Saat itu, tentu Kandar sangat pandai mencuri pandang. Utamanya saat Yani berbicara memberi ide-ide brilian bagi kelompoknya. Juga saat Yani sesekali membetulkan anak rambutnya yang terurai digoda angin. 

Ah, sungguh adegan itu membuat Kandar terpesona. Matanya sayu tapi mau. Dan ia sadar, batang di selangkangannya perlahan menegang. 

Kekaguman Kandar pada Yani terus berlanjut saat kelas-kelas berlangsung. Juga di kantin saat Yani menikmati makan siangnya. Dagu tipis, gigi yang tak tersusun rapi, dan bibir tipis kemerah Yani mulai ia kenali. Kandar semakin dalam menyukainya. Namun, semakin dalam pula ia menyimpan perasaan di dadanya. Lagi-lagi, hanya batang di selangkangan yang mampu berbicara. Menerjemahkan cinta yang ia akui bukan perkara nafsu atau birahi belaka. 

Di pasar malam itu, keduanya tak banyak bicara. Terlebih Yani yang tak pernah merasa memiliki kenangan berarti dengan laki-laki di hadapannya. Kandar pun enggan mengungkapkan kenangan seorang diri. Ia khawatir dianggap aneh. Dan tak ingin mengganggu aktivitas pujaannya malam itu. Setelah pertemuan yang lebih banyak diwarnai kekakuan Kandar, ia pamit. Atau pura-pura pamit. Batang yang menegang jadi alarm baginya. Sekali lagi, Kandar tidak merasa sedang birahi, ia menganggap itu pertanda cinta. Hanya sinyal psikologis yang dikirim otak sehingga batangnya memuai sedemikian rupa saat memandang Yani. 

Sungguh akan memalukan jika Yani menyadari ada tonjolan di balik celana Kandar. Kandar ingkah dari jongko Yani yang mulai diserbu ibu-ibu dan gadis-gadis tanggung. 

Suasana pasar malam mulai ramai dan padat. Orang-orang desa antusias menyambut berbagai suguhan di atas bekas lahan kebun tebu itu. Anak-anak dan pasangan muda akan berkunjung dan menjajal permainan-permainan yang ada di sana. Permainan yang sama sekali tak dapat menjamin keselamatan bagi setiap nyawa yang menaikinya. Sementara, ibu-ibu sibuk berkunjung ke jongko-jongko yang menjaja barang-barang dengan harga yang teramat murah. Mereka selalu terhipnotis dengan promo konvensional, ketika para penjual menawarkan tiga sampai lima barang yang bisa ditebus dengan uang sepuluh ribu saja. Dan bapak-bapak, mereka akan terus melakukan hal yang membosankan, duduk di atas jok motor, atau bangku warkop, atau sekadar mengantar istrinya berkeliling dari jongko ke jongko. 

Punggung yang saling desak antara kerlap lampu dan jedag musik melenyapkan langkah Kandar. Ia sudah menghilang dari kerumunan. Memecah langkah tanpa arah sesaat setelah bertemu Yani. Kandar memutuskan pulang ke rumahnya. Emak dan abahnya sudah pulas dirubung mimpi. Jam di dindinglah yang memberi tahunya. Anak bujang seperti Kandar memang sudah tak dikhawatirkan lagi mau pulang jam berapa pun. Apalagi emak dan abah tahu, Kandar hanya butuh hiburan setelah seharian lepas bekerja di proyek bendungan desa yang upahnya tak seberapa itu. 

Di kamar, Kandar merebah. Urat-urat di punggung dan kakinya kendur perlahan. Sungguh, baginya malam itu adalah malam yang menggembirakan. Sebab setelah sekian lama, Kandar kembali melihat Yani, bahkan dalam obrolan yang sedikit lebih akrab. Tak peduli jika sebelumnya Kandar berlelah menghadap semen, pasir, dan batu kali yang mesti ia angkut dari satu titik ke titik lainnya. Ia benar-benar telah mengobati rasa lelahnya. 

Pada lampu yang meremangkan cahaya, wajah Yani tak pernah samar. Bunga-bunga hati di dada Kandar bersemi kembali. Mengundang lebah-lebah memboyong rasa bahagia menuju kepala. Membuat selangkangannya menegang kembali. Entah di detik ke berapa, Kandar merasa ada yang berbeda. Batangnya menegang kuat. Kandar dibuat tak nyaman. Ia melepas celana levis-nya. Tak berubah, ia lalu melepas kancut yang mungkin akan membuat batangnya berdiri bebas. Benar saja, pusakanya itu menjulang di balik sarung tipis yang Kandar pakai. Ada kelegaan yang Kandar rasakan. 

Namun, tak selang lama, batangnya terasa gatal. Ia mengira ada semut yang tiba-tiba menggigit. Tidak, Kandar merasakan gatal yang berbeda. Gatal di sekujur batangnya. Gatal di dalam darah yang mengalir di urat-urat batangnya. Kandar perlu menggaruknya sering. Tetapi semakin sering ia menggaruk, batangnya semakin keras, dan semakin bertambah pula rasa gatal di dalamnya. Situasi yang serba salah. Kandar tak bisa membiarkan rasa gatal yang sangat hebat itu. Di sisi lain, ia tidak mau jika garukannya justru membuat rasa gatal semakin menjadi. Ini seperti lingkaran setan yang tak pernah ada ujungnya, pikir Kandar. 

Kandar sangat bingung menghadapi sisa malamnya. Tak pernah sekali pun ia merasakan gatal yang demikian hebat. Terlebih pada sekujur batang kelelakiannya. Dengan sisa kemampuan, Kandar berusaha, berupaya membabat rasa gatal itu. Kandar pergi ke dapur memanaskan air. Diingatnya adegan abah yang sakit perut dan emak sigap mengompresnya dengan air panas. Dalam pikiran pendek kandar, hal itu mungkin bisa jadi solusi. Manjur atau pun tidak, ia ingin mencobanya. 

Kandar menyelimutkan kain yang ia rendam di air panas ke batangnya. Tampak olehnya batang yang sudah mulai menciut, kantung zakar yang menggembung, dan rasa gatal yang perlahan sirna. Kandar percaya bahwa air hangat itu membawa khasiat yang luar biasa. Meskipun pada kenyataannya, rasa gatal itu hilang karena pikiran Kandar terlalu sibuk memikirkan rasa gatal itu sendiri. Akhirnya, Kandar pun dapat tertidur. Sedikitnya ia tak peduli jika sesekali masih ada gerenyem di pangkal batangnya. 

*** 

Di hari keempat, pasar malam masih menjaga deru napasnya. Orang-orang masih menjejal di tiap titik. Anak-anak dan pasangan tanggung tak sudi melewatkan malam tanpa naik wahana yang tak pernah menjanjikan keselamatan itu. Ibu-ibu, masih antusias berkunjung dari jongko ke jongko. Seolah keajaiban akan tercipta di sana setiap harinya, lalu mereka jadi orang paling wajib menyaksikannya. Di mana bapak-bapak? Masih sama seperti sebelumnya dengan kegiatan membosankannya. Rutinitas pasar malam barangkali memang terjadi begitu-begitu saja. Dari malam ke malam, dari tahun ke tahun. 

Apakah memang kegembiraan itu hanya pengulangan-pengulangan peristiwa? Lalu bagaimana jadinya jika mereka merasa dan menyebut dirinya tidak menemukan kebahagiaan lagi? Bukankah kebahagiaan telah dirasakan sebelumnya? 

Tidak. Kandar tidak seperti orang-orang demikian. Urusan bahagia, Kandar selalu punya stok yang mungkin tak akan pernah habis. Kandar merasa hidupnya ayem-ayem saja. Ketika tak lama berjumpa dengan Yani, pun itu bukan soal. Sebab perasaannya selama ini barangkali masih sebagai perasaan yang tak pernah ia ungkapkan. 

Di malam ramai itu, Kandar niatkan diri untuk kembali menemui Yani. Sesampainya di pasar malam, Kandar tak segagah penampilannya. Rasa kikuk dan grogi terlalu kuat untuk dikalahkan. Sungguh Kandar tak berdaya melihat Yani yang sangat menawan malam itu. 

Tampilannya mirip gadis kota yang pernah Kandar lihat di film-film. Barangkali, semasa di Jakarta Yani kerap tampil sedemikian indah. Kandar mulai bermain dengan pikirannya. Kakinya bergetar, ia memilih duduk di warung kopi dan memandang Yani dari jarak yang tak terlalu dekat. 

Lamat-lamat Kandar amati gadis itu. Dari ujung rambut sampai kuku-kuku kaki yang bersinar antara dua belah sandal jepitnya. Kandar berdecap kagum, menggeleng, dan menganggukkan kepala seperti terhipnotis pemandangan di depannya. Kondisi selangkangannya, kembali sesak oleh batang yang mulai memuai. Kandar tak menampik bahwa batangnya benar-benar terasa lebih besar dari biasanya. Akan tetapi, ia mulai kembali merasa gatal di area vital itu. Sedikit-sedikit ia menggaruk melalui celah di sakunya. Jarinya terampil seperti sedang memocel bebiji jagung dari bonggolnya. Semakin brutal tangannya menggaruk, semakin tegang, dan semakin gatal pula ia rasakan. 

Kandar heran mengapa itu terjadi lagi, ia pikir peristiwa di kamarnya kemarin malam adalah yang pertama dan terakhir. Sebab ia tak pernah menyadari bahwa batangnya yang gatal disebabkan karena batangnya yang semakin menegang. Kandar semakin frustrasi. Gerak tubuhnya mulai mencuri perhatian orang-orang. Segera ia pulang ke rumah sebelum orang-orang menganggapnya aneh dan gila. 

Peristiwa itu hampir terjadi pada hari dan malam selanjutnya ketika Kandar melihat atau sekadar teringat wajah Yani. Kompres air hangat selalu jadi senjata yang tak berarti apa pun. Kandar sudah sangat jengah dengan hal itu. Akhirnya, ia bertanya pada orang-orang terdekat. 

Mencari pengobatan bagi masalah kelaminnya. Ragu dan malu-malu. Lalu tibalah penolong itu. Seseorang mengatakan bahwa ada seorang dukun sakti yang ahli dalam masalah kelamin. Tanpa pikir panjang, dan menganggap bahwa kompresan air hangat tidak akan manjur dalam jangka waktu lama, Kandar pun menuruti saran itu. 

Keesokan harinya, setelah menentukan waktu bepergian menurut perhitungan Abah, Kandar pergi ke tujuan. Tak peduli betapa pun terjal dan jauhnya. Ia hanya ingin normal dan sehat kembali. Sejatinya, Kandar tak pernah berbuat macam-macam soal perilaku seksual. Kehidupannya amat terawat dan tak pernah sedikit pun diperbudak oleh nafsu birahinya. Perjalanan hampir satu jam dengan motor bututnya, ia tempuh hingga sampai di satu desa yang tak pernah ia kunjungi. Tujuannya, adalah rumah di tengah sawah. Satu-satunya rumah di tengah sawah. 

Sampailah ia di rumah Nyi Edoh, seorang nenek yang terkenal karena kemampuannya mengobati berbagai jenis penyakit kelamin pria. Kandar mengamati keadaan rumah yang lebih pantas disebut sebagai gudang itu. Tak menyangka jika di tempat seperti itu, hidup seorang wanita. Wanita tua sebatang kara. Tetapi meski bagaimanapun, nama Nyi Edoh sudah tersohor hingga ke kampung Kandar berada. Sudah puluhan tahun Nyi Edoh mendalami praktik pengobatan semacam itu. Paling sering, ia menangani pasien yang mengeluhkan keperkasaan dalam pergulatan selimut. Soal kasus Kandar, Nyi Edoh baru pertama kali menemui. 

Perempuan yang rambutnya hampir memutih semua itu pun sebenarnya tak berani mendiagnosis. Namun, demi membayar kepercayaan Kandar, ia berusaha memberikan solusi terbaik. Setelah mengutarakan berbagai keluhan, Kandar diminta melepas celana dan kancutnya. Mula-mula ia ragu, tak pernah sekali pun dalam hidupnya memamerkan batang berdaging itu kepada orang lain. Kecuali saat ia disunat atau masih gemar ngalun di sepanjang sungai. 

Nyi Edoh yang ramah, berusaha meyakinkan Kandar bahwa semuanya akan baik-baik saja. 

Kandar tak bisa berkutik ketika Nyi Edoh menyebut kalimat mautnya, “demi kesembuhanmu”. Akhirnya, meski ragu Kandar melepas celana dan kancut hingga tampak kemaluannya yang menciut seperti anak puyuh berlindung di bawah pohon. Perlahan, Nyi Edoh mulai mengamati dan berharap dapat menemukan “pencerahan” bagi pasiennya itu. Sesekali, ia meraba, seolah mencari urat-urat yang ia duga terdapat darah yang mengalir tidak sempurna dalam saluran itu. 

“Susah, Tong, ini mah,” Nyi Edoh mengeluhkan pengamatan dan usahanya belum mampu memberikan setitik harapan. 

Lalu perempuan tua itu meminta agar Kandar membayangkan sesuatu yang dapat membuatnya terangsang. Yani, menjadi sesuatu yang tertangkap radar naluri Kandar. Tak ada satu pun gadis atau apa pun benda-hal-peristiwa yang membuatnya terangsang hebat selain Yani. Sekuat tenaga, Kandar tidak pernah sudi bahwa pikirannya soal Yani adalah birahi semata. Kepalanya tetap keras dan yakin menyebut itu adalah bagian dari cinta. Entah benar atau tidak, tetapi yang jelas, kemaluannya mulai mengembang. Anak puyuh itu seolah tumbuh perlahan dan menunjukkan keperkasaan. Siap terbang mengembara ke mana suka. Jelas, hal itu sangat membantu Nyi Edoh memeriksa kemungkinan-kemungkinan masalah yang Kandar alami. 

Seperti yang ia alami akhir-akhir ini, Kandar merasakan gatal seiring kemaluannya terus memuai karena bayangan Yani dan “perasaan cinta” yang menggebu. Nyi Edoh masih mengamati perubahan-perubahan yang terjadi. Sebelumnya, Nyi Edoh mencoba mencampurkan parem kencur dengan air hangat. Lantas Nyi Edoh membalurkan ke sekujur batang milik Kandar yang masih tegak menjulang. 

Kandar dibebaskan untuk menggaruk batang sesukanya. Dari sanalah Nyi Edoh melihat perbedaan reaktif ukuran dan rasa gatal yang semakin Kandar rasakan. Tetapi setelah berselang waktu, ramuan itu agaknya mulai meresap dan bereaksi. Sedikit-sedikit kandar mengaku jika gatal di kemaluannya mulai pudar meski dalam keadaan menegang. Pengakuan Kandar tentu sedikit melegakan Nyi Edoh. Artinya, usaha yang dilakukan dukun spesialis kelamin itu membuahkan hasil. Nyi Edoh pun membalurkan kembali ramuan param kencur demi khasiat yang lebih mujarab. 

Ketelatenan Nyi Edoh dalam melayani pasiennya membuat Kandar perlahan terlelap. Kini, Kandar tak mampu melawan rasa lelahnya. Di sisi lain, rasa gatalnya barangkali telah benar-benar hilang. Kandar tertidur cukup lama. Setelah sampai dari perjalanan mimpi, Kandar tersadar. Rupa-rupanya ia bisa tertidur dengan kondisi yang semrawut itu. Gatal di batangnya telah benar-benar hilang. Dilongoknya selangkangan yang dalam waktu belakangan itu tak sempat ia lihat sendiri. Tak ada yang aneh, bentuk batangnya masih ia kenali. Tegang. Tak ada gatal sama sekali. 

Sedang Nyi Edoh, terkapar di bawah dipan. Tubuhnya berkeringat. Lemas. Kandar menatap heran. Nyi Edoh dalam kondisi tanpa sehelai benang pun. 

*** 

Azis Fahrul Roji, kelahiran Brebes. Menempuh perjalanan kepenulisan di Tasikmalaya. Aktif menulis dan berteater.