Di Antara Ketiadaan

22/04/2026

 

Di bawah rusuk beton jembatan Lempuyangan yang menghitam oleh jelaga, Darmasurya sedang merawat sisa-sisa martabatnya. Ia menyetrika selembar kemeja putih─satu-satunya “kulit kedua” yang ia miliki untuk menghadapi dunia di atas sana. 

Darmasurya melakukannya dengan khidmat, seolah sedang menjalani ritual penyucian diri. Di samping kakinya yang pecah-pecah, sebuah map ijazah biru tua bersandar pada dinding beton yang penuh dengan coretan nomor sedot WC dan makian putus asa. Map itu adalah benda paling asing di sana; bersih, angkuh, dan mengilap, seolah-olah ia jatuh dari dimensi lain yang mengenal peradaban. 

“Kau mau ke mana lagi, Darma? Kota ini tidak punya telinga untuk mendengar doa yang dipanjatkan di atas aspal yang terus bergetar karena teronton,” celetuk Mbah Sastro, lelaki tua yang sedang melinting tembakau kering di sudut remang. 

Darmasurya hanya membalas dengan senyum getir. Matanya tetap fokus pada kerah kemeja yang kaku. “Wawancara kedelapan, Mbah. Kali ini di perusahaan logistik. Nilai akuntansi saya sempurna. Kalau mereka hanya butuh orang yang jago hitung-hitungan, saya adalah orangnya.” 

Mbah Sastro terkekeh, suara batuknya menyelinap di antara bising kendaraan yang lewat di atas kepala mereka. “Mereka tidak butuh orang yang jago hitung-hitungan, Dar. Mereka butuh orang yang ‘ada’. Dan di negeri ini, kau dianggap ‘ada’ jika namamu tertera di dalam sistem, lengkap dengan baris identitas yang 

bisa dilacak oleh satelit. Kita ini hanyalah hantu yang kebetulan masih butuh makan.” 

Darmasurya terdiam. Ia tahu Mbah Sastro benar. Mbah Sastro sendiri adalah korban dari kemalangan administratif yang serupa. Bertahun-tahun ia tidak bisa mengakses layanan rumah sakit untuk istrinya yang sakit-sakitan karena kolom agama di KTP-nya tidak sesuai dengan daftar yang direstui oleh negara. Iman Mbah Sastro dianggap tidak punya alamat di langit birokrasi, maka raga istrinya pun tidak berhak atas jaminan kesehatan di bumi. Tragisnya, Darmasurya merasa mewarisi nasib yang serupa dengan cara yang berbeda. 

*** 

Dua jam kemudian, Darmasurya berdiri di sebuah ruangan yang saking dinginnya hingga ia merasa kemeja putihnya membeku. Namanya, Darmasurya Atmadja, tertulis indah di atas ijazah dengan IPK 3,9. Ia baru saja menyelesaikan tes kompetensi dengan hasil yang membuat kepala bagian HRD sempat tertegun. 

Namun, semuanya runtuh saat wajah wanita di depannya mendadak kaku ketika sampai pada lembar administrasi terakhir. 

“Maaf, Saudara Darmasurya. Alamat di KTP Anda RT 00, RW 00 di kelurahan ini. Tapi saat kami verifikasi, koordinat tersebut adalah area konservasi bawah jembatan. Anda tidak melampirkan Surat Keterangan Domisili yang sah dari RT setempat.” 

“Saya tinggal di sana sejak lahir, Bu. RT setempat tidak bisa memberikan surat itu karena pemukiman kami dianggap ilegal,” suara Darmasurya tenang, namun ada getaran putus asa di dalamnya. “Tapi saya warga negara. Ijazah saya asli. Saya bisa bekerja sepuluh jam sehari jika Ibu mau.” 

Wanita itu menghela napas, sebuah gestur formalitas untuk menutupi rasa enggan. “Aturan perusahaan kami ketat. Tanpa tempat tinggal yang jelas, Anda tidak bisa membuka rekening gaji di bank rekanan kami. Tanpa rekening bank, sistem penggajian tidak bisa memproses nama Anda. Perusahaan tidak mau menanggung risiko hukum mempekerjakan seseorang yang secara administratif tidak terdefinisi. Kami butuh bukti bahwa Anda benar-benar ‘ada’ di dunia nyata, bukan sekadar nama di atas kertas.” 

Darmasurya keluar dari gedung itu dengan punggung yang sedikit lebih membungkuk. Kemeja putih yang tadi pagi ia setrika dengan bara api kini terasa seperti kain kafan yang membungkus mimpinya. Ia berjalan menyusuri trotoar, memeluk tas plastiknya yang berisi ijazah agar tidak terkena cipratan air genangan. Di kota ini, ijazah hanyalah artefak kuno yang kalah sakti oleh baris alamat. 

*** 

Sore itu, suasana di kolong jembatan mendadak riuh. Bukan karena penggerebekan Satpol PP, melainkan kedatangan rombongan mobil mewah yang kontras dengan lingkungan kumuh tersebut. Di barisan depan, muncul sosok pria 

paruh baya dengan kemeja safari rapi dan senyum yang tampak sudah dilatih di depan cermin selama bertahun-tahun. 

Ia adalah Wignyo, politikus lokal yang wajahnya mulai bertebaran di tiang-tiang listrik menjelang musim pemilihan. Di belakangnya, dua orang pemuda sibuk membawa kamera mirrorless dengan lampu ring light yang menyilaukan, sementara beberapa ajudan membawa karung-karung beras berlogo wajah Wignyo 

“Ayo, semuanya merapat! Pak Wignyo datang membawa berkah! Jangan lupa senyum ke arah kamera, ya!” teriak salah satu tim kreatifnya. 

Wignyo mulai membagikan paket sembako dengan gerakan yang sangat sinematik. Ia memegang pundak seorang ibu tua, lalu menatap matanya dengan simpati yang di buat-buat, lalu menunggu aba-aba dari juru kamera sebelum menyerahkan beras. 

Darmasurya hanya memperhatikan dari bali bayangan beton. Namun, sorot lampu kamera akhirnya menemukannya. Wignyo, yang melihat seorang pemuda berpakaian rapi namun tinggal di tempat seperti itu, merasa menemukan konten “emas” untuk media sosialnya. 

“Wah, anak muda!” Wignyo mendekat dengan langkah mantap. “Siapa namamu? Kamu terlihat rapi sekali. Semangat ya, jangan menyerah. Ini, ada sedikit rezeki untuk membantu makan beberapa hari ke depan.” 

Wignyo menyodorkan karung beras 5 kilogram itu dengan kedua tangannya, matanya melirik ke arah lensa kamera agar mereka mendapatkan sudut low-angle yang heroik. Darmasurya tidak mengulurkan tangan. Ia justru merogoh tas plastiknya dan mengeluarkan map ijazahnya. Dengan tangan gemetar namun mantap, ia menyodorkan map itu tepat di depan wajah Wignyo, menghalangi pandangan kamera. 

“Terima kasih, Pak. Tapi beras ini hanya akan mengganjal perut saya selama tiga hari. Setelah itu, Bapak akan kembali ke rumah mewah Bapak, dan saya akan kembali lapar,” suara Darmasurya bergema di bawah beton jembatan. 

Wignyo tersenyum kaku, skenarionya terganggu. “Lho, ini sarjana ya? Luar biasa! Nah, kenapa kamu harus makan yang cukup supaya nanti bisa cari kerja dengan segar. Ayo, terima dulu berasnya.” 

“Bapak lihat ijazah ini?” Darmasurya membuka mapnya, menunjukkan transkrip nilai yang penuh dengan huruf A. “Isinya adalah empat tahun kerja keras yang saya bayar dengan keringat ibu saya─yang meninggal karena ditolak rumah sakit akibat masalah administrasi yang sama. IPK saya 3,9, Pak. Saya paham akuntansi, saya paham bagaimana pajak negara dikelola. Saya pintar, Pak. Saya tidak butuh sedekah dari Bapak.” 

Tim kreatif Wignyo mulai gelisah. Kamera masih merekam, namun suasananya sudah bergeser dari haru menjadi tegang. 

“Saya sudah melamar ke banyak perusahaan, Pak. Semuanya gagal bukan karena saya bodoh, tapi karena saya tidak punya alamat. KTP saya dianggap sampah karena birokrasi tidak mau mengakui kolong jembatan ini. Di sistem kalian, saya ini hantu. Pak, saya tidak butuh beras Bapak. Saya butuh Bapak tanda tangan satu lembar surat: pengakuan bahwa saya adalah warga negara yang punya rumah. Biar saya bisa bekerja, biar saya bisa beli beras saya sendiri sampai mati!” 

Wignyo berdeham, mencoba memasang nada suara yang lebih berat dan bijaksana. “Nak, kamu harus paham. Aturan domisili itu ada undang-undangnya. Kita tidak bisa sembarangan melegalkan pemukiman di lahan negara. Itu melanggar prosedur. Sabar dulu, ikuti prosesnya. Sekarang yang penting perut kamu kenyang dulu, kan?” 

Darmasurya tersenyum getir. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia menolak membiarkannya jatuh di depan kamera. 

“Prosedur Bapak adalah tali yang mencekik kami. Bapak menyebut lahan ini ilegal. Tapi saat Bapak butuh suara untuk pemilu, Bapak tetap datang ke sini, kan? Bapak mengirim orang untuk mendata kami. Memberikan kami nomor urut di TPS. Saat itu, suara kami punya alamat di kotak suara, tapi raga kami tidak punya alamat di kertas kerja. Kenapa saya punya hak pilih, tapi tidak punya hak hidup?” 

Seorang ajudan Wignyo maju, mencoba menjauhkan Darmasurya. “Dek, sudahlah. Jangan bikin susah. Ini kan niat baik Bapak. Jangan sampai kami hapus 

bagian kamu dari video nanti. Ini kesempatanmu buat terkenal lewat media sosial.” 

Darmasurya melepaskan genggaman pada ijazahnya. Membiarkan map biru itu jatuh ke tanah berdebu. Suaranya melandai, namun tajam seperti sembilu. 

“Silakan dihapus, Mas. Toh, di dunia nyata pun, sistem kalian sudah lama menghapus saya. Bagi kalian, kami hanya angka di musim pemilu dan objek iba di musim konten. Kami tidak pernah benar-benar memiliki alamat di hati kalian.” 

Wignyo berbalik, memberikan instruksi pada timnya untuk beralih ke warga lain yang lebih “kooperatif”. Ia memberikan beras itu kepada Mbah Sastro yang menerimanya dengan jari-jari yang keriput dan gemetar. Kamera menangis bahagia saat Mbah Sastro mencium tangan Wignyo. Adegan itu sempurna. 

*** 

Malam harinya, kota kembali pada watak aslinya yang dingin. Darmasurya duduk beralasan kardus, menatap layar ponselnya yang retak. Ia melihat video yang baru saja diunggah di akun Instagram Wignyo dengan judul: “Anak Muda yang Tetap Semangat meski di Garis Kemiskinan.” 

Dalam video itu, bagian saat Darmasurya memprotes telah hilang. Yang tersisa hanyalah potongan gambar saat ia tampak bersalaman dengan Wignyo dengan 

latar musik yang menyentuh hati. Di kolom komentar, ribuan orang memuji kebaikan hati Wignyo

Darmasurya mematikan ponselnya. Ia mengambil kembali ijazahnya, mengusap jelaga yang menempel pada map biru itu dengan sisa kemeja putihnya yang kini sudah kusam. Ia membungkusnya ijazah itu dengan plastik rangkap tiga, seolah-olah kertas itu masih punya arti. 

Di atasnya, sebuah kendaraan berat lewat. Menimbulkan guncangan hebat yang menjatuhkan debu-debu beton ke rambutnya. Darmasurya memejamkan mata. Ia masih di sana, di kolong jembatan itu. Bernapas, memiliki nama, memiliki otak yang cemerlang, namun tetap menjadi hantu. Ia adalah warga negara tanpa negara, pemilik ijazah tanpa pengakuan, manusia yang ada namun ditiadakan oleh secarik baris identitas yang kosong. 

Bumi tempatnya berpijak ternyata tidak cukup luas untuk sekadar menampung namanya di dalam sebuah kolom alamat. Ia tetap menjadi rahasia yang disembunyikan kota di bawah ketiak betonnya. 

 

Fitri Rusandi. Seorang penulis yang aktif di platform daring. Ia dikenal karena karya-karya fiksi dan puisinya yang sering mengangkat isu sosial.