.jpg)
Membaca karya Jein Oktaviany yang akhirnya sudah merilis kumpulan cerpennya dengan judul Apa yang Kau Lupakan Hari ini (2025), membuat saya teringat cukup lamanya proses Jein dalam proses memproduksi kumpulan cerpennya sendiri. Mungkin sejak tahun 2023 atau 2024? Atau lebih lama dari itu, saya merasa setiap pertemuan dengan Jein dan menanyakan kapan rilisnya kumpulan cerpen ini karena tidak sabar untuk membaca. Hanya saja Jein beberapa kali terlihat ragu, entah karena dari kumpulan cerpennya atau bagaimana Jein menghadapi konstruksi realitas sosial yang cukup berat dalam menghadapi tantangan sebagai cerpenis muda. Singkat kata setelah saya membaca kumpulan cerpennya, saya memahami bahwa keraguan dan mungkin juga kerisauan yang dirasakan Jein merupakan representasi dari cerpen-cerpen Jein itu sendiri.
Jein sering kali menyinggung soal Albert Camus dalam setiap perjumpaan sebelum menyusun antologi cerpennya, baginya Albert Camus sendiri menjadi stimulus dalam dasar cara berpikir dalam memproduksi teks-teks kumpulan cerpen tersebut. Hanya saja apa yang saya baca dalam kumpulan cerpen ini tidak berhenti dari eksistensialisme Albert Camus, karena bila saya bandingkan bahwa Jein sendiri seumpama T.S Elliot dari karya-karyanya tahun 1922 dan 1925 yaitu The Waste Land dan The Hollow Men. Bukan hanya persoalan struktur, tetapi bagaimana potret manusia ketika permulaan tahun 1900 diwujudkan oleh T.S Elliot sebagai kumpulan makhluk yang direpresentasikan seolah-olah tidak memiliki daya untuk menghadapi masa depan. Ini juga secara tidak langsung terproyeksi oleh The Metamorphosis karya Franz Kafka dengan memperlihatkan tidak berdayanya manusia menghadapi sesama manusia lainnya. Terdapat perubahan pola tantangan tiap zaman di Eropa sesuai dengan zamannya.
Saya secara pribadi Jein memiliki potensi dalam memvisualkan sesuatu dengan daya kuat seperti kedua tokoh tersebut, T.S Elliot dan Kafka. Albert Camus sebagai dasar cara berpikir Jein.
Perbandingan tersebut—singkat saja—diperlihatkan dari cara tokoh-tokoh yang dimunculkan oleh Jein sebagai penulis dalam karyanya memiliki nasib tidak berdaya seolah-olah menjadi powerless dalam menghadapi situasi sosial yang terjadi. Jein menekankan bahwa setiap nasib tokoh dalam cerita tidak melulu bahagia dan menyesuaikan dengan realitas sosial yang terjadi. Tidak berharap lebih pada akhir yang bahagia, tetapi berharap lebih terhadap realitas yang justru memang pasti dihadapi oleh manusia itu sendiri.
Cerpen yang membuat saya tertarik dari total 20 cerpen dalam antologi, yaitu Twitter Titha: Secerpen Thread, Enam Hal yang terjadi sebelum Anjani Mati, Rekuiem, Godphobia, Hikayat Olive, dan Panasea dan Rumah Sakit pada 3018. Saya mendalami keenam cerpen tersebut atas dasar adanya kecenderungan dari dominannya proyeksi manusia yang tertindas oleh sistem sosial dari kelompok tertindas. Jein menggambarkan secara ciamik realitas sosial dalam keenam cerpen dengan maksud tertindasnya eksistensi manusia itu sendiri dan bukan terbebas dari sistem sosial atas penindasan eksistensi seperti memberikan mimpi-mimpi bahwa manusia dapat bebas nilai suatu saat. Justru sebaliknya.
Cerita pertama berjudul Twitter Titha: Secerpen Thread menempatkan tokoh utama yaitu Tithta sebagai juru kunci POV, sebagai siswi SMA yang jatuh cinta pada Jimmy—seorang mahasiswa—yang kemampuan bacotnya tidak dapat diragukan lagi (hlm.3). Singkat cerita saya memahami bahwa Jimmy ini seperti pelaku “honey trap” dalam situasi perang, mungkin lebih ke pelaku black mail dalam situasi saat ini dari apa yang dilakukannya kepada Titha sebagai seorang anak perempuan baik-baik yang berubah secara psikologis karena pengaruh dari Jimmy:
“.... Seperti yang dikatakan sebelumnya, Tihta siswi SMA yang baik. Sebelum gaya pacarannya begitu, dia masih baik. Masih berselancar di internet hanya mencari rumus matematika atau lirik lagu boyband.
Tapi setelah itu, dia mulai mencari dengan keyword: klitoris, cerita panas, kamasutra. ...” (Hlm. 5)
Perubahan karakter utama tokoh Titha dari cara berpacarannya yang baik-baik menjadi berubah sehingga ia tidak sungkan untuk menyoroti dirinya yang telanjang, dsb. Pandangan saya secara pribadi, soal buruknya ini yaitu perubahan psikologis anak karena mengalami sesuatu sehingga secara tidak sadar secara bertahap mengalami blackmail dari Jimmy. Apalagi identitas yang diceritakan tokoh aku merupakan anak SMA—membayangkan bagaimana realitasnya anak-anak SMA masih memiliki masa depan panjang mengalami masa video telanjangnya disebar di media sosial. Seumpamanya harapan masa depannya Titha menjadi abu-abu, bahkan mungkin gelap akibat ulah dari kelakuan Jimmy.
Sebab atau alasan apapun itu perlakuan blackmail tidak dapat diterima, tetapi realitas yang terjadi justru ditampakkan dalam cerita dari proses interpretasi cerita ini. Kumpulan cerpen yang saya baca, justru dari cerita pertama inilah saya teringat dari peran Titha sebagai orang tertindas secara eksistensial karena kelakuan Jimmy yang justru beralih peran menjadi pendominasi dalam hubungan asmara mereka. Peralihan peran ini ditunjukkan pada tindak Jimmy pada halaman 6:
“... Jimmy meminta ‘’jatah’ secara langsung. Saya tidak mengerti maksudnya ‘secara langsung’. Tithta menolak. Jimmy mengancam akan menyebarkan semua foto dan video yang pernah dikirim oleh Titha. Mendengarnya (memakai speaker-ku) membuatku gemetar (bukan karena mode getar). ... (hlm. 6)”
Persoalan peralihan peran ini, mungkin lebih tepatnya seperti mempertunjukkan perannya menjadi dominan dalam hubungan asmara dengan Tithta. Realitanya Jimmy memang memiliki cara pandang untuk mendominasi Titha sejak awal. Interpretasi yang saya baca salah satunya melalui perbedaan umur dan status Jimmy sebagai mahasiswa dan lebih tua dibanding Titha, selain itu perannya sebagai seorang laki-laki (bukan pria) dalam hubungan mereka yang membuatnya kemudian menjadi merasa lebih dominan lagi. Membuat peran dari Tithta menjadi sosok yang ditindas dan tidak dapat melakukan hal lain, bahkan malu untuk melakukan klarifikasi sebagai dasar dari tindaknya dalam menutup akun pribadi (hlm. 7). Dominasi sosial yang dilakukan Jimmy terhadap Titha dengan perannya sebagai laki-laki “over-masculin” membuatnya melakukan tindak legitimatif seakan-akan menyebarkan video adalah hal benar karena dirinya dibuat kecewa, padahal hal yang benar-benar salah.
Akhir dari cerita cerpen pertama ini? Tithta pada akhirnya mengalami depresi karena pengalamannya berhubungan dengan Jimmy. Efek dari dominasi sosial yang dilakukan Jimmy memengaruhi mental Tithta. Saya sendiri menyebutnya sebagai efek pasca-powerlessness dari Tithta sebagai pengalam dominasi sosial maskulinitasnya Jimmy sebagai peran yang merasa lebih berkuasa dari Tithta. Tidak ada kesetaraan gender seperti yang diharapkan mulanya oleh tokoh aku pencerita ketika Tithta berkunjung ke kosan Jimmy. Sebaliknya, langkah tersebut menjadi jebakan pertama yang dilakukan Jimmy agar Titha mau melakukan hubungan intim di luar pernikahan. Dampaknya tentu kembali lagi pada kalimat pertama paragraf ini, Titha yang menolak ajakan Jimmy mengalami depresi dan sekarang lebih jelas akibatnya: benturan sistem sosial dari hasil produksi Jimmy sebagai pembenaran dalam hubungan percintaan masa dewasa. Titha sebagai anak SMA tidak siap untuk itu—bahkan bagi semua perempuan tidak layak mengalami paksaan dan blackmail seperti itu.
Sekarang kita pindah terlebih dahulu ke cerita kedua, yaitu Enam Hal yang terjadi sebelum Anjani Mati. Cerita kedua ini berkutat pada masalah yang dihadapi oleh Anjani sebagai seorang pelacur. Bukti identitas tokoh ini ditemukan pada halaman 10 ketika Anjani bertemu dengan temannya:
“... Anjani mengatakan kepada temannya, yang tentu saja sesama pelacur, bahwa dia takkan pernah mau dibeli atau dipakai oleh orang yang punya kelamin kecil. ...” (hlm. 10)
Kalimat tersebut menjadi salah satu fragmen penting dalam memetakan tokoh Anjani sebagai seorang pelacur. Kalimat tersebut oleh saya pribadi diberi penanda penting sebagai identitas yang melekat kepada tokoh dan akan menjadi orientasi cerita penting selanjutnya dalam cerpen.
Terutama ketika pada akhirnya—seorang pelacur yang sejatinya memahami bagaimana kualitas dari seseorang pemesannya. Anjani memiliki tantangan tersendiri terutama dalam menghadapi satu persoalan: menghadapi laki-laki dengan hasrat seksual “kaum Ares” karena aktivitas kerasnya dalam berhubungan seks. Aktivitas yang kasar tersebut membuat dirinya teringat pada masa-masa kecilnya, terutama ketika masih diasuh oleh sang ibu—membuatnya merefleksi diri”
“... Dia sudah tidak bisa ingat apapun yang terjadi beberapa hari ke belakang, atau hari apa ini. Semakin dia ingat semakin dia tidak bisa. Dia hanya mengingat ibunya yang menggendongnya saat dia kecil. Maafkan Anjani kecilmu ini, Mama, batinnya. Dan sesuatu yang dingin masuk dalam lubang depan Anjani yang telah lecet dan berdarah. ...” (hlm. 12-13)
Fragmen teks atau bagian tersebut bagi saya pribadi memperlihatkan sisi lain dari seorang pelacur: memiliki memori yang tidak bisa dilupakan walaupun menghadapi masa sulit hingga terlupakan aktivitas beberapa waktu sebelumnya. Masih ingat Ibu. Anjani selain dari dirinya seorang pelacur profesional masih memiliki rasa sedih terhadap nasibnya. Penulis memunculkan rasa diri dari Anjani tersebut dengan pengalaman yang dilalui oleh Anjani sebagai pelacur dalam masa sulit. Sampai pada akhirnya alat kelamin dari dirinya sendiri rusak oleh pelanggannya.
Singkat ceritanya lagi, Anjani mendapat pesanan khusus secara pribadi yang membuat dirinya terburu-buru. Anjani sebagai seorang pelacur kelas atas dipesan untuk melayaninya pada hari Selasa, padahal baru dibicarakan pada hari Senin pagi. Hal yang membuat dirinya terburu-buru ini karena biasanya pelanggan yang mendadak seperti itu seorang politikus atau sejelas-jelasnya seseorang dari kalangan kelas atas. Sampai-sampai Anjani langsung dibayar di tempat ketika dipesan. Anjani sampai kegirangan pada titik ini, walaupun di samping itu ia merasa bersalah karena datang terlambat.
Semalam suntuk Anjani dan pelanggannya saling berhubungan hingga sama-sama merasa enak dan hanya Anjani yang kelelahan. Nasibnya pada akhirnya tidak beruntung karena berhadapan dengan pelanggan—mungkin dapat dikatakan pelanggan yang kurang tepat? Atau pelanggan yang memiliki fetis menyiksa orang:
“... Anjani, yang mendapatkan uang dari lubangnya, juga mendapatkan ajal dari lubangnya. Ditemukan tewas tanpa busana. Diikat dengan tali. Mata dan mulut ditutup kain, bermandikan peluh dan darah di sebuah kamar hotel, pada hari Sabtu, tanggal enam. ...” (hlm. 14)
Saya akan mulai bahas pada titik ini terutama dari beberapa fragmen cerita yang telah dibahas. Anjani sebagai seorang pelacur (yang mungkin juga muda dan profesional) memiliki daya tarik dengan pelanggan kelas atas. Hal ini dibuktikan dari halaman 13 yang menyatakan secara tidak langsung dari cerpen bahwa Anjani memang terbiasa dalam menghadapi pelanggan kelas atas atau pejabat, artinya memang sebagai seorang pelacur Anjani memiliki daya tarik dengan stamina atau daya yang juga masih kuat. Identifikasi secara umum ini saya lihat sebagai adanya peran Anjani seorang pelacur terkenal dan terbiasa dalam menghadapi pelanggan kaya raya.
Tarik garis dari persoalan kaya raya ini terhadap pelanggan-pelanggannya, Anjani seorang pelacur yang secara tidak sadar dan terjerat oleh sistem, mengalami sistem dominasi sosial pelik karena kebutuhannya untuk bertahan hidup dan pekerjaan. Anjani sebagai seorang pelacur tidak dapat menolak pelanggan, kecuali pelanggan tersebut kaya raya walaupun tidak sesuai dengan kriterianya seperti alat kelamin yang kecil. Pelanggan kaya dalam hal ini seakan-akan menjadi memiliki power dalam mengurus Anjani karena merasa dirinya telah membayar. Masalahnya tidak memerhatikan kondisi dan situasi dari Anjani sendiri yang telah kelelahan akibat dari aktivitas ketika dilayani.
Saya dalam hal ini teringat pada esai-esai yang ditulis oleh Silvia Federici berjudul Patriarki dalam Pengupahan, dan bagaimana Spivak dalam seminar dan tulisan esainya menyatakan kondisi perempuan di India pada tahun 80-an dengan judul Can the Subaltern Speak?. Kedua penulis tersebut menggambarkan bagaimana kondisi perempuan bahkan hingga pada waktu kedepannya tidak dapat berubah kondisi karena terjerat oleh sistem budaya patriarki baik secara prejudice bahkan hingga praksis. Kondisi dari perempuan yang menjadi ibu rumah tangga misalnya, dianggap oleh Silvia Federici sekadar bekerja untuk suaminya dengan masak, bersih-bersih, terutama dengan alat kelamin. Padahal pekerjaannya vital untuk meneruskan generasi selanjutnya dan merawat pasangannya yang seorang pekerja. Tidak ada kesadaran bahkan dari tingkat institusi maupun negara tentang ibu rumah tangga yang dirawat oleh negara. Konteks ini kita tekankan bagaimana perempuan bekerja hanya untuk melayani, tidak bebas dalam menentukan dirinya.
Soal tersebut juga persis dengan penggambaran kondisi oleh Spivak di India, terutama dari perempuan-perempuan yang bersuami. Terdapat sistem mengikat secara kultur bahwa seorang perempuan yang suaminya meninggal harus ikut dibakar ketika jenazahnya dikremasi. Terdapat keterikatan kepercayaan yang mengorbankan pihak lainnya dan perempuan dalam hal ini tidak dapat menentukan nasibnya kecuali ikut bersama sang suami dikremasi secara hidup-hidup (dalam artian dibakar).
Konteks ini kita tarik dalam kondisi tokoh Anjani dalam cerpen: tidak memiliki pilihan dan terikat oleh sistem kapital untuk melayani pelanggannya walaupun punya keanehan dalam segi fisik atau psikologis. Anjani seorang pelacur yang bahkan seumpamanya harus siap mati kapanpun. Masalah yang dihadapinya ini terletak pada sistem sosial yang merepresentasikan kasta dari segi kapital. Anjani sebagai seorang yang membutuhkan uang tergantung hidupnya pada keinginan atau kebutuhan orang untuk memenuhi hasrat seksual. Anjani dalam konteks peran merupakan seseorang yang powerlessness: tertindas oleh sistem dan tidak memiliki daya secara politis dalam menentukan sikapnya. Dirinya sendiri kemudian teralienasi pada lingkungan sosial keluarga seperti ibunya yang disinggung pada awal cerita. Selain itu tampak dari adanya penyesalan dan perkataan maaf yang disampaikan tidak hanya untuk ibunya, tetapi pada dirinya sendiri karena mengalami powerlessness. Tidak berdaya karena adanya tekanan sistem yang dilalui.
Anjani dalam hal ini seakan-akan tidak memiliki masa depan yang pasti. Sudah memahami bagaimana nasibnya sebagai orang pengalam penindasan sistem kapital karena adanya kebutuhan untuk sehari-hari. Mungkin hal ini tidak hanya soal Anjani atau adanya Anjani lainnya dengan pekerjaan sebagai seorang pelacur: dari cerpen ini saya mendapat interpretasi bahwa para pelacur yang terikat oleh sistem kapital selayaknya seorang prajurit siap mati karena adanya kesewenang-wenangan pelanggan karena merasa dirinya memiliki manusia yang telah disewa untuk memenuhi hasratnya.
Sebelum memasuki cerpen Godphobia dan pembahasan yang lebih mendalam, kita perhatikan terlebih dahulu cerita selanjutnya yang juga menarik perhatian saya yaitu Rekuiem. Menceritakan seorang lelaki yang memiliki rasa kekhawatiran terhadap dirinya dan bagi saya—krisis eksistensi karena nasibnya menghadapi skripsi pada semester akhir perkuliahan. Bagian cerita yang membuat saya tertarik dalam hal ini pada halaman 22 hingga 24. Tokoh aku dari cerita merupakan seorang ruh yang bahkan tidak mengingat dirinya sendiri telah mati sampai akhirnya didatangi oleh seorang perempuan ke kamar kostan. Perempuan bernama Susan itu selayaknya seorang introvert karena tidak suka berbicara dengan seorang manusia hidup, artinya setiap dialog pada cerita adalah dialog Susan bersama orang-orang mati. Itu dari interpretasiku terhadap identitas Susan yang perlu ditandai.
Pikiran soal seseorang yang tidak berdaya muncul dari tokoh aku pada cerita Rekuiem ini. Terutama dari perspektif seseorang tidak berdaya karena sialnya nasib seperti yang diungkapkan oleh Machiavelli dalam bukunya yaitu The Prince—kuat-tidaknya seseorang tergantung pada nasibnya itu sendiri. Hanya saja bagi saya bila mendebat pandangan Machiavelli melalui cerpen Rekuiem ini dapat mengatakan bahwa tidak ada seseorang yang ingin nasibnya buruk dan nasib buruk tidak datang seakan-akan seumur hidup seseorang tersebut. Selayaknya tokoh Aku dalam cerpen bahwa nasib buruk muncul bukan karena pilihannya, tetapi karena sistem sosial yang mengikat dan menuntutnya untuk menjadi manusia sempurna seperti ditentukan oleh penyelesaian skripsi.
Cerpen Rekuiem ini berhubungan dengan teks cerpen selanjutnya yang menarik perhatian saya lagi yaitu Godphobia. Seumpamanya memang cerpen ini membahas sepasang kekasih berbeda agama yang sama-sama tinggal dalam satu kostan. Tokoh laki-lakinya yaitu Ahmad dan pasangannya yaitu Maria, tinggal di satu kostan dan sama-sama berbagi atap selayaknya suami-istri walaupun statusnya belum sampai seresmi itu. Soal ini dapat diperhatikan pada dua teks berbeda berikut sebagai penguatan status identitas keduanya:
“... ‘Mar, aku baru sadar setiap kita ML, kita diliatin dua Tuhan.’ Maria makin keras tertawa. ‘di agamaku, zinah itu dosa”. (hlm. 55)
“... Jika aku takut Tuhan, harusnya aku tidak tinggal bersamamu....” (hlm. 55)
Kedua tokoh yaitu Ahmad dan Maria seakan-akan mengajak pembacanya untuk memperdebatkan kondisi dari kebebasan dan pilihan yang diambil tetapi menentang aturan dan ketentuan dari kedua Tuhan masing-masing. Ahmad dengan agamanya sendiri dan begitu juga Maria. Mereka jatuh cinta satu sama lain dan sering berhubungan intim, tetapi bukan itu masalah yang saya perhatikan lebih. Cerpen ini berbeda dengan ketiga cerpen sebelumnya yang justru menampakkan sisi depresi dan tantangan dari nasib situasi sosial tidak menyenangkan. Cerpen ini mungkin terinspirasi film dua agama? Atau lainnya yang mungkin secara realitas diproyeksikan memang anak-anak muda sering kali tinggal bersama, berpacaran, dan berhubungan seksual menjadi hal biasa di luar status pernikahan? Tidak layak sebenarnya saya mempertanyakan persoalan pertama, tetapi pertanyaan kedua mungkin menjadi gagasan tersendiri dalam memetakan kondisi realitas saat ini. Cerpen ini bagi saya mempertanyakan eksistensi Tuhan dari masing-masing tokoh secara gamblang, terbukti dari fragmen teks berikut:
“... Namun, seharusnya Tuhan tidak perlu ditakuti, ‘kan? ...” (hlm. 56)
“... Ucapan Maria itu seakan mengiris-iris tawa mereka. Ahmad yang masih merokok tiba-tiba mematikan rokoknya lalu berbaring lagi. ‘Ya, seharusnya begitu. Tuhan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Seharusnya kita menyayangi Tuhan. Itu pun jika Tuhan ada. Bagaimana jika Tuhan tidak ada?’ ...” (hlm. 56)
Pertanyaan eksistensi Tuhan ada atau tidak dari kedua tokoh dimulai dari pertanyaan pada masing-masing diri mereka: apakah memang Tuhan perlu untuk ditakuti?
Gagasan dari kedua tokoh cerpen Godphobia yang dimulai dengan pertanyaan ini memang mulanya berdasar pada eksistensi mereka. Sebab mereka jatuh cinta satu sama lain sebagai dasarnya dan berbeda kepercayaan. Eksistensialisme dari kedua tokoh ini seumpama memproyeksikan situasi sosial masyarakat saat ini—sebuah potret—eksistensialis atas dasar hubungan saling mencintai sebagai proses utama perkembangan tokoh. Terdapat upaya untuk menekankan eksistensialisme yang melawan dominasi teologis dari cerita melalui tokoh Ahmad dan Maria. Dibatasi oleh istilah Godphobia sebagai judul untuk memantik pemikiran kedua tokoh yang bercinta dan menentang Tuhan pada saat yang bersamaan.
Cerita ini menarik karena bagi saya secara pemikiran menemukan perspektif yang berbeda dari cerita-cerita sebelumnya yang telah disebutkan. Tidak bersifat depresi, tetapi justru melawan situasi sosial itu sendiri yang mengikat. Saya lebih suka menyebutnya sebagai proyeksi manusia-manusia pada tahun 2970-2990 mendatang karena era saat ini merupakan era dengan sifat depresi dan seakanan tidak ada masa depan nantinya seperti pada ketiga cerpen yang saya bahas tadi. Cerpen Godphobia berupaya melawan krisis eksistensi dengan adanya kelebihan melalui persoalan percintaan. Tentunya karena saling mendukung sama lain dan berbeda kondisinya dengan Titha pada cerita pertama. Ahmad dan Maria seumpamanya mendebatkan eksistensi secara manusia yang terikat pada teologi atau kepercayaan. Apabila saya dapat menginterpretasi pemikiran kedua tokoh, seumpamanya menjadi Ahmad dan Maria menempatkan eksistensi manusia melalui proyeksi diri mereka sebagai makhluk bebas nilai—menentukan kehidupan, nasib, dan tindakan atas kehendak pribadi tanpa adanya keterikatan pada aturan, norma, atau dasar teologis tertentu. Mengisyaratkan adanya identitas dan peran berbeda dari tahun 1910-1930an seperti karya-karya T.S Elliot maupun Franz Kafka yang telah disinggung pada awal teks ini, walaupun perbandingan ini saya tinjau dari perspektif berbeda atas hasil interpretasi pribadi dalam membaca pemikiran penulis cerita ketika menyebutkan adanya pengaruh-pengaruh dari Kafka maupun Camus.
Tidak, ini berbeda, justru Jein membawa kita pada moda baru dari eksistensi di era awal digitalisasi: krisis eksistensi 2017-2026, blackmail dan efeknya yang masif, dominasi sosial neo-kapital, hingga perdebatan eksistensi menyoal Tuhan yang lebih mengarah pada ironi karena mendebatkan hukum teologis. Apabila saya menempatkan diri pada pandangan netizen media sosial seperti Instagram dan TikTok tentang Godphobia akan menjadi tren pembahasan yang tidak ada henti-hentinya dan mencocoklogikan gaya tersebut dengan selebriti yang menikah berbeda agama tanpa paham masing-masing isi kitab kepercayaannya. Hanya saja bagi saya, lebih memilih jalan tengah seperti pada masa saat ini dari hikmah atas mengkaji teks cerpen-cerpen Jein: menentukan dasar ideologis dari kehidupan sebagai seorang Pria maskulin dan bagaimana berpihak pada kepentingan sosial yang mungkin kebenarannya tidak benar-benar dianggap absolut amat.
Saya mungkin bukan seseorang yang mengalami kesehatan absolut seperti Robert Panasea, mengalami cara penindasan berbeda dari Titha, Anjani, maupun Olive yang terkadang menjadi Alif, dan terkadang menjadi Ruh ketika tidur seperti tokoh aku dalam Requiem. Hanya saja dari membaca cerita-cerita Jein ini saya merefleksikan diri saya sebagai seseorang yang tidak akan mengalami era 2980-2990 bahwa ini cerpen ini adalah titik mula dari perjalanan panjang sebuah karya yang akan terus dibahas pada masa mendatang. Proyeksi dari masyarakat yang hidup pada tahun 2000-an hingga 2026.
Pembahasan kaku saya yang terakhir sebelum menutup tulisan ini, bahwasanya Jein benar-benar dapat memvisualkan masalah dari kondisi sosial saat ini. Apabila saya singkat dalam beberapa kata akan menjadi: tidak adanya masa depan. Semua tokoh pada akhirnya dipotret mengalami penindasan dari sistem kapitalisme yang berlaku, semisal atas dasar uang, percintaan dengan iming-iming dinikahi? Atau hal lainnya seperti kritik terhadap dasar teologis bahkan praktiknya yang memiliki sisi kelam seperti dalam cerpen berjudul Hikayat Olive. Melalui cerpen ini pula, saya memahami bahwa potret manusia-manusia kini mengalami alienasi, tidak hanya disebabkan oleh pihak yang menindas, tetapi juga beberapa sejatinya mengalami tidak berdaya terhadap akal dan dirinya sendiri.
Muhamad Mazeinda AL Biruni, saat ini aktif sebagai wakil direktur dari Komunitas CCL Kota Bandung dan cukup sering menggarap seni pertunjukan teater sebagai asisten sutradara serta sebagai kepala sutradara. Fokus saat ini sedang menyelesaikan Studi S3, selain dari pekerjaan sebagai dosen praktisi di Universitas Pendidikan Indonesia. Beberapa karya telah dimuat seperti dalam karya bersama Majelis Sastra Bandung (2026), Antologi Rendra (2016), dan beberapa kali menyutradarai pertunjukan seperti pertunjukan terbaru yaitu Epilog Kota (2025), Bumi Owah (2025), dan Hutan Betina (2024) dalam rangkaian Majelis Sastra Asia Tenggara (2024). Asisten Pertunjukan dari pentas terbaru seperti Bahtera (2025) dan Rahvana: Kala Cinta Di Jabar (2025).




