.jpg)
Hutan ini telah lama belajar cara menyimpan rahasia. Di bawah tajuk-tajuk jati yang merimbun, waktu seolah kehilangan maknanya, hanya menyisakan derap tumbuh yang lambat dan pasti. Akar-akar kami, yang melilit di dalam petala bumi, merasakan setiap getaran yang merayap dari permukaan. Kami adalah kaum yang tegak dalam diam, makhluk yang meminum cahaya dan memeluk tanah, tanpa lidah untuk mengadu atau jemari untuk menunjuk.
Pada suatu senja yang membawa aroma tanah basah, ketika mentari mulai meredup di ufuk barat, dua sosok manusia memasuki wilayah kami. Mereka melangkah di atas hamparan serasah yang mulai membusuk. Salah satunya adalah lelaki dengan guratan wajah yang keras, menggenggam sebilah parang yang berkilat terkena sisa cahaya. Lelaki lainnya tampak lebih muda, dengan langkah yang penuh keraguan dan napas yang memburu.
Kami, pohon-pohon jati yang telah berdiri selama puluhan lingkar tahun, menyaksikan bagaimana keculasan mulai menyelimuti atmosfer di bawah kanopi. Daun-daun kami berdesir karena getaran niat buruk yang terpancar dari raga manusia yang berdiri di sana. Manusia sering mengira bahwa hutan adalah ruang kosong yang tuli. Mereka lupa bahwa setiap selulosa dalam batang kami adalah perekam yang jujur.
Lelaki yang lebih tua mulai berbicara. Suaranya rendah, beradu dengan suara jangkrik yang mulai bernyanyi. Ia berbicara tentang harta, tentang tanah yang ingin ia miliki sepenuhnya, juga tentang perjanjian yang ingin ia hapus. Lelaki muda itu menggeleng, mencoba mempertahankan haknya dengan kata-kata yang gemetar. Kami merasakan detak jantung mereka melalui getaran tanah yang sampai ke ujung-ujung akar rambut kami. Detak yang satu penuh dengan keserakahan, sementara yang lain penuh dengan ketakutan.
Seketika, sebuah gerakan cepat terjadi. Parang itu terayun di antara batang-batang kami yang kokoh. Logam tajam itu membelah udara, lalu mengenai sasaran yang rapuh. Cairan kental berwarna merah merembes ke tanah, membasahi akar-akar kami yang seringnya hanya mengenal rasa air hujan dan mineral bumi. Lelaki muda itu jatuh, tubuhnya bersandar pada batang jati tertua di kelompok kami. Matanya menatap ke arah tajuk, mencari perlindungan pada rimbun daun, dan kami hanya bisa memberikan bayang-bayang yang kelu.
Lelaki yang memegang parang itu terengah-engah. Ia menatap tangannya, lalu menatap sekeliling. Ia melihat ke arah kami, pohon-pohon yang berjajar rapat. Ia merasa sedang diawasi oleh ribuan pasang mata yang tersembunyi di balik kulit kayu yang kasar. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa kayu tetaplah kayu. Baginya, kami hanyalah benda yang kelak akan ia tebang untuk membangun rumah yang megah. Ia tidak menyadari bahwa setiap tetes cairan merah yang diserap tanah kini menjadi bagian dari sejarah yang kami simpan.
Dengan tergesa-gesa, ia menggali lubang di antara akar-akar yang menonjol. Ia menimbun tubuh temannya, menaburkan daun-daun kering di atas gundukan tanah yang masih baru. Ia menghapus jejak-jejak kakinya, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Ia membawa pergi rasa aman yang semu, merasa bahwa kejahatannya telah terkubur sedalam akar kami.
Tahun-tahun kemudian berganti dengan kepastian musim. Lelaki itu tidak pernah kembali, dan pohon jati tempat ia menyembunyikan dosanya terus tumbuh. Akar kami melilit tulang-belulang yang mulai rapuh di bawah sana. Kami tidak bisa berteriak kepada penduduk desa yang melintas di pinggir jenggala. Kami tidak bisa menunjuk wajah lelaki itu saat ia duduk di beranda rumahnya yang baru. Kami hanya bisa terus berdiri, membiarkan kebenaran itu menyatu dengan serat kayu kami.
Setiap kali angin bertiup kencang, daun-daun kami saling bergesekkan, menghasilkan suara desas-desus yang hanya dipahami oleh alam. Kami menceritakan tentang pengkhianatan itu kepada burung-burung yang hinggap di dahan, kepada tupai yang berlari di sepanjang ranting, dan kepada ulat yang memakan pucuk-cut muda kami. Mereka semua sama seperti kami; makhluk yang tidak memiliki kosa kata untuk mengadu kepada penguasa manusia.
Dalam jalinan kehidupan yang menyatu, lelaki muda yang terbunuh itu kini melihat dunia melalui mata daun-daun kami. Ia merasakan sinar matahari yang hangat dan dinginnya embun pagi melalui keberadaan kami. Zat-zat dari raga yang teraniaya itu mengalir naik melalui pembuluh xilem, menuju dahan, hingga sampai ke helai daun yang paling tinggi.
Suatu hari, sekelompok penebang datang. Mereka membawa gergaji mesin yang menderu, memecah kesunyian yang telah kami jaga sekian lama. Lelaki yang dulu melakukan kejahatan itu kini telah jauh menua, dan ia berdiri di sana memimpin para pekerja. Ia ingin menebang pohon jati yang paling besar, pohon yang menjadi saksi senyap tindakannya di masa lalu. Ia ingin menjual kayu kami untuk menambah pundi-pundinya.
Saat gergaji itu mulai menyentuh kulit kayu kami yang tebal, sebuah kejadian yang tak terelakkan terjadi. Mata gergaji itu terhenti, terhantam oleh sesuatu yang keras di dalam batang. Ketika mereka membelah bagian bawah pohon dengan kapak, mereka menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana. Sebuah logam tua, cincin yang dulu dikenakan oleh lelaki muda, telah tertelan sepenuhnya oleh pertumbuhan batang kami selama puluhan tahun. Cincin itu kini terjepit di tengah-tengah lingkar tahun yang rapat.
Para pekerja tertegun. Mereka mulai menggali lebih dalam di sekitar akar, penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh pohon tua ini. Tak lama kemudian, mereka menemukan sisa-sisa yang tertimbun. Rahasia yang selama ini kami dekap dalam diam akhirnya terkuak ke permukaan tanah.
Lelaki tua itu pucat pasi. Ia menatap cincin yang kusam itu, lalu menatap kami. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa pohon-pohon ini adalah makhluk yang menyimpan ingatan. Ia menyadari bahwa selama ini kami telah menjaga bukti kejahatannya dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Kami tidak perlu berbicara dengan suara manusia untuk mengungkap kebenaran. Kami hanya perlu terus tumbuh, menyimpan setiap detail dalam struktur tubuh kami, hingga saatnya tiba bagi bumi untuk memuntahkan kembali apa yang telah dipaksakan masuk ke dalamnya.
Angin berembus sekali lagi, menggoyangkan tajuk-tajuk jati yang masih tegak. Kami telah menunaikan tugas sebagai saksi terjujur. Kami adalah penyimpan memori yang paling tekun. Di dalam setiap gubal dan teras kayu kami, tersimpan kisah-kisah yang tidak akan pernah luntur oleh hujan atau kering oleh panas. Kejahatan manusia mungkin bisa luput dari pandangan sesamanya, dan ia tidak akan pernah bisa bersembunyi dari tatapan pepohonan yang merayap menuju langit.
Kini, hutan kembali tenang. Rahasia itu telah lepas dari dekapan akar. Kami kembali menyerap cahaya, membiarkan daun-daun kami menari dalam kesunyian yang megah, menunggu sejarah lain yang mungkin akan tertulis di atas tanah ini
Windy Sherin Faraditha lahir di Jambi pada bulan September. Selain bekerja sebagai freelancer, ia mengisi waktunya dengan membaca dan menulis secara daring. Windy dapat disapa melalui akun Instagram @heyoseyin.
Data Pendukung




