Juni Mabuk Air Mata

24/06/2022

Juni Mabuk Air Mata

 

Kepada kasih yang dinaungi sedih

 

Kepadanya rindu bernaung

Kepadanya duka berkabung

Ditubuh seorang gadis senggal nafasnya berlabuh

Lelahnya bertaruh memerah peluh yang luluh.

 

Dimana lagi senja itu lahir?

Jika bukan dari matamu yang ayu senja itu labuh

Dimana lagi tempat berkabung dari pedihnya pergi ?

Jika bukan dari memori yang abadi.

 

Karna tiap harinya adalah sedih yang tidak ada jangka waktu,

Luka yang menganga dari pedihnya ditinggalkan, didiamkan dalam kepedihan yang abadi

 

 

Bodoh

 

Aku mendapati dalam bayang, adalah duka lara.

Satu persatu menyambut semaraknya meniadakan bahagia

Walau dalam wajahnya ada serangkaian bahagia yang menyapa;

Ada dalam mimpiku duka itu terlihat abadi, walau aku berharap mati Bersama kenangannya.

 

Dalam ketiadaanku aku mengharapmu,

Dalam remang nihil cahaya sekalipun bayangmu menari walau air mata meluap

setinggi dada

Bodohnya aku mencinta dalam naungan air mata yang hanya menjadikan duka itu terlihat selalu muda.

 

 

Dirimu

 

Dalam matamu menjadi telaga penuh doa

Tersimpan susunan harap baik dalam mimpi merakit cerita Bersama

Dalam malam pun gugusan bintang yang serupa tersusun rapi dalam menampakan

indahnya dimatamu.

Dengan itu sesekali aku merasa dirumahkan dalam peluk yang hangat

Serta meneduhkan dalam rasanya disuguhkan sepotong ciptaan tuhan dalam

lekuk senyummu yang ranum.

 

 

Ingatan

 

Duka merajam sukma

Rakit merakit kata duka yang tepat

dalam wajah bermuram durja

mendekap sunyi dikelilingi nada elegi

dalam mabuk luka merayakan pesta ditinggalkan serta ditiadakan.

Malam adalah mata pisau yang menikam dalam sunyinya kesendirian.

Jika datang seorang tuanmu, maka hadirkan aku dalam bayangmu agar kau tahu bagaimana rasanya abadi dalam rasa yang tidak terbakar oleh ingatan.

 

masih ingatkah kau jalan pulang?

 

masih ingatkah kau jalan pulang?

atau mata indahmu telah Rabun? sedang aku selalu meninggalkan jejak dalam tulisanku.

 

masih ingatkah kau jalan pulang?

dalam mataku masih dipenuhi dirimu

dalam ingatanku masih di tempati wajahmu.

 

masih ingatkah kau jalan pulang?

atau sudah lepas menghilang jejaknya

karna aku terkadang melihat kau berjalan kembali berpulang, 

atau semua itu hanya bayang saja?

 

masih ingatkah kau?

dalam tulisanku nyawanya adalah dirimu

dalam harapku adalah memintamu kembali

 

 

Raden Muhammad Zaidan aktif di media sosial dengan nama Instagram : @sir.aden