“Lakon yang Ditulis Kemudian” Upaya Teater 28 Membalaskan Dendam

08/05/2023

"Perempuan yang dipegang kesetiannya, dan lelaki yang dipegang ucapannya."  

Kalimat tersebut merupakan dialog Dahlia dalam pementasan "Lakon yang DItulis Kemudian".

Bertajuk Penling Jawa-Bali 2023: Revitalisasi Daya Cipta, UKM Teater 28 Universitas Siliwangi berhasil menggelar pementasan “Lakon yang Ditulis Kemudian” selama tiga hari berturut-turut pada 5, 6, dan 7 Mei. Sekitar 2.000 pasang mata telah menyaksikan pementasan yang disutradarai Bode Riswandi yang merupakan penulis dari “Lakon yang Ditulis Kemudian”. Jumlah apresiator yang membludak tersebut membuat panitia pelaksana harus menambah sesi pementasan dalam sehari. Adapun apresiator yang tercatat selama 11 sesi dalam tiga hari tersebut berasal dari berbagai kalangan masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, seniman, hingga pejabat dan korporat setempat.

“Lakon yang Ditulis Kemudian” mengusung cerita perempuan-perempuan tidak berdaya yang terpaksa harus menempuh hidup dalam urusan kebirahian. Alasan yang paling mendasar adalah karena mereka terdesak urusan ekonomi. Mereka terpaksa menjajakan diri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga menyekolahkan anak-anaknya. Disebutkan pula bahwa perempuan memegang peranan vital dalam berbagai urusan kehidupan dunia. Banyak dari perempuan yang sengaja dijadikan alat pancingan dalam intrik poloitik dan kekuasaan. Fenomena demikian acapkali dijumpai bukan hanya di masa sekarang saja, melainkan sudah terjadi di masa-masa terdahulu.

Tidak hanya mengusung tema cerita yang segar dan dekat di masyarakat, lakuan-lakuan aktor di panggung pun berhasil menyihir ribuan penonton melalui pola-pola akting mereka. Banyak dari penonton yang merasa terkesan dengan aktor yang memerankan tokoh Sukat dan Dahlia yang menjadi sorotan utama cerita.  Mereka terenyuh dan tak sadarkan diri menitikan air mata, larut dalam kesakitan yang dirasakan para perempuan yang diceritakan dalam pementasan tersebut. Namun ada juga dari mereka yang dapat menebak jalan cerita, sehingga bagi sudut pandang tersebut, mereka merasa kurang terlibat dalam peristiwa dalam pementasan.

Pementasan yang digelar di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya tersebut merupakan rangkaian pentas keliling yang akan dilabuhkan di kota-kota besar di Indonesia, di antaranya Cianjur, Jakarta, Surabaya, dan Denpasar. Keyakinan yang dibarengi dengan proses yang maksimal menjadikan modal bagi Teater 28 untuk membalaskan dendam atas pentas keliling yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19 selama tiga tahun berturut-turut.

 

Azis Fahrul Roji/Langgam Pustaka.