.jpg)
Berdasarkan pembacaan saya, Timur dari Masa Lalu karya Toto ST Radik, yang diterbitkan oleh Langgam Pustaka pada Maret 2026, bukan sekadar kumpulan puisi perjalanan. Ini lebih kayak catatan orang yang lagi jalan jauh, tapi jalannya muter ke dalam kepala sendiri, nyenggol silsilah keluarga, sejarah lokal, sampai mitos Jawa yang nyelip di antara ingatan yang bolong-bolong. Jadi kalau dibaca santai, iya ini soal pergi ke timur. Tapi kalau dibaca agak niat, ini soal identitas yang kegencet antara Serang dan sesuatu yang terus manggil dari arah matahari terbit.
Dari awal, Toto ST Radik sudah nge-set nada yang sepi tapi intens. Di puisi pembuka tanpa judul (hal. 1), kita langsung dikasih suasana liminal: “di sini, di tepi sepi / kulihat langit seakan menjauh”. Lalu di puisi ~satu (hal. 2), tekanan itu jadi lebih konkret: “masa lalu menyalip / dan mencegatku”. Ini bukan nostalgia santai, ini lebih kayak dicegat sesuatu yang menagih. Bahkan perintahnya dingin: “pergilah ke timur, katanya dingin / seperti jagal yang tak kenal ampun” (hal. 2, puisi ~satu). Jadi sejak awal, “timur” sudah dipersonifikasi sebagai panggilan yang keras, bukan pilihan bebas.
Nah, Toto ST Radik juga nggak cuma main di kabut metafora. Dia sempat bikin definisi teknis yang hampir kayak buku geografi. Di puisi ~tiga (hal. 6), dia nulis: “timur bukan hanya arah / tapi tanah / dengan azimut 90 derajat”. Ini menarik, karena istilah “azimut” bikin puisi ini punya semacam fondasi ilmiah. Seolah-olah si aku lirik lagi nyari arah hidup pakai kompas, bukan cuma perasaan. Tapi ironinya, makin teknis dia mendefinisikan timur, makin kelihatan kalau arah ini justru nggak stabil secara batin.
Kalau kita tarik ke konteks ruang, Serang jadi titik berangkat yang jelas. Dalam puisi ~tiga (hal. 7), ada baris penting: “menikahi ibu dan lumpur sawah / di pesisir banten utara”. Ini bukan romantisasi kampung halaman. Justru di banyak bagian, Toto ST Radik menggambarkan Banten dengan nada getir. Misalnya di puisi ~dua puluh dua (hal. 42–43): “banten yang uzur / nagari yang lantak”. Bahkan lebih telak lagi di puisi ~dua puluh delapan (hal. 55): “betapa berat menjadi banten”. Ini kalimat yang simpel, tapi nadanya kayak orang yang udah capek bawa identitas yang terasa stagnan.
Dari sini, pertanyaan tentang “timur” mulai kebuka. Apakah ini sekadar arah geografis dari Serang? Atau ada layer lain?
Secara tekstual, Jogja muncul cukup eksplisit. Di puisi ~satu (hal. 3), Toto ST Radik menyebut rute: “kutoarjo / loning / mataram”. Lalu beberapa puisi diberi penanda lokasi “Jogjakarta, 23.1.2022”. Ini bukan kebetulan. Bahkan di puisi ~dua puluh (hal. 38–39), gambaran Jogja jadi lebih konkret: “di kaliurang / atau sewon / angin akan menderu / setiap hari”. Ini sudah level topografi yang spesifik, bukan simbol abstrak lagi.
Di bagian ini juga muncul semacam fantasi hidup baru. Masih di puisi ~dua puluh (hal. 38): “aku menanam sayuran / dan buahbuahan / juga menulis cerita rekaan”. Jogja di sini kebayang sebagai ruang alternatif, tempat hidup bisa lebih pelan, lebih reflektif, bahkan produktif secara kreatif.
Tapi kalau berhenti di situ, pembacaan kita jadi terlalu sederhana.
Jogja dalam buku ini juga berfungsi sebagai ruang sejarah yang berat. Di puisi ~dua puluh satu (hal. 40–41), Toto ST Radik masuk ke figur-figur Mataram: “aku amangkuratmu!” lalu “kini aku sunan tegalarum!”. Ini bukan sekadar referensi
budaya. Ini adalah invokasi sejarah kekuasaan Jawa yang penuh konflik. Bahkan ada baris: “antara kebengisan dan pengkhianatan / : tahta roboh” (hal. 41). Jadi timur bukan cuma ruang “ilmu pengetahuan berkeliaran tanpa batas”, tapi juga ruang trauma sejarah.
Yang bikin makin kompleks, Toto ST Radik sendiri sadar bahwa perjalanan ke timur ini paradoks. Di puisi ~empat (hal. 8), dia bilang: “engkau berangkat ke masa depan / tapi yang kaudatangi / ialah masa lalu”. Ini semacam tesis utama buku ini. Secara geografis bergerak maju, tapi secara eksistensial mundur.
Relasi dengan bapak jadi kunci di sini. Di puisi ~tiga (hal. 7), ada baris: “kaki bapak, o kaki bapak / berderap ke barat”. Artinya, generasi sebelumnya bergerak dari timur ke barat, kemungkinan dari Jawa ke Banten. Maka perjalanan si aku lirik ke timur adalah semacam pembalikan arah, usaha rekonstruksi asal-usul.
Makanya motif darah muncul berulang. Masih di puisi ~tiga (hal. 7): “timur ialah darah / yang terus pecah dalam diriku”. Timur bukan lagi lokasi eksternal. Dia jadi sesuatu yang biologis, yang nggak bisa dihindari. Mau tinggal di Serang sekalipun, timur tetap hadir di dalam tubuh.
Kalau dibaca dengan gaya santai, ini kayak orang yang besar di satu kota tapi terus dihantui cerita keluarga tentang kampung asal. Lama-lama muncul rasa ganjil: identitas gue ini sebenarnya di mana?
Pertanyaan itu bahkan diucapkan langsung. Di puisi ~enam belas (hal. 30): “sesungguhnya, / di manakah timurmu itu?” Ini momen reflektif yang penting.
Karena setelah itu, timur jadi makin cair. Bisa Jogja, bisa masa lalu, bisa kondisi batin.
Bahkan struktur naratifnya ikut jadi nggak stabil. Di puisi ~tiga puluh satu (hal. 60), ada baris metafiktif: “aku melompat / dari halaman 17 / ke halaman 51”. Ini kayak pengakuan bahwa hidup nggak linear. Mau lompat sejauh apa pun, tetap balik ke masa lalu.
Secara gaya, Toto ST Radik mengandalkan repetisi “ke timur” sebagai semacam mantra. Hampir di setiap fase, arah ini diulang. Efeknya obsesif. Pembaca ngerasa ini bukan sekadar perjalanan, tapi dorongan yang nggak bisa ditolak.
Sekarang balik ke pertanyaan utama: apakah “Timur dari Masa Lalu” itu Jogja sebagai ruang bebas?
Jawabannya: sebagian iya, tapi itu cuma satu layer.
Dari perspektif analitis, “timur” di buku ini bekerja dalam tiga dimensi sekaligus.
Pertama, dimensi geografis konkret, yaitu Jogja dan wilayah sekitarnya, yang ditandai jelas lewat rute dan lokasi seperti Kaliurang dan Sewon.
Kedua, dimensi genealogis, yaitu asal-usul keluarga dari pihak bapak yang berakar di Jawa. Ini terlihat dari motif silsilah, makam, dan “tali yang hilang” seperti di puisi ~dua (hal. 4): “mencari makam yang hilang / dari ingatan yang lunglai”.
Ketiga, dimensi metafisik, yaitu ruang batin tempat masa lalu dan masa depan saling tumpang tindih. Misalnya di puisi ~sepuluh (hal. 20): “masa depan / sekaligus masa lalu / yang berdekapan”.
Dimensi ketiga ini yang paling dominan. Karena bahkan ketika Jogja dibayangkan sebagai tempat tinggal ideal, nuansanya nggak pernah sepenuhnya damai. Selalu ada bayangan sejarah, konflik, dan kehilangan.
Menariknya, buku ini ditutup dengan semacam resolusi yang ambigu. Di puisi ~empat puluh (hal. 78), Toto ST Radik menulis: “kini aku ke timur / lahir sebagai aku yang baru”. Ini terdengar seperti transformasi, tapi kalau kita lihat seluruh perjalanan sebelumnya, “baru” di sini sebenarnya hasil merakit ulang serpihan lama.
Jadi bukan jadi orang lain, tapi jadi versi yang lebih sadar akan asal-usulnya.
Kalau ditarik ke pembacaan yang lebih luas, buku ini bicara soal kegelisahan identitas regional yang cukup relevan. Orang lahir di satu tempat, tapi punya akar di tempat lain, dan dua-duanya nggak sepenuhnya terasa rumah. Dan Toto ST Radik nggak berusaha menyederhanakan itu. Dia justru mempertahankan ketegangannya.
Akhirulkalam, “timur” di buku ini bukan destinasi final. Dia lebih mirip proses yang terus berjalan. Sesuatu yang dikejar, dipertanyakan, bahkan diragukan.
Kayak lagi naik motor malam dari Serang ke arah timur. Di Google Maps tujuannya jelas, tapi di kepala sendiri masih nanya, ini gue lagi pergi, atau sebenarnya lagi pulang?
Irzi ialah nom de plume Ikhsan Risfandi, lahir di Jakarta pada 1985. Buku-buku puisinya adalah Ruang Bicara (Stiletto Book, 2019) dan Trivia Kampung Sawah (Velodrom, 2024). Ia adalah Emerging Writer Ubud Writers & Readers Festival 2026.





