Society of The Snow; Nyala Harapan di Lembah Andes

07/03/2024

Pegunungan Andes, rangkaian pegunungan yang terbentang di antara negara Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, Bolivia, Chili, dan Argentina dengan panjang mencapai 4.500 mil, atau 7.242 kilometer, melebihi daratan Indonesia yang memiliki panjang 5.120 kilometer. Dengan hampir sebagian wilayahnya diselimuti oleh Gletser dan memiliki ketinggian rata-rata berada di angka tiga ribu sampai empat ribu meter di atas permukaan laut, kadar oksigen di Pegunungan Andes tentu sangat minim. Akibatnya, orang yang belum terbiasa dengan anomali ekstrem akan sulit untuk menetap dalam waktu lama di wilayah tersebut. 

Menurut data yang diambil dari laman Chimu Adventures, rangkaian pegunungan Andes terbentuk sejak 50 juta tahun yang lalu, ketika lempeng tektonik Amerika Selatan dan lempeng tektonik Pasifik bertabrakan hingga akhirnya membuat rangkaian pegunungan yang biasa disebut dengan istilah simpul orografis. Meskipun tak semua wilayah Andes dipenuhi oleh Gletser, pegunungan ini tentu saja tak ramah bagi manusia. Meskipun, ada beberapa suku yang ternyata telah mendiami pegunungan Andes selama ribuan tahun, salah satu contohnya adalah suku Inca.

Pada bulan Oktober 1972, ketika Andes tengah dilanda musim dingin di mana puncak dan lembah-lembahnya ditutupi salju, sekelompok pelajar Uruguay yang tergabung dalam sebuah tim Rugbi amatir bernama Old Christians tengah berbahagia lantaran menerima undangan pertandingan melawan tim Rugbi asal Inggris. Pertandingan tersebut akan dilaksanakan di negara tetangga, Chili. Keinginan para anggota Rugbi ini untuk berangkat semakin besar lantaran hanya dengan 45 Dollar, mereka sudah bisa sampai di Chili dengan menyewa sebuah pesawat Angkatan Udara Uruguay. Singkatnya, pada tanggal 12 Oktober 1972, pesawat Angkatan Udara Uruguay tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Carrasco, Montevideo dengan membawa 45 orang yang terdiri dari 19 anggota tim Rugbi Old Christians beserta keluarga dan para pendukungnya menuju Santiago, Chile. Ketika melintasi wilayah argentina, Pilot menyadari bahwa cuaca tak bersahabat. Alhasil, penerbangan terpaksa dihentikan. Mereka mendarat lebih awal di Mendoza, Argentina untuk bermalam. Esoknya, ketika cuaca tampak memungkinkan, pesawat yang membawa rombongan ini kembali lepas landas untuk melanjutkan perjalanan. Mereka, mungkin sama sekali tak menyangka, beberapa jam selanjutnya di hadapan mereka, akan terjadi sebuah peristiwa kelam yang tak saja menyita perhatian dunia kala itu, namun juga sebuah tragedi yang mustahil mereka lupakan, setidaknya oleh para penyintas.  

Satu jam pasca keberangkatan dari Menzoa, Argentina, di antara Gletser Pegunungan Andes yang gelap oleh kabut dan salju, para penumpang menyadari ada yang tidak beres dengan keadaan di dalam pesawat. Arah terbang pesawat mulai tak terkendali, suara-suara benturan antara badan pesawat dengan angin semakin mengganggu perasaan para penumpang. Di arah lain, Co-Pilot meminta setiap penumpang untuk mengencangkan sabuk pengaman di masing-masing kursi. Barang-barang yang semula tertata rapi di bagasi atas, satu per satu berjatuhan, turbulensi semakin tak terkendali. Setiap orang yang ada di dalam pesawat itu mengucap doa selamatnya sendiri-sendiri. Sehentak kemudian, kedua sayap pesawat terlepas, beberapa penumpang terhambur berserakan ke luar pesawat yang masih berada di ketinggian, sementara sisa badan pesawat yang masih terisi penumpang lain meluncur ke muka Gletser dengan kecepatan 220 mph sejauh 2.379 kaki, kemudian terhenti setelah menabrak bongkahan es. Namun, itu bukanlah bagian terburuk.

Peristiwa di atas adalah awal dari tragedi kisah nyata yang oleh Juan Antonio Bayona berhasil diangkat menjadi film terbarunya berjudul Society of The Snow, tayang di Netflix pada 4 Januari lalu. Bayona, selaku sutradara, berhasil menggambarkan secara detail bagaimana kematian satu persatu mendatangi para penumpang pesawat Angkatan Udara Urugay yang terdampar di lembah pegunungan Andes, tanpa persediaan memadai. Para penumpang tersebut harus bertarung dengan suhu dingin dan kelaparan ekstrem selama 72 hari. Selama itu, mereka hanya bertahan di dalam bangkai pesawat dengan posisi tubuh yang saling bertumpuk untuk sedikitnya mengurangi suhu dingin, berdampingan dengan kerabat dan kawan yang telah lebih dulu menjadi mayat.

Sebenarnya, ketika beberapa hari terdampar, secercah harapan sempat mereka miliki ketika mereka berhasil memperbaiki peralatan radio yang ada di pesawat. Dari kejauhan, mereka mendapati kabar bahwa pemerintah tengah melakukan pencarian besar-besaran di sekitar pegunungan Andes. Namun, harapan itu seolah sirna, membawa mereka ke titik terendah hidup, ketika kembali mendengar informasi dari radio, bahwa pencarian pesawat mereka terpaksa dihentikan setelah seminggu dilakukan.

Pengalaman itu adalah pengalaman berada di neraka yang benar-benar hitam, ucap Fernando Parrado, salah seorang penyintas tragedi tersebut ketika diwawancarai oleh The pada Rabu, 9 Januari 2024. Pria tersebut menambahkan, bahwa dibanding dengan yang mereka lalui, neraka adalah tempat yang nyaman. Kalimat tersebut seolah menyimpulkan betapa menyiksanya 72 hari di atas ketinggian 9000 kaki yang dilalui oleh para korban.

Sebagian orang menyebut ini adalah tragedi, sebagian lain menyebut ini adalah mukjizat. Aku akan membawamu ke masa lalu, sebab masa lalu adalah hal yang paling rentan berubah. Apakah yang sebenarnya terjadi di Andes? Sebuah kalimat dari pembukaan film Society of The Snow ini terasa sungguh memukul bertubi, memaksa penonton kembali memahami apa yang sesungguhnya terjadi dan yang telah dilalui oleh para korban. Kalimat tersebut juga seolah menjawab sentimen negatif terhadap praktik kanibalisme yang memang terjadi dalam tragedi tersebut. Ya, benar. Anda tidak salah membaca. Para korban yang dilanda kelaparan ekstrem, dengan terpaksa harus memakan daging kerabatnya yang telah lebih dulu tewas dan membeku. Alasan satu-satunya hanyalah demi tetap bertahan hidup dan tak memadamkan harapan bahwa mereka mampu selamat, entah bagaimanapun caranya.  

Film Society of The Snow garapan J.A Bayona ini jelas mendapatkan sambutan luar biasa dari para kritikus dan penikmat film. Bayona, dianggap mampu menajamkan film ini kepada hal-hal sensitif yang justru akan menjadi bumerang apabila tidak dieksekusi dengan matang. Untungnya, Bayona menjawab segala keraguan dan membuktikan bahwa Film terbarunya ini, setidaknya mampu merepresentasikan sebagian besar kemelut perasaan tiap tokoh yang terlibat, membuat film tidak hanya semata dapat dinikmati, namun juga penyampai imaji yang kuat berdasarkan ragam emosi dalam film. Film ini pun berhasil menorehkan prestasi dengan menjadi film perwakilan Spanyol yang menjadi nominasi di ajang Oscar dalam kategori Best International Feature Film dan  Best Makeup and Hairstyling.

Sebagai sebuah karya film, Society of The Snow tentu adalah sebuah karya epik dan menjanjikan di awal tahun. Namun, sebagai sebuah kisah nyata, siapa pun tentu ingin menghindari pengalaman demikian. 16 orang yang akhirnya selamat dalam tragedi ini adalah bukti nyata, bahwa sekecil apa pun cahaya harapan itu menyala, maka tak ada keraguan di dalamnya untuk memilih menyerah, sekalipun dalam keadaan yang tampak mustahil.

 

Agus Salim Maolana