SEPASANG MATA KELABU

30/10/2023

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sembilan tahun lalu

“Kan kaudapatkan kecantikan yang seutuhnya, lalu biarkan aku merebut kecantikan dunia dari anak terlarang dalam kandunganmu itu.”

***

Wati hanya melihat punggung telanjangnya pria itu. Jarak mereka semakin lebar, pria itu mempercepat langkahnya sambil membenarkan celananya yang kedodoran. Kini punggung telanjangnya telah berlapis kemeja lusuh. Wati tidak mengerti apakah pria itu berpura-pura berlari menjauhinya atau gemetar di bibirnya benar-benar diguncang oleh ketakutan? Sebelum pergi, bisikan halus yang ditujukan kepada Wati berubah menjadi teriakan. Legit manis kata-kata yang disusun tidak lagi dicerna Wati sejak kurang lebih lima menit yang lalu.

“Kenapa matamu seperti iblis? Menyingkirlah!” teriak pria itu.

***

            Anjani masih bergelut dengan kelabu di matanya. Pagi ini, dia ditemani Winda untuk sekadar menikmati sejuk udara di pekarangan. Selepas bangun tidur tadi, Winda mengeluh kalau dia sudah tidak betah dengan bau yang tidak karuan dari salah satu ruangan. Adakah Anjani sadar bahwa selama ini ada lilin-lilin yang tidak pernah terlelap? Atau merkah pun semerbak bunga yang terus segar di muka ruangan sunyi itu? Anjani hanya mengangguk ketika ditanya Winda apakah pada kembang kempis nafasnya tercium aroma yang sama dengannya. Anehnya, Anjani terus mengelak ketika selama lima hari ke belakang dijejali Winda dengan pertanyaan seputar ruangan itu.

“Sebenarnya apa yang disembunyikan ibumu dalam ruangan itu, An?”

Anjani membisu. Begitu pula dengan angin, padahal sebelumnya angin menyisir lembut rambut kedua gadis kencur itu. Anjani justru meminta Winda untuk menuntunnya ke kamar mandi, meskipun sebenarnya dia sudah hafal betul berapa langkah yang harus ditempuh ke kamar mandi. Hidung Anjani kembali membau nyala lilin pun rona bunga yang dimaksud Winda, tapi tidak dengan sepasang mata kelabunya. Dia tidak tahu pasti bagaimana wujud keduanya, yang dia tahu ibu selalu bercerita tentang anak-anak iblis yang sedang dibasmi di sudut gulana itu.

Malam-malam yang lalu, ibu seolah mencegah Anjani untuk tidak sesekali memasuki ruangan itu, bahkan memegang gagang pintunya saja tidak boleh. Ibu bersender pada dipan kasur Anjani, sesekali dielusnya rambut putrinya yang halus, meskipun dengan terpaksa. Ibu bercerita jika ruangan itu sengaja dibuat untuk mengurung kawanan iblis yang berniat buruk kepada orang seisi rumah. Di dalam sana iblis-iblis itu dicekik berulang kali dan dibanting ke sana ke mari. Lalu bunga-bunga yang disebar di muka pintu menjadi wewangian yang dibenci oleh mereka. Begitu pula dengan sinar lilin yang berbanjar.

“Iblis tidak menyukainya!” seru ibu.

Anjani meringkuk ketakutan di balik dekap ibunya, bersamaan dengan jantungnya yang bergetar begitu hebat. Dia tidak bisa berkata apa-apa sebab mulutnya membeku seketika. Andai kata itu hanya sebuah bualan, Anjani akan tetap memercayai ibunya. Sebab tidak ada orang lain yang dipercaya oleh Anjani selain ibunya. Bagaimana tidak, bahkan Anjani tidak pernah bercengkerama dengan dunia luar. Hanya ibu, bibi pembantu, dan teman-teman kencur yang tidak pernah bertahan lebih dari seminggu. Sebab Leswati—perempuan yang mewariskan cantik pada Anjani—menjaga putrinya lir sebuah permata, dikurungnya dia dalam mata kelabu. Anjani bersembunyi, atau mungkin sengaja disembunyikan ibunya dari genderang dunia luar.

            Winda membuntuti langkah Leswati. Beberapa menit lalu, Leswati membisikkan sesuatu kepadanya. Dua untai kalimat yang keluar dari mulut Leswati berhasil membuat Winda tersenyum lebar. Entah apa yang Leswati ucapkan sehingga Winda melangkahkan kedua kakinya dengan berjingkrak riang. Leswati membawa Winda ke ambang ruangan dengan bau amis dan harum mawar yang membaur menjadi wangi yang tidak karuan. Winda mengangguk pelan setelah Leswati menepuk pundak kirinya, diikuti dengan langkah mungilnya yang mulai diseret untuk menyusuri seisi hitam pada ruangan di hadapannya.

Bersamaan dengan itu, Anjani hendak menidurkan kantuk pun memejamkan mata kelabunya. Samar-samar telinganya mendengar teriakan Winda. “Arghh ....” Kamis malam ini diakhiri oleh jeritan Winda yang tidak bisa dieja maknanya.

***

            Anjani sudah menduga apa yang akan terjadi hari ini. Dia sudah hafal dengan kebiasaan teman-teman kencurnya. Jumat pagi ini Winda tidak lagi ditemukan oleh rabaan Anjani. Dia tidak mau meraba lebih jauh lagi, sebab dia sudah tahu bahwa masa Winda untuk menemaninya sudah habis. Hari ini sudah tepat seminggu dari ketibaannya, artinya sudah waktunya Anjani mendapatkan teman kencur yang baru. Entah kenapa teman-teman kencurnya selalu pergi di Jumat pagi. Apakah mereka sudah bosan menatap mata kelabu Anjani? Apa mereka sudah lelah menuntun Anjani berkeliling huniannya? Atau mungkin ada orang di rumah ini yang terlibat dalam kehilangan Anjani dan teman-teman kencur lainnya?

            Burung di atas sana berduyun-duyun terbang ke arah timur. Mewarnai langit jingga dengan sayap-sayap putihnya. Hanya saja, Anjani belum juga mendapatkan teman baru. Padahal tiap hari Jumat, selambat-lambatnya di siang hari ibu selalu membawakan teman baru untuknya. Gadis kencur itu tidak lagi merasa kesepian. Namun, kelabu di matanya membaca satu kesumbangan. Selain membawakan teman bagi putrinya, ibu tidak jarang mengizinkan banyak lelaki masuk rumah. Anjani kerap mendengar dua sampai tiga jenis suara lelaki berbeda yang membersamai ibunya setiap hari. Entah apa yang terjadi, kelabu di matanya tidak dapat mengeja lebih banyak hal. Telinganya hanya bisa mencerna erang yang bersahutan.

            Anjani berteman dengan orang yang berbeda tiap sepekan. Jumat dikirimnya padanya teman baru, lalu pada Kamis malam temannya hilang dalam satu kali dengkur. Sudah empat hari ini dia tidak mendapatkan teman baru. Ibu selalu menyempatkan dirinya untuk memungut anak kencur dari pasar sayur yang tidak pernah tidur, terminal kota yang menyala, atau halte bus yang sedang mati suri. Anjani merasa sedih, hari-harinya selalu dipenuhi oleh rasa murung. Apakah sudah tidak ada yang mau berteman dengan mata kelabu Anjani?

            Tidak banyak hal yang bisa dilakukan oleh Anjani. Ia hanya bisa meraba boneka-boneka kepunyaannya lalu membayangkan bagaimana maujud benda yang selalu ia mainkan tersebut. Anjani sudah semakin bosan, ia mulai merasa dikucilkan oleh dunia. Tidak ada orang yang bisa ia ajak untuk bergurau, atau setidaknya membicarakan hal-hal tertentu. Ibunya juga sudah jarang menidurkan Anjani dengan senandung Nina Bobo atau selembar cerita pengantar tidur. Mungkin ibunya terlalu sibuk, Anjani sendiri yang mendengar rumahnya selalu ramai oleh suara laki-laki di tengah malam. Mereka bernyanyi, bercanda, lalu tertawa serentak selayak paduan suara. Bukan hanya satu, Anjani menebak ada sekitar tujuh lelaki yang mebersamai ibunya sebab gelegar yang teramat keras. Ketika malam semakin lelap dan Anjani belum rampung memejamkan matanya, yang dia dengar bukan lagi musik disko, tapi erangan dari seorang wanita disusul teriakan puas dari ketujuh lelaki tadi. Anjani belum bisa mengejanya.

             Perasaan Anjani semakin tidak karuan. Malam berikutnya ia mulai mengutuki dirinya dengan beragam celaan, kata-kata rancu mulai keluar dari mulut mungilnya. Disusul dengan kedua tangannya yang mengacak-acak lalu bergerak menjambak rambutnya. Ia menghancurkan kamarnya. Barang-barang hasil rabaan di sekelilingnya dilibas pun dihantamkan ke dinding. Sebuah kekacauan ini terjadi karena Anjani sudah bosan menidurkan pendar matahari, melukis jingga pada mata orang-orang, lalu mengajak bulan berdendang Nina Bobo. Semua ia lakukan seorang diri. Gadis kencur itu lelah mengeja redup; menyesali kelabu yang mendiami matanya.

            Anjani selalu berpikir apakah seburuk itu mata kelabunya hingga ibu tidak mengizinkan ia berteman secara bebas? Kenapa ibunya selalu membawakan kencur-kencur pungut baginya? Apakah Sinta, Aliah, Ririn, dan teman-teman kencur lainnya sedang menunggunya di ruangan gelap itu? Apakah sekarang teman-temannya sedang berkumpul dan merayakan ulang tahun Winda di dalam sana? Anjani tidak lagi memandang ruangan gelap itu sebagai tempat mengerikan seperti yang diceritakan ibu, justru seketika menjelma tempat mengasyikkan yang membuat teman-temannya betah di dalam sana.

            Mata Anjani memang masih kelabu. Entah kenapa ia dapat merasakan segenggam cahaya putih di depannya. Seisi tubuhnya dapat merasakan hangat sinar putih itu. Betapa terkejutnya ia ketika kelabu di matanya memudar. Anjani dapat melihat sekelilingnya dengan jernih. Cahaya putih yang dianggap membawa keajaiban itu lalu dibuntuti oleh Anjani. Ia berharap ada keajaiban lain yang akan ia dapatkan. Cahaya putih itu hilang di balik pintu ruangan gelap yang masih dipenuhi nyala lilin dan semerbak bunga. Anjani meyakinkan dirinya untuk membuka pintu itu pelan-pelan. Setelah beberapa kali menarik nafas dan mengambil kuda-kuda, “Krek ....”

            “Arghh ....” Anjani hilang ditelan teriakannya sendiri.

            Dari salah satu sudut lain di rumah ini, teriakan seorang pria menyusul teriakan Anjani. “Kenapa matamu seperti iblis? Menyingkirlah! Bagaimana bisa keriput itu muncul seketika.”

Bumi Blambangan, 29 September 2023

 

 

Adi Saputra atau remaja yang akrab disapa Adi. Remaja dengan kegemaran dunia literasi yang lahir 18 tahun lalu di Banyuwangi tepatnya pada 20 November 2004. Saat ini Adi sedang menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jember. Saat ini Adi sudah menerbitkan sebuah buku solo berjudul “Bring U Back.” Jejaknya dapat ditelusuri melalui akun media sosial Instagram @ssptraad dan nomor kontak.