Kita Tak Pernah Siap Jatuh Cinta 

26/11/2025

 

Kau pergilah ke sana, cinta yang tak dinyatakan hanya akan jadi beban seumur hidup. Lihatlah aku dan Rami, apakah kau menyangka kalau dia akan menerima cintaku padahal dia baru saja bercerai dengan mantan suaminya itu? 

Aku saja terkejut saat malam itu dia meneleponku minta dijemput dari rumah mertuanya. Kau harus berani, risiko terbesar dari mencintai adalah patah hati dan itu wajar. Semua orang pernah merasakannya, dan jika ini memang patah hati pertamamu, biarkan ia patah sepatah-patahnya. Sehingga ketika nanti ia patah kembali ia sudah tahu bagaimana caranya memulihkan diri. 

Kau sudah terlalu tua untuk takut, aku temani besok ke rumahnya. Kau butuh apa? Baju? Celana? Akan aku siapkan semuanya, kau hanya modal badan dan mandi saja. Datanglah ke rumahku besok pukul 4 sore. 

Ucapan Rahmat sore itu membekas di telingaku. Pikiranku tertuju pada satu nama yang tak pernah bisa pergi dari ingatanku. 

*** 

Lima belas tahun yang lalu, aku pernah jatuh cinta. Aku tidak tahu perasaan macam apa itu sampai bertahun-tahun setelahnya sahabatku, Rahmat, memberitahuku. 

“Itu cinta, bodoh. Kau sedang jatuh cinta. Siapa perempuan yang bisa membuat orang sedingin dan sekaku kau jatuh cinta? Hahaha, aku tahu, pasti gadis anak pak Ustaz itu kan. Sudah kuduga sejak dulu kau suka padanya. Kapan tepatnya kau mulai merasakannya?” Rahmat menepuk pundakku sambil bertanya. 

“Entah, aku mulai merasakan perasaan ini sejak kelas tiga SD, dan sejak itu aku tak pernah merasakan hal yang sama pada orang lain.” Aku menjelaskannya sambil menatap ke langit membayangkan senyum itu. 

Namanya Lila, dia anak guru mengaji di kampungku. Aku sudah menyukainya sejak SD, kami sudah berteman lama karena di sekolah maupun di TPA kami satu kelas. Dia cantik, tatapannya teduh dan tuturnya lembut. Aku tidak pernah menyatakannya, bahkan untuk berbicara dengannya saja aku takut, dadaku berdetak begitu cepat dan tanganku gemetar. Nama itu bertahan di hatiku, mengendap dan tak pernah pergi. 

Waktu kecil, setiap lebaran aku selalu minta diantarkan ke rumahnya. Aku berdalih ingin silaturahmi dengan Pak Ustaz, guru mengajiku. Padahal di hati kecilku, aku hanya ingin melihatnya. Sekadar melihatnya tersenyum saja sudah membahagiakanku. Rutinitas itu berhenti sejak kami tak satu kelas lagi di SMP. Tak ada obrolan tak ada tegur sapa, semuanya asing kecuali perasaan itu. Jarak itu makin jauh saat menginjak bangku SMA dia pergi ke pesantren di seberang pulau. 

Setelah 15 tahun perasaan itu masih ada. Ia mengendap seperti lumpur di dasar sungai, tak peduli seberapa deras pun air yang mengalir, ia tetap tinggal dan menetap. Aku tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya, kadang ia benar-benar mengganggu dan menghantui setiap tidurku. Kadang perasaan takut itu muncul, bukan takut akan bertemu, tapi takut suatu hari aku tak sempat menyatakan perasaan ini saat dia sudah dipinang orang lain. Aku takut penyesalan itulah yang akan mengurungku seumur hidup. 

**** 

“Ini untukmu, gantilah pakaianmu. Nanti istriku yang akan memberitahumu apa saja yang perlu kau katakan nanti.” Rahmat membawakanku kemeja berwarna biru muda dan celana hitam. 

“Kau yakin dengan rencana ini? Kau tidak malu jika nanti aku ditolak?” 

“Hah, malu? Kau kira aku tidak pernah merasakan ditolak? Aku bahkan pernah ditolak di depan seluruh siswa di sekolah kita dulu, kau ingat?” tanya Rahmat berusaha meyakinkanku. 

“Ya, aku ingat, tapi ini bukan soal ditolak atau tidak, aku takut dia bahkan tidak mau membukakan pintu untuk orang yang bahkan hanya jadi teman masa kecil dan sedikit pun tak pernah bercakapan dengan dirinya.” 

“Mar, cinta itu harus diperjuangkan. Aku tidak mau sahabatku yang tak pernah bisa jatuh cinta dengan orang lain selain Lila kehilangan kesempatannya untuk menyatakan cinta hanya karena dia sudah dipinang orang lain. Itu kan yang kau takutkan? Apa kau mau menunggu ia menjanda? Yang benar saja, calon suaminya itu orang terkenal, orang alim, mana mungkin ia akan menceraikannya setelah menikah.” 

“Mungkin saja, istrimu menikah dengan orang yang tersohor dulu, nyatanya cerai juga,” sanggahku. 

“Mantan suaminya hanya terkenal saja, Bodoh, bukan alim. Kalau suaminya alim aku mana berani mengambil risiko menunggunya sampai cerai,” gurau Rahmat disambut tawa dari Rami. 

Aku duduk di ruang tamu, menunggu Rahmat dan istrinya. Perasaanku tak karuan, karena inilah pertama kalinya aku datang ke rumahnya untuk menyatakan cinta. Masalahnya adalah, aku akan menyatakan cinta pada perempuan yang sebentar lagi akan dipinang oleh lelaki lain, yang jelas lebih kondang, tajir dan alim tentunya. 

Dalam kepalaku sekarang hanya ada kebimbangan, hatiku diliputi ketakutan. Bukan ketakutan akan ditolak, tapi takut orang-orang akan menganggapku lancang karena tiba-tiba datang ke rumah perempuan anak seorang ustaz untuk menyatakan cinta. Namun, aku juga penasaran apa yang akan Lila katakan ketika bertemu aku nanti. Apakah dia masih ingat dahulu dia pernah menggenggam tanganku ketika bermain kejar-kejaran? Pasti dia sudah tidak ingat. Waktu memang kejam. Ah, aku saja yang terlalu pandai mengingatnya, ini bukan soal waktu, ini soal perasaan. 

*** 

Dari kabar yang beredar, ada seorang pemuda yang hendak melamarnya. Rahmat bilang mereka dijodohkan. Seorang pemuda dari desa sebelah, dia putra dari rekan ustaz Ahmad, ayah Lila. Seorang penceramah kondang dan jika namanya disebut pasti semua orang akan langsung mengenalnya. 

Kabarnya, laki-laki itu bukan orang sembarangan. Dia bukan hanya orang alim, tapi juga sakti. Dia sering mengobati orang-orang pandir dan sakit non-medis. Aku tidak tahu persis bagaimana caranya. Namun, banyak saksi yang bercerita bahwa dia bisa mengeluarkan beling, jarum, bahkan kawat dan paku dari tubuh pasiennya. Kelihatan tidak masuk akal, tapi di kampungku ia dianggap pahlawan dan sakti 

Tubuhku gemetar saat pertama kali mendengar berita itu. Langit langsung mendung, gerimis tiba-tiba turun di kepalaku, dan untuk pertama kalinya aku menangis karena perempuan. Aku tidak percaya di usiaku yang ke 25 aku masih tidak punya keberanian untuk menyatakan cinta pada perempuan yang aku sukai sedari kecil. Mungkin Rahmat benar, cinta ini perlu dinyatakan sebelum sosok yang benar-benar layak itu datang dan meminangnya. Aku tidak butuh jawaban iya darinya, aku hanya butuh dia menjawab dan menerima kedatanganku yang tulus. 

Namun, apa jadinya jika dia menerimaku? Bagaimana nasib lelaki sakti itu? Terdengar mustahil, tapi kemungkinan itu tetap ada. Apalagi Ustaz Ahmad juga mengenalku dengan baik, mengenal keluargaku juga, kami bertetangga baik. 

Aku justru lebih takut diterima daripada ditolak. Aku takut mengecewakan banyak orang. Karena sebagai guru matematika, aku paham di setiap percobaan pasti ada peluang berhasil dan gagal. Masalahnya jika aku berhasil, artinya perjodohan antara Lila dan lelaki alim nan sakti itu akan gagal dan bukan hanya lelaki itu yang kecewa, kurasa keluarga dan jamaahnya akan jauh lebih kecewa – apalagi jika berita perjodohan mereka telah tersebar ke kalangan mereka. 

*** 

“Mar, aku tidak tahu persis bagaimana karakter Lila, tapi perempuan selalu suka dipuji dan diperhatikan. Cobalah bahas hal-hal yang ia suka atau masa kecil kalian itu yang semoga dia masih ingat.” Rami menasihatiku sambil membawakan parfum untukku. 

“Jangan terlihat gugup di sana, santai saja, nanti kalau sudah dapat waktu yang pas baru kau nyatakan cintamu itu. Mawar ini, keluarkan ketika kau akan menyatakannya. Aku tidak tahu apakah Lila suka atau tidak, tapi layak untuk dicoba.” Rahmat menimpali istrinya sambil tertawa. 

“Tapi, Mat, aku.. aku takut.” 

“Sudahlah, ini tidak akan terlalu buruk. Kalau memang ditolak, itu hal yang wajar, paling sebulan atau dua bulan sakitnya akan sembuh.” 

“Bukan itu, Mat. Bukan itu yang aku takutkan.” 

“Lalu apa? Kau takut dia tidak membuka pintu? Atau ayahnya tidak setuju? Tak masalah, setidaknya kau sudah berusaha mencoba, semoga itu membuatmu lega.” 

“Bagaimana kalau dia menerima cintaku, orang tuanya juga. Ustaz Ahmad kenal baik denganku dan orang tuaku. Bagaimana jika mereka menerimaku dan membatalkan perjodohan Lila dan lelaki alim anak ustaz itu!” Nada suaraku meninggi yang membuat Rami dan Rahmat terkejut. 

“Loh, bukannya itu yang kau mau? Itu kan tujuan kita untuk menyatakan cintamu di depan Lila dan orang tuanya.” 

“Bukan, Mat. Ini di luar rencanaku, aku sanggup menanggung beban seumur hidup ini, aku sanggup melihat dia bahagia dengan laki-laki lain, aku sanggup menderita karena perasaan yang kupendam. Daripada aku harus melihat kekecewaan dari sebuah perjodohan yang dibatalkan karena ada seorang laki-laki biasa datang dan menyatakan cintanya yang sudah dipendam selama 15 tahun. Aku tidak siap jadi benalu dan dikenal sebagai laki-laki tak tahu diri. Biarkan aku sendiri, aku memang tak pernah siap jatuh cinta, tidak akan pernah.” 

Amar meletakkan mawar itu dan pergi meninggalkan Rahmat dan Rami yang berdiri diam. 

 

Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya 18 Februari 2000. Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Raden Intan Lampung. Pemenang 3 Duta Bahasa Provinsi Lampung 2024. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (2019) dan Monsieur: Seorang Hamba Kepada Tuannya (2025). Karya-karyanya pernah dimuat di pelbagai media online seperti koran.tempo.co, republika.id, langgampustaka.com, semilir.co, sastramedia.com, sippublishing.co.id, magrib.id, nominaidekarya.com, milenialis.id, duniasantri.co, kurungbuka.com, ceritanet.com dan lainnya; dan media cetak seperti Suara NTB, Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos Bali, Rakyat Sumbar, Rakyat Sultra, Kedaulatan Rakyat dan lainnya. Puisi-puisinya juga terhimpun dalam beberapa buku antologi puisi bersama. Ia bisa disapa melalui laman Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau sila kunjungi www.duniakataimronaka.blogspot.com.