Karuhun

19/11/2025

 

Yang Komong yakini jika apa yang telah ditinggalkan karuhun1 untuknya dan seluruh warga yang tinggal di desanya, semua harus dijaga dan dirawat. Betapa dulu waktu kecil, ia sering mendengar cerita dari kakek buyutnya untuk terus menjaga alam lewat pesan dari bibir ibunya. Juga untuk sebuah titipan yang membuatnya lebih kuat dari waktu ke waktu. 

Mengeluh hanyalah pekerjaan seorang pecundang. Kalimat itu sering dilontarkan ibunya tepat sebelum ia berangkat berburu atau mencari madu demi menyemangati dirinya sendiri. Sebuah mantra yang sering ibunya sepuhkan ke ubun-ubun kepala Komong saat pagi dan kadang membuat dirinya lupa pada sang ayah yang lebih dulu menghadap Hyang Keresa2. Sebagai seorang laki-laki, Komong paham dan mengerti, sudah sepantasnya beban mencari nafkah itu diletakkan di pundaknya sekarang. 

Umurnya memang baru belasan, tetapi keperkasaannya melebihi apa pun. Kaki-kakinya keras seperti batu. Tanpa alas kaki pun, tak jarang duri-duri yang terinjak di sepanjang jalanan belantara hutan tempat ia mencari madu akan menunduk pilu. Tubuhnya terlihat pendek, tetapi gempal seperti laki-laki perkasa lainnya. Tetapi lebih dari itu, aroma wangi honje3 selalu keluar dari tubuhnya. Aroma alam, juga keteduhan. 

Pagi-pagi sekali ia tampak heran tak melihat Jaming. Saudaranya itu biasa selalu menunggu di depan pintu jika ia hendak berangkat ke hutan. Menemaninya berburu atau mencari madu. Sejak semalam ia memang tak pulang. Aneh. Ibunya hanya berkata mungkin saja karena hujan, ia menumpang tidur di rumah Uwa Salim, saudara kandung ibu. 

Kemarin, Uwa Salim baru saja terpilih jadi puun4 menggantikan Aki Jani. Sepeninggal ayahnya, kadang ia dan Jaming pun sering tidur di sana. Ibunya tak melarangnya, bahkan mereka sering menganggap Uwa Salim sudah seperti ayahnya sendiri. 

Namun, pagi ini Komong kecewa sekali setelah mendapati kalung biji jali jagung hilang dari kotak simpanannya. Ia kira sudah diletakkan ke tempat semula oleh ibunya. Sebelum ke hutan, ia selalu memakainya. Benda itu mirip azimat yang menimbulkan rasa 

percaya diri, juga selalu mengingatkan pada keperkasaan mendiang ayahnya. Terakhir kali kemarin sore, ia melihat Jaming tak sengaja menginjaknya ketika mereka bercanda dan kejar-kejaran di kamar. Kalung sederhana yang dibuat dari roncean biji jali jagung itu tercerai-berai. Talinya mungkin sudah lama dan hanya dibuat dari serat kulit pohon pisang. 

Hati Komong panas. Sambil bersungut dan melemparkan kata-kata kekesalan, ia kumpulkan biji-biji yang berceceran. Ia berikan biji-biji itu pada ibunya. Jaming ketakutan dan langsung keluar rumah. Ibunya hanya mampu menenangkan anaknya. Ia tahu, kadang bertengkar akan membuat mereka lebih dewasa. Lebih mengerti jika dengan saudara harus saling menghormati. Bahkan untuk satu kesalahan seperti ini. Jaming mungkin tidak sengaja. 

“Kamu jangan terlalu kasar. Bagaimanapun juga ia tetap adikmu. Bukankah semua manusia pernah melakukan kesalahan. Entah disengaja atau tidak. Nanti kalungnya ibu perbaiki” 

Sejatinya ada penyesalan dalam dada. Setelah umpatan kekesalan itu, bagaimana kalau Jaming benar-benar tak pulang. Ketakutan dan ia lebih memilih minggat dari rumah. Sebenarnya ini pun masalah sepele. Ibunya bisa saja memperbaiki kalung itu. Ibunya sering bercerita jika kalung itu adalah butiran cinta ayahnya yang ia persembahkan untuknya. Betapa kalung itu sangat berharga di mata Komong. Satu butir mengandung satu cerita tanpa henti. Ia seolah selalu melihat wajah ayahnya saat ibunya bercerita sambil mengelus butiran biru muda itu. Bagaimana mungkin ia tak marah saat melihat Jaming memperlakukan butiran kalung itu. Seolah melihat wajah ayahnya yang terinjak-injak. 

“Bukankah Uwa Salim selalu mengajarimu pikukuh5 yang harus kita pegang? Lojor henteu benang dipotong, pendek henteu benang disambung6. Merusak alam ini sama saja menabur luka di hati karuhun. Tetapi hidup bukan hanya tentang menjaga dan merawat alam. Hidup yang baik tentu saja yang selaras dengan merawat hati dan pikiran. Jaming tak sengaja bukan? Ibu tak melihat wajah ayahmu jika kau marah seperti itu. Ayahmu semasa hidup tak pernah marah. Ia selalu mengatakan apa yang tak diinginkannya dengan santun.” 

Ibunya benar. Ia masih sulit mengendalikan diri. Apalagi terhadap saudara kecilnya sendiri. Dalam pelupuk mata, ia membayangkan Jaming sedang berteduh di bawah pohon 

dengan tatapan pilu. Wajah ketakutan untuk pulang. Maka ia putuskan hari ini. Sebelum berangkat berburu, ia akan pergi ke rumah Uwa Salim. Mencari Jaming. 

“Semalam memang ia di sini. Tetapi tengah malam ia izin pulang. Aku kira ia pulang ke rumah. Nanti Uwa bantu untuk mencari.” 

Jawaban itu tak begitu memuaskan, apalagi setelah melihat bulatan mata Uwa Salim seolah menyimpan rahasia. Komong seolah melihat rasa curiga di dalamnya. 

*** 

Sore itu Komong pulang dengan membawa banyak madu. Dua bambu besar ia ikat di pundaknya. Menyusur jalanan licin bebatuan menuju arah pulang. Melewati rumah-rumah yang dijunjung kasau-kasau bambu dan beratap jerami. 

Sampai di pertigaan jalan dengan tepi batu-batu yang rapi, ibunya terlihat sedang menenun di beranda rumah. Menatap dari kejauhan langkah kaki yang sudah pasti sangat dikenalnya. Ibu Komong segera beranjak. 

Tak menunggu lama sampai tiba-tiba ia terduduk di dalam ruang tamu dan ibunya membawa segelas air dalam gelas bambu. Dua kepal nasi dan lauk ikan asin tersaji di depannya, di atas lembaran daun pisang. Ibunya mengelus kepalanya, memperhatikan pakaian jamang sangsang7 yang sedikit robek di ujung bawahnya. Seolah hatinya ingin berkata, “Kamu kenapa bisa sampai seperti ini? Adakah yang terluka?” 

“Akhir-akhir ini madu di hutan tinggal sedikit. Ada ranting yang tak sengaja mencegat jalanku tadi. Aku diajarkan untuk pantang menyerah bukan? Ibu sering berkata seperti itu padaku setiap pagi. Eh, Jaming belum pulang?” 

Sama seperti tatapan mata Uwa Salim, tatapan mata ibunya begitu penuh tanda tanya dan malah seolah memberi jawab jika Jaming baik-baik saja. Mungkin nanti juga akan pulang sendiri kalau lapar. Toh, ibunya juga sudah melapor ke puun. 

Jika boleh jujur, Komong menyesal telah memaki-maki Jaming. Kalau Jaming membawa kalung itu dan membawa ke tempat Uwa Salim untuk diperbaiki, bisa saja. Tetapi ia tak ada di sana pagi itu. Komong tak tahu lagi ke mana harus mencari. 

Malam itu Komong berjanji jika Jaming pulang, ia akan meminta maaf berkali-kali padanya. Ia benar-benar saudara dan sahabat terbaiknya. Setelah berburu, ia terbiasa bertengkar, bercanda, lalu mandi di sungai bersama-sama. Terakhir kali, ia memohon dan meminta Uwa Salim terus membantu mencarinya. Jika sudah lebih dari dua malam ia tak pulang, ia akan melapor pada jaro8 saat itu juga. 

*** 

Jauh sebelum ia ada dan masih dalam bentuk rencana Sang Hyang Keresa, sepasang remaja muda mudi terlibat cinta diam-diam. Hanya saja, pernikahan belum dilaksanakan dan mereka telah melampaui batas. Walaupun semua dilakukan atas dasar suka sama suka, tetap saja, perbuatan itu telah melanggar aturan adat. Si lelaki harus rela diikat dan dibuang ke laut demi menghindari malapetaka selanjutnya dan demi meminta maaf karena menabur luka di hati karuhun yang murka. 

Mereka tidak bisa dinikahkan karena terbentur aturan adat, satu berasal dari Badui Luar, satunya lagi dari Badui Dalam. Beruntung, nasib masih berpihak pada mereka. Puun dan jaro akhirnya bersepakat. Berhubung si gadis masih kerabat puun yang baru saja terpilih, akhirnya dipilihlah jalan tengah. Laki-laki ini harus pergi meninggalkan tanah kelahirannya selama-lamanya. Jika ketahuan warga ia kembali, ia harus mati. 

Ia paham telah menabur luka di hati para karuhun dengan melakukan hal tercela. Namun, demi mengobati kerinduan pada jabang bayi yang bersemayam dalam rahim, laki-laki ini mencari jalan untuk menghindari kematian. Mencari cara agar bisa berubah dalam “wujud lain” demi bisa terus melihat benih yang ia tanam tumbuh mendewasa .... 

*** 

Sore itu gerimis tipis tak habis-habis. Komong baru saja selesai meletakkan bambu-

bambu berisi madu di ruang tamu. Ia benar-benar rindu saudaranya. Sudah dua malam Jaming tak pulang. Namun, derap langkah di halaman membuatnya bergegas. Ia hafal betul suara langkah kaki itu. Dengan sigap ia berlari membuka pintu. 

“Jaming!” 

Ia melihat kalung jali jagung telah melingkari leher saudaranya. Entah siapa yang telah merapikannya lagi. Ia peluk saudaranya itu dengan haru. 

“Aku minta maaf ya. Ayo masuk.” 

“Guk! Guk!” 

 

Keterangan: 

1leluhur, nenek moyang 

2sebutan untuk Tuhan dalam ajaran Sunda Wiwitan 

3kecombrang, tanaman yang dimanfaatkan masyarakat Badui sebagai pengganti sabun 

4kepala adat 

5ajaran, aturan 

6panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung 

7pakaian khas Badui, berwarna putih, tanpa kerah dan kancing 

8pemimpin desa 

 

Dody Widianto lahir di Surabaya. Karyanya tersiar di berbagai media massa nasional seperti Koran Tempo, Republika, Media Indonesia, Kompas.id, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Solo Pos, Radar Bromo, Radar Madiun, Radar Kediri, Radar Mojokerto, Radar Banyuwangi, Singgalang, Haluan, Rakyat Sumbar, Waspada, Sinar Indonesia Baru, Bangka Pos, Tanjungpinang Pos, Pontianak Post, Gorontalo Post, Fajar Makassar, Suara NTB, Rakyat Sultra, dll. Silakan kunjungi akun IG: @pa_lurah untuk kenal lebih dekat.