.jpg)
DAN seperti biasa, sayur tak pernah hinggap di piringmu. Seperti sebelum-sebelumnya, kau hanya memesan nasi dan telur dadar. Sesekali telur dadar itu kau ganti dengan sepotong daging ayam, atau beberapa tusuk sate, atau apa pun, yang jelas bukan sayur. Bagimu inilah dirimu, yang meski harus mengidap anemia-akut dan memakan obat dari resep dokter tiga kali sekali, tapi kau tahu, bahwa bagaimanapun susah membayangkan ada sayuran yang akan lewati tenggorokanmu.
“Saya lihat-lihat. Mas tak pernah sekali pun memakan sayur, ya?” ucap seorang perempuan sambil duduk di kursi yang berseberangan denganmu. Tiba-tiba perempuan itu mendekat dan menjadi satu meja makan denganmu.
Kau menatap wajah sang perempuan lama sekali. “Rasanya saya tak mengenal Anda,” ujarmu, sopan dan baku. Bertujuan mengusir secara halus.
Kau perhatikan kembali rona wajah perempuan yang tersebut. Sepertinya benar bahwa kau tak mengenalnya. Perempuan itu bukanlah rekan kerjamu. Perempuan itu juga bukanlah pegawai pantry, karena tak mungkin ada pegawai pantry yang sepemberani ini duduk di mejamu. Mereka semua tahu siapa dirimu, jabatanmu, sifatmu, dan segala tentangmu. Tak mungkin jika perempuan itu tak tahu.
“Kenapa gak suka sayur, Mas?” tanya perempuan itu. Kau yang telah selesai makan langsung meninggalkannya tanpa perasaan bersalah.
SETIAP hari, nyaris selama setahun penuh sejak saat itu. Perempuan tersebut kembali datang dengan pertanyaan yang sama saat jeda istirahat bekerja.
Tepat jam dua belas lewat dua belas menit, perempuan itu selalu datang. Kau mulai merasa terganggu.
Bagaimana jika bawahanmu atau rekan kerjamu memergoki hal ini? Melihatmu selalu makan ditemani perempuan yang tak kau tahu siapa, yang selama setahun ini tak pernah mengenalkan dirinya secara jelas. Perempuan yang sebenarnya entah mau apa, selain bertanya kenapa kau tak menyukai sayuran.
Pernah suatu ketika, kau tinggalkan uang pada perempuan itu, agar dia tak kembali. Namun sepertinya, perempuan itu tak membutuhkan uang, entah uang itu terlalu kecil nominalnya atau alasan apa, kau tak mengerti. Pernah juga kau panggil satpam untuk mengusirnya. Ketika satpam datang, perempuan itu sudah menghilang. Besoknya, perempuan itu kembali seperti biasa, seakan dipanggil oleh alam, kembali tepat pada jam yang sama, pada orang yang sama, dan bertanya perihal yang sama.
“Saya sudah bosan Anda ganggu terus. Sebenarnya apa mau Anda?” tanyamu geram pada perempuan itu.
“Aku selalu menanyakan hal yang sama dan kau tak pernah menjawab.”
“Apa pentingnya hal itu? Kenapa saya tak makan sayur? Apakah jawaban pertanyaan itu akan membuat Anda bahagia?”
“Iya, itu akan membuatku tenang.”
“Istirahat saya sudah berakhir. Saya harus kembali ke kantor,” ujarmu sambil berdiri, dan tangan perempuan itu menahannya.
“Hari ini pekerjaanmu sudah selesai dan kau akan langsung pulang. Benarkan?”
Kau terdiam. Bergetar dadamu. Bagaimana perempuan ini bisa tahu? batinmu.
“Aku tahu semua tentangmu. Kecuali kenapa kau benci sayur,” lanjut sang perempuan. Mau tak mau, kau kembali duduk. Tiba-tiba kau merasa was-was dalam hati, apa perlu kau ceritakan segalanya pada perempuan itu. Rahasia dan elegi yang kau rasa hanya karena sayuran?
“Aku berjanji akan meninggalkanmu jika kau menjelaskan kenapa kau tak suka sayur,” katanya seolah membaca pikiranmu.
Hening, kau diam tak bicara, apakah perempuan itu layak mendengarkan ceritaku? batinnya kembali. Namun sorot mata perempuan itu mendadak bercahaya, dan kau merasa tak asing pada sorotnya.
“Aku bukan benci sayuran. Aku hanya tak pernah mencobanya,” jawabmu, perlahan seperti pembukaan dalam sebuah cerita. Pemilihan kata yang kau ucapkan berbeda, awalnya menggunakan saya dan sekarang menggunakan aku. “Sejak kecil, orang tuaku sibuk, ayahku bekerja, begitu pula ibuku. Sejak kecil, aku ditinggal dan diajarkan untuk mandiri. Aku memasak sendiri. Bocah mana sih yang bisa membuka resep makanan? Aku hanya bisa membuat telur dadar, telur ceplok, dan macam-macam telur lainnya.”
Kau menghela napas, semua jadi terasa sesak bagimu kali ini.
“Sesekali, ayah dan ibu membelikanku ayam goreng, pizza, atau makanan mahal lainnya setelah mereka pulang kerja. Tapi tak pernah ada sayur, tak pernah ibuku memasak sayur. Sampai aku dewasa, aku tak pernah mencoba memakan sayur.” Kau menatap perempuan itu. Dia tersenyum.
Kau tahu cerita ini mungkin hanyalah sepotong kisah biasa bagi orang lain. Tapi tidak bagimu. Ini adalah sesuatu yang mengganggu batinmu sendiri. Karena hanya kau yang merasakan setiap pagi sebagai bocah memasak telur dadar. Hanya kau yang merasakan setiap siang memasak itu lagi. Padahal di lemari es banyak sekali bahan masakan lain. Menjelang malam, kiriman dari ibu atau ayahmu akan jadi makan malam. Setiap hari selalu seperti itu, dan meski hanya itu, kau tak pernah mau membagi cerita tersebut pada orang lain.
“Sudah jangan ganggu saya lagi!” ucapmu menutup cerita itu. Kali ini kau menggunakan kata saya lagi.
“Suatu saat, kamu harus mencoba sayur buatanku. Rasanya tak kalah lezat dari buatan ibumu,” ucap sang perempuan, mungkin mencoba menghiburmu atau tak paham dengan apa yang sebenarnya kau katakan.
“Sudah kubilang, ibuku tak pernah memasak sayuran untukku!” jawabmu acuh sambil menatap perempuan itu. Sorot matanya, wajahnya, dan bahkan raut mukanya mendadak menjadi tak asing bagimu.
“Dia akan mencoba memasak sayuran untukmu,” jawab perempuan itu ramah. Ternyata, senyumnya juga tak asing bagimu. Perempuan itu pun mendadak bercahaya lalu berpendar.
Akhirnya, kau menyadari kenapa perempuan itu begitu hangat.[*]
Jein Oktaviany, lahir di Ciwidey. Terpilih sebagai Emerging Writer pada Ubud Writers & Readers Festival, 2026. Aktif di komunitas Kawah Sastra Ciwidey, Prosatujuh, dan Sebelum Huruf A. Buku kumpulan cerpen perdananya berjudul “Apa yang Kau Lupakan Hari Ini?” (Langgam Pustaka, 2025).





