Sajak Keras, dll

27/10/2022

MALAM INDAH

Gelap itu pertanda

Hilang itu cahaya,

Dilahap muram.

Tapi bahagia tak hilang

Ia selalu ada. Di antara

Lemari kaca, dibalik jendela.

Ia diciptakan bukan dicari,

Kalau ia hilang

Berarti kita telah menutup mata.

Menolak melihat, menutup mata.

Malam indah bukan berarti harus bercahaya,

Malam indah tak harus bahagia, begitu?

Ya, malam muram juga bisa terang,

Malam indah melampaui itu.

 

 

SAJAK MALAM

Ada yang malam harinya berdiam diri di kamar dengan sepi sebagai sahabatnya,

Ada yang malam harinya melempar batu ke sesama manusia,

Ada yang malam harinya kasmaran dengan kekasih tercintanya,

Ada yang malam harinya mengadu kepada Tuhan tentang dosa hidupnya,

Ada yang malam harinya lapar dan kenyang disaat bersamaan,

Ada yang malam harinya pergi dan datang ke rumahnya

Tapi ketahuilah sayangku, aku ingin menghabiskan malam hari dengan dirimu.

Dengan musik sebagai pengantar tidur kita, lalu obrolan tak penting

menjadi gelak tawa yang meledak.

Dengan rumput sebagai alasnya, bulan dan bintang menjadi lampu tidur kita.

Lalu aku ingin memetik satu bintang untuk rambutmu yang indah itu.

Dan kita berlari-lari di antara muramnya langit dan bisingnya kota.

Aku ingin menghabiskan malam hariku dengan resah karena kita terlalu dekat,

resah karena bibir ini terkunci oleh tatapan mata itu, mata yang menyiratkan bahagia.

Lalu pagi harinya kita terbangun oleh kicauan burung bul-bul yang menyejukan hati,

Kita terbangun disebuah telaga, dengan pohon-pohon sehat disetiap sisinya,

ikan-ikan melompat pertanda bahwa telaga itu hidup.

Lalu saat bersamaan kita bertanya,

“beginikah surga?”

 

 

SAJAK KERAS

Angin berseru tanda bahwa ini memang kota angin,

Dua tiga daun berjatuhan, tapi tak satupun marah.

Para pekerja dan hewan mulai berbenah karena dunia sudah kelewat malam,

Kawanku pulang dari pabrik, membawa kabar pedas.

“Tadi aku bertemu dengan wanita, ia menjual dirinya 300 ribu saja.”

Kupikir itu hal yang biasa pada daerah pekerja seperti ini,

Tapi kawanku terduduk dan muram,

“Ia bukan pelacur, ia anak yang berbakti kepada orang tuanya.”

Belum kuucapkan sepatah kata pun ia lanjut bercerita,

“ia malang, wanita itu menjual dirinya demi memberi orang tuannya yang di kampung,

hanya untuk bertahan hidup.”

“jadah! Hidup keras amat.” Spontan ku marah, dengan hidup?

Angin pergi, tapi daun tetap berjatuhan, salah siapa?

Ah mungkin sudah waktunya.

 

 

ORANG BERANI

Sore tadi cahaya surya pamit dari dunia,

Sore tadi redup jalan dan jembatan,

Aku pikir orang orang begitu sibuk,

Tak memperhatikan bunga yang mekar

Juga koran yang dibakar.

Dari desa ada angin segar, dari kota ada temaram yang membunuh

Tapi tetap saja, orang itu sangat sibuk,

Orang-orang berebut kuasa, harta, dan manusia lainnya.

Tapi biarkan ku jelaskan

Senyum itu tetap ada, bagi mereka yang

Berani hidup!.

 

 

GADIS DAN BETON

Aku tak bertemu, hanya kulihat saja

Bukan karena tak berani,

Tapi karena kita terhalang beton.

Beton yang lebih keras dari hidup ini sendiri,

Aku terpisah dengannya oleh beton bertulang itu.

Bukan berarti aku pengecut kan? Aku mencoba meyakinkan.

Lagi pula gadis itu juga melihatku, dari balik beton,

Dengan raut muka penasaran dan bertanya tanya,

“kapankah kau mau menyerah?”

 

 

AKU (INGIN) MERDEKA

Aku meriang mendengar bebas

Pesakitan yang memanjang,

Ujungnya tak keliatan

Katanya kami hidup.

Yang dirasa dekat rasanya

Secara artian yang menipu,

Tapi ia tak kemana-mana

Ia terus menjadi bayang-bayang.

 

 

HAK  IKAT

Kata bapak, “kita ini orang miskin, usahakan jangan banyak tingkah”

Lalu angin dan hujan pergi,

Hanya kopi, rokok, dan koran yang ada di kepala bapak

Tapi bapak tak sendiri,

Ia sedang bicara dengan burung beo.

“justru karena kita miskin haruslah banyak tingkah”

Si beo membalas bapak,

“kenapa kah begitu, wahai beo yang sok tau”

Sebelum menjawab, beo itu bersiul dulu

“karena orang miskin tak diawasi, bahkan orang miskin tak dianggap di negara ini”

Kopi dan rokonya sudah habis

Lalu bapak diam, dan pergi.

Si beo kembali bersiul,

Angin datang dan bapak tak kembali.

 

 Agil Firmansyah, 20 tahun, tinggal di kota angin alias Majalengka. Beliau adalah mahasiswa sastra dan bahasa Indonesia UNMA, beliau suka menulis juga mendengarkan musik sembari ditemani kopi dan tentu saja sambil membaca buku roman. Akun instagram : kosmoplit_