Misteri Dua Bola Mata, dll.

07/06/2022

Mengadu Rindu

 

Angka-angka itu berderet seolah mewakilimu

Yang kian hari menyeduh sepi

Mengunyah sirih

Bercengkerama di bawah atap rumbia

Malam-malam bagai sedu-sedan

Anak-anak pergi begitu panjang

Dan engkau hanya bisa menyeru

Menyebut namanya satu demi satu

Di antara riak air

Mengadu rindu

 

Subang, 2022

 

 

Getah Kerinduan

 

Daun kemangi gugur di bulan ini

Bersama getah kerinduan

Yang kian tebal saja

Pikiranku melayang

Menembus jajaran pot

Ada percakapan

Ada nyanyian

Juga ada puisi

Mengajakku pulang

 

Subang, 2022

 

 

Misteri Dua Bola Mata

 

Ritus pagiku bermula menghirup pala

Singgah sebentar ke warung jahe

Di kejauhan…

Matamu tampak menyimpan misteri

Jiwaku berbisik engkau memotret aku

Lewat telepati dan mungkin hati

Oh, Ibu…

 

Subang, 2022

 

 

Diam-diam Hujan

 

Aku berkarib patah

Menatap suasana

Pagi yang riuh oleh kata

Dari sudut-sudut bibir mungilmu

Sedang buku-buku berserak

Bak penangkal penganggu

Ruangan ini telah menjadi taman

Dari sebuah proses

Dan dalam satu tarikan napasmu

Aku memilih tak ganggu

Diam-diam hujan ada padaku

 

Subang, 2021

 

 

Berangkat dari Lega

 

Aku berangkat dari lega

Menuju ke muara

Menitipkan pesan pada sampan

Pada burung-burung di atas dahan

Juga pada lidah tak bertuan

Semoga benar sampai

 

Subang, 2020

 

 

Nida Nur Fadillah, kelahiran Subang pada tahun 1999. Menamatkan studi program sarjana dari Universitas Pendidikan Indonesia. Menulis puisi, cerpen, artikel, esai, dan cerita anak. Puisi-puisinya tersiar di media cetak, yakni Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Bangka Pos, Harian Bhirawa, Majalah Elipsis, Radar Cirebon, Malang Post, Radar Tasikmalaya, juga tayang di media online, yaitu Kabar Madura, Gadanama, Kami Anak Pantai, Metafor, Tajdid, Salik, Nolesa, Takanta, dan Langgam Pustaka. Buku antologi cerpen tunggalnya berjudul “Sebelum Dendam Memudar” LovRinz Publishing (2019). Bagi Nida menulis umpama terapi.