Memaksa Tangis, dan Lain-Lain

15/03/2024

MEMAKSA TANGIS

 

Jika aku sekuat Tuhan, mungkin masalah mudah teratasi

Tak berlarut sampai waktu kian surut

Binatang pun tertawa melihatku selemah ini, berpura-pura memasang wajah

Bahkan berkaca sesempurna itu

 

Putaran masalah berjalan selambat-lambatnya

Memakan waktu dan menghabiskan kesabaran

Perih duka terjadi saat air mata tak mampu keluar

Setetes pun segan meluncur ke wajah topeng ini

 

Kenapa mereka mudah menangis?

Seakan akrab dengan air mata yang tak juga manis

Siapa aku sebenarnya? Manusia lemah atau manusia dengan seribu kepura-puraan?

Tangis kupaksa keluar memuntahkan segala kepahitan

 

Sekuat apa pun diri ini, aku juga manusia yang butuh air mata

Tapi kenapa tidak bisa keluar, apakah ia tersumbat? Atau bahkan begitu banyak menumpuk?

Sampai satu tetes pun tak bisa lepas dari antrean panjang kepedihan ini

 

Ah, aku rasa aku adalah manusia kuat

Kuat menanggung beban, kuat pula menyimpan air mata yang akan keluar dengan sendirinya, saat mata

tak mampu lagi menatap kaca

 

Pekanbaru, 18 Desember 2023

 

 

GADIS JELANTAH

 

Berjalan menelusuri jejak hitam di sebelah rumah gadis itu.

Semua yang terlihat adalah buih-buih hasrat mencekam menikmati sentuhannya.

Kutahan dengan sedikit berpikir akan kesia-siaan belaka.

Tuhan memantau dengan tajam apa yang ingin kulakukan.

 

Pikir saja.

Siapa yang tak ingin memiliki gadis manis berselendang tipis?

Wajahnya cetar bikin jantung bergetar.

Oh.. Beginikah rasanya jatuh cinta dengan satu gadis pemburu ribuan lelaki?

 

Kita bisa merasakan kenikmatannya, belaian rambutnya yang hitam melekat.

Kita bisa merasakan ribuan sesal, setelah apa yang kita lakukan kepada gadis itu.

Semua bisa menjadi petaka, segala bujuk rayunya membekas di hidung belang.

 

Siapa pun yang melakukan hubungan dengan gadis itu, niscaya semua akan mengotori hidupnya dengan

rasa sesal berjuta-juta.

Aku paham kenapa gadis itu tersenyum saat melihatku.

Semua itu adalah cara untuk memberi bekas yang sama dengan semua lelaki yang telah terperangkap.

 

Gadis itu cantik, lebih cantik saat ditatap di kegelapan.

Biar semua tak melihatnya, dan tahu bahwa dalam dirinya telah jadi bekas tak kunjung lekas.

 

Pekanbaru, 21 Desember 2023

 

 

ANTRIAN DOSA

 

Bila ada sebab pasti ada akibat

Bila ada surga pasti ada neraka

Tapi coba tanyakan sama mereka berlumur dosa

Dengan lantang bibir mereka menolak neraka sebagai tempat pulang

 

Manusia memang tak ada sabarnya menunggu

Apalagi di sepanjang matanya ada peluang

Menggantikan segala yang haram menjadi uang

Meninggalkan segala yang halal menjadi debu

 

Ketidaksengajaan berbuat dosa dianggap biasa saja

Melanjutkan perjalanan mereka menuju surga tanpa aba-aba

Mereka lengah, membiarkan segalanya lalu diserahkan kepada Tuhan

Leluconnya, sudah tahu salah tetapi mau menunggu antrean

 

Pekik telinga menyuarakan ingin masuk surga

Memaksa hal tak wajar di luar nalar

Pertanyaan cuma satu

Apakah bisa surga ditempatkan oleh pendosa?

 

Hmmm...

 

Bisa

Memang bisa

Bagi mereka yang menerka akhirat adalah cerita rekayasa semata

 

 

IZIN, MENCINTAI IBU

 

Kupandangi cahaya gemerlap kota Batavia

Sedikit hangat tak melebihi sentuhannya

Sembari ditemani halusinasi

Yang tak kunjung sepi melawan mimpi

 

Pikiran terus bergejolak membantai ego

Paksaannya menginginkan sesuatu di luar batas

Dia telah lama hilang dalam ingatan

Sedikit tak bersisa ditempati hati

 

Hari ini sejuta umat merayakan pesta pora

Bergelut menyentuh belaian kasih

Perlahan dekapan melekat di kening

Begitulah kebahagiaan mencintai kekasih

 

Perlahan aku mulai melawan gengsi

Biar waktu tak larut dalam basa basi

Kubiarkan dirinya masuk menatap lukisan kota

Sedikit kekacauan seperti kapal pecah

 

Luka dia melihat foto itu pecah

Bukan fisiknya, melainkan hatinya yang tak menyangka

Bahwa telah lama kuhempas foto kami berdua

Foto saat bibir ini saling bersentuhan

 

Kubiarkan hatinya hancur berkeping-keping

Menyusul serpihan bingkai foto itu

Aku tak bisa larut dalam ketidakberdayaan

Telah lama cahaya dirinya hilang memberi hangat

 

Maka, izinkan untuk aku mencintainya kembali

Selayaknya Ibu dan anak yang telah lama berdiam tanpa sapa

Semua ini tentang rasa bersalah

Diracuni oleh rasa gengsi berkepanjangan

 

Pekanbaru, 18 Desember 2023

 

 

 

SEBATAS KOTA

 

Cerita mana menuai hasil sejalan pikiran

Saat bertemu tak lagi saling ragu

Canda tawa menghiasi jasad kalbu

Tak rela waktu dihabisi oleh rasa malu

 

Walau kau hanya sebatas kota

Setidaknya telah menetap di hati yang gelisah

Sejak berdiriku di sandaran tiang-tiang lampu

Kau tersenyum di atas sana melihatku

 

Waktu terhenti saat kita tak saling sapa

Sibuk dengan dunia masing-masing saat duduk berdua

Kubiarkan sehari ini saja hidup tanpa suara

Ternyata hampa bagai dunia habis ditelan masa

 

Kulihat rembulan setengah memberi cahaya

Aku tak suka dengan malam di tepian kota

Maunya di tengah kota bersama balon udara

Dan kau menopang memberi ruang bahagia

 

Sebenarnya aku tak sebahagia dulu

Saat senyumku tak lagi palsu

Saat balon udara tak kujadikan surat titipan

Sebenarnya semua ini rasa kehilangan

 

Aku kehilangan sejarah yang ada di tubuh kau

Sebelum nama kau terkenal di kota ini

Sekaligus menghilangkan segala yang utuh

Hingga menjadi debu dua tahun lalu

 

Aku suka dengan kota ini

Selain indah

Dia juga menyimpan memori luka

Jika rindu, kota inilah sebagai tempat pengingat tawa

 

Pekanbaru, 20 Desember 2023

 

 

 

Ilham Ramadhan, lahir di Tanjung Balai, pada tanggal 1 November 2004. Sekarang ia tinggal di Pekanbaru. Ia merupakan mahasiswa angkatan 2023 di Universitas Riau dengan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Baru-baru ini ia senang menulis puisi, seperti mengikuti berbagai perlombaan. Karyanya pernah menjadi karya terbaik dalam cipta puisi dan cerpen di tingkat Nasional. Tulisan Esainya juga belakangan ini dimuat di media bernama Melintas.id

Instagram : ilhamramaa1