Mayang, dll.

24/05/2022

Lorong dalam hati

Putih berselimut warna abadi
Dalam lorong hati paling sembunyi
Jembatan itu panjang menanjak
Di tengah-tengah gulita yang semarak
Ia berdebar berpasrah rengkuh
Pada Agung paling utuh
Pada kosong paling jauh
Hatimu tak akan jatuh
Pada gamang paling gemuruh.

2022

 

 

Nebula 10 : Hayat

 

Sayap merah

Ekor hijau

mata coklat tua

Hitam berselimut cahaya

 

Tak ada tiba-tiba

Tak ada andai kata

Kau lestari dalam mimpiku

Meski sesat saban tidurku

Tidak segera aku bangun

 

Tinggalkan angkasa

Tinggalkan seluruh asa

Kau indah yang kelam

Dan satu satunya hitam

di penghujung gelap malam

 

Mimpiku

adalah hidup dalam mimpimu.

Nebula.

 

Bandung, 2022

 

 

Ahung

 

Hung..... Ahungggg.....

Atas nama dzat yang membius aortaku

Degupkan walau mati telah diam di sini

Hung..... Ahungggg.....

Atas nama api yang menjilat belulangku

Debukan seluruh hasrat duniaku

 

Wahai nol per noll sepersekian nolll

Surga dan neraka tak ada

Hidup dan mati tak ada

Siang dan malam tak ada

Tubuh dan ruh tak ada

Tuhan tak ada

 

Hung dzat yang ahung...

Tunggalkan ganjil dalam nadirku

Wahai dzat yang ahung...

Aku tak punya apa-apa.

 

Bandung, 2022

 

 

Aksara

 

Serupa Idris menghitung bintang

Serupa algoritma bumi langit

 

Pohonku adalah pena

Lautku adalah tinta

Langitku adalah kertas

 

Aksara bacaan semesta

Aksara bahasa dan pinta

Aksara ada dan tiada

Aksara adalah Tuhan

 

Tuhan, terompahku tertinggal

Di sorga.

 

Bandung, 2022

 

 

Mayang


Tercipta dari rusuk semesta
Berdarah di sekujur tubuhnya
Kau adalah sempurna;
Harmonisasi luka dan pesona

Simbol dari teduh paling nyaman
Lembut paling rawan
Jika lekukmu dirayu merdu
Jelas tunduk sungai surgaku

Wahai selimut malam
Bangunlah dari dada kiriku
Biar suara-suara hening pergi
Bersama hembus yang Tuhan beri.

Jadilah maka jadi.

Bandung, 2022

 

 

Dia

Aku tersesat mencari Dia
Terjatuh ke jurang beton dan kawat
Di gemerlap cahaya yang membawa lupa
Dia ada tapi tak jua bisa kugapai

Aku merasakan hadirnya
Saat menuju kekosongan
Di kebodohan dan ketidakmampuan
Dia berwujud nikmat paling serius

Dia terus ku seru dalam gamangku
Tapi Dia ku bisu dalam senangku

Dia.

Tasikmalaya, 2022

 

 

Saka

Putih terang
Tegak menjulang
Titik tiang teka-teki

Tasikmalaya, 2022 

 

 

Eben Lahir di Tasikmalaya 25 Januari 1997 dengan nama asli Beni Anwar Z atau sering dipanggil Eben dan pernah menggunakan nama pena Diksitator. Mengawali berkesenian di Bandung, aktif di pergerakan, komunitas sastra literasi sebagai pembaca puisi, deklamator dan aktor. Dalam meramaikan hasanah kesusastraan, Eben juga aktif di komunitas sastra media online streaming. Seiring dengan Motto-nya, "Puisi adalah jalan Dakwahku." Eben menulis sajak-sajak bertajuk elegi, spiritualisme dan religius.