Warisan Luka

13/05/2026

 

“Kau itu keturunan orang berani. Sopan santun dan rasa malu nomor satu. Istrimu yang telah kamu nafkahi telah tidur dengan laki-laki lain. Parahnya, kau bungkam ketika peristiwa menjijikkan itu terjadi di rumah yang kamu bangun dengan jerih payah. Harusnya kau tebas kepala keduanya malam itu. Itu baru laki-laki sejati.” ucap pamannya dengan raut muka merah padam.

*

Tarrip sama sekali tidak menyangka jika petaka akan menimpa keluarganya. Malam itu udara seakan berhenti berdenyut. Dada Tarrip panas. Tangannya gemetar melihat istrinya ditunggangi laki-laki lain. Perasaan kesal, sedih dan marah meringkuk di dadanya. Jika harus cerai—Tarrip sangat bersedia. Tapi, dia kasihan terhadap kedua anaknya yang belum akil balig.

Semua kebaikan, kenangan dan jalinan cinta kasih yang telah disemai bersama—kini berantakan. Dua manusia yang sama-sama berjanji tidak akan membagi duka telah berkhianat salah satunya. Semua dihancurkan oleh ekspektasi keliaran nafsu yang tidak bisa dikontrol. Tarrip diam. Dia menunduk. Pikirannya berputar lantaran mengingat sisa-sisa rekaman kenangan masa lalu yang kini menjelma kaset lusuh dan rusak.

Awalnya semua berjalan seperti biasa. Tarrip berangkat melaut ketika senja. Baru pulang ketika matahari muncul dari ufuk timur. Angin keras, arus bawah laut yang kuat serta ombak yang ganas membuat sampannya terombang-ambing di tengah laut. Belum juga sampai ke tempat biasanya dia menebar pukat, mesin sampannya mati.

Tarrip merogoh gawainya yang dia selipkan di wadah tempat makan. Dia berusaha mencari nomor kontak temannya yang sesama nelayan. Satu panggilan tidak dijawab, dua panggilan tetap saja tidak dijawab. Baru pada panggilan ketiga akhirnya diangkat. “Mesin sampanku bermasalah. Aku di utaranya Pulau Gili Pandan.” ucap Tarrip.

Tarrip menunggu jemputan sekitar satu jam lebih. Setelah cukup lama akhirnya terdengar suara mesin sampan meraung dari arah timur. Tarrip segera menyalakan senter ke arah langit yang berfungsi sebagai penanda keberadaannya. Temannya segera memeriksa mesin perahunya. Mengotak-atik dan mencari sumber masalah. Kawannya menggeleng, “Tidak bisa diperbaiki, kita harus membawanya ke pelabuhan.”

*

Tarrip adalah suami yang percaya penuh kepada istrinya. Dahulu, ketika memutuskan untuk menikah. Tarrip menanyakan perihal kesanggupan dan berunding terkait hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan. Semua perjanjian pranikah telah sama-sama disetujui. “Aku boleh bekerja atau tidak?” tanya calon istrinya waktu itu.

“Aku tidak akan memaksa kamu. Bekerja atau tidak itu pilihan kamu. Intinya adalah saling percaya dan bisa kerja sama satu sama lain.” jawab Tarrip dengan nada meyakinkan.

Tarrip bertugas mencari penghidupan di tengah samudera. Dia diwarisi satu sampan oleh almarhum bapaknya. Tarrip lahir dari keluarga yang berkecukupan. Dia bisa saja sekolah hingga memperoleh gelar yang mentereng. Hanya saja Tarrip lebih tergiur bekerja sebagai nelayan lantaran langsung dapat melihat hasilnya. Pergi melaut menjelang malam. Pagi harinya, dia sudah bisa menikmati hasil jerih payahnya.

Sejak saat itu, bapaknya tidak memaksa Tarrip untuk melanjutkan sekolah ke tingkat universitas. Bapaknya menuruti keinginan Tarrip hingga akhirnya diwarisi satu sampan. Sampan yang  dia kemudikan selalu membawa berkah. Tarrip sangat mujur dengan profesi sebagai nelayan. Saat masih lajang tabungannya banyak. Pemuda desa memanggilnya dengan sebutan bos. Dan karena ketajirannya itu banyak perempuan desa yang mau kepadanya.

Memang benar, jika punya uang maka kita akan bebas menentukan pilihan. Hal itu yang terjadi pada Tarrip ketika menentukan perempuan yang akan dia nikahi. Tarrip kepincut sama salah satu kembang desa. Namanya Sumiyati. Semua pemuda desa kerap membicarakan kecantikan dan kemolekan tubuh—anak dari Haji Askarman itu. 

Akhirnya setelah beberapa bulan, pernikahan digelar. Sepanjang sejarah desa—belum ada yang semegah pernikahan Tarrip dan Sumiyati. Semua penduduk dari dua desa diundang tanpa terkecuali. Para pawang hujan terbaik dikerahkan dengan harapan dapat menunda hujan. Para tukang jagal terhandal juga diundang untuk menyembelih tiga ekor sapi. Dari saudara dekat sampai saudara jauh juga ikut membantu kesuksesan acara sakral itu. Semua tetangga membicarakan seserahan yang dibawa Tarrip yang begitu mewah.

*

Tugas seorang suami telah benar-benar Tarrip tunaikan. Dia menerjang ganasnya ombak lautan setiap hari. Tarrip bekerja sebaik-baiknya, kecuali hari Jumat. Masyarakat pesisir absen melaut ketika hari Jumat. Sampan-sampan milik nelayan ditambatkan di dekat pelabuhan. Pada  Kamis sore, para nelayan kerap melakukan ritual seperti mengaji di atas sampannya. Kemudian dilanjutkan dengan memandikan sampannya dengan air kembang. Ada juga yang sekadar memberbaiki jaring dan pukat. Hari Jumat adalah momen di mana semua nelayan istirahat dari pekerjaan sehari-hari.

Sementara, setiap hari Sumiyati bertugas sebagai penjual hasil tangkapan suaminya. Dia kerap  menyetor ikan hasil tangkapan ke Subehri. Siang itu, uang untuk membayar ikan yang dibawa Sumiyati tidak cukup. Subehri berjanji membayarnya nanti malam.

*

Lewat belakang, pintu dapur tidak aku kunci. Hati-hati, pastikan tidak ada orang yang melihat keberadaanmu. Sebuah pesan pendek terlihat di gawai Subehri. Selekas mungkin dia mencomot beberapa uang pecahan lima puluh ribu dari lemari. Dari jauh, Subehri telah mengatur langkahnya. Dia sudah beberapa kali masuk ke rumah Sumiyati ketika suaminya sedang melaut. Subehri memastikan suara derap kakinya tidak dicurigai oleh tetangga sekitar.

“Tidak usah takut. Seperti biasa. Suamiku masih datang esok hari.” ucap Sumiyati sambil memeluk dada Subehri yang bidang. 

Sumiyati merasa aman dipelukan Subehri. Dia seperti unta yang habis berjalan jauh di padang tandus yang kemudian menemukan oasis. Pelukan Subehri mampu memberikan kehangatan. Kenapa perbuatan haram ini kulakukan? Bukankah aku bersuami? Tapi aku merasa damai yang tidak kudapatkan ketika bersama Tarrip.

*

Sampan Tarrip segera ditarik dari tengah samudra. Hujan deras menemani kepulangannya. Ombak membuat sampan oleng ke kiri dan ke kanan. Sambaran petir mengkilat di langit gelap. Tarrip berdiri di tengah badai. Dia mengusap air hujan yang menetes mengenai pelupuk matanya. Pandangannya meredup karena tidak kuat terhadap angin yang membawa material air hujan. Tarrip merogoh gawai di sakunya buat mengabari istrinya. Gawai sialan … kenapa harus mati segala. Hati Tarrip mengumpat.

Badan Tarrip lunglai. Kepalanya mendidih. Tangannya gemetar. Sorot matanya memancarkan amarah. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan malam itu. Membunuh atau membiarkan peristiwa yang mengecewakan hatinya itu terjadi. Tarrip bisa saja mengambil pisau di dapur lalu menusukkannya ke istri dan selingkuhannya. Atau dia pergi ke kamar belakang— mengambil celurit warisan lalu menebas kepala keduanya. 

Ohhhh tidak tidak. Kecewa tidak harus dibalas dengan luka. Tapi aku telah dikhianati. Mereka selingkuh di atas tempat tidur yang kupakai untuk istirahat. Mereka bersanggama di istana yang kubangun dengan harapan dan doa. Aku tidak bisa menerima ini semua. Apakah manusia diciptakan untuk saling menyakiti?

“Keluar. Kurang ajar kalian.” teriak Tarrip. 

Teriakan Tarrip membuat Sumiyati dan Subehri terkejut. Air muka keduanya memancarkan ketakutan. Subehri lekas merogoh celana dan pakaiannya lalu lari melewati jendela. Tarrip membiarkan laki-laki bejat itu pergi. Tarrip bisa saja menangkap lalu memukul bahkan membunuhnya. Tapi tidak dia lakukan.

“Maafkan saya, Mas.” Tangis Sumiyati pecah. Istrinya langsung bersimpuh di kaki suaminya. Tarrip menolaknya. 

“Lepaskan … pergi saja sama laki-laki yang kamu mau. Satu-satunya kesalahan yang tidak bisa kumaafkan adalah perselingkuhan.”

Luka perselingkuhan begitu membekas. Tarrip pulang ke desanya dengan membawa semua seserahan yang pernah dia bawa ketika menikah. 

“Harusnya kamu bunuh mereka berdua. Dosa perselingkuhan tidak bisa dimaafkan.” 

Tapi Tarrip enggan melakukannya. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan dosa.

 

Fahrus Refendi. Merupakan kepala sekolah di SDI Mabdaul Falah Sumenep. Bergiat di Sivitas Kothѐka dan Lesbumi NU Pamekasan. Sekarang belajar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.