Kematian Pertama di Rumah ibu, dll

14/11/2022

Menyaksikan Kematian Bapak

 

Di ambang dhuha itu, aku terbangun oleh teriak serak

dari pejam singkat, setelah semalaman menunggui bapak

yang lekat menatap tarian Izrail, turun dari langit retak.

Rasanya, belum lama kutinggalkan lembar Yasin itu

di sisi pembaringan, serta kunyanyikan tahlil

di telinga tua yang tampak ganjil.

Barangkali, sejak semalam paruh-paruh gagak telah mengincar

dari ketinggian menara, dan mengintip dari jendela

saling siaga, untuk menyambar ruh, begitu lepas dari raga.

Hening yang ditembakkan orang-orang

di atas tangis ibu dan nafas bapak yang satu-satu

dan ujung kaki yang telah layu menghantam dadaku

:tak lama lagi, bapakku akan mati, si yatim akan menjadi gelarku.

Mei, 2021

 

 

Kematian Pertama di Rumah Ibu

 

Tubuh bapak diselimuti kain jarit, setelah ruhnya pamit

kamar ini riuh oleh ratapan dan tangis kehilangan

terbayang hari-hari depan, tanpa sosok pahlawan

di sudut, kami bertiga saling memeluk, khusyuk

dalam ratap kesedihan.

 

Orang-orang dalam pakaian hitam, dan bendera kuning

aku makin merasa asing: benarkah bapakku telah mati?

seingatku tak pernah aku mimpi tanggal gigi.

Jenazah bapak dimandikan, dipakaikan kain kafan

aroma wangi daun bidara, dan semacam minyak entah apa

menyerbu penciuman.

Kata ibu, wajah bapak tampan dalam kematian

dan ia pergi dalam wangi.

Mei, 2021

 

 

Samsara

 

Pada ceruk bata yang kikis oleh lapuk waktu

kujenguk masa lalu

yang bukan dari kehidupan saat ini.

Barangkali dulu aku terlahir di tanah ini

dari Rahim seorang wanita brahman

atau putri sebuah kerajaan yang hendak dipinang

oleh pangeran yang bersumpah selibat.

Pantas saja mimpi memanggil-manggil:

kukunjungi sebuah gerbang negeri yang sebagian telah runtuh

dalam kibaran kain putih, dan rambut tergerai memanjang.

Kulihat sungai tak jauh dari sini, di pipiku sendiri

namun mataku nyalang menatap kalung bunga Padma

yang seperti tak asing bagi dendam kesumatku.

 

Februari 2022

 

 

Percakapan di Dapur Ibu

 

Wangi nasi yang Ibu tanak dalam periuk tua

bahkan sudah menggedor-gedor penciuman

sebelum mataku sepenuhnya awas.

“Kumur-kumur! Cuci muka!”

Teriaknya, ketika kudamba semangkuk air tajin

(gurihnya kukenang sampai tua).

Derak kayu yang dilahap api, dan hangat dari tungku

Memanggilku mendekat, untuk bertanya:

“Apakah itu bara yang sama yang memakan tubuh Sinta?”

“Bukan,” Bapak menjawab dari duduknya di lincak bambu.

Asap kopi mengepul dari cangkir dalam tangannya.

“Api tak membakar orang-orang suci.”

Sejenak aku termenung untuk Sinta yang malang

dan Rama yang jumawa. Serta Rahwana yang dikutuk kebodohan sendiri.

Laki-laki rela berperang demi perempuan semata,

atau untuk belaka harga dirinya?

 

Februari 2022

 

 

Sekian Jarak, Sekian Rindu

 

Kesiur angin pancaroba tiba-tiba mengantarkan desir,

seperti ada yang ganjil: aroma bidara itu meneror lubang hidung.

Bau kematian, bau kehilangan.

Telingaku seperti mendengar keluh lelahmu, Bapak

dalam tidur setengah sadarku.

Di kamar depan dengkurmu mengacaukan pertahananku

sebab dalam kesetengah-sadarku aku pun sadar:

aku hanya sedang merindukanmu.

Dan kehadiranmu, tertawan dalam sekian jarak tak terukur.

 

Februari 2022

 

 

Linggar Rimbawati, terlahir di Jambi, namun selalu merasa Solo adalah rumahnya. Tulisannya bisa dibaca di Tribun Jabar, Mojok, Kompas.id, Magrib.id, Difalitera, Magdalene. Saat ini mengajar di Unit Pengembangan Bahasa UIN-Jambi. Dapat disapa di email linggarwati48@gmail.com, FB Linggar Rimbawati dan IG @rimbacilious.