Jalan Ini, Kawanku Sebut Sia-Sia, dll.

23/02/2022

AKU MENEMUKANMU DISEBUAH LORONG WAKTU DALAM MIMPI

 

Bagai dua kutub magnet yang tarik menarik

Takdir tak bisa dibuat–buat, selesaikan nasib

Kamu lautan dan aku sungai yang menujunya

Menjadikan aku matahari dan kau sinarnya

Sampai aku menemukanmu

Di sebuah lorong waktu dalam mimpi

Hingga dalam kata-kata pada setiap kalimat

Aku menemukanmu dalam titik

Dalam bayangan paragraf yang tak terkira

Di sebuah bahasa yang tidak bisa dipahami

Di antara selebaran waktu pagi menuju pagi

Dalam do’a, dan ucapan puitis yang aku punya.

 

( 2015 )

 

 

JALAN INI, KAWANKU  SEBUT SIA-SIA

 

Ketika kelak hidup menjadi asing

Ada masa di mana perih itu sebuah nafas

Dalam perantauan menuju masa tua

Jalan ini, hatiku yang pilih

 

Setidaknya ini berani (jalan yang jauh dari pasti)

Seyogianya layak diperjuangkan

Menjadi anak panah yang melesat di masa muda

Hidupku dan hidupmu, rumus hitungannya berbeda

 

Ketika kelak hidup menjadi asing

Mungkin kau bertaruh angka
aku bilang hitungannya berbeda

Kebahagiaan tidak diukur oleh angka

 

Ketika aku menjadi terasing

Aku tersenyum bertanya–tanya

Berapa harga kebahagiaan hidupmu

Aku memesanya

 

Jalan ini, kawanku sebut sia-sia

Rencanaku , tertidur dalam keabadian

Mati dengan damai setelah ribuan puisi menjelaskannya.

 

(2022)

 

 

AKU MELIHATNYA

 

Suatu hari, ibu mengangkat kepal tangannya

Melihat anak yang memungut sayuran kotor di tanah

Itu sudah cukup menjadi alasan untuk dirinya marah

Ia marah, tetapi ia juga menangis.

 

Aku melihatnya, tanganku di pegang erat

Ia juga menarik anak itu,

Terbang sudah kepalan tangan

Dihajarnya troli untuk menggertak orang-orang yang diam

 

Ibu menangis dalam hatinya

Ia berpesan lewat marahnya

Nak, cinta adalah apa yang kau lihat benar

Bela dan beranilah.

Resikonya hanya satu

Kau akan menjadi yang paling terasing

Namun lega dadamu yang busung itu

Kau telah melihatnya.

 

(2018)

 

 

LAHIR DAN JUGA MATI

 

di tanah ini ribuan kasih sayang

aku merangkaki bebatuan kerikil

kemudian belajar berlari di antara petakan sawah

jatuh tersungkur di tanah ini

 

satu persatu, detik per sekian detik

tak nyaman, tidak merasa tenang

gelisah, pikiranku tak dapat menjangkaunya

ada menara !!! gedung-gedung itu

 

rupanya tidak sama atas ucapannya

digusur habis telah sepah kini

tanah ini aku ingin mati di tanah ini

petak sawah berganti kavling tanah

milik siapa bu ? tak aku kenali

aku pribumi di sini, tapi tak aku kenali

serapah hanya serapah, sudah habis tak ada nada lagi gabah

 

lahir dan juga mati ,

di tanah cinta ini, biarlah

 

(2019)

 

 

AKU BENCI SURAT ITU

 

Telah kuterima surat itu

Perlahan kubaca, kata-kata mengancam ini

Sebodoh apa aku, tuan

Ini sudah arogansi kekuasaan

Ini, bilamana datang kembali alat berat

 

Perang !!! tanah ini , darah !!

 

(2019)

 

 

SUKARELA

 

atas nama cinta yang besar

aku persembahkan kata-kata

hingga selesai tak dapat berdiri

ini aku untuk segala cinta

 

manusia untuk manusia

manusia untuk alam raya

aku tebus dosa yang berpola

 

(2019)

 

 

JANGAN KAMU MARAH

 

Pada satu hal yang kau benci

Kau akan temukan kebosanan

Bereaksi lagi secara impulsif

Merobek–robek kertas kerjamu

Mematahkan pena kesayanganmu

Memukul semua benda yang berdiri tegak ke arahmu

Menendang segalanya

Dan sampai akhirnya tubuhmu gemetar

Nafasmu mengendus-endus bagai asu

Hingga penghujungnya adalah lamunan.

 

(2022)

 

 

AKU KEMBALI PADA KEBINGUNGAN

 

Angin kembali membawaku ke sebrang

Hujan di desaku ini berterima kasih padanya

Karena hilang satu orang

Yang menuliskan rintiknya dalam prosa

 

Aku di terbangkannya jauh

Mengelilingi setiap cita-cita

Menjadikan aku seperti yang diharapkan

Mengabulkannya, utuh dan penuh

 

Sampai aku bertemu gerombolan awan

Satu sayap elang yang mengepak santai

Aku pinta terbang mengikuti elang itu

Dan aku masih saja terbuai

 

Ibu, aku selalu hidup dalam mimpi

Kali ini aku ingin menghidupkan mimpi itu.

 

Aku dikembalikan oleh sepoi angina

Tubuhku menjadi kering, dan semuanya kosong

Lalu hujan turun dengan rintiknya yang rendah hati

Ia berbisik ,

 

“Segeralah pulang, minta pengampunan dan do’a darinya, ibu.“

 

(2020)

 

 

MULAI AKU RASAKAN, RINDU ITU KEJAM

 

Jarum jam tetap berputar dalam porosnya

Detak–detak suara detik, suara serangga dan hewan malam

Suara jantung yang berdebar–debar

Suara kegelisahan, suaramu siang tadi

Dalam renungan ini yang sepi

 

Mulai aku rasakan, rindu itu kejam

Seperti aku tertimpa cahaya rembulan

Dalam keheningan dan sunyi malam

Hingga suara kriettt jendela yang perlahan terbuka

Terasa asing di telinga.

 

Wajahmu, suara itu, aku mengingatnya dalam terjaga.

Alismu yang tajam, menyayatku dalam perasaan ini

Dan untuk pertama kalinya.

Cinta  itu hadir di sebelahku.

 

(2015)

 

 

Muhamad Jessa Rezky lahir di Majalengka, 13 Mei 2000. Saat ini tinggal di Blok Rabu, Desa Maja Selatan, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka. Mendaki gunung dan menulis adalah hobinya. Kesibukannya sehari-hari adalah di perpustakaan , karena baginya perpustakaan adalah ruang yang serba bisa dan serba ada. Dia aktif di komunitas literasi bernama MAJABACA. Pada tahun 2020 buku pertamanya terbit secara indie dengan judul “ Tidak beraturan “ sekumpulan puisi dari sejak Sekolah menengah pertama.  No hp : 085520742899. Instagram: @bbojes _ .Twitter: bbojes_