
Telaga Kenangan
barangkali, kota ini hangus segalanya
menyisakan ruam-harum kamboja dan sekuntum nama.
ketika kenangan kembali mengungkit silam
marak api yang menghitam
gentong-gentong minyak kosong bersusun
dendang pantun dan dedeng nira sehimpun
luka dan nestapa saudara sebaya setiap tahun
makin melupa-luapkan telaga kisah di beranda(n) lamun
mereka berkata;
telah kugali-jampi tanah semesta
minyak kujumpa di dalam ceruknya
kutabal gelar dengan serupa
telaga said kuberi nama
kini, minyak itu cuma penerang sejarah
bermula dengan kata konon penuh risalah
lentera tidur anak-anak sawah
sembari mengharap minyak bisa menanak susah dan payah
Dongeng Sebuah Tanjung di Mulut Emak
nian sudah dihimpun syair dan pantun
dihidang emak sejak hendak matahari turun
kisah pangeran di hilir hikayat
luka-luka syair semacam ayat
nun, jauh di lubuk begumit
tinggi rumput hingga berjinjit
tempat pangeran diimpit siksa
sebelum parang menghantam batang nyawa
ah, tak lain tak bukan
kota ini cuma kisah darah dan penghabisan
alim ulama, tukang syair, bangsawan
semua tinggal kenangan
lalu, apa yang disisakan
selain lapuk reruntuhan
acap berebut pengakuan
dan tahta serta kekayaan
di sini tak ada lagi yang bisa kupertahankan
selain dera waktu dan deru ragu
hendak lalu ke hulu tiada tuju
hendak landai ke hilir tiada berkawan
Rotan, Beras dan Minyak Lampu
sehari sudah ia menelusur rimba
memeluk tas sebahan sarung dan telekung
lekang, tiada beri ia waktu menerkam hujan
lapuk, tak beri ia menggeram panas
tangan kurusnya semacam dahan yang menumbuhkan harapan
secupak beras cuma, sekaleng minyak lampu, dan rotan sehasta
tiada lain, selain mengharap fasih hijaiah
dicarinya guru, yang dulu menguhuskan alif ke mulutnya
hingga ia mampu setajam-tajamnya di mimbar tahta
Ketika landai petang di peraduan
mancung teras condong ke ingatan
mengapa tak ada berdendang jenuh hafalan
pula dengung kenangan yang dirindu
aih, tuanku.
kini telah lebih banyak kubawa cahaya yang baru
nasi lemak yang sudah kutanak, rotan yang lebih kokoh dan lempang
mengapa lekas betul kau khatamkan senyum itu.
Sebuah Chandelier
pantang, sayang
bagi kita menyanggah yang datang
baik itu setongkang kenang
pun bala sekeranda panjang
dalam gelap ini tiada yang kau hidang
selain rembang cahaya
juga peluh yang kerap cair dan kejap beku
pantang, sayang
marak ini kita biar nyala
jika dendam jadi sumbu
dalam terangnya tiada yang nyata
selain kenangan luka
juga kepergianmu sebelum padamku
Masuki Musim
Cik M
begitu cepat, bakda hujan
masih lembab luka
masih merah duka
ia, masuk menelusur reruntuhan
berjalan dalam ruang dada
menemukan serbuk-serpihan
menjahit-jalin yang koyak
kembali rupawan
begitu singkat, ruang dada
kembali penuh bunga
jadi taman bermain dara
yang diam-diam menyembuhkan luka
Mhd. Rezy Anggara (Bob A. Sitorus) penyair kelahiran Langkat, Sumatera Utara yang aktif menulis puisi dan berteater sejak mahasiswa. Buku kumpulan puisi pertamanya berjudul Haru Hara (Obelia Publisher 2023). Baru saja melakukan perjalanan (Sastra dan Budaya) ke Medan hingga Langkat bersama Kees Snoek .




