Di Pantai Itu, Kala Senja Berwarna Jingga

07/06/2024

 

DI PANTAI ITU,

KALA SENJA BERWARNA JINGGA

 

Di pantai itu, 

Kita duduk berdampingan

Bicara ke mana arah tuju 

 

Angin berhembus memanjakan rasa 

Sengatan mentari di ufuk barat 

Menghantar jingga, jadi bayang-bayang semu

 

Hari sudah senja 

Cakrawala mengusir kami untuk pulang

Kelelawar beterbangan 

Lampu jalan padam

 

Kau peluk tubuhku 

Dalam laju jalanan 

Begitu cemas

Sungguh mencekam 

 

Matamu terpejam

Enggan menilik kegelapan

 

Kupelankan kemudi 

Ingin rasanya tak sampai-sampai

Dalam kehangatan ini

Sungguh, senja penghantar imaji

 

Hari ini kau benar-benar punyaku, sayang 

 

 

KALA MINGGU SIANG ITU

 

Minggu siang yang selalu kutunggu

Kala ibu memasak lauk asin, sambal petai, dan terasi

Mengaduk hasrat nurani  

 

Kuhirup dengan pasti

Aroma pengantar lapar itu 

Aku terbuai

Mataku terpejam

Menikmati aroma masakan Ibu

Begitu lahap kusantap 

Suapan demi suapan 

Kunyahan demi kunyahan 

Sampai pada perutku yang terkoyak

Jadi santapan yang maha dahsyat 

 

 

MENGULANG HARI YANG SAMA

 

Mengulang hari yang sama

Aku menatap nanar

Pada hari-hari yang membosankan

 

Siklus berulang

Mengganjal nalar 

Membungkam bahasa 

Pada omong kosong kata-kata

 

Betapa membosankan

Pada hari yang itu-itu saja

Pada laku yang itu-itu saja

Pada otak kepala yang itu-itu saja

Sungguh omong kosong yang berulang 

Tanpa peningkatan krida manusiawi

 

Mengulang hari yang sama

Aku tertegun, melumat jari

Pada omong kosong yang membosankan


 

PAGI SENIN

 

Pagi ini mataku terbuka 

Ayam berkokok kencang

Membangunkan seisi rumah

Angin datang jadi tamu yang beku

Siulan manja tetangga menghiasi pagi yang cukup sibuk

 

Pagi ini senin

Warga sibuk bersiap diri 

Memupuk doku 

Berjalan tertunduk 

Mengamati arloji

Cemas kesiangan

Wajahnya pasi 

Membayang tampang geram bosnya 

 

Ibu asyik bersiap rumah

Cekcokan tetangga

Gunjingan tukang sayur

Juga kesibukan dapur

Yang cukup lain tiap pagi ini

 

Aku terbahak  

Nikmati lawakan

Tiap pagi senin

 

 

PERJALANAN MENEMBUS TAKDIR

 

Aku berjalan menembus takdir

Dari untaian jalan-jalan tak berujung

Memikat rasa

Menyembur luka

Pada keseharian yang menyiksa

 

Warna-warni kehidupan membara dalam ingatan

Beserta lalu-lalang anak zaman

Berkalutan membuahi sel-sel keseharian

 

Berputar pada poros

Berlagu tampak pilu 

Menyisa sorak-sorai 

Pada kepiluan tak ada henti

 

 

 

Ilman Shafhan Jamil, yang akrab disapa Bass ini lahir di Sukabumi 23 Januari 2000. Selain menulis puisi juga menulis naskah drama. Instagram @ilmanshafhan.

 

*Puisi-puisi ini diambli dari buku antologi puisi berjudul “Pada Hari yang Itu-Itu Saja” karya Ilman Shafhan Jamil. Banyak puisi-puisi lainnya yang sangat menarik untuk dibaca di buku antologi puisi “Pada Hari yang Itu-Itu Saja”. Dapatkan bukunya (di sini) untuk mendapatkan potongan harga.