Apakah Ada Pulang Bagi Kami yang Tidak Punya Rumah?

04/03/2024

Ke Manakah Perginya Puisi Itu?

 

Wahai penyair, lama tak kudengar puisimu

Apakah bahasa sudah tak dapat berkata-kata

Apakah kalimatmu hanya berdiam diri di kolom sepi

 

Wahai penyair, aku rindu seruan sajakmu

Apakah bahasa telah kau gadai

Demi priuk yang ramai

Sedang puisimu hanya siluet angin

 

Wahai penyair, apakah rahasiamu sudah buyar?

Puisimu seringkali hanya daun gugur,

atau nyanyi hujan, atau bau angin

Hiduplah dengan tenang penyair

Tak perlu menggarisi nasibmu seperti itu

Seperti lalat yang menggerogoti taikmu

 

Wahai penyair, bisakah kau menjawab pertanyaanku?

Lain kali saja, tak perlu buru-buru

Aku hanya ingin mendengar puisimu

Bukan angin yang keluar dari pantat, atau hidungmu.

 

Bisakah kau lakukan itu, Penyair?

 

Bandar Lampung, November 2022

 

 

Jawaban Atas Puisi Pertama

 

Orang-orang bertanya

Perihal bagaimana puisiku dibentuk

Perihal diksi yang mana yang harus dipilih

Mereka ingin jadi penyair sepertiku

 

Kujawab, aku tak pernah menuliskan puisi

Aku tak pernah membentuk bangunan sajak

Puisi itu menuliskan dirinya sendiri

Puisi itu memilih diksinya sendiri

Apa yang indah dan apa yang sesuai

Bagi kelangsungan hidupnya

 

Mereka hanya meminjam tanganku

Menjadikanku mainan

Kadang juga lelucon

Ketika sedang bercengkrama

Dalam obrolan tentang puisi

 

Bandar Lampung, November 2022

 

 

Dongeng Tentang Kemanusiaan

 

Tidakkah kau lihat

Kemanusiaan yang mulai menua

Sedang bercermin

Menyaksikan rambutnya beruban

 

Ia telah pikun

Bahkan untuk mengingat tempat pulang

Kurasa ia tak sanggup

 

Adakah sesiapa hendak mengajukan diri

Menuntunnya kembali?

Keadilan telah pincang sejak lama

 

Ia lahir cacat

Untuk menopang dirinya sendiri

Ia bahkan kecapaian

 

Adakah gerangan berkenan datang

Memapahnya menyeberangi jalan?

Mata kejujuran mulai rabun

Semenjak diterjang kabut

pagi itu

 

Aku rasa, setiap berjalan di persimpangan

Ia selalu menerjang pembatas

 

Bandar Lampung, 1 Januari 2022

 

 

Apakah Ada Pulang Bagi Kami yang Tidak Punya Rumah?

 

Malam sebelum kami diusir

Ada janji yang ditebar

Tepat pukul 5, semerbak baunya menguar

Dalam mimpi kami, ia membusuk

Dan ketika terbangun, janji itu telah dirubung lalat

 

Kata mereka, tanah ini milik negara

Lalu siapakah kami?

Apakah tubuh kami serupa makhluk asing?

 

Bukannya tanah negara terhampar untuk rakyatnya.

“Tentu saja, jika engkau membelinya”

Mungkin negara sedang butuh bantuan

Dari kami yang makan dedaunan

 

Pasca digusur, kami tinggal di jalanan

Menjadi gelandangan, kira-kira begitu

Tatapan mereka, kami tafsirkan

 

Apakah ada pulang, bagi yang tinggal di trotoar?

Kami hanya ingin pulang

Meski tanah kami telah direnggut

 

Apakah jalan pulang disediakan,

bagi yang rumahnya hancur karena pembangunan yang beradab?

Kami ingin membangun peradaban

Yang sekiranya tidak akan digusur negara

 

Emperan toko tak cukup hangat

Di bawah pohon tak cukup teduh

Apakah ada pulang, bagi kami yang tidak punya rumah?

 

Bandar Lampung, 31 Desember 2022

 

 

Doa Orang Sahur

 

Wahai Tuhan yang tidak pernah lapar

Dengan sahur ini aku niat puasa

Anugerahkanlah rasa kenyang

Hingga tiba hari raya

Di meja makan para tetangga

 

Wahai tuhan yang tidak pernah kenyang

Dengan mi instan yang kubelah dua

Kumohon ganjal lambung ini

Sampai tiba waktu berbuka

Di halaman masjid raya

 

Bandar Lampung, Februari 2023

 

 

Doa Orang Lupa

 

Tuhan, ampunilah hamba

hamba sibuk menghisab

harta benda rakyat biasa

yang berjumlah tidak berapa

hingga hamba lupa

bahwa ada rubicon dan harley

di garasi rumah kami

 

Tuhan, ampunilah hamba

yang sibuk menagih infak

hingga lupa bahwa hamba

juga punya tagihan pajak

 

Tuhan, ampunilah khilaf

hamba, enggan peduli

atas slip gaji yang menumpuk di laci

 

Bandar Lampung, Februari 2023

 

 

 

Biodata Penulis

Imam Khoironi. Lahir di desa Cintamulya 18 Februari 2000. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Punya cita-cita jadi terkenal. Tidak terlalu suka seafood dan kucing. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai.

Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online seperti Simalaba.com, duniasantri.id, negerikertas.com, ceritanet.com, nongkorong.co dan lainnya. Dan media cetak seperti Malang Post, Riau Pos, Radar Mojokerto, Banjarmasin Pos, Bangka Pos, Denpasar Post, Pos Bali, Bhirawa, dan lainnya. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya.

Ia bisa distalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, Ig : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.