The Dancing Blue, Sebuah “Modus Anomali” dari Kedipan Sebelah Mata Gina

06/03/2023

Bertempat di Auditorium Gedung Tasik Creative Centre, film berjudul The Dancing Blue” besutan Sineas Muda Kota Tasikmalaya, Germiet Andriansyah sukses mendapat tepuk tangan dari para tamu yang menghadiri undangan Movie Premiere film tersebut pada tanggal 27 Febuari 2023 kemarin.

Satu minggu sejak diresmikan, Gedung Tasik Creative Centre berkesempatan menjadi ruang bagi perjumpaan antara Germiet bersama film pertamanya berjudul “The Dancing Blue” dengan para penonton yang hadir.  Mengangkat isu tentang mental illness, film yang dibintangi oleh Dwynna Win Gunawan ini tampak mampu menyambung geliat dunia perfilman Kota Tasikmalaya yang kerap lesu.

“The Dancing Blue” bercerita tentang seorang perempuan karier yang menyembunyikan kisah cinta rahasianya dengan sang pimpinan. Di samping beban kerja yang berat, sang tokoh utama semakin merasa terasing dengan lingkungan kerjanya dan semakin bergulat dengan trauma masa lalu. Hingga pada akhirnya, ia memiliki cara sendiri untuk meluapkan segala endapan perasaan dengan cara yang tak biasa.

Germiet selaku sutradara memilih membalut film ini dengan genre thriller psikologis. Sebuah genre film yang memang banyak kita temui dan acap kali membuat para penikmatnya merasa terpuaskan dengan jalan cerita yang biasanya menyuguhkan bom waktu di akhir film. Namun, apakah film “The Dancing Blue” pun demikian? Pertanyaan itu tampaknya sedikit terjawab oleh komentar salah satu penonton saat sesi diskusi berjalan. “Sang Sutradara terlihat genit dalam menggarap film ini. Sejauh perfilman Tasikmalaya, saya kira The Dancing Blue adalah film terbaik,” ucap seorang penanya yang dikenal dengan nama kang Rian Bungsu.

Sesaat setelah selesai menonton, saya teringat dengan sebuah Film fenomenal Joko Anwar yang tayang pada tahun 2012 berjudul “Modus Anomali”. Saya kira, “The Dancing Blue” sedikitnya memiliki kesamaan premis dengan apa yang dibangun di dalam Modus Anomali, film yang justru besar di mancanegara.

Untuk ukuran film pertama, mengambil genre ini adalah sebuah langkah yang jelas berani. Alih-alih bermain aman, sutradara mencoba mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan paling mengerikan yang bisa terjadi bagi para pengidap gangguan mental lewat jalan cerita yang bagi sebagian orang mungkin nampak mengerikan.

Lantas apakah ancaman mental ilness memang semengerikan itu? Secara umum, mental illness adalah kondisi kesehatan yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku, suasana hati, atau bahkan kombinasi di antaranya dengan rentang waktu yang dapat terjadi sesekali atau bahkan dalam waktu yang relatif lama jika pengidapnya sudah memasuki tahap kronis. Hal paling mengerikan adalah ketika pengidap tak mampu lagi membangun persepsi atas kehidupannya sendiri, kesulitan membangun relasi dengan orang lain, dan untuk mengungkapkan emosi terpendamnya, pengidap tak ragu untuk melukai diri sendiri.

Berdasakan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018, Anung Sugihantono selaku Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan memberi pernyataan bahwa  ada peningkatan jumlah menjadi 7 per mil rumah tangga. Artinya,  per 1.000 rumah tangga terdapat 7 rumah tangga yang penghuninya mengalami mental illness. Maka tak heran, masyarakat Indonesia dengan keanekaragaman penduduk dan kondisi sosial yang komplek, akan melahirkan kasus-kasus mental illness yang menghambat produktivitas manusia untuk jangka panjang.

Secara teknis, pesan yang hendak disampaikan mungkin saja sampai pada para penonton. Namun keberhasilan itu tentu tak luput dari kekurangan proses penggarapan. Ada lubang-lubang kecil di sebagian plot yang mungkin saja bagi kebanyakan orang sepele,  namun justru amat mengganggu bila diperhatikan dengan saksama. Contoh, di scene ketika Gina, sang tokoh utama menggenggam pisau, kamera dibuat seolah-olah menjadi mata Gina. Persepsi saya yang sudah terbangun bahwa kamera itu adalah mata dari sang tokoh menjadi terganggu akibat kedipan mata tokoh itu hanya menunjukkan satu kedipan, yang artinya, di dalam persepsi saya, Gina hanya mengedipkan sebelah matanya. Sesuatu yang jelas merobohkan apa yang sudah susah payah dibangun di scene-scene sebelumnya.

Namun, di luar semua teknis dan hegemoni, The Dancing Blue menjadi angin segar bagi perfilman Tasikmalaya, membuktikan bahwa Tasikmalaya tak pernah tidur, perfilmannya tak lagi bisa dipandang sebelah mata, persis seperti kedip mata Gina.

Agus Salim Maolana/Langgam Pustaka