Darassastra Vol. XII Bincang Puisi Hana Nurhasanah

06/02/2024

 

 

Kota Kelahiran Abadi

Karya Hana Nurhasanah

 

Tasik yang berbisik

Penuh dengan gugusan bukit

Cerita terus kurakit

Oh tasik

Tempatku memuaskan kehidupan

Menyusuri suaka hidangan

Dengan alas kayu nan elok

Berjalan dengan tenang

Ketika rintik datang

Ketika panas menyengat

Payung setia melindungi diri

Warisan leluhur yang rendah hati

Akal budi membuat hati terpikat

Tarian anggun membuat mata tak berkedip

Namamu harum nan indah

Membuaku semakin betah

Kutitipkan sepucuk tulisan

Menjadi saksi dalam kehidupan

 

 

 

Bau Politik Tak Antik

Karya Hana Nurhasanah

 

Bumi bangsa berisik

Manusia terjun Merajarela

Menyantapi nikmat politik

Seakan harap ingin cepat naik

Semua tak antik

Permainan tak cantik dilalui

Apapun mereka daki

 

Etika tersisihkan

Gaya menjadi terdepan

Tahta yang elok menjadi pegangan

Kenyataan tak seenak manisan

 

Ingin antik

Tapi manipulatif

Ingin berjasa

Tapi hanya banyak basi

Bau yang menyengat Tanpa pasti

 

 

ASMARA

Karya Hana Nurhasanah

Laksana purnama

Menghapus kegelapan

Mencabik luka

Membuat tak merana

 

layaknya cendana

Kau nyata

Memberikan harum sukma tanpa nestapa

 

Hinggaku terpikat

Hadir sebagai bentara

Memberi isyarat

Serentak terikat

 

Menghanyutkan asa

Sukma buncah

Lenyap seketika

Mustahil berbalik

 

 

ILUSI

Karya Hana Nurhasanah

 

Tak kan terlupa

Mengajari arti hidup

Memberi nasehat tak pernah redup

Ada namun tak nampak

Satu rasa namun tak bersama

Dilangit yang sama

Namun tak dapat kuraba

Berjarak langit bumi

Namun kau berarti

Tak berwujud namun mewarnai hidup

 

Menjadi petunjuk ketika perahu tersesat

Menjadi pengingat disetiap saat

Selalu setia disetiap dekap

Engkau tak tahu

Betapa istimewa dihidupku

Datang tanpa dinanti

Penyejuk hati

Selalu terilusi

Tanpa henti

Kapan kita bertumpu dititik temu

Tak tahan kumenunggu

 

Tiap gemerlap bintang

Kumerindu cahaya indahmu

Yang membuatku termangu

Selalu ada dibenakku

Kepergiamu membekas syahdu

Datang kan menjadi pereda rindu

Berharap

Meski kesibukan melanda

Jarang tegur sapa

Namun do'a

 

 

DI BAWAH LANGIT GELAP

Karya Hana Nurhasanah

 

Diruang keheningan

Alam memeluk penuh

Riuhan angin tak henti

Saksi bisu meniti hati

Dikala diri hampa

Sukma ternodai

Semesta menemani

Tanpa henti

Dibawah langit gelap

Bulan menata hati

Meski nan jauh

Dingin masih menyelimuti

Manusia menatap langit sama

Alam dan semesta menyelinap

Tak disadari

Tak disyukuri

Apakah kau buta?

 

Terkadang berkhianat

Membuat semesta runtuh Menangis riuh

Apa kau tak peduli?

 

BISING

Karya Hana Nurhasanah

 

Sukma menjerit

Karsa berbisik

Suaka pelik

Ilusi mendesak

Raga tuk pergi

Batin merisik

Tetaplah bertahan

Dunia dihiasi kesengsaraan

Dunia dihiasi kenikmatan

Ujungnnya lenyap

SANDIWARA REALITAS

Karya Hana Nurhasanah

 

Setiap orang punya peran

Setiap orang punya tabiat

Dunia ibarat sandiwara

Semua berbeda

Semua punya beban

Tuk menjalankan syariat

 

Kian terlupa

Hakikat hidup

Realita berucap

Mereka unik

Tak akan ada yang sama

Tak kan ada yang serupa

 

Kian terlupa

Bahwa dirinya berharga Tipuan dunia

Membuat buta

Angan-angan hidup selamanya Hanyalah dusta

Pada akhirnya

Kematian kan melanda

 

 

Merima, Mengejar, nan Memaksa

Oleh Azis Fahrul Roji

Persoalan Susunan

 

Begitu banyak harapan dan ide-ide yang muncul dalam ‘kepala’ Hana Nurhasanah. Ia berusaha menjadi ‘aku’. Ia berusaha menjadi ‘manusia’. Ia berusaha menjadi ‘masyarakat.’ Ia berusaha menjadi ‘warga negara’. Saya berharap Anda yang membaca tulisan ini dapat mencermati bagaimana pola repetitif yang coba saya bangun dari rangkaian kalimat tersebut. Apakah Anda setuju dengan pola urutan yang demikian? Sudah tepatkah saya mengurutkan variabel-variabel tersebut? Ada yang tertukar urutannya? Dan jika Anda mencermati apa yang saya tulis di bagian judul, saya mencoba membuat pola judul yang “memaksa”.

 

Dari kedua permasalahan tersebut, barangkali Anda dapat merumuskan betapa tidak nyamannya kita membaca tulisan yang rancang bangunnya seakan dipaksakan berdiri. Dan nikmat mana lagi yang Anda dustakan ketika membaca tulisan dengan gagasan yang runtut?

 

Sukma menjerit

Karsa berbisik

Suaka pelik

Ilusi mendesak

Raga tuk pergi

Batin merisik

Tetaplah bertahan

 

(Puisi “Bising”)

 

Bait pada puisi Bising tersebut menjadi gambaran urutan yang kurang tepat secara rasa dan irama. Pola akhir menjerit, berbisik, pelik, dibatasi Ilusi mendesak // Raga tuk pergi sehingga, Batin merisik seolah bukan bagian dari kesatuan gagasan yang sudah dibangun dengan pola rima yang sama pada awal baitnya. Untuk mencapai kemegahan rasa pada puisi, penulis perlu mengingat pola piramida. Entah piramida dengan bentuk yang tetap untuk mencapai ledakan rasa. Atau piramida terbalik untuk mencapai hunjaman rasa.

 

Kejadian berkenaan dengan pola repetitif juga hadir pada puisi “Bau Politik Tak Antik”

 

Bumi bangsa berisik

Manusia terjun merajarela

Menyantapi nikmat politik

Seakan harap ingin cepat naik

Semua tak antik

Permainan tak cantik dilalui

Apapun mereka daki

 

Jika memang Hana ingin mengejar rima, ia telah keliru menempatkan kata ‘merajalela’ di antara susunan yang terbangun atas rima berisik, politik, dan naik. Saya mencoba mengandai, jika kata menukik akan lebih nyaman digunakan sebagai bentuk pengganti merajalela dan secara makna pun saya rasa akan lebih kuat menopang kata sebelum, dan baris sesudahnya.

 

***

 

Ketidakonsistenan

 

Diruang keheningan 

Alam memeluk penuh

Riuhan angin tak henti

Saksi bisu meniti hati

 

(Puisi “Di Bawah Langit Gelap”)

 

Terdapat ketidakkonsistenan dalam pengungkapan suasana pada penggalan bait tersebut. Imajinatif tentang ‘ruang hening’ yang penulis bangun, harus runtuh dengan munculnya narasi angin yang riuh tanpa henti. Jika yang dipersoalkan adalah suasana hening yang tiba-tiba riuh oleh angin (mungkin merujuk pada perasaan yang tidak karuan) perlu adanya gambaran kedatangan angin yang membuat riuh ruang hening tersebut sehingga terjadi gambaran suasana yang utuh. 

 

Hasna Nurhasanah dengan kekayaan materi dan pandangannya, belum mampu menempatkan diri secara lebih dalam pada puisinya. Padahal bagi saya, ‘keakuan’ pengarang dapat menjadi identitas yang kuat, menjadi ruh, yang mampu mengajak pembaca untuk ikut merasakan suasana yang dibangun. Dengan kata lain, pada puisi yang menggambarkan dirinya, Hasna tidak menuntaskan narasi tentang dirinya. Sebagai bentuk konkret saya temukan pada penggalan “Di Bawah Langit Gelap” 

 

 

Dibawah langit gelap

Bulan menata hati

Meski nan jauh

Dingin masih menyelimuti

 

Manusia menatap langit sama

Alam dan semesta menyelinap

Tak disadari

Tak disyukuri

Apakah kau buta?

 

Pada mulanya, seolah penulis menggambarkan perasaannya sendiri yang saya kira akan dituntaskan sampai akhir dari puisi tersebut. Namun, ia ternyata mengundang isu lain, dalam hal ini “Manusia” yang telah memutus gagasan tentang ‘aku’. Bagi saya, seorang penulis perlu menyelesaikan satu isu dalam satu puisi tanpa harus menciptakan isu lainnya. Puisi akan nikmat jika ia tumbuh, tetapi puisi akan hambar jika ia (di)tambah(i). Biarkan isu-isu awal tumbuh tanpa harus mengundang/menambah isu-isu lain dari luar.

 

Namun, perlu saya sampaikan bahwa Hasna adalah bagian dari manusia beruntung yang memiliki daya tampung gagasan yang cukup kaya. Penyampaian banyak hal dalam satu puisi akan menjadi catatan bagi jalan kepenyairannya di kemudian hari. Saya harap Hasna mampu menyadari makna puisi yang tumbuh dan mampu menghindari puisi yang