Sebutir Kepala di Atas Lantai

10/11/2023

Bus baru saja berhenti. Aku, Yurice dan sepasang kekasih itu turun, duduk di sebuah warung, memesan makan dan minuman kesukaan masing-masing.

“Menurutmu siapa lebih cantik, Yuicemu atau Vanesaku?”

Lancang sekali mulutnya berucap, membandingkan kekasihnya dengan pacarku. Jelaslah Yuriceku lebih cantik, perbedaannya sejauh mata memandang, lirihku dalam hati, aku jadi malas melayaninya, walaupun ia teman lamaku. Pertemuan kami dalam bus itu suatu kebetulan saja.

Pelayan rumah makan meletak empat mangkok nasi di atas meja, dan lebih sepuluh piring sambal dan gulai yang berbeda, ia yang menghidang kami melempar senyum. Sambil makan, kami sambil mengobrol.

“Ipung, kau belum menjawab pertanyaanku, siapa lebih cantik. Vanesa atau Yuricemu?” Taher masih menanyakan hal yang sama.

“Vanes lebih cantik,” Yurice yang menimpali mau mengalah, sambil melempar senyum manis.

“Dari cara aku memandang, kalau dari segi kecantikan, Vanesaku kalah.” Dia begitu jujur meultimatum kekasihnya sendiri. Aku khawatir terjadi pertengkaran batin di sini. Apalagi setelah berkata begitu, Taher terbahak-bahak menutup mulut, menggoyang-goyang tangannya yang satu lagi, seolah ada adegan yang lucu, dia menganggap ini sebuah lelucon. Bagaimana kalau kekasihnya marah? Sepertinya ia tak peduli, wajahnya tetap ceria, tidak ada menampakkan secercah kesedihan. Malah bukan saja tubuhnya yang menari-nari, kepalanya ikut bergoyang-goyang, dia terlihat bahagia sekali, ibarat orang yang baru menemukan surganya.

“Vanes baru tamat SMA. Badannya saja yang kelihatan seperti amak-amak, kelakuannya masih setingkat remaja.” Taher  memperkenalkan kekasihnya lebih dalam lagi, “kami punya nasib yang sama, lari dari genggaman orang tua si perempuan, memilih jalan sendiri karena tidak direstui. Kami sendiri sama-sama tidak mengerti, apakah penderitaan ini terus menyiksa berkepanjangan.”

Yurice bertanya, kenapa Taher tidak dapat restu dari keluarga Vanes?

“Mereka ingin putrinya kuliah dulu,” jawab Taher.

“Terus, kenapa kau tidak sabar menunggu?”

“Ada hal yang memaksaku wajib menikah dengannya. Dia dapat kecelakaan.”

“Maksudmu?”

“Hanya aku dan Vanes yang tahu.”

“Vanes hamil?” tanyaku mengerti.

Taher melihat kekasihnya yang masih diam, keduanya saling pandang tanpa berkedip.

“Terus kapan rencana kalian menikah?” Yurice masih penasaran bagaimana rencana selanjutnya yang mereka susun.

“Secepatnya,” Vanes menjawab seperti kesetanan, seakan dia yang berkuasa menentukan harinya. Dia sendiri tidak setuju kalau tanggal pernikahan mereka nanti digantung-gantung.

“Aku terpaksa bawa lari gadis ini, dan aku harus segera menikahinya, apa pun yang terjadi,” Taher menatap Vanes, setitik airmata Vanes jatuh mengenai meja. Di depan matanya ia melihat masa suram yang pernah mereka lalui. Aku tak sabar menunggu penjelasannya. Secepat itu mereka ingin menikah, di depan orang-orang yang tidak ada pihak keluarga perempuan di sana. Apakah tidak memalukan, bukan saja dari segi adat, secara etika pun di pandang tidak baik, bahkan secara agama, mungkin dipandang tidak sah. Entahlah, aku tidak tahu hukum agama, pikiranku terlalu jauh menerawang.

“Sudah dua bulan Vanes hamil.” Lelaki itu menarik napas perlahan-lahan. Kemudian kepalanya mendongak menghadap langit, “setelah info yang memalukan itu tercium di sekitar komplek, di mana Vanes tinggal, kedua orang tua Vanes memberi dia uang secukupnya, dan menyuruh menggugurkan kandungan itu. Mereka tidak mau rumah yang besar dan begitu megah diisi anak haram. Padahal yang haram itu adalah perbutan mesum yang dilakukan kedua orang tua si anak sebelum menikah, ya itu, aku dan Vanes. Ibu Vanes menyodorkan beberapa lembar uang yang diikat dengan kertas putih waktu itu. Dengan senang hati Vanes menerima uang itu, tapi tidak digunakan sesuai perintah yang sifatnya membunuh sebelum tumbuh. Uang itu dipergunakannya untuk menyambung hidup denganku yang masih terkatung-katung ini.”

Aku membaca diriku dan Yurice setelah mendengar cerita itu. Masih jelas dalam ingatan, ketika aku melakukan mesum dengan Yurice, dan setelah mendapat puncak kenikmatan. Seandainya Yurice berbadan dua, aku juga menyuruhnya segera menggugurkan isi dalam perutnya, seperti yang dilakukan ibu Vanes. Aku tidak memerlukannya, aku hanya butuh, kalau tidak isi dalam roknya, isi dalam kutangnya. Aku sebagai lelaki jahil ingin mencicipi kenikmatannya saja, dan belum siap mempertanggungjawabkan setetes airmani yang menempel jadi segumpal daging dalam rahimnya. Aku yang merasa kuat, ternyata kekuatanku itu luntur, ketika berhadapan dengan seorang perempuan yang cantik dan menawan, di situ aku mengaku kalah. Aku tak bisa mengontrol nafsuku yang berkibar-kibar di depannya.

“Kalau kau bukan sahabatku, bagaimana mungkin aku berani belak-belakan mengungkap aibku sendiri di depanmu. Aku hanya ingin berbagi cerita dengan kalian.”

Aku mengerti isi pembicaraanya. Taher ingin sekali ceritanya berbalas, dia  berharap aku bersedia meluangkan waktu yang sedikit untuk beberapa menit bercerita tentang kisah cintaku. Aku terkesima atas penjelasannya yang transparan. Setitik pun aku tidak ada niat membuka mulut lebar-lebar, bercerita pada semua orang, dengan berkoar-koar ke sana ke mari seperti kesurupan. Jika aku menutup aib saudaraku sendiri. Tuhanlah yang bertugas tanpa ada yang memerintah untuk menutup aibku sendiri yang penuh bintik-bintik hitam, dan benar-benar menjijikkan.  

“Sesungguhnya derita cinta yang kita hadapi sama Taher, sama-sama tidak direstui.” Ada perasaan lega berbagi cerita.

“Kalau tidak ada konflik di dalam hidup Ipung, tidak akan menarik. Konflik itu bukan kesesatan tapi bunga dalam kehidupan bagi orang-orang yang mengerti.” Setelah Taher berkata seperti itu. Aku, Yurice dan Vanes sama-sama terbius oleh kebisuan. Waktu suasana hening seperti itu, perut Vanes menggigit, kedua tangannya menempel tepat dibagian pusat menekan perut dalam-dalam mengusir rasa sakit. Dia menarik napas menahan rasa sikit yang terus menjalar.

Dia merasa mual yang tidak bisa disingkirkan. Matanya basah menahan rasa sakit, lalu lari terbirit-birit ke kamar mandi diikuti kekasihnya dari belakang tanpa diperintah. Aku dan Yurice tidak turut membantu. Kami berdua saling pandang dalam keheningan. Aku dan pujaan hatiku punya keyakinan yang sama. Vanes mual begitu bukan karena perjalanan jauh. Aku dan dia sama-sama menggunakan bahasa hati, lalu Yurice menengahi, “Maklum, diakan lagi hamil, jadi lebih baik diam saja. Jangan tumpangkan tanganmu dalam masalah ini. Mereka yang berbuat, tentu mereka juga yang menanggung akibatnya.” Suara kekasihku yang sifatnya menggurui setelah Vanes dan Taher pergi, begitu menggerutu seperti halilintar menggelegar, seakan kami ini manusia suci. Padahal kami berdua siap menunggu giliran.

Aku dan dia sudah berkali-kali melakukannya tembak dalam, sesuai kesepakatan. Kalau ternyata Yurice hamil sebelun kami menikah. Berarti aku siap dipanggil seorang ayah yang belum punya istri resmi. Lagi pula akan bertubi-tubi datang pertanyaan menyerangku, dan bisa jadi maksudnya untuk memojokkan aku. Di warung-warung kecil aku jadi buah bibir. Tapi kalau seandainya gadis itu tidak hamil, rasa takutku lebih besar lagi. Terbukti cinta yang kumainkan berujung sia-sia, tidak bisa menumbuahkan benih. Menjadi pertanyaan yang penuh teka-teki. Bisa saja Yurice yang penyakitan tidak bisa hamil. Bisa jadi karena aku impoten. Bisa jadi  airmaniku tidak kental, terlalu mencair melintasi lubang yang berlendir. Sehingga tidak berfungsi menghasilkan keturunan setelah berhubungan. Sebagai seorang lelaki, jika kejantananku telah mati, sama saja aku telah menemukan kematian yang sesungguhnya,  aku tidak mau itu terjadi.

***

“Siap-siap, sebentar lagi bus berangkat,” sudah ada peringatan dari pak sopir yang memakai topi hitam, dan baru berpindah tempat duduk karena merasa kepanasan. Sementara mata dan perut ularku yang terlalu kekenyangan masih berkelahi, menjadikanku ngantuk.

“Penjahat terkutuk, ternyata kau ada di sini. Sekarang tamat riwayatmu.” Lelaki yang bermata cekung itu kira-kira berumur 50 tahun. Rambutnya panjang dan kusut ditutup topi adat, jas yang dia kenakan abu-abu, celana biru, memakai sepatu panjang tak bertali nenutup lutut, persis sepatu yang dipakai artis lokal di kampungku yang kumuh.

“Kau harus menebus dosa-dosamu, anjing!” Lelaki yang baru saja menerobos masuk langsung menebas leher seorang bapak yang berkemeja putih, menggunakan celurit yang digenggamnya. Lantai rumah makan yang tadi licin dan berkilat, sekarang bersimbah darah, setelah sepotong kepala korban menggelonjor jatuh ke lantai.

Melihat adegan mengerikan itu, orang-orang berlarian, dan ada seorang ibu jatuh sempoyongan sampai pingsan di tempat. Dari tadi tidak ada yang berani mendekat, walaupun sudah terlambat untuk melerai. Sebatang celurit bermata tajam di tangan pembunuh itu, mengancam keberanian orang-orang yang hadir.

“Sekarang juga serahkan saya pada pihak yang berwajib.” Tak satu pun memberi respons, meskipun kedua tangannya yang masih berdarah sengaja disodorkan, dan tubuhnya jatuh ke lantai bersama sebatang celurit yang digenggamnya.

Kelihatan ia tidak menyesal atas perbuatannya yang mengerikan. Ia mengaku, baru melampiaskan nafsu bergejolak yang tidak bisa ditahan-tahan. Dia merasa puas karena hasratnya tercapai.

“Setelah ini, mati pun tak masalah buatku,” tuturnya.

Setelah lelaki aneh itu berdiri tegak, tak seorang pun yang berani mendekat, termasuk pekerja rumah makan yang masih memegang garpu melongo, matanya melotot, napasnya terengah-engah, kakinya gemetaran. Sementara aku dan Yurice bangkit dari temapat duduk bersamaan, aku pegang erat tangan pembunuh itu. Genta dan Vanes belum keluar-keluar juga dari kamar mandi, entah apa yang mereka lakukan di sana? Apa mereka berbuat mesum lagi, menjijikkan.

“Sebenarnya ada masalah apa pak? Kenapa Bapak tega berbuat seperti itu di tempat ini, maafkan jika ada kesalahan dalam pertanyaanku Pak?”

Aku merunduk sesaat, lalau mataku liar melihat ke sana-sini, aku harus waspada. Kalau ia melawan, aku yang akan mendahulinya mengambil celurit yang masih terletak di atas lantai menebas lehernya.

“Aku melakukan ini, karena akulah  yang wajib membela kehormatan istriku, bukan orang lain. Lelaki keparat itu, telah berselingkuh dengan istriku, dan aku sudah menceraikannya,” ucapnya marah.

Sejurus kemudian, dia memalingkan wajah memilih menghindar dari orang-orang yang mulai berani mengerumuni, lalu dia duduk di sebuah kursi. “Tolong segera telpon polisi, aku tunggu sekarang juga, aku siap menyerahkan diri.” Ia memperhatikan darah yang masih menempel di tangannya yang baru ia angkat. “aku tak sabar lagi, menunggu polisi menjemputku, sambil mengangkat potongan kepala anjing itu.” Sepotong kepala yang baru ditebasnya masih terletak di atas lantai. “maafkan saya, terpaksa melakukan keributan di sini, ini uang sedikit sebagai ganti rugi.” Mendadak hatinya melunak, dia baru menguras kantongnya, meletakkan uang beberapa lembar di atas meja. Tak lama kemudian, polisi datang mengurus jenazah korban dan potongan kepalanya. Lelaki yang bermata cekung itu tentu ikut di bawa pihak yang berwajib ke kantor polisi mempertanggungjawabkan perbuatannya yang keji.

    

     

Depri Ajopan, S.S. Lulusan Pesantren Musthafawiah Purba-Baru, Mandailing Natal, Sumatera Utara. Menyelesaikan S-1 Prodi Sastra Indonesia di UNP. Sudah menulis beberapa karya fiksi dan sudah diterbitkan. Cerpennya pernah dimuat di beberapa media cetak dan online seperti, Singgalang, Riau Pos, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Koran Merapi, Pontianak Post tatkala.co, Kurungbuka.com, Labrak.co, LP Maarif NU Jateng, Harian Bhirawa, ayobandung.com, Mbludus.com, g-news.id, Literasi Kalbar.com, dll. Sekarang penulis aktif di Komunitas Suku Seni Riau mengambil bidang sastra.