Membakar Ingatan

09/05/2022

Membakar Ingatan

 

Lelaki itu masih belum beranjak dari depan perapian. Matanya terpaku pada beberapa lembar foto yang ada di genggamannya. Dahinya mengerenyit mengamati lembar demi lembar foto hitam putih. Foto-foto yang tidak dapat aku kenali, tapi di antara lembar foto itu terdapat sosok lelaki tersebut. Foto tersebut menggambarkan ketika ia berada di sebuah pesta dan tampak sumringah bersama dengan beberapa orang lainnya. Lalu ada foto ketika dirinya tengah berada di gunung dan mengacungkan pose dua jempol. Juga foto dirinya dengan seorang perempuan yang mengenakan kebaya di sebuah acara pernikahan.

Perapian yang dibuat olehnya di sebuah tong semakin berkobar. Ia menoleh ke kanan-kiri, mengamati situasi dan berpikir bahwa tidak ada siapa pun yang melihatnya. Ia tidak mengetahui keberadaanku yang berada di rerumputan dekat perapian itu. Foto-foto yang ada di genggamannya ia buang ke perapian. Tidak dapat aku amati raut wajah dari lelaki itu, karena selepas melemparkan beberapa lembar foto ia segera beranjak masuk ke dalam rumahnya.

“Kau tidak usah ikut campur dengan urusan lelaki itu,” kata temanku yang baru saja hinggap di dekat daun rumput yang sekarang aku hinggapi.

Aku terdiam, “Manusia memang mempunyai masalah yang tak jarang dapat kita uraikan. Dalam hidup yang serba singkat ini mungkin mereka ditakdirkan untuk mendapatkan berbagai masalah,” sambungnya.

Melihat apa yang terjadi dengan lelaki itu membuatku berpikir, kenapa pencipta menciptakan makhluk dengan segala persoalan yang kompleks? Apakah pencipta enggan melihat kedamaian di antara makhluk ciptaannya?

Tentu aku masih ingat beberapa hari lalu seorang perempuan datang di rumah lelaki itu. Lelaki itu membukakan pintu dengan wajah tampak sumringah setelah melihat perempuan yang mengenakan setelan mini dress dan heels warna merah. Ia mempersilahkan perempuan itu untuk masuk terlebih dahulu, menengok kanan-kiri dengan ekspresi yang berharap tidak ada yang melihatnya. Meskipun di situ aku melihat mereka berdua.

Aroma pasta begitu menyerbak menggoda hidungku. Bau yang begitu nikmat hingga membuat diriku setengah tidak sadar. Aku pun memutuskan menelusuri bau pasta dan segera ikut masuk perempuan itu sebelum pintu rumah tertutup.

Dua orang itu kini berada di meja makan. Aku yang menelusuri aroma pasta berada di dapur yang tak jauh dari meja makan. Lelaki itu berdiri setelah melakukan perbincangan basa-basi yang sepertinya memberikan tawaran untuk makan kepada perempuan. Ia segera mengambil panci yang berisi pasta lalu menuangkannya ke sebuah piring besar dan memberinya saus merah yang meleleh di antara irisan daging dan pasta.

Aku tidak berani mendekati pasta karena masih panas meskipun aromanya telah menyebabkan diriku bertekad masuk ke rumah ini. Lelaki itu segera bergegas menuju meja makan dengan sepiring pasta di tangan, tentu saja ia tidak menyadari diriku yang secara diam-diam membuntutinya. Aku hinggap di kotak tissue.

“Makanlah segera, aku tahu kau pasti belum makan kan?” ujar lelaki itu.

Perempuan itu hanya terdiam memandang sepiring pasta yang tergeletak di meja makan. Lelaki itu segera mengambil garpu dan mencoba membuat satu suapan pasta agar perempuan yang ada di hadapannya bernafsu untuk makan. Tapi perempuan itu masih enggan membuka mulutnya, “Ayo makanlah sedikit saja, pasta ini aku buat khusus untukmu,” imbuh lelaki itu.

“Aku akan menikah besok,” sepatah kata yang keluar dari perempuan membuat lelaki itu secara tidak sadar menjatuhkan garpunya ke lantai. Aku segera bergegas menuju garpu dan sesuap pasta yang berserakan.

“Orang tuaku telah menjodohkanku dengan seorang pengusaha kenalan mereka,” kata perempuan itu yang tampak ragu-ragu untuk bicara. Lelaki itu masih terdiam dan membisu. Lalu sebuah surat undangan dikeluarkan dari tas perempuan dan ditaruhnya di atas meja makan.

Lelaki itu tampak begitu marah tapi mencoba menahannya, “Kenapa kau mau melakukan semua ini?” perempuan itu terdiam. “Semuanya hanya demi uang dan kemapanan? Aku bisa berikan itu semua jika kau bersabar”, sambungnya dengan menggebrak meja.

Perempuan itu menangis dan segera beranjak dari tempat duduknya. Begitulah akhirnya lelaki kini menjadi melankolis. Rumahnya begitu berserakan tak terurus. Dinding-dindingnya telah penuh dengan noda berwarna coklat dan merah.

Mungkinkah dalam hidup yang begitu singkat seperti ini pencipta mengutuk ciptaannya untuk bersedih? Sebenarnya aku kurang mengerti apa artinya kesedihan dan bagaimana rasanya bersedih seperti yang aku lihat beberapa hari ini dari lelaki itu.

Aku diciptakan untuk sebuah perayaan kelahiran dan kematian., begitu pikirku. Setiap hari akan selalu ada sebuah kelahiran tanpa perayaan karena kelahiran bagi kami berarti harus mencari makan banyak. Begitu juga dengan kematian tidak pernah ada sebuah perkabungan karena kematian bagi kami berarti harus mencari makan banyak.

Dalam siklus yang sama seperti ini bukankah sekarang tugasnya hanya tinggal menikmati? Tapi entahlah aku begitu tidak paham dengan manusia dan siklusnya. Terkadang mereka tampak menikmati hidup tapi tak jarang mereka juga mencela hidup yang begitu singkat ini, aneh.

Lelaki itu kini terbaring di lantai dengan sebuah tatapan kosong menghadap ke langit-langit. Ia tentu tidak sadar keberadaanku yang dengan mudah masuk ke dalam rumahnya. Aku hinggap di sebuah kotak pizza tak jauh dari lelaki itu.

Kami semua menyukai rumah ini karena begitu mudahnya menemui makanan. Berbagai jenis makanan dari dalam kulkas dibiarkan berserakan di seluruh ruangan. Tentu ini sebuah kesempatan bagi kami untuk memakannya dan segera beranak pinak.

Melihat lelaki itu aku enggan untuk makan. Perutku seperti ingin memuntahkan setiap makanan yang masuk. Mulutku tak enak seperti biasanya untuk mengunyah. Untuk pertama kalinya, aku tidak menikmati sebuah siklus dalam hidupku yang singkat ini.

“Hahaha… huhuhu…hihihi….” Lelaki itu tertawa lalu berubah seperti menangis sesenggukan dan kembali tertawa. Kejadian itu berulang-ulang terjadi dalam posisinya yang masih terbaring.

Lelaki itu bangkit dari tidurnya, berdiri dan seperti sedang mencari-cari sesuatu. Ia buka laci dan mengeluarkan berbagai dokumen di dalamnya. Selepas itu ia menuju dinding dan mencopot semua foto yang tertempel. Lantas ia bergegas menuju garasi di samping rumahnya.

Ia tampaknya sedang sibuk mempersiapkan sesuatu. Mengambil semua barang yang menurutku berhubungan dengan perempuan itu. Tak dapat kuikuti semua gerakan lelaki yang begitu cepat mengambil barang-barang itu. Aku hanya terbang ke sana kemari di dalam rumah lantas tak jarang hinggap di meja, makanan ataupun gorden karena kelelahan.

“Mungkin dengan begini semuanya akan berakhir” ucap lelaki itu yang aku dengar berada di  taman belakang rumahnya.

Aku segera menuju ke sana. Tapi entah mengapa aku seperti mengingat sesuatu yang menurutku ingin segera aku lupakan. Ingatan itu kini membentuk gambaran yang samar di benakku. Tak jelas kapan ingatan ini terjadi dan mengapa ingatan muncul.

Lelaki itu berdiri di hadapan kobaran api yang semakin membesar. Ia tak dapat menahan isak tangis dan begitu sesenggukan sambil melemparkan barang-barang yang telah ia kumpulkan itu. Lelaki yang begitu malang pikirku. Aku terbang di atas kepalanya dan ia menghiraukan keberadaanku.

“Aku hamil. Lelaki itulah yang seharusnya bertanggung jawab. Bukan dirimu,” suara perempuan itu tiba-tiba mendengung di kepalaku ketika dirinya berada di meja makan.

Lelaki itu mematung mendengar ucapan perempuan. Perempuan itu terlihat ragu untuk mengucapkan sesuatu tapi akhirnya ia berucap, “Kau harus segera mencari pacar lagi, tidak ada gunanya kita mempertahankan hubungan ini.”

Suasana begitu hening setelah perempuan itu berucap. Mereka berdua saling memandang satu sama lain. Aku terbang ke sana kemari dan keberadaanku digubris oleh mereka.

“Aku cinta kamu, biarkan aku saja yang bertanggung jawab atas semua yang kau lakukan,” ujar lelaki itu dengan penuh keyakinan.

Perempuan itu tersenyum simpul, “kau masih seperti orang yang aku kenal dari pertemuan pertama kita.”

Lelaki itu masih terdiam saja, “Tapi apakah kau tahu bahwa hidup tidak hanya melulu soal cinta. Kau tidak akan bisa menghidupiku dan anakku nanti hanya dengan cinta yang kau ucapkan itu,” imbuh perempuan

“Aku bisa,” jawab lelaki itu dengan penuh keyakinan.

Perempuan itu segera beranjak dari kursi dan tidak menghiraukan lelaki itu lantas pergi meninggalkannya. Lelaki itu hanya mematung dan tampak ia masih tidak percaya dengan segala kejadian yang terjadi.

Lelaki itu kini berdiri di depan perapian yang semakin berkobar. Semua barang-barang itu sudah dilumat oleh api yang perciknya dapat membunuhku. Aku memasang jarak dari posisi lelaki karena takut terbakar dan tak tahan dengan panasnya api.

“Aku akan melakukan apa yang tidak dilakukan oleh lelaki itu padamu,” ungkap lelaki itu.

Setelah lama duduk mematung lelaki itu menyusup keluar dari rumah dengan membawa sebilah golok. Dengan raut muka merah padam ia menyalakan mobilnya dan bergegas. Aku tidak dapat mengikutinya dan tidak tahu ke mana arah dia pergi.

Di pagi hari aku menemukan lelaki itu tengah terbaring di meja makan dengan memegang sebilah golok. Ia tertidur dengan pakaian yang masih sama tadi malam tetapi dengan penuh bercak darah yang tak jarang juga masih menetes dari bilah golok. Darah itu begitu anyir sehingga mengundang kami semua untuk segera ke sana. Lelaki itu tidak mengindahkan siapa pun.

“Perempuan biadab. Akhirnya kamu sekarang mati,”

“Huhuhu,” suara teriakan kini berubah menjadi isak tangis dari lelaki yang wajahnya tiba-tiba memucat. “Kenapa aku membunuhmu. Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku,” lelaki itu terus mengigau dan mengulangi igauannya.

 

     

  Fajar Satriyo merupakan mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Aktif menulis semenjak sekolah menengah dan sudah tergabung dalam dunia teater. Saat ini sedang menyelesaikan proyek buku pribadi pertamanya. Dia juga menerbitkan beberapa antologi puisi bersama, salah satunya berjudul Pandemi, Pergi ke Alaska dan Wabah dan Korona. Beberapa opini dan cerpennya terbit di Lembaga Pers Mahasiswa, LPM SITUS dan LPM Mercusuar. No. Telepon : 0895367216025 Instagram: @fajar.satriyo