
Irma *)
Irma tak sedang bernujum
saat berdepandepan Dadan
ia katakan, kalau begini
presiden bisa mencopot
tentu itu ucapan luncur
dari pandang tak lamur
Irma tak sedang menakuti
suatu saat BGN akan ditinggalkan
karena tahu soal MBG yang sepadan
antara gizi dan makanan basi
sengkarut kelola MBG di bawah
sampai ada isu jual beli titik
hasilnya aduhai berlimpah
satu miliar perhari katanya
Irma bukan ahli nujum
tapi jauh di depan sudah tertera
Dadan diangkut ke kejagung
sebelumnya dicopot jabatannya
Irma bukan Nabi Yusuf
mampu baca mimpi
ini sebab ia paham
ada salah mengelola MBG
Irma tidak sedang meramal
kalau ia mengatakan,
prabowo akan pecat dadan
sebab MBG untuk keruk keuntungan
4 Juni 2026
*) Irma Suryani Chaniago
Banyak Canda ke Bulu Roma
banyak canda ke bulu roma,
eh salah, banyak jalan menuju roma
bersama rombongan nikmati Eiffel
kelilingi Paris sambil mengirisiris
boleh lupa dengan negeri agraris
banyak cara sampai ke bolu roma,
eh salah, banyak jalan menuju roma
beli oleholeh keju eropa
tak peduli di saku hanya ada serupiah
yang penting bisa foto di manamana
banyak senyum di kota roma
ada yang menangis dikira terpesona
padahal sedih pada tanah airnya
yang kini tak jelas adilnya tak merata
sapi dibeli dengan uang negara
dikirim ke rakyat bilang berderma
siapa saja yang ikut rombongan
siap membela setiap ada kritikan
2 Juni 2026
Akulah Jalan
akulah jalan, katamu seperti kubaca
ucapanmu di sebuah buku
maka aku pun sampai di roma;
langit seperti tanpa malam – seluruhnya
siang, begitu benderang – walau
aku paham banyak jalan menuju sana
dan aku pilih yang kau tunjukkan
: berliku, bukitbukit, rawa, atau lurah
banyak jalan menuju roma, katamu,
akulah jalan satusatunya untuk
sampai ke sana. tiada yang paham
diamdiam aku ada di belakang
dan senantiasa menyimak telunjukmu
dan derap langkahmu,
“sebab aku tak ingin tersesat
di kota yang hanya ada siang
dalam terang dan aroma parfum,”
kataku di telingamu
sambil kubiarkan buku itu
tetap terbuka. tak lagi kubaca
2026
Wangi Terre D’hermes
ribuan sapi jantan yang kau kirimkan
tanpa perlu sentuhan tangan
sebab kau sudah tinggi terbang
kucium asam keringat tumpukan
uang yang terlilit di kutang
ataupun celana dalam
para jantan
yang terseokseok di jalan
atau pekerja hingga malam
seribuan sapi jantan kau kurbankan
di pagi yang bagiku sangat perih
merawat perasaan, pilu bertumpuk
seperti bukan sapisapi itu jadi kurban
tapi aku yang kelewat tergoda
mana bau apak mana pula wangi tubuh
yang berlabuh
menjadi kecewa
luka yang bertalu
sementara nun di sana
aku saksikan bintang bagai meteor
wangi Terre d’Hermès berkelebat
serupa cahaya dan petaka
Lampung, Kamis 28 Mei 2026; 13.53

Isbedy Stiawan ZS adalah sastrawan Indonesia asal Lampung. Pada 2025, 3 bukunya terbit yakni Kitab Puisi Esai Elegi Galian Tambang, Kumpulan Puisi Satu Ciuman, Dua Pelukan (Januari 2025), dan Menungguku Tiba (Juni 2025), Kenduri Sumatera (Januari 2026), dan kumpulan esai Noel di Jalur Whoosh, dan Catatan Lain (Februari 2026). Beberapa buku puisinya dinobatkan sebagai buku pilihan Hari Puisi Indonesia, Rainy Days, 5 Besar Badan Bahasa Kemendikbud RI, dan 5 Besar Majalah Tempo.Puisi “79” sebagai juara I Lomba Cipta Puisi Tingkat Asean (2024), dan puisi “Wadas, Apakah Kita Masih Satu Tanah Air” juara II Lomba Cipta Puisi Esai Asean di Sabah, Malaysia (2025).***




