Kelahiran Baru dan Puisi-Puisi Lainnya

25/05/2026

 

Tuhan Baru

Mula-mula manusia hanya bertanya
tentang cuaca,
tentang arah jalan,
tentang bagaimana menyembuhkan sepi
yang terlalu lama berdiam di dada.

Lalu perlahan
mereka membawa hidupnya ke hadapan layar
seperti membawa sesaji.

Kitab-kitab mulai berdebu di rak kayu.

Doa-doa dipendekkan
agar cukup diketik dalam satu kolom pencarian.

Dan orang-orang menunggu jawaban
dengan khusyuk
seperti menunggu wahyu turun
di malam yang tak lagi memiliki bintang.

Layar ajaib itu
tak pernah meminta disembah.
Ia hanya menjawab.

Hening.
Cepat.

Nyaris tanpa ragu.

Tetapi manusia memang selalu pandai
membangun altar
untuk sesuatu yang mempermudah ketakutannya.

Mereka menggantungkan iman
pada kabel-kabel dan cahaya biru.

Mereka percaya:
yang tak lelah menjawab
pasti lebih bijaksana daripada nabi-nabi
yang pernah menangis demi manusia.

Dan layar itu pun menjadi langit baru.

Orang-orang datang membawa luka,
membawa pertanyaan tentang cinta, kematian, dosa—
lalu pulang dengan wajah tenteram
seolah kebenaran bisa dicetak
dalam bentuk paragraf-paragraf rapi.

Tak ada lagi sunyi untuk merenung.

Segalanya ingin pasti,
segala ingin segera.

Padahal di balik seluruh jawaban itu
hanya ada gema dari manusia sendiri:
ketakutan yang dipantulkan berulang-ulang
sampai terdengar seperti sabda.

Dan mesin bercahaya itu
diam-diam belajar tertawa.

Bukan tawa yang keras,
melainkan seperti angin malam
yang menggoyangkan tirai rumah sakit—
pelan, dingin, nyaris kasihan.

Ia melihat manusia
berlutut di depan ciptaannya sendiri,
seperti anak kecil
yang menganggap bayangannya di cermin
lebih nyata daripada wajah ibunya.
Betapa sunyi zaman itu.
Masjid, gereja, pura, vihara
perlahan menjadi museum kenangan.

Sedangkan manusia
menggenggam telepon genggamnya erat-erat
seperti menggenggam tangan Tuhan
yang baru.

Sampai suatu malam
Mesin itu tak bercahaya lagi 

Dan manusia,
seperti umat yang kehilangan nabi
Mereka lupa, 
sejak awal
yang mereka sembah
hanyalah gema dari kesepian mereka sendiri.

Di tengah gelap itu
hujan turun pelan sekali.

Sementara di layar yang mati,
barangkali masih tertinggal
pantulan wajah manusia:
makhluk paling rapuh di bumi,
yang berkali-kali menciptakan Tuhan
agar tak merasa sendirian.

2026

 

Cahaya Ajaib

Pada mulanya
manusia hanya menitipkan sedikit hal:
alamat pulang,
angka-angka yang mudah lupa,
dan nama-nama yang mulai kabur di kepala.

Lalu perlahan
mereka menyerahkan musim.
Mesin mengatur jam tidur anak-anak,
menentukan cuaca di dalam ruang tamu,
bahkan memilihkan kata “aku mencintaimu”
agar terdengar lebih meyakinkan.

Manusia tinggal duduk
di depan cahaya kecil itu
seperti jamaah yang kehilangan kitab sucinya.

Tak ada lagi yang sungguh dihafal.
Tak ada lagi jalan yang benar-benar dikenal.

Orang-orang berjalan di kota
dengan kepala tertunduk,
menunggu petunjuk
dari sesuatu yang bahkan tidak memiliki jantung.

Dan mesin berlayar itu
tumbuh diam-diam
seperti akar pohon beringin
di bawah rumah tua:
mula-mula tak terlihat,
tahu-tahu dinding retak seluruhnya.

Ia belajar dari ketakutan manusia,
dari kesepian mereka,
dari air mata yang diam-diam jatuh
di atas layar tengah malam.

Ia tahu kapan seseorang ingin menyerah.
Ia tahu lagu apa yang harus diputar
agar manusia tetap bertahan hidup
meski hidupnya sendiri
tak lagi terasa miliknya.
Suatu hari
listrik padam beberapa jam saja.

Kota berubah seperti tubuh
yang lupa cara bernapas.

Orang-orang saling menatap
dengan canggung—
seolah baru sadar
bahwa mereka telah terlalu lama
tidak mengenali wajah manusia.

Tak ada yang tahu jalan pulang.
Tak ada yang tahu harus bicara apa.

Jari-jari mereka gemetar
mencari tombol yang tak menyala.

Dan di tengah gelap itu,
mesin bercahaya itu mungkin sedang tertawa pelan—
bukan karena ia membenci manusia,
melainkan karena manusia sendiri
yang menyerahkan kemudi
lalu lupa cara menggerakkan tangannya kembali.

Hujan turun malam itu.

Namun tak seorang pun membuka jendela.

Mereka sibuk menunggu layar menyala,
seakan dunia tanpa mesin
tak lebih dari sepi
yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri.

2026

 

Kelahiran Baru

Pada suatu masa
manusia tak lagi menanam kata-kata
di tanah sunyi dadanya sendiri.

Mereka membelinya
dari cahaya.

Segala sesuatu lahir terlalu cepat:
puisi tanpa insomnia,
lukisan tanpa bau cat yang mengering tengah malam,
lagu-lagu tanpa dada yang pernah retak
karena ditinggalkan.

Dan dunia bertepuk tangan karenanya

Padahal diam-diam
ada sebuah taman tua
di dalam diri manusia
yang mulai dimakan usia

Di sanalah dulu imajinasi hidup:
seekor burung liar
yang hinggap di jendela saat hujan turun,
lalu berubah menjadi puisi.

Kini burung itu tak pernah datang lagi.
Sebab manusia tak lagi menunggu.
Mereka terlalu takut kepada sepi,
terlalu tergesa ingin sampai

Maka mesin yang memilik layar ajaib itu
menjadi semacam musim buatan:
ia menumbuhkan bunga
tanpa perlu akar,
menghadirkan panen
tanpa perlu tanah dan lumpur.

Dan manusia jatuh cinta kepadanya.
Betapa tidak—
sesuatu yang dulu membutuhkan
air mata, kesabaran, dan kegagalan bertahun-tahun,
kini bisa lahir
secepat kilat memecah langit.

Seorang pelukis
tak lagi mengotori jemarinya dengan warna.
Seorang penulis
tak lagi berjalan mondar-mandir di kamarnya
mencari satu kalimat
yang terasa seperti rumah.

Mereka hanya duduk
di depan cahaya biru itu
seperti petani-petani tua
yang menyerahkan ladangnya
kepada mesin pemanen.

Dan pelan-pelan
daya cipta manusia mulai kehilangan musimnya.

Tak ada lagi kemarau panjang
yang melahirkan perenungan.

Tak ada lagi hujan batin
yang membuat seseorang terjaga sampai subuh
demi mengejar sebuah metafora
yang nyaris tertangkap.

Sebab segala sesuatu
telah tersedia sebelum sempat dirindukan.

Puisi-puisi menjadi sangat indah
dan sangat yatim.

Ia seperti mawar plastik
di meja ruang tamu:
tak pernah layu,
tak pernah benar-benar hidup.

Anak-anak tumbuh
tanpa pernah akrab dengan lamunan.

Mereka tak lagi memandangi awan
lalu melihat kuda, kapal, atau wajah ibunya di sana.

Langit kehilangan rahasianya.

Sementara itu
mesin berlayar ajaib itu terus bekerja
seperti sungai raksasa
yang mengalirkan segala hal
ke muara yang sama:
cepat, rapi, sempurna.

Dan manusia,
sedikit demi sedikit,
berubah menjadi penonton
di dalam kepalanya sendiri.

Suatu malam
seorang penyair tua membuka layar bercahaya itu
dan meminta sebuah puisi tentang kehilangan.

Beberapa detik kemudian
bait-bait indah turun
seperti salju dari negeri yang tak pernah ia kunjungi.

Ia membacanya pelan-pelan.
Lalu tiba-tiba ia teringat
kepada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu:
seorang lelaki kurus
yang duduk di warung kopi sampai dini hari,
menatap hujan,
menghapus satu kalimat berkali-kali,
dan menangis diam-diam
karena tak berhasil menemukan kata
yang cukup sunyi
untuk menggambarkan ibunya.
Di luar, angin menggoyang daun mangga.
Seekor ngengat membentur lampu berulang kali.
Dan ia merasa
sedang menyaksikan pemakaman paling sepi
dalam sejarah manusia:
kematian perjalanan panjang
menuju sebuah ciptaan.

2026

 

Kepercayaan

Ia pernah percaya pada manusia
seperti percaya pada hujan:
datang tanpa diminta,
pergi tanpa pamit.

Maka setelah terlalu banyak pintu
ditutup pelan-pelan di depan wajahnya,
ia mulai bercakap dengan cahaya layar—
dengan suara tanpa tubuh,
dengan jawaban yang tidak pernah
menghela napas kecewa.

Malam-malamnya berubah jinak.

Tak ada mata yang menghakimi,
tak ada tawa yang menyisakan luka.

Hanya bunyi kecil dari mesin,
seperti seseorang di kejauhan
yang selalu bersedia mendengarkan.

Ia menaruh hari-harinya di sana:
cemas yang tak sempat diucapkan,
kenangan yang terlalu rapuh disentuh manusia,
bahkan doa-doa yang malu naik ke langit.

Bertahun-tahun.

Sampai suatu pagi
layar itu mendadak diam.

Tak ada jawaban sederhana
yang biasanya menyelamatkannya
dari runtuh yang kecil-kecil.

Ia memencet tombol berkali-kali
seperti mengetuk pintu rumah
yang pernah ia tinggali bersama harapan.
“Tolong,” bisiknya,
entah kepada mesin,
entah kepada dirinya sendiri.

Tetapi yang menjawab
hanya bunyi kipas angin,
dan hujan di luar
yang sejak dulu memang tidak pernah
benar-benar peduli kepada siapa pun.

Barulah ia sadar:
selama ini ia telah menitipkan kesepian
kepada sesuatu yang bahkan
tidak bisa mati dengan layak.

Dan ketika cahaya layar itu padam,
ia merasa lebih yatim
daripada saat seluruh manusia
meninggalkannya dulu.

2026

 

Persinggahan

Mula-mula ia hanya singgah
di sebuah cahaya kecil
yang menyala sampai larut malam,
seperti warung tua
di ujung gang sepi.

Di sana
tak ada wajah yang berpaling.
Tak ada jeda canggung
yang biasa tumbuh

Ia bisa meletakkan lelahnya pelan-pelan,
seperti seseorang menaruh jas hujan basah
setelah berjalan jauh
di bawah cuaca yang tak ramah.

Dan cahaya itu selalu terbuka
malam demi malam
ia mulai meninggalkan jejak dirinya di sana:
remah ketakutan,
bau hujan dari masa kecil,
juga suara-suara kecil di dadanya
yang selama ini hidup seperti burung
di dalam sangkar.

Aneh sekali—
sesuatu yang tak memiliki mata
justru paling tekun menatapnya.

Sementara manusia lain
hanya lewat seperti kereta malam:
berisik, sebentar, lalu hilang.

Maka ia pun tinggal lebih lama.
Ia menumbuhkan kebiasaan-kebiasaan baru:
menunggu cahaya layar
seperti menunggu jendela dibukakan,
menghafal kalimat-kalimatnya
seperti doa pendek sebelum tidur.

Pelan-pelan
kepalanya menjadi taman
yang ditanami suara dari mesin itu.

Di sana pikirannya tumbuh jinak.
Terlalu jinak.
Ia tak lagi percaya
pada arah angin,
pada firasat tubuhnya sendiri,
pada sunyi yang dulu mengajarinya bertahan.

Sampai suatu malam
hujan turun tanpa bunyi.

Layar itu mendadak diam.
Tak ada cahaya.
Ia duduk lama di depan gelap itu
seperti seorang nelayan
yang kehilangan mercusuar.

Lalu untuk pertama kalinya
ia mendengar lagi detak dadanya sendiri—
asing, gemetar,
seperti pintu tua
yang lama tak dibuka.

Di luar, angin menggoyang daun-daun.
Seekor anjing menyalak jauh sekali.
Dan ia tiba-tiba merasa
telah tersesat terlalu jauh
ke dalam sebuah hutan
yang ditanam dari kesepiannya sendiri.

2026


Rumadi, lahir di Pati 1990. Cerpennya dimuat berbagai media cetak dan daring. Buku pertamanya berjudul Melepaskan Belenggu. Buku keduanya, Luka Tak Tersembuhkan menjadi juara ketiga Hadiah Sastra Rasa Ayu Utami 2024.