Api yang Merambat di Lahan Basah

20/05/2026

 

Bagio melangkah keluar dari pintu pesawat dengan mantap. Jaket kulit hitam membalut tubuhnya, serasi dengan celana jin denim yang lututnya mulai aus, memberi kesan petualang yang telah menempuh banyak perjalanan. Di tangan kanannya tergenggam tas jinjing cokelat, warnanya senada dengan sepatu yang ujungnya menuding langit. Ia menyapu pandangan ke depan, lalu berjalan menuju imigrasi dengan langkah tegas, sambil sesekali merapikan rambutnya yang berkelok, melingkar seperti lintasan Seulawah.

Begitu keluar dari gedung kedatangan, ia langsung menaiki taksi yang menunggu di bawah langit mendung. Mobil itu membawanya menuju terminal yang siang itu terlihat riuh: penuh suara calo, deru mesin, dan bau aspal yang menyengat. Di sana, ia mengecap kopi hitam beraroma tajam di sebuah kantin, lalu menyulut sebatang rokok. Tak lama kemudian, Bagio menaiki bus Kurnia yang parkir tak jauh dari tempatnya berdiri. Ketika roda mulai berputar, ia merebahkan punggung pada kursi, menarik selimut tipis, dan memejamkan mata. Musik mendesis pelan dari sepiker di atas kepalanya, mengalun samar di telinga, mengiringi pikirannya yang semak. Di dalam benak yang perlahan tenggelam, satu wajah mencoba muncul—Ida, gadis manis yang dulu ia kenal, yang kini, mungkin, telah menua.

Dua puluh tahun silam, ketika dentuman senapan masih bersahutan di antara lembah dan bukit, Bagio hanyalah seorang pemuda yang menjalani hari-harinya dengan getir. Saat itu, ia ditugaskan menyusup ke sebuah kampung terpencil di pedalaman, menjadi mata dan telinga bagi militer di pulau yang jauh. Pemuda yang masih berusia dua puluh lima tahun itu segera melamar sebagai guru kesenian di sebuah sekolah dasar di sana. Kalau dipikir-pikir, memang terdengar janggal: seorang prajurit, yang seharusnya sangar dan garang, melenggak-lenggok di ruang kelas, menari dengan anggun, membentuk garis-garis halus di udara dengan jemarinya. Tapi begitulah Bagio. Ia memainkan perannya dengan sangat apik, seolah tubuhnya sendiri adalah tarian.

Bagio melatih murid-murid memperagakan gerakan-gerakan sederhana, diiringi musik dari sebuah tape recorder tua, alat yang lebih sering menelan kaset daripada bernyanyi. Suaranya serak, kadang melompat, kadang terdiam di tengah nada, tapi bagi anak-anak itu, iramanya cukup untuk menggerakkan tangan dan kaki. Di hari-hari yang lain, ia mengajarkan mereka melukis: menggambar gunung dengan matahari di belakangnya, dua atau tiga pohon kelapa di sisi, dan sekawanan burung berbentuk huruf “v” yang beterbangan di atasnya. Pola itu tak pernah berubah. Dari minggu ke minggu, tahun ke tahun, gambar itu terus diulang, seolah alam begitu miskin, dan anak-anak tak diizinkan menamatkan sekolah sebelum menguasainya.

Setelah dua bulan mengajar, Bagio mulai akrab dengan Ida, guru matematika yang konon bisa menghafal perkalian sambil berlari keliling lapangan. Kedekatan itu berawal pada suatu pagi yang dingin, ketika segerombolan babi hutan tiba-tiba menyerbu halaman sekolah. Saat itu, Ida sedang menyapu daun-daun mangga yang berjatuhan di pekarangan. Tiba-tiba ia berteriak, melempar sapu ke udara, dan lari terbirit-birit ke ruang guru. Bagio, yang baru saja tiba dan belum sempat membuka sepatu, spontan berlari ke arah suara. Tanpa pikir panjang, ia mengejar babi-babi itu seorang diri, mulutnya mengeluarkan suara menyalak seperti anjing, hingga hewan-hewan itu panik dan berlarian ke tengah sawah, meninggalkan jejak di antara batang-batang padi yang terbenam.

Melihat kejadian itu, Ida tampak semringah dan buru-buru menyiapkan kopi untuk Bagio yang napasnya terdengar seperti lenguh kerbau.

“Minumlah dulu,” katanya seraya tersenyum, meletakkan gelas kopi hitam pekat di atas meja. Asap tipis mengambung pelan di bibir gelas. 

Sambil tangannya meraih gelas, Bagio berkata, “Kalau ada babi, kejutkan saja dengan suara anjing, pasti lari.”

Sejak hari itu, keduanya pun semakin akrab, lekat seperti lintah menempel di betis petani. Sehabis mengajar, Bagio dan Ida sering duduk berdua di ruang guru, berbincang santai tentang dua rasa yang perlahan tumbuh di antara mereka, juga tentang peluru dan suara senapan yang terus berdentam. Di sela-sela waktu luang, mereka sesekali berjalan ke pematang sawah, membiarkan langkah mereka tenggelam di lumpur, menghitung gurat-gurat awan yang terlukis lembut di langit senja.

Namun, ada satu hal yang tidak diketahui Ida: bahwa mayat-mayat yang bergelimpangan, dan orang-orang yang mendadak hilang di kampung itu, semuanya bermula dari catatan Bagio, catatan yang ia sembunyikan dari siapa pun, catatan beraroma darah yang saban hari mengintai mangsa, yang selalu ada di saku celananya ketika dia sedang menari dan bernyanyi bersama anak-anak di sekolah, yang ayah mereka kelak ditemukan sebagai mayat tanpa kepala, terbujur dalam rimbunan semak.

Delapan belas purnama berlalu, keduanya memutuskan untuk menikah. Kefasihan Bagio berbahasa Aceh memuluskan jalannya. Ia melamar tanpa perlu perjuangan berdarah, tanpa perlu banyak sandiwara. Lamaran Bagio diterima Teungku Daka, seorang panglima pemberontak yang harga kepalanya setara dengan sepuluh ekor kerbau.

Pernikahan itu berlangsung sederhana, disaksikan keluarga Ida dan teman-teman mereka di sekolah. Hari itu, tidak ada keluarga Bagio yang datang. Kepada Teungku Daka dia mengaku sebagai yatim piatu yang ayah ibunya mati bersama kapal yang karam di Selat Malaka. Sebuah kebohongan kecil yang muncul begitu saja dari bibirnya, seperti hal-hal lain yang selama ini ia sembunyikan.

Saat keduanya merayakan bulan madu dalam desah napas di malam buta, orang-orang hilang di kampung itu kian bertambah, dan rumah-rumah yang menjadi arang pun kian berimbuh. Sampai dengan ayahnya tertembak di pinggiran tambak yang dingin dan berangin, Ida tak pernah benar-benar tahu, bahwa maut itu dibawa oleh seorang penari yang tubuhnya lentur bagai ular di dahan meranti, yang setiap malam bergumul dengannya, dalam desah dan bau keringat.

Namun, setelah senja ke dua puluh membayangi rumah mereka di tepian sawah, setelah keduanya bergumul di kasur yang seprainya tampak berminyak oleh daki dan keringat, Ida menemukan sesuatu di selangkangan Bagio. Awalnya dia menduga itu hanya korengan biasa, lecet kecil akibat gerak tari yang terlalu sering. Tapi hari demi hari, setelah salep dioleskan berkali-kali tanpa hasil, keraguan mulai menetas di kepalanya, mematuk-matuk seperti burung pelatuk di batang merbau.

“Itu tanda lahir,” kata Bagio suatu hari, ketika tangan mulus Ida mengoleskan salep di area itu, berhati-hati agar tangannya tidak menyentuh budit Bagio yang bisa membuat daging itu mendadak menegang seperti kabel baja, dan lalu mereka bergumul lagi.

Sampai pada suatu hari, ketika Bagio sedang sibuk melatih anak-anak menari Bungong Jeumpa di halaman sekolah, Ida, yang hari itu tidak mendapat jadwal mengajar, berjalan pelan ke dalam kamar. Ia duduk di lantai, menatap koper kecil yang terbaring dingin di bawah ranjang. Sejak mereka menikah, koper itu belum pernah disentuh. Bagio pernah bilang, isinya cuma ijazah dan akta kelahiran, disimpan sendiri setelah kedua orang tuanya meninggal ditelan laut.

Hari itu, Ida berpikir untuk memindahkan berkas-berkas itu ke dalam lemari, agar tak membusuk dan dimakan semut di bawah sana.

Ida menarik lembar demi lembar berkas dari dalam koper, menyusunnya rapi di lantai, pelan-pelan, seperti seorang nenek yang tengah menata daun sirih segar di atas tampah. Ada ijazah, akta kelahiran, sebuah cincin perak, beberapa novel Fredi S yang kertasnya mulai berjamur, dan satu album tua berisi foto keluarga yang nyaris pudar. Ia menatap semuanya tanpa curiga, hanya sedikit rasa asing yang samar.

Namun ketika tangannya yang tirus hendak menutup koper, ujung jarinya menyentuh sesuatu, sebuah gundukan kecil, tersembunyi di dasar koper yang empuk. Ida menyibak alas koper perlahan, berniat memastikan tak ada yang tertinggal. Saat itulah, matanya menangkap sesuatu: sebuah buku kecil tergolek diam di sana, terselip di bawah kalender bertahun 1980 yang telah menguning.

Dibukanya lembar demi lembar buku itu dengan mata nyaris tak berkedip. Namun, kerutan di keningnya perlahan menebal, menampakkan kegelisahan yang tumbuh diam-diam, ketika matanya menangkap deretan nama yang berjajar rapi seperti absensi sekolah. Sesekali ia menoleh ke arah jendela, pada cahaya matahari yang mulai menyelinap dari balik tirai.

Jemarinya terus menguak halaman demi halaman, dan tiap nama yang tertera menambah gaduh di dalam dadanya. Beberapa di antaranya begitu akrab: tetangga, kerabat, bahkan teman masa kecil. Orang-orang kampungnya sendiri, yang kini telah terbujur dingin di tanah basah, di bawah nisan yang menua bersama rumput. Dan ketika matanya menemukan nama Ayahnya sendiri tertera di sana, baris huruf itu terasa seperti pisau yang menyayat pelan. Sekonyong-konyong napasnya membatu, dadanya sesak, dan dunia di sekitarnya terasa menyempit.

Dia menutup kembali buku itu dengan dada pengap. Saat itulah, tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah coretan kecil di sampul buku, sebuah bentuk aneh, samar, tapi tak asing. Persis seperti korengan yang menempel di selangkangan Bagio. Tubuhnya bergidik halus. Dengan gerak pelan, dia menyusun kembali semua berkas ke dalam lemari kayu di sisi jendela. Buku kecil itu diselipkannya di laci paling bawah, disembunyikan rapi, menyatu dengan gelang emas pemberian Bagio.

Perempuan itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang, menunggu suaminya pulang sambil mengelus-elus perutnya yang kini kian meninggi. Dia ingin bertanya. Ingin bicara. Namun, hingga senja berlabuh di langit barat, dan cahaya jingga merayap perlahan ke dinding kamar, lelaki itu tak juga pulang. Hati Ida bergemuruh. Dua rasa tiba-tiba saja mengambung dalam hatinya yang riuh: tanya dan rindu yang saling menikam. 

Keesokan paginya, ketika dingin masih merayap pelan di batang-batang kelapa, Ida melangkah tergesa menuju sekolah, membuat perutnya yang buncit mengayun pelan di balik kain. Wajahnya menyimpan tanya yang belum selesai, dan setiap langkahnya digerakkan oleh kegelisahan yang tak kunjung reda. Ia bertanya kepada teman-temannya tentang Bagio, kepada kepala sekolah, kepada murid-murid yang menatapnya dengan mata lugu dan polos. Namun tak satu pun dari mereka melihat jejak suaminya.

“Kemarin dia tidak masuk,” kata kepala sekolah sambil tangan keriputnya menyumpal batang tembakau ke dalam cangklong, suaranya serak dan pelan, “padahal anak-anak sudah menunggu.”

Dan begitulah. Waktu terus berjalan, beredar bersama matahari yang timbul tenggelam. Tapi Bagio tak pernah muncul, bahkan bayangnya pun tidak. Ia lenyap begitu saja.

*

Bus Kurnia yang ditumpangi Bagio berhenti di terminal Sigli tepat ketika jam di tangan sopir menunjukkan pukul dua belas malam. Dengan langkah gontai dan mulut menguap lebar, Bagio menuruni bus. Matanya sembab oleh kantuk yang menebal. Ia berjalan pelan menuju sebuah kedai minum yang masih buka, diterangi lampu kuning pucat yang menggantung lesu di langit-langit.

Di sana, ia memesan segelas kopi hitam dan sepiring nasi guri beraroma pedas, sekadar mengganjal perutnya yang sedari tadi berdentam. Usai menandaskan makanan dan menyerot sebatang rokok, dia merebahkan tubuhnya di sebuah musala kecil di pojok terminal, mencoba lelap sambil menunggu fajar di langit timur.

Ketika langit mulai terang, dia menumpang ojek menuju sebuah kampung di pedalaman, tempat dulunya dia mengajarkan anak-anak cara menari. Dia ingin bertemu Ida. Dulu, sebuah panggilan mendadak dari seberang memaksanya pergi tanpa sempat pamit, hanya menyisakan jejak-jejak samar di beranda rumah dan dalam tubuh Ida yang kala itu tengah mengandung. Setelah itu, keadaan semakin memburuk: pos-pos diserbu, jalanan diadang pemberontak, dan desing peluru menjadi nyanyian sehari-hari. Saat itu, ia terpaksa menjauh, membiarkan segala kenangan terkubur dalam deru mesiu.

Kini, ketika usianya sudah menginjak lima puluh, dan perang pun telah lama usai, kerinduannya menjelma ombak. Kali ini dia ingin menebus semuanya. Ia ingin membawa Ida ke Jawa, menyusun kembali hari-hari yang pernah patah, dan menghabiskan sisa usia mereka dalam damai.

Ojek berhenti perlahan di sebuah rumah semi permanen yang dindingnya mulai lapuk. Atap seng yang dulunya ia pasang sendiri bersama seorang warga, kini telah legam dipeluk karat. Bagio melangkah pelan, mengetuk pintu, menimbulkan getaran kecil hingga ke atap. Dadanya dilanda riuh. Matanya mengedar ke sekeliling, memandangi batang-batang kelapa yang masih sama.

Pintu itu berderit pelan, terbuka perlahan. Di baliknya berdiri seorang remaja. Wajahnya teduh, tapi rautnya gamang, seperti sedang menahan sesuatu. Bagio tersenyum, getir dan gugup bercampur dalam kerut bibirnya.

“Cari siapa?” tanya si pemuda dengan suara tertahan.

Bagio menghela napas, meletakkan koper di sebuah bangku kayu di beranda.

“Ada Ida?” tanyanya pelan.

Wajah pemuda itu mengerut. Matanya menatap Bagio lebih lekat, seperti tengah mencocokkan potongan-potongan wajah dalam cerita ibunya.

“Ibu meninggal seminggu lalu,” ucapnya pelan, suaranya berat, tenggelam dalam diam yang mendadak panjang.

Bagio pun sama. Tubuhnya menegang.

“Kamu?”

“Saya anaknya.”

Tanpa berpikir panjang, Bagio segera menarik pemuda itu ke dalam pelukannya, erat, seolah ingin menebus tahun-tahun yang lenyap begitu saja. Tapi si pemuda menepis pelukan itu dengan kasar, membuat Bagio tersentak.

“Kamu siapa?”

Bagio terdiam. Bibirnya terbuka, tapi tak satu pun kata berhasil keluar. Seperti ada sesuatu yang menggumpal di tenggorokannya, menahan segala yang ingin ia ucapkan. 

“A … Aku Bagio,” katanya akhirnya, sedikit gagap, berusaha meyakinkan, meski separuh dirinya direndam ragu.

“Oh.” Pemuda itu mengangguk kecil, ketus. Ia mundur dua langkah, lalu membalikkan badan dan masuk ke dalam rumah. Saat kembali muncul di ambang pintu, di tangannya tergenggam sebuah buku tua, lusuh dan berdebu.

“Ini!” katanya dingin, menyodorkannya kepada Bagio. “Ibu sudah lama ingin mengembalikan buku ini, tapi kamu tidak pernah datang.”

Bagio menerima buku itu dengan tangan gemetar. Di halaman pertama, di bawah deretan nama yang dulu ia kirim pada maut, tertera tulisan tangan Ida: Untuk Bagio. Dulu, aku menyangka cinta lebih kuat dari segalanya …. Kata-kata itu menamparnya pelan, membuat napasnya kembali tercekat.

Bagio terduduk lemas di beranda, memeluk buku itu dengan hati disergap bara. Andai waktu bisa ditawar, mungkin ia akan memilih hidup sebagai guru, menari bersama anak-anak tanpa menyimpan kematian di saku celana. 

 

Catatan:
Budit: sebutan untuk kelamin laki-laki.
Seulawah: Sebuah gunung di Aceh.

 

Tin Miswary, menulis cerpen, esai dan resensi buku.