.jpg)
Aku pernah kena gocek tulisan Borges, yakni resensi bodong! Di internet aku berselancar lumayan lama, mencari-cari judul buku yang sebenarnya tidak pernah ada. Kurang ajar! Hikmahnya (seolah rezeki yang hinggap setelah musibah), setelah itu aku jadi tahu yang namanya literary hoax (semacam fiksi yang berlagak bukan fiksi), yang lebih licin dari metafiksi.
Kemudian mencuatlah rasa penasaran: adakah yang pernah menirunya dalam sastra Indonesia, secara lebih ugal-ugalan, hingga media kecolongan lalu meloloskannya, kelewat terlambat sadar sudah dikadalin?
Nehi, aku tidak menemukan yang seperti itu.
Tapi sebagai gantinya menemukan sesuatu yang voilà.
Cumbu Sigil.
Siapakah Cumbu Sigil?
Kita tak akan pernah benar-benar tahu siapa dia, segala tentangnya belaka imajinatif (potret wajahnya pun dicomot dari foto orang lain), kehadiran yang nisbi; demikian jika kita mengamini hasil tinjauan Martin Suryajaya.
Cumbu Sigil tak pernah ada (akal-akalan belaka ia dicatat lahir di Jakarta pada 1964), tapi ada yang melakukan pengarsipan digital atas fragmen-fragmen karyanya (bahkan satu novelnya), atau dapat ditemukan kutipan tulisannya di banyak tempat.
Cumbu Sigil, menurut Martin, hidup dalam dan sebagai arsip, ada sebagai efeknya. Ini memperlihatkan bagaimana teks mengonstruksi realitas (tidak hanya sebaliknya).
Dalam membocorkan kefiktifan Cumbu Sigil, Martin, sebagai cepu, kurang menguraikan kenapa persona sastrawan obskur avant-gardis dalam pseudo-arsip tersebut dibikin tidak terlalu rapi, yang padahal Martin mengendusnya justru karena kealpaan atau keretakan itu, yang menjadikan keberadaan Cumbu Sigil dan karya-karyanya tidak sepenuhnya jadi 'fakta' tanpa permainan apa-apa, berada dalam ambang yang-riil dan yang-fiktif; mungkin karena fokus bahasan Martin memang bukan itu.
Cumbu Sigil dan arsip karya-karyanya bukan sekadar keisengan dari homo ludens. Ini bisa ditimbang sebagai semacam 'gugatan' atas historiografi sastra Indonesia, atau mungkin parodi terhadap kerja-kerja arsiparis atau kanoninasi itu sendiri (yang dipandang timpang, memalingkan muka dari sastrawan seperti Cumbu Sigil, dari para Cumbu Sigil, yang jauh dari pusat). Atau inilah karya sastra berwahana arsip yang memanfaatkan hipertesktualitas internet, sebagaimana menurut Martin.
Yang tambah menarik, dalam tilikan Martin (yang juga bermain obskuritas dalam kumpulan puisi perdananya, sebagaimana akan sedikit dibahas, atau dipertanyakan nanti), ini menggemakan kembali kolektivitas dalam produk budaya sebelum kita mengenal hak cipta, misalnya sastra lisan dan atau epos.
Martin, yang menulis ini pada tahun 2022 di situs tengara, mempertanyakan apakah fenomena Cumbu Sigil (yang menurutnya dikerjakan secara gotong-royong) membuka kemungkinan tentang "prakondisi bagi kesusastraan masa depan sebagai cerita rakyat", yang kolektif sekaligus impersonal.
Hari ini, dalam konteks literasi, yang tentu saja merupakan masa depan bila dipandang dari 2022, kita menerima ekspansi AI dalam kancah kuli kata dan lainnya, lalu menghadapi persoalan hak cipta teks AI, problem atribusinya.
Kepada siapa hak cipta teks AI dinisbatkan? Kepada AI itu sendiri, di mana pengguna diposisikan sebagai penyampai? Tidak bisa karena AI bukan subjek hukum? Apa membiarkannya menjadi semacam folklor modern, tak mesti ada nama-diri yang dilekatkan? Tapi bagaimana dengan pertanggungjawaban atas tiap kata bila tak ada tubuh di baliknya? Ataukah kepada pengguna yang memberikan masukan (prompt dan penyuntingan sebagai kontribusi literer)? Tapi bagaimana dengan perkara bahwa AI, bagaimanapun, dilatih dengan korpus data yang ber-hak cipta?
Jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan orang-orang di balik Cumbu Sigil, mereka menisbatkan jerih payah justru kepada imajinasi (yang mereaksi sejarah), atas nama imajinasi; mengempaskan kapital simbolik (privilese, prestise, dlsb.).
Sementara itu, dalam ekses negatifnya, kehadiran AI dalam kultur personal branding yang kuat tampak melayani narsisme dan egosentrisme dalam laku kreatif, dalam mendongkrak citra, portofolio, dan dorongan keterlibatan intelek-estetik dalam ruang publik secara instan (di mana seorang awam pun bisa menyaru pakar lalu blunder dan viral), menakik nama-diri pada anonimitas atau kekosongan nama (atau justru kepenuhannya), pada kolektivitas atau sedimentasi teks sekian masa yang melibatkan banyak manusia.
Ketika kemunculan AI terasa seperti 'membatalkan' (atau setidaknya mengganggu) kebutuhan ontologis akan penulis, ironisnya, banyak orang yang menggunakan AI, bahkan sekalipun kontribusi literernya minim, ingin tetap didaulat sebagai penulis (ala paradigma lama, dengan mitos jenius tunggal-nya); masih begitu mentereng sekali embel-embel ini.
Demikianlah tegangan antara rezim atribusi dan ekonomi hasrat, yang sekurang-kurangnya mesti diperhatikan kaitannya dengan langgengnya idolatry atau kultus individu penulis sebagai subjek yang sui generis (padahal toh kini siapa pun bisa jadi penulis secara gampangan, dengan mengutak-atik prompt—bahkan meminta AI membuatkan prompt-nya, artinya embel-embel 'penulis' tak begitu istimewa lagi, luntur nilai aura-nya, sehingga melekatkan nama-diri pada teks AI seharusnya disadari sebagai tak lebih dari demi mengemban tanggung jawab atas tiap kata, dan sama sekali tidak mengurangi orisinalitas sebab ya memang sudah habis berkurang, usang, ilusi kemurnian sudah lama terkontaminasi). Tidak hanya sepenuhnya menerimanya sebagai suatu keniscayaan (yang memang sangat berkaitan erat dengan sastra itu sendiri, dengan eksperimen otomatisasi).
Selain sanjung puja (yang membikin nama-diri amat berkilaunya), masih kuat pula pembacaan biografis terhadap suatu tulisan, menerka-nerka maksud dan pesan yang ingin disampaikan penulis, mendedah ideologinya yang laten dalam teks, dan akhirnya dinilai menyempitkan makna karya sastra karena tak dibaca sebagai karya sastra dengan struktur internal dan perangkat-perangkat naratif-puitisnya yang prinsipiel. Bersamaan dengan itu, kuat pula kecenderungan mendesakkan Aku, mengumbar qualia.
Ini tampak memicu kemuakan di kalangan penulis cum kritikus. Mereka berupaya menggeser horizon, melakukan gerak melingkar.
Martin Suryajaya dan Nirwan Dewanto, misalnya, menggunakan heteronim dalam kumpulan puisi mereka.
Berbeda dengan Nirwan, yang dilakukan Martin adalah semacam mengonstruksi suatu historiografi fiktif-spekulatif atas historiografi arus utama sastra Indonesia yang mengeksklusi sastrawan-sastrawan pinggiran. Dalam hal ini khususnya perpuisian. Tak tanggung-tanggung, selain membuat tokoh sejarawan bernama Sulaiman H sebagai pseudo-kurator, Martin juga mencantolkan permainan ini pada sejarah riil Indonesia (meski tetap angka 2045 itu membetot rasa curiga).
Di luar daripada suatu permainan tekstual Martin dalam Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 (Anagram) dan Nirwan dalam Dua Marga (Teroka Press), keduanya tampak mencoba menghilangkan bayang-bayang nama-diri (melakukan variasi gaya hingga menggunakan suara perempuan), anti-lirik, membubuhkan garis silang di atas biografi penulis atau 'sosok pribadi dalam sajak', pengalaman personal, memberikan suara yang seolah milik subjek rekaan (sebagai pseudo-penyair) yang tak bisa benar-benar dirujuk secara empiris. Ini pun tercermin dalam gagasan-gagasan mereka terkait kesusastraan.
(Membincangkan heteronim, tentu saja Fernando Pessoa tidak bisa tidak dilibatkan, ia yang menggunakan heteronim bukan dalam rangka meluruhkan nama-diri tapi justru memperbanyaknya—pada akhirnya, tapi kasus Pessoa ini mesti didekati secara lebih khusus karena si tukang sulap ini konon mengalami gangguan identitas. Tapi saat kuhubungi beliau sedang banyak urusan, katanya, dengan suara yang kentara lesu, jadi ya begitulah, mungkin lain kali saja).
Tapi bukankah itu tetap terbaca seolah belaka, sulit membikin diri percaya terhadap eksistensi subjek rekaan karena tak terlepas dari posisi authorial, dari Aku, di baliknya?
Martin dan Nirwan (sejak parateks—kolofon, blurb, dlsb., yang membikin apa yang mereka lakukan kentara sebagai proyek intelektual kelas berat), toh di situ bagaimanapun terbaca 'tengah menulis menggunakan heteronim', pembaca tak bisa hanya dibikin fokus (tanpa membayangkan gerak jari keduanya) mempersepsi puisi-puisi yang dimaksudkan sebagai yang ditulis oleh 'penyair-lain', bersimpati, mengakuinya sebagai entitas yang tidak kodependen terhadap posisi authorial Martin dan Nirwan (jika dibandingkan dengan novelis yang membikin tokoh yang demikian hidup, misalnya, tetap saja ujungnya yang menonjol adalah kecakapan teknis sang novelis dalam karakterisasi), yang sedang 'bermain tuhan'.
Apakah jika heteronim mereka dibikin sepenuhnya tampak otonom, ini akan menjadi lirisisme, yang mengenakan topeng, tak ada tegangan: individualitas yang disadari nisbi namun dipersepsikan ada, palung bagi pembaca menjatuhkan diri bulat-bulat pada daya ilusi dalam segenap kata?
Tapi bukankah upaya 'menghidupkan' subjek rekaan itu sendiri (yang memberdayakan kepengrajinan) merupakan spektrum pengalaman?
Dan bukankah, pada akhirnya, itu tetap merefleksikan peran sentral individu penyair (yang berusaha dielak dengan heteronim, menyembunyikan nama-diri tapi di saat yang sama meninggalkan jejak yang jali, gestur dari orang yang mencoba hilang ke rimba gelap tak bernama sambil menyalakan senter), sebuah pemeragaan Aku, Aku-yang-tak-lagi-curhat-dan-memusatkan-diri menjadi Aku-otoritas-yang-konseptual/teknikal, bahkan dari Aku-teks ke Aku-biografis? Terasa bukan pemutusan tali pusar, tapi amputasi. Tidak benar-benar keluar dari orbit author, hanya memparodikan, memutarbalikkan, memperlebar, tindak atraktif, bahkan boleh jadi malah kian mengukuhkan apa yang ingin digoyahkannya (bahwa keduanya terampil menulis puisi dalam beragam gaya, bunglon yang sedang menunjukkan kebolehan; posisi otoritas keduanya kuat sehingga heteronim terasa seperti pertunjukan kejeniusan craftsmanship).
Sementara Felix Nesi dengan Kode Etik Laki-Laki Simpanan (Marjin Kiri), melalui heteronim Robertus Aldo Nishauf, melakukannya dengan lebih radikal, dalam hal ini benar-benar mempertaruhkan nama-diri, tapi ia juga tergoda menyalakan senter.
Kenapa Felix akhirnya melakukan pengakuan, menggurat kembali nama-diri yang awalnya ia hapus? Mungkinkah lantaran apa yang disebutnya sebagai "eksperimen kreatif" ini sudah dianggap berhasil?
Sejauh manakah pembaca menaruh perhatian kepada Robertus Aldo Nishauf, dalam ketiadaan akun Instagram-nya untuk dikirim DM ?
Bagaimanapun pengakuan penulisnyalah yang membikin "eksperimen kreatif" ini kemudian publik sadari sebagai "eksperimen kreatif" (berbeda dengan penguakan Cumbu Sigil yang dilakukan Martin). Ia, sekilas, terkesan tak sabar menanti terbongkar, atau mungkin memang keciduk, bagi Felix, bukanlah kriteria personal bagi "eksperimen kreatif"-nya? Mungkin memang tak mengharapkannya.
Pengakuan tersebut, boleh jadi, justru masih bagian dari performativitas "eksperimen kreatif" Felix, yang menunjukkan bahwa, memang dalam sastra Indonesia, suatu nama sering sukar dikenal-digubris, secemerlang apa pun, seolah tiada sama sekali, jika tak ada otoritas yang mengangkatnya. Dan mereka yang punya nama-diri yang membikin silau, yang leluasa bergerak ke kantong-kantong kebudayaan, sering kali lebih dikarenakan suatu politik perkoncoan dan pengangkatan dalam lingkaran setan.[]
Tautan arsip karya Cumbu Sigil: https://gtsi.fandom.com/id/wiki/Cumbu_Sigil
Tautan identitas Cumbu Sigil: https://catatanmuslihat.wordpress.com/about/
Tautan tulisan Martin Suryajaya tentang Cumbu Sigil: https://tengara.id/blog/catatan-tentang-cumbu-sigil/
Tautan pengakuan Felix Nesi: https://www.facebook.com/share/p/1CEPYm9Wsi/
Santama. Bisa disapa di @san.ta.ma. Tulisan-tulisannya tidak dapat ditemukan di banyak media.




