-8733.jpg)
"The animal looks at us, and we are naked before it. Thinking perhaps begins there."
Jacques Derrida
Dalam bukunya The Animal That Therefore I Am, Jacques Derrida memulai sebuah perenungan filosofis dari peristiwa yang sering kita anggap remeh-temeh. Suatu pagi, seusai mandi, ia berjalan telanjang dan mendapati kucing peliharaannya sedang menatap dirinya. Tepat di hadapan seekor kucing itu, Derrida tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Rasa malu. Pengalaman tersebut kemudian membawanya pada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar hubungan seorang manusia dengan hewan peliharaannya. Mengapa ia harus merasa malu? Mengapa tatapan seekor kucing mampu menimbulkan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat? Dari pengalaman sederhana itulah lahir salah satu pernyataan terkenalnya yang saya kutip di atas, yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia begini kira-kira artinya: Ketika seekor hewan memandang manusia, barangkali di situlah cara kita memahami hubungan antara manusia dan makhluk nonmanusia perlu dipikirkan kembali.
Kegelisahan yang dialami Derrida ini sesungguhnya tidak lahir dari ruang entah, melainkan karena dihadapkan dengan tradisi dan warisan pemikiran yang sangat panjang. Salah satu fondasinya yaitu pemikiran Aristoteles, yang banyak memengaruhi cara Barat memahami manusia dan dunia. Tentu saja Aristoteles bukanlah seorang pemikir yang memusuhi hewan. Dalam karya-karyanya seperti De Anima dan History of Animals, ia bahkan mengakui bahwa hewan memiliki kemampuan merasakan, bergerak, dan merespons lingkungan sekitarnya. Akan tetapi, Aristoteles meletakkan sebuah pembedaan penting melalui konsep logos, yakni kemampuan bernalar dan berbahasa yang menurutnya hanya dimiliki manusia. Jika hewan memiliki suara untuk mengungkapkan rasa sakit atau kesenangan, manusia memiliki logos yang memungkinkan dirinya membicarakan keadilan, kebaikan, hukum, dan berbagai perkara yang melampaui kebutuhan biologis. Dari sinilah manusia kemudian dipahami sebagai makhluk rasional, sementara hewan ditempatkan pada ranah naluri dan sensasi. Pembedaan tersebut kelak menjadi salah satu dasar konseptual yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam tradisi filsafat Barat, di mana upaya mendefinisikan manusia sering dilakukan dengan mencari ciri yang dianggap khas manusia dan tidak dimiliki hewan.
Saya tidak yakin bahwa kritik Derrida sesungguhnya sedang berusaha membuktikan bahwa manusia dan hewan adalah makhluk yang sama—yang juga menolak adanya perbedaan di antara keduanya. Apa yang coba dibongkar oleh Derrida justru adalah mengapa filsafat Barat begitu yakin dapat menentukan secara sepihak batas yang memisahkan manusia dan hewan? Mengapa ada kecenderungan untuk menyederhanakan keragaman makhluk hidup ke dalam kubu manusia di satu sisi, berhadapan dengan kubu hewan di sisi lainnya. Kritik ini tampak jelas ketika ia menyoroti penggunaan istilah tunggal the animal dalam tradisi filsafat Barat. Melalui istilah tersebut, jutaan spesies yang berbeda-beda—dari kucing, gajah, burung, ikan, hingga serangga—sering kali diperlakukan seolah-olah membentuk satu kategori yang seragam. Padahal, tidak ada satu pengalaman tunggal yang dapat mewakili seluruh kehidupan nonmanusia. Seekor paus akan mengalami dunia dengan cara yang berbeda dari seekor semut; seekor harimau tentu tidak menjalani kehidupan yang sama dengan seekor remora. Dengan menyatukan seluruh keragaman itu ke dalam satu kata, "hewan", filsafat Barat secara tidak sadar telah menempatkan manusia sebagai pusat yang berhak menamai, mengelompokkan, sekaligus menentukan posisi makhluk-makhluk lain. Karena itulah pengalaman Derrida ditatap seekor kucing menjadi penting. Untuk sesaat, ia tidak lagi berhadapan dengan "hewan" sebagai sebuah kategori abstrak, melainkan dengan seekor kucing yang konkret, individu yang hadir dengan keberadaannya sendiri dan memandang balik dirinya.
Kecenderungan ini sebenarnya memperlihatkan cara manusia memosisikan dirinya di tengah kehidupan yang lebih luas. Sudah sangat lampau, keyakinan bahwa manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki makhluk lain perlahan melahirkan pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat sekaligus ukuran bagi dunia di sekitarnya. Dalam cara pandang yang kemudian dikenal sebagai antroposentrisme ini, nilai, makna, dan kepentingan segala sesuatu cenderung diukur berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Hewan, tumbuhan, sungai, gunung, bahkan bentang alam yang paling luas sekalipun lebih sering dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar diri manusia dan karena itu dapat dijelaskan, diatur, atau dimanfaatkan sesuai kebutuhan manusia. Kejemawaan manusia yang mendaku sebagai pusat cerita, pusat sejarah, pusat pengetahuan, sekaligus pusat dari berbagai pertimbangan moral mengakibatkan terpinggirkannya perhatian terhadap pengalaman hidup makhluk-makhluk lain, seolah-olah keberadaan mereka baru memiliki arti ketika bersentuhan dengan kepentingan manusia.
Cara pandang antroposentris turut membentuk laku manusia yang salah kaprah dalam memahami segala sumber daya di luar dirinya. Hutan, sungai, laut, gunung, dan makhluk-makhluk lain yang hidup di dalamnya, kerap dipandang semata-mata berdasarkan nilai guna yang dapat diberikan kepada manusia dan acap kali berakhir pada praktik eksploitasi. Tidak mengherankan apabila berbagai bentuk kerusakan ekologis yang kita saksikan hari ini—mulai dari penggundulan hutan, pencemaran sungai, hingga krisis sampah di lautan—mengancam keberlangsungan hidup makhluk-makhluk lain.
Tanpa mengesampingkan kerusakan-kerusakan yang terjadi di wilayah lain, mari kita fokuskan pembahasan ini dengan melihat betapa besarnya juga dampak cara pandang antroposentris terhadap kondisi lautan dunia hari ini. United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat bahwa lebih dari 11 juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun, sementara sekitar 19 hingga 23 juta ton limbah plastik bocor ke ekosistem perairan, termasuk sungai, danau, serta kawasan pesisir. Angka tersebut menunjukkan bahwa pencemaran laut bukan lagi peristiwa yang bersifat insidental, melainkan telah menjadi bagian dari krisis ekologis global yang berlangsung secara terus-menerus. Sampah-sampah yang dibuang dari daratan pada akhirnya bermuara ke laut dan bertransformasi menjadi ancaman bagi berbagai bentuk kehidupan di dalamnya. Plastik yang tidak terurai dapat mengapung selama puluhan hingga ratusan tahun, terpecah menjadi partikel-partikel mikroplastik, lalu memasuki rantai makanan laut yang menopang kehidupan beragam spesies. Lautan dipaksa menanggung konsekuensinya, sementara manusia semakin tutup mata dengan kehancuran yang tengah terjadi, meski tepat di depan mata.
Namun, satu hal yang menarik sekaligus menjadi ironi, cara kita membicarakan betapa seriusnya krisis ekologis yang tengah berlangsung ini pun masih terkukung dan terjebak dalam sudut pandang antroposentris yang menempatkan pengalaman manusia sebagai titik tolak utama dalam memahami dunia. Manusia tetap menjadi pusat pengamatan dan bersusah payah menjelaskan. Kita semakin kehilangan cara lain untuk mengejawantahkan persoalan ini dari sudut berbeda. Barangkali, persoalannya adalah kita mengetahui apa yang terjadi pada laut, pada ikan-ikan, penyu atau paus, tetapi kesulitan membayangkan bagaimana laut itu dialami oleh kehidupan-kehidupan para penghuninya, lalu mempertimbangkan kemungkinan dunia sebagaimana dialami oleh makhluk-makhluk tersebut dari dalam keberadaannya sendiri. Lantas, Bagaimana kita dapat membayangkan dunia itu?
Tentu saja, tidak mudah menjawab pertanyaan semacam itu. Manusia tidak dapat benar-benar menjadi ikan, penyu, paus, atau makhluk laut lainnya untuk mengalami dunia sebagaimana mereka mengalaminya. Namun begitu, bukan berarti upaya untuk membayangkannya mustahil dilakukan. Dalam esai terkenalnya berjudul What Is It Like to Be a Bat? yang kemudian dimuat dalam buku Mortal Questions (1979), Thomas Nagel yang lama mengajar di New York University itu, menganggap bahwa manusia tidak akan pernah sepenuhnya mengetahui bagaimana dunia dialami oleh seekor kelelawar dari dalam kesadarannya sendiri. Akan tetapi, kesadaran atas keterbatasan tersebut tidak lantas menutup kemungkinan untuk mendekati pengalaman yang berada di luar diri manusia. Sebaliknya, ia justru mengingatkan bahwa terdapat bentuk-bentuk kehidupan lain yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui sudut pandang manusia. Di sinilah imajinasi menjadi penting, dan salah satu ruang yang memungkinkan kerja imajinasi semacam itu adalah sastra.
Sebenarnya, apa yang dapat dilakukan sastra ketika manusia ingin membayangkan dunia yang tidak dialaminya sendiri? Sastra memiliki kemampuan yang unik karena bekerja melalui imajinasi naratif. Berbeda dengan laporan ilmiah yang berusaha menjelaskan dunia melalui data, klasifikasi, dan pengetahuan yang dapat diverifikasi, sastra memungkinkan pembacanya memasuki pengalaman yang tidak mereka jalani secara langsung. Inilah yang disebut oleh Martha Nussbaum—seorang filsuf Amerika yang sering menjadikan karya sastra sebagai sumber penting untuk memahami etika dan kemanusiaan— sebagai narrative imagination, yakni kemampuan untuk membayangkan bagaimana dunia dialami oleh pihak lain, melihat dunia melalui mata yang lain, dan merasakan persoalan yang tidak ia alami secara langsung. Kemampuan inilah yang memungkinkan sastra untuk memperluas cakrawala pengalaman manusia hingga melampaui batas-batas identitas, latar sosial, bahkan spesies yang selama ini dianggap berbeda darinya.
Kemungkinan semacam ini sesungguhnya bukan sesuatu yang asing dalam sejarah sastra. Sejak fabel-fabel Aesop yang telah beredar selama lebih dari dua ribu tahun, hewan kerap tampil sebagai tokoh utama dalam berbagai cerita. Akan tetapi, kehadiran mereka sering kali bukan untuk memperlihatkan kehidupan hewan itu sendiri. Rubah, singa, serigala, atau kura-kura lebih banyak berfungsi sebagai simbol bagi sifat-sifat manusia sekaligus sarana penyampaian pesan moral. Tradisi semacam ini terus berlanjut hingga karya-karya yang lebih modern. Dalam novel Animal Farm karya George Orwell, misalnya, para hewan memang menjadi pusat cerita, tetapi keberadaan mereka sesungguhnya merupakan alegori bagi pergulatan politik manusia, khususnya kritik terhadap totalitarianisme dan penyimpangan cita-cita Revolusi Rusia. Babi-babi yang memimpin peternakan, kuda pekerja yang setia, maupun hewan-hewan lainnya lebih sering dibaca sebagai representasi kelompok-kelompok sosial dan politik daripada sebagai makhluk nonmanusia dengan kehidupannya sendiri. Dengan demikian, yang sesungguhnya sedang dibicarakan tetaplah manusia. Pengalaman hidup mereka sebagai makhluk nonmanusia kerap menghilang di balik berbagai makna yang dilekatkan kepadanya.
Asep nampaknya memahami persoalan ini ketika akhirnya ia memutuskan menulis sebuah novel berjudul Oni Jouska. Dalam pembacaan saya, Asep sangat berhati-hati dan memilih tak terjebak pada pengulangan pola itu, setidaknya. Demikian kesan yang muncul ketika saya mencoba menempatkan novel tersebut di tengah percakapan yang telah dibangun sejauh ini. Jika manusia memang kesulitan membayangkan dunia sebagaimana dialami oleh makhluk lain, sementara sastra memiliki kemungkinan untuk mendekati pengalaman yang berada di luar dirinya, maka tantangan yang muncul adalah bagaimana menulis kehidupan nonmanusia tanpa segera menyeretnya kembali menjadi bayangan dari pengalaman manusia. Sebab, begitu seekor hewan hadir dalam sebuah cerita, selalu ada godaan untuk menjadikannya simbol, metafora, atau alat bagi kepentingan manusia. Barangkali kesadaran atas persoalan inilah yang membuat Oni Jouska juga masuk dalam daftar pendek Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2025 kategori Novel.
Ketika menuntaskan Oni Jouska, saya perlahan merasa sedang menjangkau banyak hal yang ingin disampaikan Asep melalui novel ini. Bukan hanya persoalan pencemaran laut atau kerusakan ekologi yang selama ini akrab diberitakan dari sudut pandang manusia, melainkan juga bagaimana berbagai peristiwa tersebut mungkin dialami oleh para penghuni laut itu sendiri. Di dalam novel ini, laut benar-benar diceritakan sebagai ruang hidup yang dihuni oleh makhluk-makhluk dengan kecemasan, harapan, ingatan, dan kepentingannya masing-masing. Asep menghadirkan perpecahan di antara para penghuni laut yang berakar pada persoalan-persoalan yang pada mulanya diciptakan manusia. Di saat yang sama, ia juga memperlihatkan usaha-usaha kolektif berbagai hewan laut untuk membersihkan lingkungan mereka dari sampah dan limbah yang terus mengancam keberlangsungan hidup bersama. Bahkan, di tengah rangkaian kisah tersebut, muncul sosok seekor paus legenda yang jejak ceritanya berkelindan dengan kisah seorang Nabi, menghadirkan lapisan mitologis sekaligus spiritual yang memperluas cakupan pembacaan novel ini.
Sayangnya, dari banyak hal yang ingin Asep sampaikan, ia tampak keteteran untuk menuntaskannya satu per satu. Novel ini membuka begitu banyak jalur pembacaan yang menarik, mulai dari kerusakan ekologis yang dilihat dari perspektif penghuni laut, konflik antarkelompok makhluk laut yang dipicu oleh persoalan-persoalan buatan manusia, upaya kolektif membersihkan laut dari limbah, hingga kemunculan seekor paus legenda yang berkaitan dengan kisah Nabi. Masing-masing gagasan tersebut sesungguhnya memiliki potensi untuk berkembang menjadi pusat permenungan yang kuat. Akan tetapi, karena semuanya hadir hampir bersamaan dan terus bergerak mengikuti arus cerita, banyak di antaranya terasa hanya melintas di permukaan. Pembaca diperkenalkan pada sebuah persoalan, tetapi sebelum sempat menyelami kompleksitasnya, novel telah berpindah menuju persoalan lain. Akibatnya, berbagai lapisan cerita yang semula menjanjikan kedalaman justru tampil seperti fragmen-fragmen yang saling berdekatan, tanpa sepenuhnya bertaut menjadi satu pengalaman reflektif yang utuh.
Dalam teori naratif, persoalan semacam ini sering berkaitan dengan ketegangan antara keluasan (breadth) dan kedalaman (depth). Sebuah karya dapat memilih untuk menjelajahi banyak gagasan sekaligus, tetapi setiap perluasan cakupan menuntut ruang naratif yang cukup agar gagasan-gagasan tersebut dapat berkembang menjadi pengalaman estetik yang bermakna. Ketika ruang itu tidak tersedia, tema-tema yang penting berisiko hadir hanya sebagai penanda, bukan sebagai pengalaman yang sungguh-sungguh dialami pembaca. Saya merasakan hal tersebut dalam Oni Jouska. Novel ini seolah terus mengajak saya melihat berbagai persoalan yang dihadapi penghuni laut, tetapi jarang memberi kesempatan untuk berdiam lebih lama pada salah satunya. Padahal, justru pada momen-momen ketika cerita berhenti sejenak dan memberi ruang bagi pengalaman seekor makhluk laut untuk berkembang secara penuh, novel ini menunjukkan potensinya yang paling menarik.
Karena itu, persoalan utama Oni Jouska dalam pembacaan saya bukanlah kekurangan gagasan, melainkan kelimpahan gagasan yang belum seluruhnya memperoleh ruang pengolahan yang setara. Novel ini tampak ingin berbicara tentang terlalu banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Akibatnya, beberapa tema yang seharusnya mampu mengguncang pembaca—terutama yang berkaitan dengan pengalaman ekologis dari sudut pandang nonmanusia—justru berakhir sebagai lintasan-lintasan singkat yang segera digantikan oleh tema berikutnya.
Sebagai sebuah teks, saya juga tidak bisa menafikan adanya sejumlah persoalan teknis yang muncul di sepanjang pembacaan. Beberapa kesalahan penulisan kata, huruf, maupun ketidaktepatan penyuntingan tampak masih lolos hingga ke tangan pembaca. Sepintas, persoalan semacam ini mungkin terdengar remeh. Namun, dalam sebuah karya sastra, terutama novel yang berusaha membangun dunia dan logika internalnya sendiri, kesalahan-kesalahan tersebut dapat menghadirkan gangguan yang tidak kecil. Pada beberapa bagian, saya bahkan merasa bahwa kekeliruan itu berpotensi membelokkan pemahaman pembaca terhadap informasi yang sedang disampaikan cerita. Pembaca dipaksa berhenti sejenak karena harus memastikan apakah yang sedang dibacanya merupakan bagian dari cerita atau sekadar kesalahan penulisan.
Proses membaca adalah proses yang berlangsung melalui kerja sama antara teks dan pembaca. Teks menyediakan petunjuk-petunjuk tertentu, sementara pembaca secara aktif menyusun makna berdasarkan petunjuk tersebut. Hubungan ini menuntut tingkat kepercayaan tertentu. Pembaca bersedia mengikuti ke mana cerita bergerak karena mengandaikan bahwa setiap detail yang dihadirkan teks memiliki fungsi dan maksud tertentu. Ketika kesalahan teknis muncul berulang kali, hubungan kepercayaan itu perlahan terganggu. Persoalan ini terasa cukup disayangkan mengingat Oni Jouska merupakan novel yang mengandalkan pembangunan dunia yang berbeda dari keseharian pembacanya. Asep berupaya mengajak pembaca memasuki perspektif makhluk-makhluk laut, membayangkan relasi antarmakhluk nonmanusia, serta mengikuti berbagai konflik yang berlangsung di dalam ekosistem mereka. Upaya semacam itu menuntut konsistensi dan ketelitian yang tinggi karena pembaca sedang diminta mempercayai sebuah dunia yang tidak pernah mereka alami secara langsung. Ketika terdapat kesalahan kata, nama, atau detail tertentu yang mengganggu alur logika cerita, gangguannya menjadi lebih besar dibandingkan pada teks yang bertumpu pada realitas sehari-hari. Retakan kecil pada permukaan bahasa dapat menjalar menjadi keraguan terhadap bangunan cerita secara keseluruhan.
Dalam kasus Oni Jouska, beberapa kekeliruan penyuntingan justru terasa cukup fatal karena muncul di tengah upaya novel membangun kepercayaan pembaca terhadap dunia yang diciptakannya. Ironisnya, ketika novel ini sedang berusaha mengajak pembaca membayangkan kehidupan dari sudut pandang yang tidak lazim, gangguan-gangguan teknis tersebut sesekali menarik pembaca kembali ke luar teks. Akibatnya, pengalaman membaca yang seharusnya mengalir dan imersif menjadi tersendat oleh hal-hal yang sesungguhnya dapat dicegah melalui proses penyuntingan yang lebih cermat.
Akan tetapi, yang membuat saya teramat bahagia berkenaan dengan Oni Jouska adalah keberanian novel ini menawarkan kemungkinan-kemungkinan pembacaan yang semakin beragam kepada pembacanya. Di tengah kecenderungan banyak karya yang masih menempatkan manusia sebagai pusat dari segala peristiwa, Asep berusaha membuka jalan lain untuk melihat dunia. Melalui kehidupan para penghuni laut, pembaca diajak mempertimbangkan bahwa sebuah peristiwa tidak selalu harus dipahami dari sudut pandang manusia. Sampah yang dibuang manusia, misalnya, tidak lagi hanya tampil sebagai persoalan lingkungan yang mengancam masa depan manusia itu sendiri, melainkan hadir sebagai kenyataan yang secara langsung membentuk pengalaman hidup makhluk-makhluk lain. Dengan cara demikian, novel ini memperluas medan pandang pembaca terhadap persoalan yang selama ini mungkin terasa akrab, tetapi jarang dilihat dari sudut yang berbeda. Karena itu, terlepas dari berbagai catatan kritis yang saya sampaikan sebelumnya, Oni Jouska tetap menyisakan kegembiraan intelektual yang tak main-main.

Agus Salim Maolana. Besar di Tasikmalaya. Menulis esai, cerpen, dan puisi.




