Sebuah Pilihan

23/06/2026

 

Ia menaikkan volume speakernya. Tebasan geraman maut Corey Taylor dalam lagu Disasterpiece1 semakin menggila. Ia berharap bising itu bisa menggeser suara lain dari ruang sebelah. Rupanya itu salah, bayinya semakin meraung. Sekiranya kelak anak itu menggagas band paling cadas di muka bumi ini, tampaknya ia tak heran. Tapi ia tak tertawa dengan ide asal yang muncul di kepalanya itu. 

“Anna, tenangkan anak itu! Ke mana saja kamu?” Ia membanting pintu kamar. Kembali duduk di meja kerja. Layar laptop di atas meja menampilkan halaman putih. Dua jam terlewat sudah. Ia tak bisa memikirkan apa-apa. 

“Pelankan musikmu! Anak ini tak suka!” Anna, istrinya, berteriak dari dapur. Bunyi gemercik minyak di penggorengan samar terdengar. 

Tante Hani, tetangga mereka sebelah kiri, melongokkan kepala dari pagar rumah. Pria paruh baya di seberang rumah ikut melakukan hal serupa. Ia menggelengkan kepala. 

“Pengantin baru,” kata Tante Hani. 

“Kudengar lelakinya tak pernah keluar rumah.”

“Kudengar istrinya di-PHK.”

Musik cadas itu menggema di sekitar kompleks Blok A, Perumahan Adem Ayem. Pagi belum lekas meneteskan embun di dedaunan, dan tukang sayur baru satu kali lewat. Biasanya ada empat tukang sayur yang lewat di perumahan itu saban hari. Diselingi tukang ikan, bakpao, atau siomay. Begitu tukang sayur kedua singgah, Tante Hani dan teman seberang rumahnya segera membelokkan perhatian. 

Sementara baginya, musik itu paling tidak diharapkan bisa menyuntikkan ide yang bakal deras berdatangan ke kepalanya. Proyek buku pemerintah yang digarapnya tiga bulan ke belakang sudah mangkrak selama empat minggu, dan ia tak ingin menunda-nundanya lagi. Cukuplah penundaan itu terjadi saat seonggok daging meluncur dari perut istrinya sebulan lalu. Ia ingat pesan mendiang neneknya, jangan memeram hutang, mereka tak menghasilkan telur emas atau batu permata. 

Tapi pun sungguh, kendati ia sudah duduk sejak Subuh tadi, layar putih laptopnya tetap bertahan kosong sampai kini. Raungan itu bahkan semakin menggila. Ia merepet panjang, bangun dari kursi, lalu menyongsong ke arah suara itu berasal. 

“Kau bisa merawat anak tidak, sih? Aku mau kerja.”

“Anak ini mestinya punya ayah. Tapi ke mana dia selama ini?”

Ia menggertakkan gigi. Bahasan itu lagi, batinnya. 

“Aku… Aku,” tangannya mengepal. “Tenangkan dia, tolong.”

Anna membiarkan lelaki itu berlalu. Ikan lele di penggorengan hampir gosong. Anak dalam gendongannya masih meraung-raung. Ia berusaha menenangkannya sembari mengangkat tiga ekor ikan yang warnanya sudah hampir hitam warnanya. 

“Aduh-aduh, kepanasan ya.”

Anna mematikan kompor, lalu berjalan ke teras rumah. Udara hangat menyambut wajahnya. Sisa embun yang dibawa angin sesaat membelai rambut. Sejuk itu, semoga bisa menenangkanmu, batinnya. Ia tersenyum saat Tante Hani menyapanya. Ia sedang tak berselera meladeni perempuan itu, sehingga membalasnya sekenanya saja. Dengan si anak yang masih dalam gendongan, ia beralih ke sisi teras dekat sederetan pot-pot Kaktus. Anak itu mulai tenang, matanya yang jernih mengikuti pandangan ibunya. 

Ada tujuh pot Kaktus. Ia merawatnya sepenuh hati. Itu kenang-kenangan dari Debora, rekan kerjanya dulu saat ia memutuskan mengundurkan diri empat bulan lalu. Disentuhnya satu pohon, jari telunjuknya menekan sedikit. Setitik darah pecah di ujung jari telunjuknya. Warna merah itu kian menebal, sebelum akhirnya menetas ke batang Kaktus. 

Melihat itu, bayi dalam gendongannya tersenyum, lalu tertawa. Tawa itu makin berderaian saat jari itu mendarat di bibir mungilnya yang ranum, kemudian bayinya mulai mencecap ujung jarinya seolah itu puting yang memberikan susu segar. Ia tersenyum. Bayi itu ikut tersenyum. Mereka kerap melakukan hal tersebut. 

“Rasanya manis, kan? Padahal mestinya terasa pedih.” Bayinya hanya melongo mendengar kalimat itu, lantas tertawa lagi. Dan ia tak kuasa menawan tawanya. Tawa itu sedemikian pecah sampai membuat tirai jendela di kamar samping teras tersibak. 

Dari sibakan gorden berwarna krem cemerlang di ruangannya, ia tak sengaja mendapati pemandangan Anna bersama anak itu yang tergelak dalam tawa lepas. Tentu ia tak bisa menemukan alasan dari pecahnya tawa yang berderaian di beranda rumah. Malah, ia merasa makin tak memahami segalanya tentang Anna. Apakah ia sudah menjadi ayah yang baik? Pertanyaan itu sekonyong menganak dalam benaknya. 

Rasanya sudah. Anna mestinya bersyukur bahwa ia tak perlu bekerja lagi di kantornya yang tak memberi upah yang cukup itu. Cukuplah ia, suami Anna, yang bekerja keras siang-malam. Dan toh itulah yang dilakukannya selama ini. Setelah menyematkan cincin di jari perempuan itu dua belas bulan lalu, ia merasa sudah menyelamatkan hidup Anna dari kehidupan yang tak pasti. Tentu, ia memboyong Anna bukan tanpa alasan. Perempuan itu sudah menarik perhatiannya di momen dua tahun lalu, saat dirinya diwawancarai oleh Anna yang kala itu masih bergabung dengan perusahaan media tempatnya bekerja. 

Wawancara itu dibuka dengan kecanggungan. Berulang kali ia sulit membangun fokus demi wajah oval, rambut bob hitam, dan tindik Helix yang dimiliki Anna. Sejak dulu ia tak mudah terpukau atas sesuatu hal, tapi pertemuannya hari itu seperti siraman keajaiban paling aduhai yang hadir dalam hidupnya. 

“Jadi, rezim yang bertahan dua periode itu memupuk hutang luar negeri terlalu banyak, Saudara? Tapi bukankah itu diimbangi dengan belanja negara yang cukup dan distribusi bantuan yang makin marak?” Anna mengulang pertanyaannya yang kali kesekian. 

“Eh? Bagaimana?”

Anna menarik napas, tapi menutupnya dengan seulas senyum. Tangannya menyibak anak rambut di telinga. 

Setelah mengatur napas (lagi), mulutnya mulai membabarkan pendapatnya. Kala itu, ia memimpin rombongan yang berorasi menentang keberlanjutan rezim yang lama berkuasa, sementara Anna turun ke lapangan untuk memuat berita. Pertemuan itu rupanya diikuti momen-momen pertemuan lain yang semakin lama semakin sering. Awalnya dibuka di kantor resmi tempatnya bekerja, lalu ke sebuah restoran sushi, pindah ke warung kopi, dan bisa ditebak, agenda pertemuan berikutnya menjadi kencan-kencan manis yang menderaikan tawa renyah. 

Anna bilang suatu kali, ia satu-satunya pria yang bisa memberikan kenyamanan seumpama ruangan dengan gemeretak kayu perapian di tengah musim dingin. Sementara di tangannya, remah paling tak penting yang mereka dapati sepanjang momen kencan yang beragam bisa disulap menjadi candaan yang selalu sukses membuat Anna tergelak hebat. Benaknya tak kalah membuncah hebat mendengar pengakuan itu. Hal itu lantas yang memantapkan dirinya buat membeli sepasang cincin yang terukir nama Anna dan namanya, lalu di hari ketika kekuasaan rezim Cakowi berakhir, di tengah suasana riang teman-temannya, ia mengukir janji tersaput gulali.

“Atas nama kekuasaan yang akan berjaya, oh Anna, izinkan aku menikahimu.”

Anna segera mengecup bibirnya. Dan ia berusaha supaya tak pingsan. Ia justru pingsan betulan di malam pernikahan mereka, sehingga malam yang terangnya seolah diterangi tiga buah purnama mesti dijeda satu hari. Kemudian ketika limpahan cahaya ranum jatuh di matanya ke esokkan harinya, ia tak ingin mengacau lagi. Anna menjerit kaget saat gigi lelaki itu tak sengaja tersangkut di tindik Helix telinganya, tapi mereka hanya tertawa saja. Percintaan itu berlangsung hingga tukang sayur yang keempat lewat. Persenggamaan itu yang membekali tubuh mungil yang kini sedang terlelap di ranjang bayi. 

Ia hendak membuat kopi ketika langkahnya terhenti di depan pintu kamar anak mereka. Anna terlelap menyandarkan kepala di sisi ranjang. Sejenak ia terkenang kembali akan betapa legamnya rambut istrinya. Tindik Helix itu masih di sana, bahkan Anna telah memasang satu lagi di telinga lainnya. Mendadak ia ingin membelai rambut itu, tapi kakinya urung. Terakhir kali ia melakukan itu justru memicu pertengkaran lain.

“Jangan sentuh aku. Tanganmu kasar,” kata Anna kala itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah benar jarinya menjadi kasar karena terlalu sering mengetik di muka keyboard?

Tangannya tergerak menyentuh pipinya sendiri. Tampaknya tidak. Sejujurnya ia merindukan masa-masa saat purnama bersinar lebih cemerlang ketimbang malam-malam biasanya. Apakah Anna turut merasakan hal yang sama? Dikoreknya ingatan dalam kepalanya, tapi sejauh yang terbayang, momen itu hanya berderaian sepanjang malam-malam awal pernikahan mereka. Anna makin sulit didekati saat tahu ada benih yang bersarang dalam rahimnya. Dan ia makin sulit memahami istrinya selepas Anna memutuskan berhenti dari pekerjaannya. 

“Apa kau bakal menyisihkan urusan politikmu demi anak ini? Aku tak yakin. Barangkali kau memang tak mau berkeluarga. Aku pun lelah meladeni para tetangga itu,” jelas Anna saat ia menanyakan perihal keputusan istrinya.

Urusan politik. Ia mendengkus mengingat kalimat itu. Langkahnya berlalu dan ia mulai menyalakan pemanas air listrik. Ia menunggu. Benaknya memutar-mutar percakapan silam. Bukankah yang dilakukannya demi urusan keluarga? Paling tidak ia bekerja dengan baik. Dan ia merasa baik-baik saja sekalipun pekerjaan itu berurusan dengan politik. Masyarakat perlu orang sepertinya yang bisa membayangkan dan mengerti tentang visi negara adidaya. 

Sayangnya, kata batinnya, tak semua orang bisa memahami betapa rezim yang kini sedang berkuasa adalah sebaik-baiknya rezim. Ia teringat suatu kali pernah ikut agenda meronda di kompleksnya. Ada pria paruh baya seberang rumah, juga beberapa warga di blok yang sama. Momen itu justru membuatnya jengah. 

“Tempo hari anak sepupu saya keracunan di sekolah. Katanya keracunan makanan yang dibagikan pemerintah.”

“Aku juga dengar itu. Heran, pemerintah malah berbangga-bangga soal keberhasilan program yang katanya bisa menaikkan kualitas gizi anak bangsa itu. Padahal mah, telek, anak-anak pada keracunan,” sambung warga yang lain. 

“Itu karena oknum saja, Bapak-bapak. Buktinya di daerah lain, banyak warga yang bersyukur karena program itu. Juga jangan lupakan soal lapangan kerja yang jadi terbuka lebih banyak, lho,” responsnya.

Ia merasa perlu memberikan penjelasan lebih yang menuntut data dan angka-angka. Tapi ia yakin ucapannya cuma dianggap angin lalu semata, maka ia memilih pulang lebih dini. Ia bilang, istrinya tak kuat ditinggal lama-lama. 

Ia tertawa kecil mengingat kejadian itu. Bukan saja lantaran kepandiran yang ditemuinya, melainkan kalimat terakhirnya yang mereka terjemahkan sebagai undur diri karena tak kuasa menahan birahi. 

Ponselnya berdering satu kali. Lamunannya pun buyar. Ia mendapati sebuah pesan masuk.

“Sudah sampai mana bukunya? Bulan depan harus segera dirilis.” Begitu bunyi pesan itu. Dikirimkan oleh lelaki yang foto profilnya tampil parlente. Seorang koleganya di Ibukota. Ia mengumpat di depan air yang mendidih, kemudian memilih mengabaikan pesan itu. Mau dibalas apa? Ia yakin koleganya tahu kalau naskah buku itu jauh dari kata selesai. Pesan lainnya menyusul.

“Mintalah istrimu membantu. Bukannya ia anak media?” Sekiranya kalimat itu didengarnya langsung, ia akan dengan senang hati menyumpal mulut koleganya dengan kertas. Pesan itu membuatnya heran setengah mati. Bisa-bisanya Curut ini mengatakan kalimat semacam itu?

Saran itu sebenarnya terdengar tanpa masalah. Namun, soal Anna yang pernah bekerja di kantor media adalah satu hal, sementara memintanya membantu dalam proyek buku yang tengah ia garap merupakan hal lain. Sekalipun ingin, tapi ia tahu Anna bakal menolak. Perbincangan yang terjadi di bulan kedua pernikahan mereka mengentalkan keyakinan tersebut. 

“Aku sangka kau bisa berpikir jernih. Apa yang kauharapkan dari pemimpin yang tangannya masih berlumuran darah? Mikir.”

“Tidakkah kamu memberinya kesempatan? Setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik, Anna.” 

“Mengapa kau bisa bebal begini? Aku tak nyangka kau malah masuk semakin dalam ke dunia mereka. Kita baru menikah, astaga?! Tapi kau justru tenggelam dalam proyek ini, pertemuan itu. Aku hampir kehilangan sosok kritis yang dulu pernah kuwawancarai, tahu.”

“Aku diperlukan oleh mereka. Ini kesempatan baik buat kita berdua. Mana mungkin aku menyia-nyiakan hal itu? Dari sekian banyak manusia di negeri ini, mereka memilihku.”

Kesempatan itu sama cemerlangnya dengan pernikahan mereka, pikirnya. Ia menyambut angin yang datang padanya, sekalipun angin itu sedemikian tiba-tiba dan membuatnya berbelok arah. Tapi mengapa hal semacam itu sulit dimengerti oleh Anna? Bahwa ia melakukannya demi kebaikan mereka, demi jaminan masa depan yang tak kekurangan. 

Seseorang membuka pintu kulkas. Ia ingat napasnya yang terhela dan pintu kamar yang berdebum, tapi dari mana suara pintu kulkas?

“Kau lupa cara membuat kopi? Itu toples garam,” kata Anna, yang tiba-tiba sudah di sebelahnya. 

Sekejap tangan perempuan itu mengangsurkan toples lain. “Buat baru saja.”

Ia menuangkan air kopi ke wastafel, lalu menuangkan bubuk kopi yang baru. 

“Kau benar-benar tak mau menggendongnya?”

“Aku.. mau saja, tapi pekerjaan itu…”

“Harus selesai dulu?” 

Kalau boleh jujur, bukan itu alasan sebenarnya. Sejak kecil, baginya kata “ayah” seumpama bahasa yang berasal dari planet lain. Tentu ia melihat orang-orang di sekitarnya memiliki ayah, menyebut ayah, atau menjadi ayah. Tapi dalam benaknya yang paling dalam, kata itu masih menjadi konsep abstrak. Ia sendiri tak membayangkan kalau keputusannya meminang Anna langsung disambut dengan hadirnya anggota tambahan dalam keluarganya. Kala itu di pikirannya, pada tahun-tahun awal pernikahan mereka, akan diisi dengan upaya merajut momen di bawah rembulan demi rembulan. 

“Makanya biarkan aku bekerja dengan tenang,” pungkasnya, berlalu, menggenggam segelas kopi di tangan. 

Anna menatap punggung suaminya sembari berpikir apa yang dulu membuatnya jatuh cinta? Ia kira sudah cukup mengenali lelaki yang menyukai legam rambut dan tindik Helix di telinganya itu. Tapi kejutan demi kejutan yang hadir selepas pernikahan hampir selalu membuat dadanya sesak.  Ia tak mengira suaminya sedemikian memuja sosok pemimpin rezim yang baru. Bahkan, ia mesti melepas hari-hari yang seharusnya bisa dirajut dengan momen tawa demi membiarkan pilihan suaminya yang pergi mengikuti agenda-agenda pemerintah. Ia sempat menerbitkan harap saat mengetahui sebuah benih bersemayam dalam perutnya. Dibayangkannya wajah lelaki itu yang bakal merona, semringah saat mengetahui bahwa kelak ada sosok yang memanggil mereka ibu dan ayah.

Akan tetapi, jawaban lelaki itu sama sekali tak mengesankan kebahagiaan. Ia justru membahas soal rencanca-rencana pertemuan, sehingga ia sering bepergian. Maka ia mulai berpikir barangkali lelaki itu tak pernah menginginkan anak, sementara bagi Anna, benih dalam rahimnya menjadi keajaiban paling cemerlang yang pernah didapatkannya. Ia bertekad merawat anak itu mesti nyawanya dipertaruhkan. Tak masalah ia keluar dari pekerjaannya demi mengikuti kelas-kelas kehamilan, yoga, dan kegiatan lain yang menopang kesiapannya. Ia terkenang ucapan rekan kerjanya dulu.

“Kau kan bisa cuti, tak perlu mengundurkan diri, Anna.”

“Supaya fokus. Sekarang ini pusat semestaku.” 

Temannya itu, Debora, tertawa mendengar jawabannya. Dibilang sekiranya ia perlu bantuan, jangan sungkan untuk mengontak. Debora akan dengan senang hati membersamai langkahnya. Ia tertawa menyadari kepedulian Debora. Ia tertawa kencang saat menyadari betapa sendiriannya ia selama ini. Ia mengenang masa-masa silam dan teringat bahwa lelaki itu hanya ada di sampingnya menjelang jabang bayi itu lahir, kemudian tenggelam lagi dalam proyek buku konyol yang digarapnya. Barangkali, di mata lelakinya, itulah satu-satunya hal terpenting dalam hidupnya. Pemujaan yang konyol, batinnya. Dan tangannya terkepal saat melewati ruangan kerja lelaki itu. Ia menajamkan telinga sejenak. Suara tuts keyboard terdengar samar. 

Sementara dari dalam ruang kerja, lelaki itu sesaat menyadari Anna yang baru saja lewat. Ia memilih mengabaikannya. Naskah itu harus segera selesai. Ia telah bertekad menyelesaikannya dalam tiga hari ke depan. Tanpa sempat diutarakan, ia bahkan bertekad selepas naskah itu rampung, ia ingin menyingkir sejenak dari gelanggang dunia politik itu. Barangkali dengan begitu, ia bisa mendekati Anna lagi, dan barangkali, ia bisa mengenyahkan keraguan serta ketakutannya saat mendekati anak itu. 

Ia merasakan Anna melewati ruangannya lagi. “Aku pergi dulu,” kata Anna. 

Ia merasa ingin bilang “hati-hati”, tapi sesuatu mengganjal tenggorokannya. Maka hanya dipandanginya Anna yang berlalu di beranda rumah. Mobil silver yang barangkali dipesan perempuan itu baru saja tiba. 

Anna pergi ke mana? Disesalinya pertanyaan itu tak sempat ia layangkan. Tapi ia memutuskan mengenyahkan pikiran tersebut dan kembali, tenggelam dalam barisan kata-kata. Entah mengapa jarinya kini sedemikian lancar mengalirkan kata-kata. Ia menikmati sensasi larut dalam belantara kata-kata yang tercipta. Ia yakin naskah itu bakal selesai kurang dari dua hari. 

Akan tetapi, dugaannya salah, sebagaimana dugaan-dugaannya yang lain. Ia justru tertidur entah di waktu kapan. Ketika sadar, hari telah menggelap. Ia belum sempat menghidupkan lampu. Langkahnya pun gontai mencari saklar lampu. Pada saat limpahan cahaya putih mengungkungnya, ia tersadar akan sesuatu. Sudah berapa lama ia tertidur? Ia melihat kalender di sudut kanan laptopnya. Dua hari? Yang benar saja. Belum sempat keherananya tuntas, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari Anna. 

“Bila anak ini bahkan tak berada dalam semestamu, biarkan saja aku pergi. Jangan cari aku lagi.”

Udara di sekitarnya mendadak lesap. Pergi ke mana kamu, Sayang? Ia limbung, entah lantaran rasa pengar atau keterkejutan karena isi pesan itu. Kepalanya mendadak menjadi berat. Ia membaca pesan itu lagi, lalu melihat pesan-pesan sebelumnya. Nama koleganya muncul di kotak pesan. 

“Agenda dimajukan. Minggu depan harus bisa diterbitkan. Kau ingin aku membantu? Aku punya saran buat judul bukunya: “Pembangunan dan Martabat Bangsa dalam Keberhasilan Pemerintahan Prandopo”. Mengena sekali, kan, Bung? Makanya, tolong segera selesaikan. Aku tunggu besok pagi, OK?”

Ia muntah seusai membaca pesan itu. Tenggorokkannya panas lantaran ia hanya memuntahkan air yang menguning. Tapi ia berusaha duduk lagi. Pandangannya memburam. Kepalanya makin memberat. Dicernanya sederetan informasi yang ia dapatkan tapi nihil, hal itu justru kian memberatkan pening di kepalanya. Dan seolah tubuhnya belum seimbang menjejak sinergi yang ajeg, jemarinya justru mulai mengetik di papan keyboard. Kata-kata mulai membangun diri mereka kembali. Pada titik itu, antara sadar atau tidak, ia telah memilih. 

Catatan: 1 Disasterpiece merupakan salah satu lagu dari band metal Slipknot.

 


Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Alumnus Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.